
"Hah, berapa lama drama ini akan dimainkan? Aku bosan, apa tidak ada hal lain yang bisa kau mainkan selain ini? Aku jenuh, ayolah! Berikan aku sesuatu yang menantang, sesuatu yang dapat membuat adrenalin ku terpacu." Raquel menutup mulutnya seolah sedang mengantuk berat.
Yenny tersenyum, tentu saja dia memiliki rencana lain yang akan menjadi kejutan besar. Dia belum menyebutkan ini menunggu semua orang ingin tahu, dia ingin Raquel benar-benar habis kali ini.
"Sayang aku mohon maafkan aku, aku berjanji untuk ke depannya akan lebih mendengarkan apa yang kau katakan. Aku juga akan menuruti semua yang kau inginkan," ujar pria bertindik itu bersimpuh di kaki Raquel.
Saat dia menyembah ada senyum aneh tergantung di bibirnya, Raquel mulai kesal namun tidak mau banyak bicara.
"Bibi, darimana kau berkenalan dengan aktor kecil ini? Penampilannya sangat tidak bisa diandalkan, lihat cara berbicaranya. Meski sudah berlatih dia tetap saja tidak bisa menghapal dengan benar," ejek Raquel dengan santai.
Pria itu menggelengkan kepalanya dengan panik, dia seperti benar-benar takut untuk kehilangan Raquel.
Ditariknya kaki Raquel dengan pelan dengan air mata berlinang, "Sayang tolong jangan seperti ini! Aku berjanji akan berjuang mati-matian bersamamu, aku tidak akan mengecewakan dirimu lagi."
Semua orang terkejut mendengar itu, mereka tidak tahu harus percaya pada siapa sekarang. Di lain sisi kehidupan buruk yang Raquel jalani membuat mereka percaya kalau Raquel akan berpacaran dengan orang seperti itu.
Sedangkan dari sudut pandang lainnya jelas hal ini tidak ada benarnya, ada dua kubu yang terbentuk. Satu mendukung Raquel dan satu lagi menghina Raquel, mereka memiliki pemikiran masing-masing dalam membenarkan apa yang ada pikirannya.
Bisik-bisik tidak jelas terdengar membuat wajah kakek memerah sempurna, dia marah atas semua tuduhan orang-orang ini dengan kata-kata yang tidak enak didengar.
"Kau ingin kita membunuh kakekmu kan? Mari kita lakukan! Kau menginginkan semua warisan itu untuk hanya dirimu kan Sayang baiklah, aku akan membantumu, mari kita bunuh dia hari ini juga!" ujar pria itu membuat semua orang melotot.
Embusan napas dingin tidak bersahabat terdengar memasuki telinga semua orang, Raquel tersenyum dia berdiri tegak lalu berjalan dengan langkah santai menuju ke arah Yenny.
"Bibi, apakah ini tujuan utamamu? Tapi mengapa aku tidak yakin akan semua itu? Apa yang kau rencanakan sebenarnya? Tindakan apa yang aku lakukan hingga membuat dirimu merasa kalau aku sangat berbahaya hingga kau mengatakan semua kebohongan ini?" Raquel bertanya dengan mimik wajah sedih yang dibuat-buat.
Yenny yang merasa rencana ini tidak bertahan lama memberikan kode lewat mata pada beberapa tetua yang mendukung dirinya, dia ingin orang-orang yang sudah disogoknya dengan uang ini membantu mengusir Raquel dari dalam ruangan.
Entahlah, sejak awal Yenny merasa Raquel adalah musuh paling berbahaya dari semua yang ada. Dia merasa Raquel lah yang dapat menghancurkan tampuk kekuasaan yang dia miliki selama ini.
Ada cairan merah terlihat di area perutnya, tangan si gengster meraba perutnya sedangkan tangan lain masih memegang pisau itu dengan erat.
"I-i-ini ti-ti-tid-tidak sesuai dengan apa yang kau janjikan,"gagapnya dengan darah keluar dari mulutnya.
Raquel mencari asal tembakan, dia merasa adegan ini cukup familiar. Raquel menyipitkan mata untuk melihat lebih jelas pria yang berada di antara kerumunan orang itu dan memang orang itu adalah Raphael, alis Raquel naik sebelah.
Dia bingung dengan kehadiran Raphael di sana, dia tidak tahu siapa yang sudah mengundang Raphael tapi yang jelas kehadiran Raphael cukup membuat dia terkejut.
"A-a-apa yang kau lakukan? Beraninya kau membunuh orang di depan umum? Kau ingin mencari masalah untuk keluarga ini ha?" bentak Yenny marah.
Yenny jelas tidak senang atas tindakan Raphael yang menyebabkan rencana ke-duanya gagal.
Gengster merasa kesakitan lalu meregang nyawa di tempat itu, orang-orang yang tadinya menonton langsung melangkah mundur dengan histeris. Mereka tidak berani mendekati lokasi karena darah pria itu mulai membasahi lantai.
Raphael tersenyum, dia berjalan mendekat ke arah Raquel sembari menyimpan kembali senjata yang dia gunakan tadi.
"Kau harusnya mengucapkan terima kasih padaku, aku sudah membantumu loh mengatasi orang itu." Raphael menunjuk pada gengster kecil yang sudah tidak bernyawa.
Anak buah Raphael langsung melangkah maju, mereka membersihkan lokasi dengan cepat seolah sudah sangat berpengalaman dalam hal seperti ini. Raphael berdiri di samping Raquel memandang Yenny dengan wajah tidak ramah.
Richard dan Raffertha tersenyum, dia berjalan mendekati ke-duanya di mana Raffertha tampak mengenal Raphael dengan baik.
"Dia kakak ketigamu Raquel, kalian sepertinya sudah saling mengenal satu sama lain." Richard memperkenalkan Raphael pada Raquel.
Raquel terkejut mendengar itu, dia langsung menengok ke arah Raphael dengan wajah tidak senang.