The Rebirth Of The Vengeance

The Rebirth Of The Vengeance
35. Mengerjai Reina



Raquel melotot saat melihat beberapa angka tertulis di kepala masing-masing orang yang menunjukkan nilai kebaikan dan kejahatan yang mereka miliki, Raquel takjub dengan hal ini. Ada kegembiraan yang tak terkatakan saat melihat ini, dengan kemampuan ini bukankah dia bisa merekrut dan membentuk kekuatan yang kokoh tanpa bisa dikhianati.


Raquel mengingat buku yang pernah dibacanya, buku itu menjelaskan tentang orang-orang yang mendapat kekuatan dari beberapa benda tak terduga yang ditinggalkan oleh leluhur mereka.


Raquel melihat nilai kebaikan dan keburukan yang ada di atas kepala Reina, betapa terkejutnya dia melihat betapa jahatnya Reina. Langsung saja Raquel melangkah maju dan menampar wajah Reina keras membuat Reina berpaling ke samping, tamparan itu meninggalkan bekas merah lima jari yang membuat semua mulut orang-orang itu terbuka lebar.


Reina memegang pipinya yang perih dan panas, rasa sakit yang hebat itu membuatnya menangis keras.


"Kau menamparku?" tanya Reina dengan mata melotot tidak terima.


Tangannya yang lain terkepal, dia maju ke depan hendak membalas Raquel namun langsung didorong Raquel dengan cepat.


Kehebohan pun pecah, semua orang berbisik dengan tangan menutupi mulut mereka dan suara yang begitu lembut.


"Ya, aku berani memangnya kenapa? Oh, hanya kau yang boleh menampar orang lain sedangkan orang lain hanya bisa menerima perlakuan dirimu?" Raquel maju selangkah ke depan sedangkan Reina langsung mundur.


Ujung gaunnya bahkan hampir terinjak oleh Reina, agar menjadi pusat perhatian di jamuan makan ini Reina sengaja memakai gaun dengan warna mencolok serta perhiasan menarik dan mewah. Dia ingin dikenal oleh semua orang namun dengan apa yang dilakukan oleh Raquel dia kehilangan wajahnya saat ini.


Richard dan Raffertha yang awalnya ikut melongo kemudian menepuk tangannya dengan lontaran tawa yang heboh dan keras, keduanya puas dengan tindakan yang Raquel lakukan terhadap Reina barusan.


"Bagus adikku, apa yang kau lakukan sudah benar dan baik. Dia memang pantas untuk dipukuli, dia sengaja membuat gosip untuk menghancurkan nama baik keluarga kita." Richard menepuk bahu Raquel dengan lembut dan ringan.


"Yap benar, jangankan satu permata, sepuluh permata pun kita sanggup untuk membelinya saat ini juga. Apa dia pikir hanya keluarganya saja yang kaya dan keluarga kita tidak," ujar Raffertha mencemooh dan ikut berdiri di samping Reina.


Raquel meraih tangan Reina membuat Reina tersentak tapi tidak menarik tangannya dari pegangan tangan Raquel.


"Apa yang kau inginkan? Kenapa kau melakukan semua ini padaku? Apa yang salah denganku? Dendam apa yang kau miliki hingga dengan tega melakukan semua ini padaku?" tanya Raquel dengan kasar.


Reina menggelengkan kepalanya, dia berpura-pura tidak tahu dengan apa yang dikatakan oleh Raquel padanya.


"Apa maksudmu? Aku benar-benar tidak mengerti dengan apa yang kau katakan, bukan aku yang menuduhmu mencuri kan? Yang mengatakan tentang semua itu dia, aku hanya berbicara padanya tentang permataku yang hilang saat aku berganti pakaian tadi. Dia yang mengatakan kalau kau yang mengambilnya," ujar Reina melakukan pembelaan.


Raquel mendecakkan lidahnya, dia mendelik dengan bibir menampilkan senyum aneh yang membuat Reina merasakan sesuatu yang buruk akan terjadi.


Salah satu kemampuan permata itu adalah dapat membaca kondisi fisik orang yang bersentuhan, Raquel dapat melihat apa yang sedang terjadi pada Reina dan dia bisa melakukan pilihan yang diinginkannya.


"Anda bisa memilih untuk menyembuhkan penyakitnya atau semakin memperburuk keadaan, tapi menurut saya lebih baik Anda memperburuk keadaanya. Orang seperti ini tidak kayak dikasihani," ujar suara bocah laki-laki di otak Raquel.


"Tapi ucapanmu jelas menggiring opini, apa kau punya bukti kalau aku yang mencurinya?" tanya Raquel dengan suara keras.


Dia tidak akan melepaskan Reina dan akan terus menyudutkan Reina hingga Reina mengakui perbuatannya, Raquel juga melirik asisten rumah tangga yang menuduhnya tadi.


"Di mana kau melihat aku mengambil permata itu?" Raquel mengubah posisi berdirinya, dia melirik pelayan itu dan berdiri di hadapannya dengan tangan terlipat di dada.


Asisten rumah tangga melirik Reina menggunakan sudut matanya, dia lupa menanyakan ini pada Reina tadi. Sekarang dia tidak tahu harus menjawab apa, jika salah ucapan maka sudah dipastikan dia yang akan disalahkan.


"I-i-itu, saya melihatnya di ...." Pelayan itu dengan gagap mencoba menunggu jawaban dari Reina.


Raquel tersenyum sinis, "kau tidak bisa menjawabnya karena kau hanya membual. Kau mengada-ada dan sengaja menuduh diriku agar aku diusir dari jamuan makan ini kan? Siapa yang menyuruhmu? Tidak mungkin dia kan?" tunjuk Raquel tanpa melirik Reina sama sekali.


Reina gelagapan dan langsung menggelengkan kepalanya, jika mengaku maka hancur sudah wajahnya. Orang-orang tidak akan percaya lagi padanya, dia akan dibenci dan dijauhi oleh semua orang.


"Tentu saja bukan dia, dia kan anak baik, lembut dan perhatian. Dia tentu saja tidak akan menjebak wanita rendahan seperti diriku, lalu siapa yang menyuruhmu untuk menjebak diriku?" tanya Raquel menyudutkan si asisten rumah tangga.


"I-i-itu, saya ...." Dia tidak tahu harus mengatakan apa sebagai jawaban.


Raquel mendekati Reina lagi, setiap langkah yang Raquel ambil membuat Reina meneteskan keringat dingin. Reina berusaha tegar di tempatnya dan membusungkan dada, dia tentu saja tidak ingin kalah dari Raquel.


Raquel ingin menggunakan kekuatan permata, dia akan membuat Reina merasakan sesuatu yang akan membuatnya malu di jamuan makan ini.


"Anda bisa memberinya penyakit gatal, buat dia terus menggaruk di sini. Dia pasti akan malu dan menangis, orang seperti dia layak untuk mendapatkan semua itu." Suara bocah itu terdengar lagi.


"Gatal? Itu ide yang bagus, dia sangat memuja wajahnya dan kita buat dia kehilangan wajah itu." Raquel membalas ucapan bocah itu dengan senyum indah.


Dia setuju dengan apa yang dikatakan si anak, dia melangkah ke depan dan berpura-pura tersandung hingga memegang tangan Reina. Saat itulah Raquel menyalurkan kekuatan yang dia miliki ke tubuh Reina, Raquel sekali lagi memeriksa keadaan Reina menggunakan kekuatan permata dan memilih untuk memperparah kondisi Reina.


Setelah melakukan tindakan itu Raquel berusaha berdiri dengan benar, dia tersenyum pada Reina dengan begitu indahnya.


"Terima kasih sudah menangkap diriku, jika bukan karenamu aku pasti sudah tersandung. Kau memang sangat baik," ujar Raquel dengan begitu elegan.


Raquel mengambil tisu di atas meja lalu membersihkan tangannya dengan tisu seolah dia jijik. Reina mengepalkan tangannya dengan wajah memerah, saat itu bulu kuduk Reina berdiri, rasa gatal yang hebat menyerang dirinya membuat dia mulai menggaruk tubuhnya.


Reina berlari ke arah kaca untuk melihat apa yang terjadi dan betapa terkejutnya dia saat itu.