The Rebirth Of The Vengeance

The Rebirth Of The Vengeance
52. Melindungi



Raquel menyentak tangan Raphael yang memegang tangannya, "lepaskan! Aku harus pergi dari sini, aku tidak nyaman di sini."


Raquel berusaha untuk terlihat tenang dan tidak terpengaruh namun tatapan mata Raphael yang tajam dan dalam membuatnya tidak tahan, dia benar-benar ingin pergi meninggalkan tempat ini sesegera mungkin.


Raquel memukul tangan Raphael yang tidak mau melepaskan tangannya membuat senyum semakin tumbuh lebar di bibir Raphael, dia jelas tahu alasan Raquel melakukan semua ini.


"Kalau aku tidak mau bagaimana? Kau bisa apa memangnya?" tanya Raphael santai yang membuat perubahan besar di wajah cantik Raquel.


Raphael mendorong Raquel masuk ke dalam mobilnya, dia memaksa Raquel untuk masuk dan mau tidak mau Raquel terpaksa mematuhi semua itu. Raquel duduk dengan tidak nyaman di samping Raphael, matanya akan terus melihat keluar jendela dengan kaki terus bergerak secara asal.


"Kenapa? Tidak nyaman ya? Tahu begini lebih baik aku tidak datang dan mengungkapkan siapa diriku tadi, aku sungguh menyesal telah melakukan semua itu." Raphael mendesah dengan senyum menggoda tercipta di bibirnya.


Raquel yang mendengarkan itu memilih untuk menutup mulutnya rapat-rapat, dia tidak mau membahas masalah ini. Dia malu, andai saja dia tahu dia tidak akan melakukan semua kebodohan itu di depan Raphael.


Sesampainya di rumah Raquel langsung berlari turun dengan cepat, dia bahkan tidak mengucapkan sepatah kata pun. Dia benar-benar kabur begitu saja, membuat Raphael menggelengkan kepalanya dan tertawa.


"Saya sudah berhasil menyingkirkan orang-orang yang mengikuti kita tadi, Tuan!" Sopir yang mengemudi memberitahu Raphael apa yang sudah terjadi.


Dia memberikan video pada Raphael, di mana sejak tadi mobil mereka diikuti oleh beberapa orang. Raphael mengangguk, dia sudah tahu ada beberapa penembak jitu yang menguntit Raquel sejak mereka berada di pesta tadi dan tujuannya mengantar Raquel pulang adalah demi keamanan Raquel.


"Di mana mereka? Apakah di tempat itu?" tanya Raphael sembari menarik lengan bajunya ke atas.


"Di tempat biasa Tuan!" jawabnya dengan cepat tanpa berniat untuk menunda lagi.


Sopir mulai menjalankan kendaraannya menjauh dari kediaman Raquel menuju ke tempat yang sangat dia hapal itu.


Telepon Raphael berdering, dia mengangkat panggilan itu dengan wajah datar tanpa perubahan sama sekali.


"Tetua yang berhubungan dekat dengan Yenny yang melakukan itu, Tuan! Tampaknya ini merupakan permintaan Yenny, apa yang harus kita lakukan Tuan? Apakah perlu menangkap tetua itu juga?" tanya bawahan Raphael yang masih ada di sana.


"Tidak, awasi saja dia dulu! Aku yakin Raquel memiliki rencana terhadap para tetua itu, biarkan mereka melakukan apa yang ingin mereka lakukan tapi awasi mereka. Jika hal itu menyangkut Raquel langsung kabari aku," ujar Raphael penuh penekanan.


"Baik, Tuan!" jawab anak buah Raphael cepat sembari memutuskan sambungan telepon.


Raquel masuk ke kamarnya dan mengunci pintu, dia langsung mengambil teleponnya untuk menghubungi Derrick untuk meminta bantuan.


"Halo Derrick! Apa pekerjaan yang kuberikan padamu telah selesai? Aku membutuhkan bantuanmu untuk sesuatu? Apakah kau bisa?" tanya Raquel lembut.


Derrick yang diberikan tugas sepenting itu tentu saja mengangguk senang, dia menantikan hal ini sejak lama.


"Sudah, Tuan! Apa yang bisa aku lakukan untukmu?" tanya Derrick dengan tidak sabaran.