
Pagi ini menjadi tidak biasa bagi Hanna. Ia terbangun di tempat yang asing baginya. Sebuah kasur yang empuk dengan selimut tebal. Hanna berusaha memperjelas pandangan nya, mencari tahu dia sedang ada dimana.
Hanna menggeliatkan tubuhnya dan mencoba duduk dengan kepala yang masih terasa sedikit pusing akibat alkohol yang ia minum semalam.
"Ada dimana aku, aku tidak pernah ingat tinggal di kosan semewah ini." Ucap Hanna sembari memegangi kepalanya.
Krekk...
Langkah Kama terdengar, ia masuk ke kamar itu. Membawa roti dan susu untuk Hanna. Ya, dia masih punya belas kasih.
Mata Hanna yang sayup akibat mabuk dan rambut yang berantakan, terpelongo kaget melihat Kama.
"Tuan Kama, apa saya sekarang sedang berada di apartemen Tuan?" Tanya Hanna.
Kama tak menjawab apapun. Raut wajahnya acuh, "Makan roti ini." Kama memberi roti itu untuk Hanna yang masih duduk di tempat tidur.
"Terimakasih Tuan." Hanna mengambil roti itu tapi tidak langsung memakan nya, "Mengapa Tuan bisa membawa saya ke sini?" Tanya nya lagi.
Kama membuka kaosnya di hadapan Hanna. Terlihat bentuk tubuh yang sempurna, dada dan perut yang seperti roti sobek. Tentunya, banyak wanita yang tergila-gila dengan pria berwajah malaikat dan berhati Lucifer ini.
"Apa kau ingin aku membuangmu tadi malam ? Katakan, agar aku menyesal karena sudah mengizinkanmu bernafas di apartemenku!" Kama membungkuk dan meletakan tangan nya di ujung tempat tidur.
"Terimakasih sudah menolong saya Tuan. Anda ternyata memiliki sisi yang teramat mulia." Hanna tersenyum manis dan mulai menggigit roti yang sejak tadi ia pegang."
Kama menatap Hanna seperti seorang yang lapar dan ingin melahap sesuatu yang ada di depan nya. Ia mulai naik ke atas tempat tidur, lalu mendekati Hanna dan membuat gadis berambut pirang itu tidak memutuskan gigitan nya sehingga roti masih tersangkut di bibirnya.
Dia mulai mendekati ku. Apa ia akan menjilat ludahnya sendiri dan tidur denganku. Batin Hanna yang mulai merasakan jantung yang berdetak seperti tidak biasanya.
"Kau katakan aku berhati mulia, Nona? Haha... Sudah aku katakan aku tidak suka dengan hinaan kotor dari mulutmu." Kama semakin mendekatkan wajahnya, "Jika kau mengatakan hal itu lagi, maka kau akan ku jadikan makan malam ku!" Kama menggigit ujung roti yang tersangkut di bibir Hanna.
Ia mengunyah roti itu seperti orang yang sedang lapar dan tatapan matanya bagai sebuah hipnotis yang masuk menusuk kedua bola mata milik Hanna.
Jika iblis itu memang berwujud seperti Tuan Kama, maka mungkin aku adalah manusia yang akan mengkhianati Sang pencipta. Batin Hanna yang terus memandang Kama.
Kama bangkit berdiri dan membelakangi, Hanna, "Habiskan rotimu wanita lamban ! Kau harus bekerja hari ini. Bersihkan dirimu dan bersiaplah! Aku tunggu di kantor dan jangan datang terlambat atau kau akan menerima hukuman nya!"
Hanna tersadar bahwa tubuhnya masih bau alkohol. Ya, dari semalam ia tidur dengan baju yang sama.
"Tuan kosan saya jauh dari kantor. Apa boleh saya minta kerenggangan waktunya?" Hanna memelas, mengingat ia harus mandi dan bersiap, pasti akan memakan waktu lama.
"Haha... Baik aku akan memberimu tambahan waktu tiga menit! Jangan menawar lagi!" Kama berbalik memandang Hanna.
Tiga menit, sama saja dengan tidak sama sekali. Gerutu Hanna dalam hati.
Hanna bergegas bangkit dari tempat tidur dan ingin segera kembali ke kosan.
"Tuan, kalau begitu saya harus kembali sekarang." Ujar Hanna dan mulai menggerakkan langkahnya.
"Hei!!!..." Kama menahan tangan sekretarisnya itu.
"Ada apa Tuan? Apa saya melakukan hal yang salah? Jika iya, saya minta maaf Tuan," Hanna menundukkan kepala.
Minta maaf saja. Walaupun tidak berbuat apa-apa.
"Kau tidak akan tahu dimana lift untuk turun. Akan ku antarkan, untuk memastikan kau tidak nyasar dan merepotkan lagi !" Kama menarik tangan Hanna untuk mengikutinya.
Benar saja. Apartemen ini sangat luas dan mewah, lalu Kama hanya tinggal di sini sendirian. Batin Hanna sambil melempar pandangnya kesana kemari.
"Ini liftnya, silakan masuk dan pergilah." Ucap Kama dan langsung melepaskan tangan Hanna.
Lift itu terbuka, Hanna segera masuk. Sebelum lift itu tertutup Kama masih berdiri memandangi Hanna begitu pula Hanna, ia tak sungkan membalas tatapan pria yang sulit di tebak itu.
"Hanna..." Panggilan itu terdengar jelas dari mulut Kama menjelang pintu lift tertutup.
***
"Han, kau dari mana saja? Aku mencemaskanmu !" Ucap Azel jengkel.
Mata Azel membesar, "Apa?! Han apa kau sudah melepas kehormatanmu padanya?"
"Kau ini bicara apa, hah?! Tidak mungkin Tuan Kama melakukan itu padaku." Bantah Hanna, kali ini sambil mengambil handuk yang tergantung.
Azel mengikuti langkah Hanna, "Tidak mungkin, katamu?! Han kau tahu kan Tuan Kama itu akan tidur dengan siapa saja. Apa semalam kalian berkencan dan..."
"Hentikan Azel!" Bentak Hanna.
Azel menghembuskan nafas, "Maaf. Tapi aku rasa jika kalian memang benar melakukan nya, kau wanita yang beruntung Han."
Hanna menggelengkan kepala tak habis pikir atas apa yang di ucapkan Azel.
"Ya jika memang nanti akan seperti itu, maka aku harus menjadi yang terakhir dan satu-satunya untuk Kama."
Azel tertawa, Haha... rupanya kau ini sudah jatuh hati dengan nya?"
Hanna hanya tersenyum dan bergegas menuju kamar mandi.
***
Gadis berambut pirang itu mempercepat langkahnya, karena jika dalam lima menit lagi wajahnya tidak terlihat dihadapan Kama, maka habislah dia. Tanpa memperdulikan orang sekitar yang memperhatikan nya, ia terus berlari dengan heels andalan nya.
Sangking terburu-buru, Hanna jatuh tersungkur ketika membuka pintu ruangan Kama. Tepat sekali Kama berdiri di depan nya.
Dengan nafas yang masih belum teratur, Hanna yang tertunduk memperhatikan sepatu mengkilat yang ada di depan matanya. Kemudian, perlahan ia menengadah ke atas.
"Tuan Kama..." Panggil Hanna dengan nafas terengah-engah.
Kama mengulurkan tangan nya, "Aku tidak meminta mu untuk berlutut seperti itu, cepat bangkit!
Hanna diam-diam tersenyum, lalu meraih tangan Kama, "Terimakasih Tuan." Katanya.
"Haha... Apa kakimu itu sudah rusak Hanna? Mengapa kau terjatuh? Oh kau takut jika aku tidak akan memberikan pengampunan padamu?" Kama tersenyum miring.
"Saya hanya tidak ingin di hukum Tuan." Jawab Hanna santai.
Kama mendekati wajah Hanna, "Sayang sekali, hari ini doa ibumu tidak manjur. Kau akan tetap aku hukum! Haha..."
"Baiklah jika itu adalah resiko yang harus saya terima atas kesalahan saya. Jadi apa yang harus saya lakukan Tuan?" Kata Hanna tidak takut.
Bahkan ia tidak gemetar sedikitpun di hadapanku. Batin Kama.
"Kau punya nyali yang cukup besar Hanna. Malam ini kau harus menari bersamaku di Club dan tarian itu harus terlihat seksi." Tantang Kama.
Hanna mengigit bibirnya mendengar hukuman yang harus ia jalankan. Ia selalu lupa bahwa Kama tidak suka dengan pemandangan seperti itu.
"Aku katakan jangan mainkan bibirmu seperti itu!" Bentak Kama.
"Maaf Tuan saya lupa," Hanna menghentikan tingkahnya.
Memangnya apa yang salah jika aku menggigit bibirku.
Tingkahmu membuat aku ingin menyentuh bibir kecil itu. Gumam Kama sambil membuang pandangan nya ke arah lain.
"Bagaimana? Apa nyali mu yang besar itu cukup kuat? Jangan katakan kau ingin menukar hukuman nya." Kama kembali duduk di kursi singgasana nya.
Hannna melangkah mendekati meja kerja Kama, "Tuan saya akan lakukan apapun yang sudah menjadi hukuman bagi saya. Meskipun itu di luar prosedur perusahaan."
"Hei!!!... Aku pemilik perusahaan ini. Jadi, apapun yang aku perintahkan, itu adalah prosedur perusahaan, apa kau paham hah?!" Bentak Kama murka.
"Hamba paham Tuan Kama,"
Lagi-lagi salah... Batin Hanna.