
Happy Reading ❤️
"Bagaimana, apa kau dan Kama melakukan lebih dari sekedar ciuman?" Tanya Azel penasaran.
"Kau selalu saja menggodaku. Aku hanya sedikit bingung tentang Kama," Ucap Hanna.
"Mengapa?" Azel mengerutkan kening.
"Ntahlah, banyak sekali hal yang tidak bisa aku tebak tentang dia. Tapi, aku yakin Tuan Kama yang terkenal jahat, kejam dan sebagainya pasti punya masa lalu kelam." Jelas Hanna.
"Maksudmu, dia jadi seperti sekarang karena faktor masa lalu?" Wajah Azel menjadi serius.
Hanna mengangguk, "Um... Tapi aku tidak tahu apa itu. Tuan Kama terlihat begitu membenci keluarga kandungnya."
Apa aku ceritakan ya soal buku yang aku temukan.
"Keluarga kandung? Jadi, Tuan Kama masih memiliki keluarga kandung? Tapi, mengapa hampir semua orang tidak tahu tentang itu. Dia kan sangat terkenal, seharusnya semua orang tahu identitas keluarga Tuan Kama." Celoteh Azel sambil melayangkan bola matanya seperti sedang berpikir keras.
"Aku juga tidak mengerti."
"Han, kau tahu Founder Luxuria Group ? Itu pasti ayah kandung Tuan Kama. Mungkin jika mengetahui identitas ayah Kama, semua rasa penasaranmu bisa sedikit terpecahkan." Ucap Azel antusias.
Hanna tersenyum, "Kau benar. Nanti akan aku coba cari tahu siapa namanya."
Azel mengangguk, lalu melempar pandangan nya kesana kemari. Matanya terhenti, pada dua orang pria yang baru saja masuk ke dalam cafe itu. Salah satu dari mereka, tidak lain adalah Kama.
Azel mendadak menjadi tegang, "Han... Tuan Kama," Bisiknya dengan mata yang tetap memandang Kama.
"Tuan Kama? Maksudmu?" Tanya Hanna bingung.
Azel menggerakkan kakinya, ''Iya kau tahu, dia ada disana." Bisiknya lagi sambil mengarahkan matanya memberi petunjuk tentang keberadaan Kama.
Perlahan Hanna memutar kepalanya kebelakang. Alangkah terkejutnya ia mendapati Kama dan Ardi yang duduk tepat di belakang mereka. Namun, sepertinya Kama tidak menyadari itu.
Dengan cepat Hanna memalingkan wajahnya.
Habislah aku jika dia tahu, aku melanggar perintahnya. Batin Hanna ketakutan.
"Selamat datang Tuan Kama yang terhormat. Saya sangat beruntung sekali, karena Tuan mau berkunjung ke cafe ini." Sambut seorang pria yang merupakan pemilik cafe.
"Sediakan kopi dengan citra rasa terbaik, juga jangan lupa hidangan yang terenak di cafe ini. Kau tahu, Tuan Kama tidak ingin memuntahkan makanan malam ini!" Suara angkuh Kama terdengar keras.
"Kakak, aku yakin cafe ini memiliki kopi dan makanan terenak." Suara Ardi terdengar pula.
Mata Azel membesar, ia menelan ludahnya. "Dia keren sekali." Ucapnya heboh.
"Zel, sebaiknya kita pergi dari sini," Ajak Hanna yang tetap waspada.
"Kenapa? Oh... kau malu jika bertemu dengan Tuan Kama haha... aku tahu rasanya jatuh cinta." Ujar Azel yang memang tidak mengetahui maksud Hanna.
Aku lupa memberi tahu Azel, bahwa aku tidak di izinkan pergi kemanapun dengan Tuan Kama.
"Bukan---" Belum sempat Hanna melanjutkan perkataan nya, Azel sudah memotong.
"Jangan malu begitu Hanna," Ucapnya dengan suara keras hingga membuat Kama memandang ke arah mereka.
"Sst!... kecilkan suaramu! Tuan Kama tidak mengizinkan aku untuk pergi, jika dia tahu aku disini habislah aku." Jelas Hanna.
"Apa ?! Mengapa tidak bilang dari tadi. Maafkan aku Han. Tapi, dia sedang kemari." Mata Azel mengarah pada Kama yang berjalan menuju mereka.
Hanna menghembuskan nafasnya, "Habislah aku..."
Plak...
Suara telapak tangan menempel di meja. Kama dengan wajah dan tatapan marah berada di samping Hanna. Ia sedikit membungkuk, dengan kedua telapak tangan di atas meja.
"Kau melanggarnya?" Katanya sinis sambil menatap Hanna.
Kama semakin menajamkan tatapan nya tepat pada bola mata Hanna, "Sepertinya, kau memang suka sekali menantangku." Perkataan yang semakin membuat jantung Hanna berdetak kian kencang.
Azel yang memperhatikan itu ikut gugup,
"T -tuan sebenarnya aku yang memaksa Hanna untuk keluar malam ini." Sambungnya mencoba untuk meredahkan suasana.
"Aku tidak berbicara denganmu." Ucap Kama sambil terus menatap Hanna.
Tangan Azel mulai bergetar.
Dia tampan sekali. Matanya begitu tajam menatap Hanna. Jika aku jadi Hanna, aku akan mati gaya kalau di tatap seperti itu.
"Tu -tuan Kama, maafkan aku. Aku hanya..." Hanna mencoba mencari alasan.
"Hanya apa, gadis cherry?" Tanya Kama yang semakin dalam memandang Hanna.
Bahkan, sekarang aku merasa tidak rela jika kau pergi bersama Azel. Kau itu milikku Hanna.
Hanna yang gugup dan bingung, memalingkan wajahnya karena ia tidak bisa membalas tatapan Kama yang dalam padanya. Tatapan yang selalu bisa menghipnotis dirinya dan cukup kuat untuk mengintimidasi.
"Hanna... hei kau disini rupanya." Ardi menghampiri mereka pula. "Wah... pasti akan lebih seru jika kita duduk bersama." Ardi meraih kursi dan duduk di samping Azel.
"Kalian mengapa tegang sekali? Hei kak, jangan memandang Hanna seperti itu. Ayo kita duduk." Kata Ardi lagi.
Melihat itu, Kama mencoba mengesampingkan kemarahanya pada Hanna di depan adiknya. Ia mengambil posisi duduk di samping Hanna.
"Nah begitu dong... Hei aku Ardi," Ardi mengulurkan tangan nya pada Azel.
Azel meraih tangan itu, "Azel."
"Kau teman nya Hanna ya?"
Azel mengangguk sambil tersenyum. Namun, ia tetap merasa bersalah, karena sudah membuat Tuan Kama merasa kesal pada Hanna.
"You are mine, Hanna!" Bisik Kama seolah mengingatkan bahwa seharusnya Hanna melakukan apa yang ia kehendaki.
Hanna menunduk, menahan getaran di hati dan sekujur tubuhnya. Sementara, tangan Kama yang berada di bawah meja menyentuh paha Hanna. Ia merabanya dengan lembut dan mencubit pelan.
"Aw..." Pekik Hanna kecil yang tertahan di ujung bibir.
Kama tersenyum tipis memandang wajah Hanna, "Kau merasa geli atau sedikit sakit ?" Bisik Kama lagi.
"Kakak, kau ingin minum anggur?" Tanya Ardi tiba-tiba.
"Ya, aku sangat ingin anggur." Jawab Kama penuh penekanan, sambil memandangi bibir Hanna.
"Baiklah biar aku pesankan. Apa Hanna dan Azel juga mau?" Ardi melirik ke arah Hanna sejenak.
"Jangan ! Hanna tidak suka anggur." Jawab Kama cepat dan kembali memandang Hanna, "Mulai sekarang kau tidak akan aku izinkan untuk minum anggur yang memabukkan. Kau tidak boleh mabuk." Bisiknya lagi.
Pernyataan itu membuat Hanna mengangkat wajahnya yang dari tadi menunduk. Ia menatap ke arah Kama.
Mengapa dia mengatakan itu. Apa dia mulai peduli padaku.
"Kalau kau Azel, kau mau?" Tanya Ardi pada Azel.
"Tidak terimakasih. Aku sudah minum segelas kopi," Tolak Azel.
"Baiklah kalau begitu, biar aku dan kakak saja." Ardi melambaikan tangan nya pada seorang pelayan.
Sementara Kama terus memandangi Hanna, hingga membuat gadis itu berkeringat dingin. Ia bingung harus bagaimana, agar bisa mengahlikan perhatian Kama padanya.
Rasa campur aduk yang ia rasakan, jika mata Kama terus menatapnya seperti itu. Ntah itu pertanda marah atau sekedar ingin membuat Hanna kaku tak berdaya.