The Other Side Of Kama

The Other Side Of Kama
Ardi dan Hanna pergi bersama



Happy reading ❤️


Ardi mengajak Hanna ke tempat, dimana ada banyak para wisatawan berkunjung. Sebuah bangunan klasik indah, di kerumuni sekelompok burung-burung cantik yang bermain di halamannya.


Tidak terhitung jumlahnya. Tapi, burung-burung itu terlihat ramah juga menggemaskan. Hampir semua dari mereka berwarna putih, namun sebagian juga ada yang berwarna coklat dan abu-abu.


"Indah sekali burung-burung itu." Histeris Hanna.


"Mereka juga jinak dan ramah. Kau ingin memberi makan mereka?" Tanya Ardi.


"Kelihatannya menyenangkan." Jawab Hanna tanda menyetujui.


"Baiklah, tunggu sebentar."


Ardi menghampiri pria bertopi yang mengenakan penghangat leher. Pria itu tampak menjual makanan burung.


"Genggam ini, lalu letakkan tanganmu di dekat mereka." Ardi memberi biji-bijian itu pada Hanna.


"Apa rasanya akan geli?" Tanya Hanna penasaran.


"Kau coba saja. Mereka akan memberikan sensasi padamu."


Hanna berjongkok, lalu perlahan membuka tangannya yang berisi makanan burung. Seketika, burung-burung itu mendekati Hanna berkerumun dan makan dari tangannya.


Hanna menahan geli, "Haha Oh my God this is so funny haha..." Histerisnya kegirangan.


Ardi pun ikut menyusul Hanna, ia membuka lebar telapak tangannya dan memberi makan burung-burung yang menggemaskan itu.


"Mereka terlihat lucu, bukan?" Tanya Ardi.


"Iya, mereka sangat baik. Tidak nakal sama sekali," Ucap Hanna yang terus menikmati cubitan geli dari paruh burung.


Ardi larut dalam pandangan akan pesona Hanna yang terlihat begitu girang. Senyum dan tawa manis, kulit wajah yang mulus putih, hidung mancung serta lesung pipi yang menambah kecantikannya.


Kau sangat cantik Hanna. Andai sejak dulu aku berani mengungkapkan rasa ini padamu.


"Makanannya sudah habis." Ujar Hanna melirik ke arah Ardi yang terlihat bengong menatapnya.


"Hei Ardi!" Seru Hanna sambil memukul pundak Ardi.


"Eh, hem... Maaf Han, a -aku hanya terpesona akan kecantikanmu." Ceplos Ardi.


Hanna tersenyum paksa, "Kau bisa saja. Apa di sini tidak ada kopi?" Hanna bangkit berdiri dan mengalihkan pandangannya.


"Kau ingin sesuatu yang hangat? Ya, kopi. Aku akan membelinya disana." Kata Ardi sedikit gugup sambil menunjuk ke sebuah mini bar.


"Aku akan duduk disana," Hanna menunjuk sebuah kursi panjang yang terlihat seperti tembok kecil yang pendek.


"Aku akan segera kembali dengan dua kopi." Ucap Ardi.


Hanna menggosoknya kedua telapak tangannya, sambil duduk menunggu kopi yang sudah ia nanti sejak beberapa menit silam.


"Ini, latte untukmu." Ardi memberikan segelas cangkir kopi hangat pada Hanna.


"Terimakasih Ardi." Hanna meraih kopi itu.


Ardi menyusul duduk di samping Hanna. Menikmati pemandangan serta keramaian, sambil perlahan menyeruput kopi hangat miliknya.


"Apa kakakmu itu sudah pulang ke rumah?" Hanna melirik ke arah Ardi.


"Aku rasa sudah. Dia itu orang yang tidak betah berjalan di tempat asing sendirian." Jawab Ardi sambil menyilangkan kaki.


"Um..." Hanna meniup kopi hangatnya.


"Hanna," Panggil Ardi.


"Iya, kau ingin bicara apa?" Hanna menoleh sejenak dan kembali melihat ke depan.


"Apa kau punya kekasih?" Ardi melontarkan pertanyaan spontan.


Hanna membelalakkan mata mendengarnya, "Aku tidak tahu."


"Bagaimana kau bisa tidak tahu?" Ardi menatap bingung.


"Maksudmu?" Tanya Ardi lagi.


"Orang itu mengatakan bahwa kau adalah miliknya, tetapi dia juga tidak memberikan arti dari semua itu." Hanna menoleh ke arah Ardi yang juga menoleh ke arahnya.


"Mengapa tidak kau tanyakan saja langsung padanya." Ketus Ardi.


"Andai dia tidak serumit dan semisterius itu." Gumam Hanna pelan.


"Siapa yang kau maksud?" Ardi menatap curiga.


"Eh, tidak bukan siapa-siapa. Lupakan saja!" Hanna tersenyum manis dan kembali menikmati kopinya.


"Kau tahu, rasanya sulit menyatakan kejujuran pada seseorang yang kau sukai sejak lama." Ardi menunduk dan tersenyum.


"Mengapa sulit?" Tanya Hanna.


"Karena kau tidak tahu apakah dia memiliki rasa yang sama. Keraguan lebih besar dari pada perasaanku." Jelas Ardi.


"Haha kau ini, seperti anak kecil yang baru jatuh cinta." Hanna menepuk pundak Ardi dan bangkit berdiri.


"Semua orang akan jadi bodoh jika jatuh cinta, Hanna." Ardi bangkit berdiri pula.


Hanna tersenyum penuh makna.


Kau benar, aku dan Kama sudah menjadi bodoh karena cinta, atau mungkin hanya aku saja yang bodoh. Tidak! Kama juga bodoh. Batin Hanna.


"Han, itu kakak!" Seru Ardi sambil menunjuk pria yang berjalan menghampiri mereka.


Hanna cepat menoleh, "Kau benar. Itu Kama, apa dia menyusul kita?


Ah tidak, aku rasa dia akan marah padaku karena aku pergi bersama Ardi.


Kama melewati adiknya itu dan melangkah mendekati Hanna dengan tatapan yang tidak asing ketika ia sedang marah.


"Kakak, kau tidak menyapa kami terlebih dahulu?" Ardi mendekati sang kakak.


"Tidak perlu! Aku ingin mengajak Hanna pulang." Jawabnya sambil terus menatap Hanna.


"Jadi, kau hanya mengajaknya pulang dan aku tidak? Kau kejam sekali!" Protes Ardi.


Kama menoleh ke arah Ardi sejenak, "Ibu memintamu untuk membeli daging domba. Pergilah!" Perintah Kama berbohong.


"Daging Domba? Apa ibu akan membuat hidangan berlemak malam ini untuk kita? Ah, pasti enak sekali. Baiklah, kau dan Hanna pulanglah lebih dulu." Wajah Ardi bersemangat dan melangkah pergi sambil melambaikan tangan.


"Tuan, maafkan aku. T -tadi Ardi memaksaku untuk---"


"Apapun alasannya aku tidak akan memaklumi, Hanna!" Potong Kama dengan nada penekanan.


"Kau marah padaku? Tuan ayolah, dia itu adikmu---" Hanna tak sempat melanjutkan lagi.


"Dan kau adalah milikku! Berapa kali aku harus mengatakan itu padamu, Hanna?!" Bentaknya hingga membuat sebagian orang menoleh.


Hanna yang menyandari bahwa orang-orang menatap mereka berusaha mencairkan suasana, "Ah, kau kekasihku yang menggemaskan sekali. Jika rindu padaku, jangan berlebihan seperti itu sayang. Aku juga sangat merindukanmu." Hanna memeluk Kama.


Hal itu mengubah pandangan orang yang tadi terlihat tegang, kini tersenyum kagum dan memaklumi bagaimana rasanya merindukan sang kekasih.


"Hei! Apa yang kau lakukan?!" Kama sedikit meronta.


"Jika kau ingin marah padaku jangan ditempat umum seperti ini." Bisik Hanna.


Kama menelan ludahnya geram dan memperhatikan sekitar, lalu spontan menggendong dengan cara memikul Hanna di pundaknya, membawanya pergi dari situ sambil memukul-mukul bokong Hanna.


"Kau lihat saja, apa yang akan aku lakukan padamu!" Ancam Kama.


"Terserah kau saja Tuan. Tapi hentikan pukulanmu itu, bokongku ini terasa sakit!" Gerutu Hanna.


"Kau tahu apa yang lebih nikmat dari daging domba?" Tanya Kama masih terus melangkah cepat menggendong gadis mungilnya.


"Aku tahu, kau akan mengatakan dagingku ini akan lebih enak dari domba." Tebak Hanna.


"Haha... Ya, kau benar!"