
Suasana dingin di pagi hari. Kota Newyork hari itu mulai di hujani bola es putih lembut.
Bagai jatuh dengan irama, ia menghiasi jalanan kota, pohon yang masih rindang, atap rumah bahkan sela-sela kecil di sudut kota.
Sebagian orang ada yang memilih berlingkuk dalam selimut tebal, duduk menghangatkan badan di perapian yang ditemani secangkir teh dan mungkin sedikit perasan jeruk lemon. Namun, ada pula yang memilih keluar dari tempat kediaman. Memandang langit serta menyambut salju dengan telapak tangan.
Saat ini Kama berbaring memeluk Hanna yang tidur lelap di sampingnya. Ia memandang ke luar jendela kamar, lalu kemudian melirik wanita di sampingnya, “Hanna bangunlah.” Kama mencium kelopak mata Hanna.
Bagai sudah terlalu jauh di alam mimpi, Hanna sama sekali tidak melakukan pergerakan setelah Kama menciumi kelopak matanya.
“Kau tidur seperti kelelahan sekali.” Kama berkata lagi dan memeluk Hanna lebih erat, “Terimakasih," Ucap Kama.
Hanna terlihat membuka matanya, “Salju?” Katanya terkejut menyaksikan apa yang ada di luar jendela.
Kama melirik sambil mengusap kening Hanna seakan memijatnya, “Kau suka?”
“Tentu saja Tuan. Untuk pertama kalinya aku melihat salju turun secara langsung.” Kata Hanna antusias.
Hanna menyingkirkan tangan Kama dari perutnya dan memilih untuk mendekati jendela.
Wajahnya penuh kagum, “Indah sekali.”
Kama masih berbaring setengah bersandar pada kepala tempat tidur dengan telanjang dada. Seluruh bagian bawah tubuhnya tertutup oleh selimut putih tebal. Di balik Hanna yang sedang menikmati salju, Kama tersenyum.
“Tuan apa kau sudah sering menyaksikan ini?” Hanna menoleh sejenak.
“Aku rasa sudah, tapi aku tidak pernah menikmatinya seperti yang kau lakukan sekarang.” Kama membuka selimutnya lalu beranjak bangkit dari ranjang.
“Tapi mereka memang sangat indah, bukan?” Hanna masih terus terpesona sampai ia tak ingin memalingkan wajahnya sedetikpun dari sana.
Kama berjalan menuju lemari pakaian, “Menurutku biasa saja!” Kama mengenakan kaosnya.
“Biasa saja bagaimana? Kau tidak tahu, betapa indahnya alam ini.” Hanna berjalan perlahan menghampiri Kama.
“Apa aku harus sependapat denganmu?” Kama menyeringai, lalu menyingkir dari hadapan Hanna. Ia memakai jeans yang terletak sembarangan di kursi sofa.
“Kau memang payah Tuan Kama!” Desis Hanna sambil terus mengikuti Kama.
Kama tertawa kecil memandang Hanna, “Mengapa kau mengikutiku? Apa tidak merasa dingin dengan dress seperti itu?” Sorot mata Kama memandangi tubuh Hanna dari atas hingga ke bawah.
Hanna tersadar, “Aku ingin mandi air hangat.” Hanna melangkahkan kaki menuju kamar mandi.
Sejenak ia bersandar pada pintu kamar mandi yang sudah ia tutup rapat.
Aku sudah melakukannya lagi dengan Kama tadi malam. Apa ibu akan marah padaku nantinya? Tapi aku tidak bisa mengatakan tidak jika Kama menggodaku, bahkan akupun ikut berhasrat karenanya.
Hanna menyentuh lehernya yang memerah akibat Kama menciuminya dengan gila. Perlahan jari lentiknya turun hingga menyapu ujung bawa bibir yang merekah merah. Seolah membayangkan kembali bagaimana Kama meneguk air manis dari buah cherry miliknya. Hanna mendesah dalam bayangan.
Kau benar, aku sudah menjadi candu. Rantai dan borgolmu kini mengikatku kuat.
Hanna membuka perlahan seluruh kain yang menutupi tubuhnya. Lalu melangkah menuju bathub, menuangkan ramuan mandi dengan wangi-wangian, serta sabun yang sudah tersedia. Ia menyalakan kran air dan mulai berbaring disana. Menikmati air hangat yang menelusuri setiap inci kulit tubuh.
Hanna meletakkan kepalanya bersandar pada kepala bathub dan memejamkan matanya. Tangannya mulai memijat-mijat lembut bagian bahu kanan dan kiri.
“Um…” Hana mengerang sendiri menikmati pijatannya.
Krekk…
Suara pintu kamar mandi yang pelan terbuka tak juga menyadarkan Hanna yang masih menyibukkan jarinya memijat.
Kama berdiri menontoni Hanna. Ia melepas kaos serta jeansnya dan melempar kesembarang arah.
Struktur kaki yang kuat dan kokoh dengan bulu-bulu tipis menopang tubuh Kama yang terbentuk sempurna bagai tak ada cacat celah.
Kama mendekati bathub tepat di ujung kaki Hanna yang setengah tenggelam. Sorot matanya mengamati gerak-gerik jari lentik Hanna yang menari-nari indah di atas kulit mulus milik Hanna. Walau keseluruhan badan Hanna tertutup oleh busa sabun, tetapi batang leher Hanna cukup membangkitkan gairah seksual bagi Kama.
“Kau ingin aku bantu?” Kama duduk berlutut di depan ujung kaki Hanna. Ia meraih kaki itu lalu menggelitik telapaknya pelan.
“Aku ingin membantumu membersihkan diri.” Kama menatap nakal dan menarik paksa kaki Hanna.
“Kau harusnya mengetuk pintu terlebih dahulu!” Hanna bertingkah kaku.
“Mengapa harus? Aku hanya ingin memijat jari kakimu.” Kama menekan telapak kaki Hanna dengan ibu jari, bagai seorang pemijat sedang melakukan tugasnya.
Hanna menarik kakinya, “Tidak! Tuan, kau sebaiknya keluar sekarang juga!”
“Mengapa kau takut sayang?” Kama melangkahkan kakinya memasuki bathub dan duduk berlawanan dengan Hanna.
Hanna bergeser lebih ke sudut, “Badanmu itu besar sekali, bathub ini hanya untuk satu orang!”
Kama tertawa setelah mendapati ekspresi Hanna yang terlihat takut seolah Kama akan menyakitinya, “Berbagi bathub denganku tidak buruk, bukan?” Kama memanjangkan kakinya disebelah kaki Hanna.
Gadis itu merasakan jari-jari kaki nakal di dalam sana mengusap-usap pinggir betisnya.
“Aku sudah selesai.” Hanna bersusah payah meraih handuk tebal putih yang tergantung di dekat bathub dan segera menutupi tubuhnya.
Kama menyeringai seperti sosok iblis sedang merasuki pikirannya saat ini. Ia menarik Hanna hingga terjatuh dan bibir mereka hampir bersentuhan, “Kau mau kemana?” Tanya Kama.
“Aa –aaku sudah selesai Tuan.”
“Apa yang kau takutkan?” Ekspresi Kama datar, tetapi senyum nakal tersungging di bibirnya.
“Tu –tuan, aku hanya sudah selesai.” Hanna menahan getar di bibirnya, ntah akibat rasa dingin atau Kama.
Tanpa di duga-duga Kama melakukan gerakan spontan. Ia menyingkap handuk Hanna yang sudah menjadi basah. Lalu, mendekatkan wajah Hanna pada dadanya dan jari-jarinya dengan leluasa menari, meraba dan mengusap punggung Hanna.
Nafas Hanna menjadi cepat, “Kau mau apa lagi?”
“Aku ingin yang seperti semalam terjadi untuk kedua kali.” Kama memasukkan ibu jarinya sedikit ke dalam bibir Hanna.
“Kama, tidak untuk sekarang!” Tolak Hanna sambil mendorong tubuh Kama sedikit bergeser dari hadapannya.
“Mengapa?” Kama mengambil nafas tajam.
“Hari ini adalah kepulangan kita. Sebaiknya habiskan waktu bersama ibu dan Ardi.” Hanna memberanikan diri bangkit dan mengambil piama tebal.
Kama menepis air dalam bathub dengan kesal, “Baiklah. Kau tidak akan bisa menolak lagi jika kita sudah pulang!”
Hanna memakai piama lalu mengikat talinya pada pinggang, “Ya, tapi setelah pertemuanmu dengan Carlee berlangsung baik.”
Kama menyingkir dari bathub dan menyalakan shower, “Bukankah aku sudah berjanji? Mengapa kau ragu?”
“Kau berjanji untuk menemuinya. Tidak menutup kemungkinan kau akan tetap berlaku buruk padanya, bukan?” Hanna membersihkan wajahnya di wastafel.
“Untuk hal itu, aku tidak tahu.”
“Jika tidak, maka semalam akan menjadi yang terakhir buatmu! You might never get a chance to see me nak*d in your bed!” Ancam Hanna, jari telunjuknya teracung.
Kama mematikan shower, matanya bergulir geram memandangi tubuh Hanna yang dibalut piama putih tebal seolah ia ingin sekali memangsa Hanna saat itu juga, “Kau sekarang semakin berani Hanna.”
“Kau sendiri yang katakan pada Ibu Jean bahwa aku tidak takut padamu.” Tukas Hanna.
“Kau memang gadis yang selalu suka menantangku.” Kama menghampiri Hanna, lalu mencekal lengan gadis itu yang baru saja akan melarikan diri dari kamar mandi.
“Bukankah kau pria yang suka akan tantangan?” Hanna tersenyum menyeringai.
Kama menelan ludahnya kemudian menarik nafas tajam, “Apa yang akan kau beri jika aku sanggup melakukan tantangan itu?”
“Aku akan memberikan hidupku padamu. Padahal, kau tahu aku sudah memberikannya berangsur-angsur.”
Kama tersenyum tipis, “Tapi aku inginkan hidupmu setiap detik walau sudah memiliknya.” Manik mata Kama menyerang milik Hanna, bahkan ibu jarinya menekan rahang Hanna.
“I’m yours!” Tekan Hanna atas ucapannya, bola matanya pun ikut berbicara.