
"Tuan Kama, aku mohon jangan lakukan itu padaku." Terdengar suara teriakan wanita penggoda dari dalam kamar.
Mendengar itu, telinga Hanna terus fokus menyaring jelasnya suara itu. Ia mendekat pada pintu kamar, lalu menempelkan gendang telinganya.
"Haha... Kau sudah membuat aku tidak berselera lagi! Kau pikir aku suka menerima wanita yang sudah di pakai oleh orang lain sebelum aku, hah?!" Suara amarah Kama kini semakin jelas di dengar.
"Tuan, saya tidak bermaksud seperti itu. Tadi malam saya terpakasa melakukan nya Tuan." Lirih wanita itu yang di iringi ketakutan.
*Sebenarnya apa yang terjadi? Mengapa Tuan Kama sangat marah pada wanita itu, apa dia kurang menggod*a? Gumam Hanna.
"Hari ini juga kau akan hancur! Haha...." Suara tawa Kama terdengar begitu kuat.
Krekk...
Kama keluar secara tiba-tiba dan mendapati Hanna yang sedang menguping.
Habislah aku. Apa yang harus aku katakan sekarang. Batin Hanna penuh ketakutan.
"Apa yang kau lakukan di sini?!" Kama menatap tajam pada Hanna.
"Tuan, sa -sa -saya tidak melakukan apapun. Ya, benar saya tidak melakukan apa-apa Tuan Kama," Jawab nya gugup.
Ya Tuhan tolong sampaikan pada ibu bahwa aku sayang padanya, jika ini hari terakhir aku hidup.
"Kau ingin menjemput ajal mu lebih cepat?!" Kama mencekam pipi Hanna.
Benar, hari ini adalah hari terakhirku. Padahal, aku belum wisuda.
"Tuan Kama, saya tidak ingin mati. Setidaknya, biarkan saya lulus kuliah terlebih dahulu Tuan." Jawab Hanna polos.
Kama melepaskan cengkamannya dan menatap wajah Hanna yang begitu lugu.
Tentu saja kau tidak akan aku bunuh. Aku masih ingin melakukan banyak hal padamu.
"Sekarang kita harus pergi ke suatu tempat, percepat langkahmu, wanita lamban!" Kama melangkah meninggalkan Hanna.
"Baik Tuan,"
Hanna sedikit mengintip wanita penghibur yang masih berada di dalam kamar.
Dia masih saja menangis. Mengapa setiap Tuan Kama memberi ancaman pada seseorang, maka orang itu akan berduka seperti akan mati. Oh ya ampun... pipinya memerah, seperti kena tamparan keras.
"Hanna!!!" Teriak Kama.
"Ba... baik Tuan saya akan kesana," Hanna mempercepat langkah nya menyusul Kama.
***
Apa yang dia lakukan ini, pergi untuk makan sekarang. Padahal, ini belum saatnya untuk makan siang. Apa ini yang disebut seorang boss, kerjanya hanya memuaskan nasfu biologisnya juga nafsu perutnya. Gerutu Hanna geram, setelah mereka tiba di restoran mewah.
Seluruh pelayan di tempat itu menunduk hormat pada Kama, ketika ia melangkah masuk. Bahkan tidak ada yang berani untuk mengatakan apapun ataupun sekedar tersenyum.
"Tuan, tempat biasa sudah kami siapkan," Ujar seorang pelayan cafe pria sambil menunduk.
Hanna memperhatikan pria itu dari atas hingga kebawah. Ia mendapati tubuh yang menahan getar.
Berkata seperti itu pada Tuan Kama saja, pria ini sudah seperti orang yang ingin buang air kecil.
Kama hanya diam dan melangkah pergi menuju tempat yang sudah di sediakan khusus untuknya. Hanna pun ikut bersamanya.
Ruangan itu adalah ruang makan yang gelap. Hanya ada empat lilin yang menyala di meja makan yang panjang seperti meja makan para bangsawan. Hidangan nya pun hanya untuk dua orang yang tertata dengan rapi.
Kama menarik kursinya dan duduk, "Kau! Duduk di ujung sana,"
Hanna menurut. Ia duduk tepat di hadapan Kama yang berjarak cukup jauh.
"Kau tahu apa yang akan kita lakukan disini?" Tanya Kama dengan sorot wajah yang di sinari cahaya lilin.
Kama meraih pisau makan dan menancapkan nya di meja, "Haha... Aku sedang tidak ingin makan."
Dia akan membunuhku. Akan aku bakar rambutnya dengan lilin ini. Kata-kata tertahan dalam mulut Hanna sambil meremas tangan nya di kolong meja.
"Mengapa tidak ingin makan Tuan?"
"Haha... Makanan ku adalah wanita yang suka akan uang," Kama menuangkan air anggur ke dalam gelas.
Untung aku tidak terlalu suka uang. Jadi aku aman.
"Saya tidak mengerti Tuan," Kata Hanna sambil terus meremas tangan nya.
"Kau memang wanita yang lamban!" Kama meneguk air anggur itu dengan keangkuhan nya.
Hanna menunduk menelan ludahnya. Ya, ia merasa haus sekali, tetapi tenggorokan nya mengatakan tidak untuk segelas air anggur.
"Karena kau wanita yang lamban, jadi selama menjadi sekretaris ku. Kau harus mencatat semua hal yang di sukai oleh Tuan Kama, haha..." Kama meletakan gelas itu.
"Baik Tuan Kama," Jawab Hanna mengangguk.
Kama mencabut pisau yang tertancap dan menggosoknya pelan ke telapak tangan, "Pertama, jika Tuan Kama ingin kan wanita sebagai pemuasnya. Maka, tugasmu adalah mencari yang cocok untukku dan ia tidak pernah di tiduri oleh pria asing sebelum aku!"
Hanna mengetik perintah Kama di ponselnya. Karena, ia tidak membawa tas yang didalam nya ada buku catatan.
Kama menancapkan kembali pisau makan itu dengan keras, "Apa yang kau lakukan, hah?!
"Saya mencatat perintah Tuan,"
Memangnya dia pikir aku sedang apa, mengetik pesan pada pihak kepolisian untuk menyelamatkanku darinya.
"Apa kau tidak punya buku, hah?!" Bentak Kama.
"Tuan, buku saya ada di dalam tas yang tadi Tuan suruh tinggalkan," Jawab Hanna kesal.
"Mengapa wajahmu terlihat kesal?! Apa kau mulai berani padaku?"
Sabar Hanna. Jangan hiraukan pria ini, anggap saja dia ini seorang raja yang harus kau hormati.
"Tidak Tuan, saya tidak bermaksud untuk menyingung Tuan Kama. Maafkan saya." Hanna menundukkan kepalanya sebagai permohonan maaf.
"Kalau begitu cari buku dan pena. Aku tidak suka jika seseorang mencatat hal yang penting di ponselnya. Cepat!!!" Perintah Kama dengan wajah bengisnya.
"Baik Tuan. Akan hamba cari,"
Bergegas Hanna keluar dari ruangan itu dan berusaha untuk mencari sebuah buku dan pena yang di perintahkan oleh Tuan Kama. Ia cukup beruntung, karena mendapatkan nya begitu cepat dari seorang pelayan. Dengan segera, ia kembali ke ruang makan Tuan Kama.
"Tuan saya sudah mendapatkannya," Hanna kembali duduk di kursinya.
"Catat apa yang tadi aku katakan!" Kama mulai menikmati hidangan nya.
"Kedua, aku berhak memerintahmu untuk melakukan apa saja yang aku hendaki. Jika kau membantah atau melakukan kesalahan, maka kau siap untuk di hukum!" Kama menatap tajam pada lilin yang ada di depan nya.
Mengapa semua yang ia mau tidak sesuai dengan prosedur perusahaan. Batin Hanna geram sambil terus mencatat semua dengan terpaksa.
"Dan yang terakhir, kau tidak boleh menaruh perasaanmu padaku selama menjadi sekretaris pribadiku!" Lanjut Kama lagi, kini memandang dalam pada Hanna.
Semua wanita mungkin akan jatuh cinta pada Tuan Kama. Karena kekayaan, daya tarik, pesona dan ketampanan yang ia miliki. Tapi, ia pria yang menyakitkan.
"Apa kau paham?!" Bentak Kama mengejutkan Hanna yang berlarut dalam pandangan atas Kama.
"Saya paham Tuan Kama," Jawab Hanna. kemudian, tak sadar ia mengigit bibir nya.
Kama memperhatikan tingkah Hanna dan juga bibir kecil yang ia gigit. Ia mengerutkan keningnya sambil memainkan jemarinya di atas meja. Ntah apa yang ada di dalam pikiran Kama saat itu. Tapi dari raut wajahnya, tingkah Hanna cukup membuat ia ingin menyentuh bibir kecil itu.