The Other Side Of Kama

The Other Side Of Kama
Kau membuatku kesal, Tuan



“Putraku, mengapa kau mengajak gadis ini kemari?”


“Kau tidak perlu mengetahui segala urusanku, Carlee!” Kama meraih amplop dari dalam saku bajunya dan melemparkan amplop itu tepat di kaki sang ibu, “Itu adalah cek 300Juta yang kau inginkan! Silakan ambil.”


Carlee menoleh ke bawa kakinya, “Kau mencampakkannya seperti ini?!”


Kama tertawa licik, “Bukankah kau suka diperlakukan dengan kasar seperti ini? Dulu, bahkan para pria akan menamparnya dengan keras di pipimu.”


Carlee menelan ludahnya dan wajahnya menahan malu di hadapan Hanna.


“Kau tidak perlu memberikan ibu uang, jika caranya seperti ini Kama.”


“Mengapa Carlee? Oh, atau mungkin kau ingin aku mencampakannya di wajahmu?” Kama menata tajam.


“Tuan cukup!!!” Teriak Hanna, wajahnya kali ini sangat terlihat marah, “


“Apa kau tidak bisa menjaga sikapmu?! Kau sudah kurang ajar padanya!” Lanjut Hanna dengan tatapan penuh amarah.


“Hanna, ikut aku!” Kama menarik tangan Hanna.


“Tidak mau! Kau harus meminta maaf pada ibumu!” Pinta Hanna berani.


“Aku bilang, ikut aku!!!” Kama mengeraskan suaranya.


“Tidak Tuan, kau harus meminta maaf padanya terlebih dahulu.


Carlee menaikkan satu alisnya dan memandang remeh pada Hanna. Terlihat sama sekali tidak peduli atas apa yang terjadi. Tapi, ketika Hanna memandang ke arahnya, maka ia akan berpura-pura sedih.


“Untuk apa aku harus meminta maaf pada wanita ini?” Kama mendekati Hanna.


“Karena kau sudah berlaku tidak sopan padanya.”


“Apa kau pikir, aku bersedia melakukannya?” Kama semakin mendekat dan tatapannya begitu mencekik.


“Tapi kau harus melakukannya!” Tegas Hanna.


“Kau pikir aku akan menuruti semua kemauanmu, Hanna?” Kama mencekam rahang Hanna dengan jarinya.


“Tuan, dia adalah ibumu.” Bola mata Hanna begitu bulat memandang pria yang kian kuat mencekam rahang pipinya.


“Jangan sebutkan kalimat itu lagi!” Kama seperti seorang yang di rasuki monster, ia semakin menekan jarinya di rahang Hanna dan lupa bahwa Hanna adalah wanita yang ia cintai.


Hanna mencoba melepaskan tangan Kama, “Tuan lepaskan tanganmu.” Rintihnya kesakitan.


Carlee tersenyum sinis menyaksikan hal itu.


Apa pedulimu gadis bodoh! Aku sama sekali, tidak menyesali sikap Kama padaku tapi kau rela sekali melakukan itu. Bodoh! Batin Carlee dan diam-diam mengambil amplop di bawa kakinya.


“Jangan ucapkan kalimat sampahmu!”


Kama tidak menyadari bahwa Hanna hampir saja menangis menahan sakit di rahangnya, ia merasa saat ini kuku Kama tertancap di pipinya.


“Tu –an.” Lirihnya dengan mata berbinar.


Sentak Kama tersadar ketika bola mata Hanna hampir menangis. Ia segera melepas cengkamannnya dan melihat ada bekas di sana. Kama mendekap Hanna dalam pelukannya, ia mengusap wajah Hanna dan berulang kali minta maaf, lalu kembali memeluk Hanna.


“Maafkan aku Hanna.” Suaranya terdengar begitu menyesal.


Hanna hanya diam, dia tak membalas pelukan Kama. Tangannya hanya terus lurus kebawa.


Mengapa kau bersikap kasar lagi Tuan.


Kama mengusap wajah Hanna lagi dengan tangannya dan dengan mata yang penuh penyesalan, “Hanna maafkan aku.” Ia menciumi kepala Hanna berkali-kali ketika mengucapkan maaf, tapi Hanna tetap bergeming.


“Aku ingin beristirahat,” Ucap Hanna seraya melepaskan pelukan Kama.


Kama mengabaikan ibunya, ia hendak menarik tangan Hanna, namun gadis itu mengelak.


“Hanna, aku minta maaf.”


“Aku ingin beristirahat. Bisa kau tunjukan dimana kamarku?” Hanna menarik kopernya.


“Hanna, aku mohon maafkan aku.” Kama menahan bahu Hanna dengan kedua tangannya.


Carlee diam-diam tersenyum senang, “Nak, jika kau ingin tidur. Kamarnya ada di atas dan yang paling pojok adalah kamar tamu. Tapi, biar pelayan yang akan mengantarmu kesana. Kau kemari!” Carlee melambaikan tangannya pada seorang pelayan wanita.


“Tolong antarkan gadis ini ke kamar tamu.” Perintah Carlee.


“Baik Nyonya.” Pelayan itu memberi aba-aba pada Hanna untuk diikuti.


“Kau!” Carlee berteriak lagi pada pelayan laki-laki yang sibuk membersihkan kaca, “Bawakan kopernya!”


“Baik Nyonya,” Dengan sigap pelayan itu membawakan koper Hanna.


“Hanna, tunggu!” Kama menarik tangan Hanna.


“Tuan, aku sedang tak ingin bicara padamu.” Hanna melepaskan tangannya, suaranya terdengar lesuh.


Kau sudah membuat aku sangat kesal Tuan.


“Hanna, kau tidur di kamarku.” Wajah Kama memelas.


“Tidak! Kau yang bilang tadi pagi, kita belum menikah dan aku rasa, seterusnya kau tidak boleh mendekatiku. Kau tidak bisa melakukan apa yang aku pinta.”


Terlebih janjimu. Jika kau seperti ini terus, rasanya sulit sekali untukku menghadapi sikapmu.


“Bibi, terimakasih untuk kamarnya. Namaku Hanna, aku izin istirahat ya Bibi.” Hanna pamit pada Carlee dengan menundukkan kepala sejenak.


“Silakan saja. Tidurlah sampai puas nak dan jangan lupa usap-usap pipimu agar tidak sakit lagi.” Carlee seolah semakin ingin membuat Kama merasa bersalah dan Hanna bertambah panas atas kekasaran Kama.


Tidak sudi sebenarnya jika harus menumpangi gadis yang terlihat sederhana ini!


“Terimakasih Bibi,” Ucap Hanna.


Ibu Tuan Kama adalah wanita yang baik dan ramah. Kama keterlaluan jika harus membencinya seperti ini karena kelalaian masa lalunya.


“Hanna,” Panggil Kama ketika Hanna mulai melangkah menaiki tangga mengikuti langkah pelayan wanita.


“Putraku, lebih baik kau juga beristirahat ya.” Carlee mengusap pundak Kama, namun dengan kasar tangan Kama menepisnya.


“Jangan sebut aku dengan sebutan itu lagi!” Kama memperingatkan.


“Kama, apa kau tak bisa berlaku baik sedikitpun padaku?” Wajah Carlee di buat memelas.


“Apa kau pikir kau pantas mendapatkan itu? Bukankah uang lebih dari harga dirimu? Aku sudah memberimu uang! Itu lebih dari perlakuan baik, bukan?” Kata Kama penuh penekanan sebelum akhirnya ia meninggalkan Carlee begitu saja.


“Kama, tunggu!” Suara ibu terdengar lantang, tanpa menoleh ke arah Kama yang ada dibelakangnya menaiki tangga.


“Kama, kau tahu? Ibu melakukan semuanya itu karena sebuah alasan! Kau tidak seharusnya membenciku hingga sekarang!” Teriaknya namun di abaikan oleh Kama yang terus melangkah.


Carlee mengeluarkan napas tajam dan melambaikan tangannya pada seorang pelayan. Tidak lama kemudian, pelayan itu membawakannya segelas air putih dengan tiga butir es batu di dalamnya.


Carlee meraih gelas itu dan duduk di sofa menyilangkan kaki dengan tatapan sinis.


Andai saja bukan kau yang meneruskan bisnis ini Kama. Andai saja Lina tidak harus bernasib buruk. Dan gadis yang kau sebut adalah kekasihmu itu, sungguh mengejutkan! Wanita sederhana dengan penampilan seperti itu tidak layak di sebut kekasih dari putraku! Tapi, siapa gadis itu? Bukankah kau tidak pernah bisa mencintai seorang wanita, putraku?


Carlee terus berkata-kata dalam otaknya, meneguk perlahan demi perlahan air minumnya dan kemudian menyalakan televisi berukuran besar yang menempel di dinding dengan desain yang megah dan mewah di ruang utama rumah itu.