The Other Side Of Kama

The Other Side Of Kama
Rantai



Happy Reading ❤️


Sudah satu jam lamanya Hanna menunggu Kama yang sibuk dengan olahraga gym kesukaanya. Tentu saja sangat membosankan baginya yang hanya duduk diam bertopang dagu di sofa.


"Tuan kau lama sekali." Gerutu Hanna.


"Mengapa sekarang kau lebih berani padaku?!" Kama menghampiri Hanna dengan tubuh yang dihujani keringat serta handuk kecil di leher.


"Aku hanya mengatakan yang benar. Kau tahu bukan, menunggu itu membosankan." Keluh Hanna lagi.


"Jika lidahmu itu protes lagi, maka aku akan menggigitnya seperti daging panggang!" Ancam Kama sambil mengeringkan keringatnya dengan handuk.


Kalau berkeringat seperti ini, dia semakin membuat imanku goyah. Ya Tuhan, kapan aku bisa tidur di dada yang bidang itu. Pikir Hanna dalam hati.


"Berikan baju gantiku!" Pinta Kama.


Hanna memberi tas Kama yang sejak tadi ia pegang.


"Baju ini terlihat kusut, aku tidak ingin memakainya." Kama mengembalikan baju itu ke tangan Hanna.


"Lalu bagaimana Tuan?"


"Aku mau kau merapikan nya apapun caranya!" Kama mengedipkan sebelah mata.


Akan aku kerjai kau Hanna.


"Bagaimana bisa aku merapikan baju ini? Tuan ini bukan tempat untuk Loundry sehingga ada alat yang bisa digunakan untuk merapikan baju."


"Aku tidak peduli, itu adalah perintah! Kau harus bisa merapikan baju itu dalam waktu kurang dari 10 menit!" Kama duduk di sofa merentangkan tangan.


"Kau menyebalkan sekali! Aku tidak mau!" Hanna meletakkan baju itu di sofa dan pergi keluar.


"Hannna!!!" Teriak Kama.


"Arrghtt... wanita itu berani sekali padaku! Liat saja kau!"


Dengan geram Kama berlari keluar mengejar Hanna.


"Dimana dia?"


"Ya ampun, tubuhmu ini kekar sekali Tuan. Kau sangat tampan," Puji Hanna pada seorang pria yang merupakan pengunjung tempat itu.


Hanna sengaja melakukan itu setelah mengetahui Kama ada dibelakang.


Kita lihat saja, apa darahmu itu semakin mendiidh Tuan Kama.


"Terimakasih Nona, anda juga terlihat sangat cantik." Balas pria asing itu sambil menyentuh dagu Hanna.


"Hei kau!!! Jangan sentuh Hannaku!" Kama memukul pria itu tepat di wajahnya.


Astaga mengapa malah memukulnya. Bukan itu yang aku inginkan. Batin Hanna dan segera menolong pria asing itu.


"Tuan kau tidak apa-apa? Mengapa kau memukulnya Tuan Kama?!" Hanna menatap tak suka.


"Karena dia berani menyentuhmu! Akan aku hajar lagi dia!" Kama hendak memukul lagi.


"T -tuan Kama maafkan aku. Aku tidak tahu kalau gadis ini adalah kekasihmu." Pria itu menyatukan kedua telapak tangan memohon ampun setelah mengetahui bahwa yang ada di hadapan nya adalah Tuan Kama yang terhormat.


"Apa? Kekasih??? Tuan kau salah---'' Ucap Hanna yang kemudian terpotong.


"Dia memang kekasihku. Untuk itu kau harus mencuci tanganmu dengan sabun. Aku tidak izinkan aroma tubuh gadisku yang kau sentuh ini kau bawa pulang!" Ucap Kama dengan tatapan menghakimi.


Pria asing itu mencium tangannya dan mengendus-endus.


Perasaan aku tidak mencium aroma apapun. Lagian aku hanya menyentuh sedikit dagunya.


"Apa kau dengar hah?!" Bentak Kama.


"Iya Tuan, aku akan segera mencuci tanganku." Kata pria itu bergetar.


"Tuan kau berlebihan sekali, semua ini salahku. Aku yang sudah menggodanya terlebih dahulu." Jelas Hanna.


Tanpa ia sadari ada banyak kamera yang secara diam-diam mengabadikan kejadian itu. Ya, semua orang akan berbondong-bondong membaca berita yang mungkin akan berbunyi, Tuan Kama akhirnya miliki seorang kekasih.


"Tuan, turunkan aku!" Hanna meronta-ronta.


Kama menekan remote mobil dan secara otomatis pintu mobil terbuka. Pria berwatak Lucifer itu memasukkan Hanna ke dalam dan menguncinya disana.


"Tuan, apa yang kau lakukan?! Keluarkan aku dari sini!!!" Teriak Hanna, namun tetap saja suara akan kedap ketika berada didalam mobil.


Kama meninggalkan Hanna dan kembali ke dalam gedung.


Akan aku pastikan pria itu mencuci tangannya. Meskipun ini terlihat berlebihan tapi, tangan pria itu membuat aku muak ketika dia menyentuh Hannaku.


Kama berjalan dengan geram. Kedua tangan ia cekam begitu kuat. Hingga semua orang dapat merasakan amarah Tuan Kama dari ekspresi wajahnya.


"KAU! Apa tanganmu itu sudah kau cuci?! Atau kau ingin aku memotongnya, hah?!" Teriak Kama hingga membuat semua orang menatap padanya.


Pria yang sedang memakai sepatu itu memandang takut pada Kama, "T -tuan sudah aku lakukan apa yang kau perintahkan."


Kama menatap tak percaya, lalu menunjuk salah-satu orang yang ada disana.


"Kau! Pastikan tangan pria ini beraroma sabun!" Perintahnya.


"Ba -baik Tuan." Orang itu mencium tangan pria yang menyentuh dagu Hanna.


"Tuan, benar dia sudah mencuci tangan nya."


"Baiklah! Sekarang aku umumkan pada kalian, wanita yang kalian lihat bersamaku tadi adalah kekasihku! Jika kalian melihatnya jangan pernah menyentuh, apalagi tersenyum padanya! Terutama jika itu laki-laki, paham?!" Kata Kama dengan suara lantang.


Semua orang yang mendengar itu hanya menunduk takut. Bahkan, ada sebagian orang yang berbisik, "Apa wanita itu betah memiliki kekasih seperti Tuan Kama. Ya, dia memang tampan dan kaya raya."


"Siapa yang berbisik itu? Aku dengar!" Ucap Kama lagi dan membuat suasana semakin senyap.


Tidak ada satupun yang berani menjawab atau sekedar menaikkan wajahnya. Hanya ada cahaya kamera yang tepat mengenai wajah Kama.


Kama mencari siapa pemilik kamera itu, "Haha... mencari uang dengan menebar gosip. Tidak apa-apa, aku ingin semua orang tahu Hanna adalah milikku!" Kama melangkah pergi meninggalkan tempat itu.


"Tuan, kau kemana? Mengapa mengurungku seperti ini?" Omel Hanna.


"Aku ingin memastikan pria itu mencuci tangannya dan memberitahu semua orang bahwa kau adalah milikku." Kama menyalakan mobil dan mulai melajukan nya.


"Apa maksudmu dengan membuat semua orang tahu?"


Kama tidak menjawab apapun. Ia hanya terus fokus menyetir, hingga tiba di apartemen.


"Tuan, mengapa malah ke apartemen? Bukankah kita harus bekerja?" Tanya Hanna.


"Kau harus menyelesaikan hukumanmu." Kama turun dari dalam mobil dan menggendong Hanna.


"Tuan, turunkan aku! Aku punya kaki, aku bisa berjalan!" Hanna meronta-ronta dengan kuat.


Tetapi Kama sama sekali tidak memperdulikan. Ia malah terus menggendong Hanna menaiki lift dan membawanya kedalam Kamar.


Kama membaringkan gadis itu di tempat tidur. Lalu mengambil rantai pengikat, merentangkan kaki Hanna dan mengikat kedua kaki itu dengan rantai yang di kunci di ujung kaki tempat tidur.


Mata Hanna membolak besar dengan posisi berbaring dan kaki terentang, "Hei!!! Apa yang kau lakukan padaku Tuan?"


Kama membuka kasar baju yang ia kenakan dihadapan Hanna dan kembali bertelanjang dada.


"Kau sudah melanggar terlalu jauh dengan kakimu itu, jadi sebaiknya kakimu itu aku ikat agar kau tidak bisa pergi kemana-mana lagi."


Kama menaiki tempat tidur dan mendekati Hanna. Lebih dekat, Hanna menyaksikan perut dan dada bidang tepat di hadapan nya. Bahkan, mata Kama yang indah serasa sangat dekat dengan miliknya. Bibirnya kini hampir menyentuh bibir Hanna.


"Kau mungkin berpikir bahwa aku akan menggigitmu lagi Hanna? Aku akan melakukan lebih dari itu." Kata Kama dengan sorot mata tajam.


"Apa yang inginkan? Kakiku terasa sakit, bisakah kau lepaskan?" Tanya Hanna santai dan tanpa rasa takut, hanya jantung yang bergetar akibat pesona Tuan Kama.


"Biarkan saja kakimu seperti itu! Aku suka kau terikat dengan rantai." Kama menatap nakal, "Aku mencium aroma lehermu yang membuat aku lapar." Kama mendekatkan bibirnya pada leher indah milik Hanna.