The Other Side Of Kama

The Other Side Of Kama
Dansa



"Hanna..." Panggil Kama lembut yang sedang menyetir. Di karenakan buru-buru ke rumah sakit, Kama menyetir sendiri tanpa Arkhan.


"Ya Tuan?" Jawab Hanna yang duduk di sampingnya.


"Kau ingat akan hukumanmu malam ini, kan?"


"Tentu saja saya ingat. Menari bersama Tuan Kama di Club." Hanna tersenyum.


"Aku ingin merubah rencanaku," Kama melirik Hanna sekilas.


Hanna mengerutkan kening, "Maksud Tuan?"


"Aku tidak ingin mengajakmu menari di Club malam ini. Tapi, aku ingin mengajakmu berdansa di apartemenku." Kama menghentikan mobilnya tepat di lampu merah.


"Apa Tuan Kama suka berdansa?" Hanna memandang pria di sampingnya itu.


"Tidak. Aku hanya baru melakukannya denganmu, nanti." Kama kembali menjalankan mobilnya.


Apa yang dia pikirkan sekarang, hingga berniat mengajakku berdansa. Batin Hanna dan tanpa sadar tersenyum.


"Mengapa kau tersenyum, hah?! Kau pasti meledekku, jawab!" Nada bicara Kama berubah lagi.


"Tidak Tuan. Hamba hanya senang karena Tuan Kama sudah mau minta maaf pada Nona Chloe tadi." Ujar Hanna berbohong.


"Jangan membicarakan itu lagi!" Wajah Kama terlihat jengkel. Padahal, ia juga merasa sedikit lega.


Hanna memandangi jalan dan tersenyum tipis.


"Akan aku antar kau pulang sekarang." Kata Kama lagi.


"Pulang? Tuan ini bukan jamnya untuk pulang," Hanna terlihat bingung.


"Karena nanti malam kamu harus datang tepat waktu ke apartemenku, jadi aku izinkan kau pulang lebih cepat dan aku tidak ingin penampilanmu biasa saja, berusahalah untuk terlihat lebih baik dan enak dipandang, paham ?"


"Iya, saya paham Tuan." Jawab Hanna sembari mengangguk.


"Dan ini adalah hukuman! Jadi jangan berpikir bahwa aku memiliki maksud lain padamu." Kata Kama berusaha menutupi perasaannya.


"Um..." Hanna mengangguk lagi.


Baiklah Tuan Kama. Pada akhirnya, seorang raja akan menjadi lemah dalam cinta. Begitu juga denganmu.


***


"Terimakasih Tuan Kama, karena sudah mengantarkan saya." Ucap Hanna yang sudah turun dari mobil.


Kama hanya tersenyum padanya dan langsung melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi.


Hanna melangkah girang, masuk ke dalam kosan dengan wajah yang memerah. Hukuman yang Tuan Kama berikan, malah membuatnya senang.


Orang bilang ketika Tuan Kama bertindak, maka ajal sudah mendekat. Tapi, berbeda dengan Hanna.


Ia merebahkan tubuhnya di atas kasur. Melirik ke arah jam yang tertempel di dinding.


"Masih jam 03.45, itu artinya aku punya waktu tiga jam untuk bersiap." Hanna bangkit dan membongkar lemari, siap menggeleda baju mana yang akan ia pakai.


"Han..." Azel tiba-tiba masuk membawa sehuah paket.


"Kau pulang lebih awal?" Tanya Hanna.


"Iya hari ini, Louis menutup toko lebih cepat. Karena neneknya meninggal dunia." Azel mengampiri Hanna, "Ini aku temukan di depan pintu." Ia memberikan paket itu pada Hanna.


"Buatku?" Hanna menaikkan sebelah alisnya.


"Tertulis, "To Hannatasya." Azel menggerakkan pundaknya memberi kode pada Hanna bahwa ia juga tidak tahu paket itu dari siapa.


Hanna meraih paket itu dan membukanya, "Ini gaun pesta. Siapa yang mengirim? Tidak ada nama pengirimnya," Hanna membolak balik kotak paket itu.


"Ya, anggap saja kau punya pengagum rahasia diuar sana," Ucap Azel santai sambil mengganti baju.


Hanna menggigit bibir dan berpikir keras, "Um... apa ini dari Kama."


Azel berbalik menghadap Hanna, "Kama??? Tuan Kama maksudmu?"


Hanna mengangguk, "Malam ini dia menghukumku karena sudah terlambat ke kantor dan hukuman nya adalah berdansa dengan nya nanti malam."


"Apa??? Hukuman sejenis apa itu, dia malah mengajakmu berdansa. Apa Tuan Kama jatuh hati padamu hehe..." Azel duduk mendekati Hanna dan mencubit pipinya.


"Haha... Kita lihat saja apa seorang Tuan Kama bisa jatuh cinta," Wajah Hanna memerah.


"Kau ini bicara apa? Seseorang bukan untuk di pertaruhkan," Omel Hanna.


"Iya... maaf." Azel merangkul Hanna mesra.


***


Jam 18.30, Hanna sudah bersiap. Ia terlihat sangat anggun dengan gaun di atas lutut berwarna biru gelap, anting yang menghiasi telinganya, kalung perak yang tergantung di leher serta make up yang natural, menambah kecantikan nya.


"Han... selain paket kau tahu apalagi yang mengejutkan?" Hiteris Azel.


Hanna menoleh ke arahnya, "Apa?"


"Tuan Kama ada di depan. Dia menjemputmu dengan mobil mewahnya. Aku hampir saja pingsan melihat ketampanan nya. Ya Tuhan..." Pekik Azel dengan bola mata yang melayang ke atas.


Mendengar perkataan Azel, Hanna malah langsung bergegas menemui Kama. Ia meraih dompet kecilnya dan pergi.


Tuan Kama yang tampan dan menyakitkan itu. Bersandar di wajah mobil, ia memasukkan kedua tangan nya ke dalam kantong celana.


Jas abu-abu yang kancingnya terbuka, dalaman biru gelap persis seperti warna baju yang Hanna kenakan. Ia begitu menawan dan mempesona.


Kama... kau tampan sekali. Batin Hanna yang terpesona.


"Tuan, maaf sudah menunggu lama." Hanna menghampiri Kama.


"Kau tahu kan aku tidak suka menunggu?!" Celoteh Kama sambil memandangi Hanna dari atas hingga ke bawa.


Gadis ini cantik sekali. Banyak wanita cantik dan seksi yang selama ini aku temui. Tapi, berbeda dengan Hanna.


"Maaf Tuan... saya tidak tahu jika Tuan menjemput saya." Hanna menundukkan kepalanya.


"Jangan buang waktu! Cepat masuk ke mobil." Kama masuk ke mobilnya dan di susul dengan Hanna.


Selama perjalanan ke apartemen, mereka tidak saling bicara. Hanya suara musik yang sedikit mencairkan suasana yang dingin.


"Kita sudah sampai. Jangan lamban ! Turun dan percepat langkahmu." Ujar Kama.


"Baik Tuan."


Memangnya sedang latihan militer. Sehingga semua harus cepat. Batin Hanna geram.


Kama sudah mempersiapkan segala sesuatu untuk Hanna. Meja bundar dan hidangan mewah serta lilin kecil di tengahnya. Bahkan, ia juga menyewah pemain piano profesional hanya untuk berdansa dengan Hanna, gadis yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya.


"Tuan, kau mempersiapkan semua ini?" Hanna memasang tatapan kagum.


Kama memalingkan pandangan nya, "Ini hanya ucapan terimakasih ku padamu. Jangan berpikir yang bukan-bukan!"


"Walaupun begitu, saya akan tetap ucapkan terimakasih pada Tuan.


Inilah sisi dirimu yang orang lain tidak ketahui.


Kama memilih mengabaikan wanita bertubuh mungil itu. Ia memilih duduk dan menuangkan segelas anggur untuk Hanna dan dirinya.


"Minum saja sewajarnya. Jangan sampai kau mabuk ! Aku tidak ingin di repotkan lagi jika kau mabuk." Kama meneguk air anggur itu.


"Terimakasih Tuan. Lagian, ini berbeda dengan alkohol yang saya minum malam itu. Siapa pemain piano itu? Dia memainkan nya dengan sangat baik." Hanna memandang kagum pada pria yang menciptakan latunan musik hingga membuat suasana menjadi hangat.


Wajah Kama terlihat kesal ketika Hanna memandang pria itu. Ya, ntah apa yang Kama pikirkan, "Mana aku tahu! Aku hanya menyewahnya, agar dansa kita menjadi lebih baik. Aku tidak ingin menyimpan nya sebagai kenangan buruk nanti."


"Dia hebat ya." Masih memandang pria itu.


"Kau ingin kesana? Silakan tanya kan segala sesuatu yang ingin kau tanyakan!" Bentak Kama, kemudian menghabiskan segelas anggur dengan kesal.


Wajah Hanna terlihat bingung dan heran, "Maaf Tuan, saya tidak akan bertanya lagi tentang pria itu."


Aneh sekali. Apa yang salah hanya bertanya dan menganggumi seseorang.


"Nikmati saja hidangan nya! Kau akan bersyukur setelah mencicipinya." Kama kembali angkuh.


"Iya Tuan. Terimakasih..."


Perlahan Hanna menyantap makanannya hingga habis. Sementara, Kama merasa kenyang dengan memandangi wanita yang ada di hadapan nya.


"Kau sudah siap?" Kama memberikan tangan nya untuk Hanna raih.


Hanna meraih tangan itu sambil mengangguk senyum. Mereka beranjak ke tengah-tengah ruangan. Posisi mereka sudah pas seperti pasangan dansa yang sudah mahir.


Siapa sangka, Hanna ternyata paling menyukai dansa. Ia berdansa dengan sangat indah, bahkan seperti menikmati semua dengan sepenuh hati.