
Jamuan malam telah selesai. Kama dan Hanna duduk berdiri di teras kamar Kama yang terletak di lantai dua.
Mereka memandangi pemandangan ibu kota yang masih terlihat sibuk dengan kemacetan jalan. Kama berdiri menyandarkan tubuhnya di tiang pagar kamar.
“Tuan, Jakarta selalu terlihat hidup ya.” Hanna memulai pembicaraan.
“Ya, sama saja seperti di Singapura.” Kama mengangguk menyetujui.
“Aku sangat bahagia malam ini,” Ucap Hanna.
Kama menoleh penasaran, “Apa yang membuatmu bahagia?”
“Kau dan ibumu.”
Kama menautkan alisnya, “Aku dan Carlee?”
“Iya. Untuk pertama kalinya, kalian bisa sedekat ini. Apa yang membuatmu bersikap seperti ini padanya Tuan?”
“Aku tidak tahu. Hanya saja, ketika ia merasa pusing aku sedikit khawatir.” Kama menatap langit yang dipenuhi dengan cakrawala.
“Kau sebenarnya menyayangi ibumu, Tuan.”
Kama tersenyum tipis, “Ntahlah, dulu aku tidak pernah peduli dengan keadaannya. Hanya saja, dia sudah tua. Rambutnya mulai memutih, aku sedikit khawatir sekarang.”
“Kau tahu Tuan? Ayahku berselingkuh dengan prostitusi, itu yang membuat rumah tangga mereka hancur. Tapi bagiku, Ayah tetaplah akan menjadi Ayah. Jika ia datang meminta maaf atau sekedar menanyakan kabarku, maka aku tetap akan memaafkannya dan menghormatinya sebagai putrinya.” Hanna ikut memandang langit berbintang.
“Mengapa kau tidak membencinya?” Kama terlihat begitu ingin tahu.
“Dulu aku sempat membencinya. Hanya saja, itu akan menyiksa diriku sendiri. Membenci orang yang sebenarnya kita cintai itu bisa membunuh kita secara perlahan. Fakta mengatakan, kanker hati itu disebabkan karena kita membenci seseorang atau sakit hati padanya.” Jelas Hanna.
“Benarkah? Aku baru mengetahuinya.” Kama menatap Hanna.
“Tentu saja! Hati yang penuh dengan cinta atau kebahagiaan, adalah kunci panjang umur dan sehat.”
Kama menarik Hanna, lalu merangkul pinggangnya erat. Ia menatap dalam nan lembut. Wajah tampannya semakin terlihat mempesona di hadapan Hanna.
“Kau tahu? Aku takut menikah karena keluargaku yang berantakan.” Bisiknya pelan dengan mata yang utuh menyerang manik milik Hanna.
“Lalu mengapa kau ingin menikahiku?”
“Menikah mungkin akan terasa menyenangkan dan mudah jika kau adalah istrinya.” Kama tersenyum manis.
“Kau pandai menggombal Tuan.” Tukas Hanna.
“Tidak! Aku tidak bisa merayu wanita, kau tahu aku hanya bisa membeli mereka. Tapi, sekarang aku hanya ingin membelimu untuk seumur hidupku.” Kama mendaratkan kecupan di dahi Hanna.
“Tuan, menikah itu bukan hal yang main-main---’’
“Apa kau pikir aku main-main? Permainanku pada wanita-wanita sudah selesai ketika aku menemukanmu.” Kama mengatakannya dengan sorot mata yang terlihat begitu tulus.
Bibir Hanna merekah mendengar perkataan Tuan Kama yang baru saja membuat aliran listrik di sekujur tubuhnya menyala menggetarkan hati.
“Tuan, kau semakin pandai bicara.”
“Mulut lelaki memang selalu pintar berkata-kata. Tapi, tidak dengan Tuan Kama. Mulutnya hanya mengucapkan apa saja yang akan ia kehendaki.” Kama bertekuk lutut di hadapan Hanna, lalu mengeluarkan sebuah cincin di saku celananya.
“Will you marry me, Hannaku?”
Melihat Kama yang tiba-tiba melamar Hanna begitu manis, membuat jantung Hanna ingin beranjak dari tempatnya berada. Sekujur tubuhnya bergetar menahan gejolak hingga membuat matanya menitikkan air mata penuh haru.
Hanna menutup wajahnya dengan tangan karena begitu malu sekaligus bahagia.
“Hanna, aku mencintaimu. Apa kau bersedia untuk menjadi istriku?” Kama mengulang perkataannya sambil terus bertekuk lutut.
Tuan Kama sudah merendahkan derajatnya ketika melamar gadis yang ia cintai. Jika orang-orang menyaksikan hal itu, maka pasti seluruh koran dan majalah serta telivisi di Singapura akan heboh menyorot berita ini.
Tidak menyangka! Tuan Kama sosok Lucifer tampan, meminang seorang wanita untuk dijadikan istri.
Hanna meraih cincin itu dan membantu Kama berdiri, “Aku tidak punya dua jawaban. Hanya ada satu, dan itu bukan penolakan.”
“Apa? Aku kan tidak menolakmu, Tuan.”
“Aku ngin kau menyebutkan intinya!” Desak Kama seraya merangkul pinggul Hanna dan mendekatkan wajahnya.
“Inti dari apa?” Hanna pura-pura tidak mengerti.
“Hannaku, kau membuat aku ingin menggigitmu! Aku sudah melamarmu dengan manis. Ayolah…” Kama terdengar jengkel.
“Kama, aku mencintaimu juga dan mau menjadi istrimu. Meletakkan nama belakangmu pada namaku,” Ucap Hanna dengan mata berbinar.
“Jika nanti kau sudah menjadi istriku, maka seluruh tubuhmu akan memerah setiap malam.” Goda Kama dengan tatapan nakal.
“Kau ini! Belum menikah sudah genit seperti ini.” Suara Hanna dibuat seperti anak kecil.
“Biar saja! Menjadi istri Tuan Kama tidak akan mudah.” Kama mendekatkan bibirnya pada bibir Hanna dengan posisi wajah sedikit di miringkan.
“Boleh aku mengecupnya? Aku sudah terlalu lama haus akan cherry.” Bisik Kama dengan desah napas yang terdengar begitu seksi.
“Tidak! Kau hanya boleh menciumku di hari pernikahan!” Hanna mendorong pelan wajah Kama.
“Tidak bisa seperti itu! Aku sudah menepati janjiku, bahkan aku dan ibu sudah mulai membaik.” Protes Kama.
“Kau menyebutkan ibu sekarang?” Hanna tersenyum bahagia.
Kama menahan gengsinya, “Jangan mengalihkan. Aku tetap akan mengecup bibirmu itu!” Kama mendekatkan bibirnya lagi dan Hanna lagi-lagi mendorongnya.
“Tidak sayang! Hanya akan ada wedding kiss.” Tolak Hanna.
“Sebut saja ini sebagai ciuman lamaran. Ayolah, aku tidak akan lama. Hanya lima menit saja.” Bujuk Kama dengan suara manja.
“Sekali tidak, tetap akan menjadi tidak Tuan Kama!” Tegas Kama sembari melepaskan rangkulan calon suaminya itu.
“Hanna please! Aku akan melakukannya sebentar.” Kama mencoba menarik Hanna lagi, tetapi dengan sigap gadis itu mengelak dan melangkah masuk ke dalam kamar.
Kama mengikuti langkah Hanna, “Kau berada dikamarku, itu artinya akan ada lebih dari sekedar ciuman.” Kama menakuti.
Mata Hanna membolak, “Tuan, aku tidak mau melakukannya lagi padamu. Cukup kebodohan di awal memancingmu untuk jatuh cinta padaku. Jadi, kau harus menunggunya sampai kita menikah.”
“Kau pikir aku ini ikan, hah?! Kau membuatku geram.” Kama mengejar Hanna yang terus berlari mengitari ruang kamar.
“Hanna cepat kemari! Akan aku habisi kau.”
“Coba saja jika kau bisa menangkapku Tuan.”
Hanna menjulurkan lidahnya sembari terus berlari, kali ini menuju pintu kamar. Ia berniat untuk keluar namun dengan cepat Kama menahannya dan memojokkanya pada pintu.
“Kau dapat sekarang. Kau ingin lari kemana?” Kama menatap nakal.
Hanna memberontak ingin lepas, “Tuan, aku mohon tunggu setelah menikah.”
“Aku ingin makanan pembuka Hanna.” Goda Kama.
“Tuan, lepaskan!”
Kama tertawa kecil, “Menikah artinya ciuman setiap pagi, siang dan malam. Bahkan, lebih dari ciuman.” Kama sengaja ingin membuat Hanna semakin takut.
Yang benar saja. Berciuman dengannya setiap waktu. Ya Tuhan, dia buas sekali.
“Pergilah, selamat tidur Hannaku.” Kama mendaratkan ciuman di pipi Hanna lalu melepaskan gadis itu.
Hanna menghela napas lega, “Kau yakin?”
“Apa kau ingin aku melakukannya sungguhan?!” Kama menaikan intonasi bicaranya.
“Ah, syukurlah jika kau mengerti.” Hanna melangkah pergi meninggalkan Tuan Kama yang tersenyum sendiri.