The Other Side Of Kama

The Other Side Of Kama
Kau tidak boleh pergi, Hanna



Happy Reading ❤️


Kota Newyork pukul 19.00. Hanna yang sibuk membantu ibu Jean menyiapkan makan malam tengah bingung memikirkan Kama yang sejak tadi tak juga keluar dari kamar. Ingin menghampiri, tapi langkahnya tertahan karena tidak tega membiarkan Jean menyiapkan segala sesuatu seorang diri. Apalagi, budaya Indonesia adalah sebaiknya wanita memang harus membantu di dapur.


‘’Semua sudah selesai. Hanna, pergi dan hampiri Kama. Sudah saatnya kita akan makan malam.” Ucap Jean yang masih menata rapi makanan di meja.


“Baik bu.” Jawab Hanna dan langsung melaksanakan perintah Jean.


Dengan lembut Hanna mengetuk pintu kamar Kama yang terkunci dari dalam.


“Tuan apa kau ada di dalam? Ibu katakan sudah saatnya untuk makan malam.” Katanya dengan suara lantang.


Kreekk…


Suara pintu di buka, Kama berdiri di hadapan Hanna dengan tatapan datar, “Baiklah. Ibu menyiapkan apa?”


“Daging panggang dan pasta.’’ Hanna tersenyum.


Kama menarik lembut tangan Hanna seperti ada sesuatu yang menyambar, hingga membuat ia bersemangat untuk makan setelah mendengar pasta dan daging panggang.


“Sayang, kau begitu lelah hingga tidur lama sekali?” Tanya Ibu Jean yang sudah duduk menunggu.


“Ya ibu aku memang sedikit lelah.” Kama menarik sebuah kursi dan mempersilakan Hanna duduk tepat di sampingnya. “Ibu maafkan sifatku tadi.” Kama menyentuh punggung tangan ibu Jean.


Ibu Jean mengangguk seperti memahami, “Sudah saatnya kita makan malam. Gadismu itu sudah lapar.”


Kama melirik ke arah Hanna yang memajang wajah penuh semangat, “Dia memang tukang makan bu.”


“Kau juga, bukan? Jangan hanya menuduhku Tuan Kama.” Rengeknya manja.


Ibu Jean tersenyum sambil menuangkan air anggur penghangat badan untuk semua, karena di luar udaranya terasa sangat dingin.


“Han, ceritakan bagaimana kehidupanmu?” Tanya sang ibu sambil memotong kecil daging panggang di piringnya.


“Aku putri tunggal bu. Ayahku tidak tahu ntah pergi kemana.” Hanna tersenyum tipis.


Wajah Kama dan Jean menjadi lebih serius.


“Tapi aku selalu berharap bahwa Ayah akan mengunjungi kami suatu saat nanti. Aku sedikit membencinya, tapi jika ia pulang mungkin hatiku akan menjadi lebih baik.” Lanjut Hanna.


“I am sorry for that Hanna. Ayahmu pasti baik-baik saja,” Ucap Jean menenangkan.


Hanna mengangguk sambil mengunyah pelan makanan nya.


“Berapa usiamu sayang?” Tanya Jean lagi.


“23 Tahun bu.”


“Bagaimana dengan ibumu?” Tanya Jean lagi seolah sangat ingin mengenal siapa Hanna lebih dalam.


“Ibu tinggal di Bali, usianya saat ini menginjak 49 tahun dan bulan depan aku berniat untuk mengunjunginya.” Kata Hanna bersemangat.


Uhukk…


Suara batuk Tuan Kama setelah mendengar kalimat Hanna yang baru saja keluar dari mulutnya. Ia memandang Hanna dengan ekpresi kesal. Bola matanya ia besarkan dan tangan kirinya merabah paha Hanna, lalu mencubit pelan disana.


“Kau tidak mengatakan apapun padaku soal ini.” Bisiknya dengan nada penekanan.


‘’Mengatakan apa Tuan?” Hanna menyatukan alisnya.


Kama menelan cepat sisa daging di mulutnya, meneguk anggur hingga habis dan kemudian membersihkan mulutnya, “Ibu, aku dan Hanna ingin pergi mencari angin sebentar.” Kama menarik kasar tangan Hanna.


Ibu Jean seperti mengerti dan sama sekali tidak mempermasalahkan hal itu, ‘’Silakan nikmati jalan-jalan kalian.”


Setelah sampai di luar, Kama berjalan cepat mendahului Hanna. Ntah apa yang membuat raut wajahnya begitu gusar, Hanna pun tak mengerti.


“Tuan Kama, bisakah kau melangkah lebih pelan? Kaki ku terasa sakit.” Gerutu Hanna.


Kama berbalik menghadap Hanna yang ada dibelakangnya dan mengendongnya seperti memikul sebuah karung beras. Ia membawa Hanna ke suatu jembatan kecil yang menyebrangi sebuah danau yang juga tak terlalu luas. Sambil sesekali menepuk bokong Hanna sedikit kasar.


“Turunkan aku Tuan!” Teriak Hanna sembari meronta-rontakan kaki.


Kama akhirnya menurunkan Hanna, lalu mengunci pinggang kecil gadis itu dengan erat, “Mengapa kau menutupi soal ini dariku Hanna?” Katanya dengan tatapan dalam.


“Menutupi apa Tuan? Aku tidak mengerti apa yang kau maksud?” Hanna terlihat bingung.


Kama semakin mengencangkan tangannya di pinggang Hanna dan mendekatkan wajah Hanna dengan tangan kiri miliknya, “Kau tidak mengatakan bahwa ibumu tinggal di Bali dan kau ingin meninggalkan aku untuk mengunjunginya kesana?”


“Kau tidak pernah bertanya sama sekali tentang ibuku dan itu bukan hakmu untuk melarangku jika ingin mengunjungi ibu atau tidak,” Ucap Hanna.


Mendengar jawaban Hanna yang begitu berani, Kama semakin murka. Bola matanya menatap bak bara api yang membara. Ia mencekik pelan leher Hanna dan mendorong bibirnya semakin dekat tepat di hadapannya.


“Kau adalah milikku Hanna. Tidak akan aku biarkan kau pergi kemanapun, meninggalkan aku sendiri!” Katanya dengan nada mengintimidasi.


“Aku hanya akan mengunjungi ibu dan aku tidak meninggalkanmu,” Bantah Hanna sambil mencoba melepaskan diri dari Kama.


“AKU KATAKAN, KAU ADALAH MILIKKU!!!” Nada bicara yang dikeraskan sambil mencekam kedua pipi Hanna dengan ujung jari-jarinya.


Mulut Hanna menahan pekik sakit yang menekan pipinya begitu kuat.


Mengapa kau kasar sekali Kama? Mengapa kau begitu marah padaku hanya karena aku ingin pergi bertemu ibu? Batin Hanna.


“Hanna, aku belum pernah mengekang wanita seperti ini. Aku belum pernah ingin memiliki wanita seperti ini, kau adalah satu-satunya yang pertama. KAU ADALAH MILIKKU, HANYA MILIKKU!” Kama semakin menekan pipi Hanna kuat dengan ujung jari.


“Kama lepaskan!” Rintih Hanna menahan sakit.


Menyadari hal itu, Kama melepaskan pipi Hanna yang berbekas akibat cengkaman jari yang begitu kuat. Kama mengusap lembut pipi itu kembali, dan dengan tatapan lembut ia memberi kecupan disana.


“Kau tidak boleh pergi Hanna!” Ujar Kama.


‘’Tuan, aku harus mengunjungi ibuku, dia adalah satu-satunya yang aku punya.” Kata Hanna dengan lembut.


“Kau punya aku dan aku rasa itu sudah cukup.” Kama membelai rambut Hanna.


“Kau mengunjungi Jean? Lalu apa alasan nya jika aku juga ingin mengunjungi ibuku?” Hanna memegang kedua pipi Kama dengan kedua tangan.


“Kau akan kembali?” Sorot mata penuh harap.


“Haha, Tuan tentu saja aku kembali, kau tidak perlu mencemaskan aku. Lagipula, aku baru akan berangkat bulan depan.” Hanna meraih kedua tangan Kama.


Dengan kasar Kama melepaskan sentuhan Hanna, “Jika kau tidak kembali, kau tahu bahwa Tuan Kama bisa melakukan apa saja?!”


“Kau ingin melakukan apa padaku?” Tanya Hanna menantang.


“Aku bisa melukai seluruh bagian tubuhmu, Hanna.’’ Ancamnya sambil kembali merangkul kasar leher Hanna.


“Baiklah, jika aku tidak kembali kau boleh mencariku dan melakukan apa saja yang kau kehendaki,” Ucap Hanna berani.


“Kau suka menantangku rupanya?” Kama tersenyum miring.


“Aku menyukai pria yang suka mengancam sepertimu, Tuan?” Ucap Hanna dengan bibir yang dibuat menggoda.