
Happy Reading ❤️
"You are mine Hanna, everything is mine!" Ucap Kama sebelum akhirnya mencium bibir Hanna lalu menelusuri lehernya.
Nafas Hanna menderuh dan jantungnya semakin bergetar merasakan bibir Kama yang menyentuh lembut kulitnya.
Perlahan Kama membuka baju Hanna, dan sejenak diam memandangi tubuh gadis itu yang dibalut dengan baju dalam ketat dan kurang bahan.
"Jangan tatap aku seperti itu." Ucap Hanna dengan nafas yang diburu.
Kama tersenyum mendengar itu, kemudian melanjutkan aktivitasnya, mencium pelan bagian dada Hanna.
"Please stop...!" Hanna bernafas tak teratur.
Kama melirik sebentar, dan kemudian melanjutkan lagi. Bahkan bibir lembutnya turun hingga paha dan betis milik Hanna yang hanya mengenakan rok.
Rok itu sedikit terangkat, hingga memperlihatkan paha indah miliknya. Gejolak yang Hanna rasakan membuat kakinya ingin sekali bergerak bebas menahan geli, namun semua tertahan karena rantai yang begitu kuat.
"Emm..." Suara kecil yang keluar dari bibir Hanna membuat Kama kembali mendekatkan wajahnya.
"Sulit bergerak?" Tanya Kama sambil tersenyum nakal.
Hanna hanya menatap dengan bibir merekah.
Mengapa kau berhenti. Batin nya.
"Bagaimana rasanya menahan gejolak tanpa rasa bebas? Nafasmu bisa mengartikan apa yang kau rasakan, kau menikmatinya walau sedikit sulit bergerak, bukan?" Kama menggoda Hanna dengan kata-katanya.
Aku akan menyiksamu dengan rasa gejolak dan gairah yang aku berikan. Tapi, aku tidak akan meneruskan atau melakukan lebih. Aku tahu kau inginkan itu dariku, Hanna.
"Do you want to sleep with me?" Tanya Hanna dengan bisik menggoda.
Kama tersenyum tipis, "Apakah itu kerinduanmu?" Kama balik bertanya dan kemudian menggigit kuat dibagian leher Hanna hingga meninggalkan bekas.
Kama merubah posisi, ia bangkit dan berdiri. Membiarkan Hanna yang masih terus bernafas tak teratur. Ia hanya tersenyum menyaksikan pemandangan gadis yang sedang bergairah.
Kemudian Kama mengeluarkan cambuk yang berbahan karet namun cukup tebal. Hingga juga sedikit sakit jika tercambuk dengan benda itu.
"Hukuman berikutnya!" Kama memukul paha Hanna kiri dan Kanan dengan cambuk itu.
TSASS!!!
TSASS!!!
"Aw..." Pekik Hanna merasakan perih di pahanya.
"Haha... Kau akan terus mendapat hukuman jika berani melanggar, apalagi jika kau berani menyentuh pria lain." Ucap Kama sembari mengecup tanda merah di paha Hanna.
Hanna hanya menggigit bibirnya, menahan setiap perlakuan Kama terhadapnya. Semua tidak membuatnya takut tapi justru menyukai setiap apapun yang Kama lakukan dan rasa itu membuat ia seolah berserah diri pada Kama.
Kau sudah mengintimidasiku. I'm yours, Kama. Kau juga sudah memberiku gairah, lalu menyiksaku tanpa memenuhi hasrat ini. Batin Hanna sambil berusaha memandang pria yang sudah menghukumnya itu.
"Kau bebas. Sekarang pakai bajumu dan buatkan aku makanan!" Ucap Kama sambil melepaskan rantai dikaki Hanna.
Hanna duduk bersandar di tempat tidur, berusaha untuk mengistirahatkan kakinya yang sedari tadi tegang.
Kama menatap Hanna, begitu juga sebaliknya. Namun kemudian, Kama meninggalnya dengan ekspresi datar.
"Kau mau kemana Tuan?"
"Aku ingin berenang. Kau bisa antarkan makananmu setelah ini kesana. Kolamnya ada dibelakang." Ucap Kama sambil membelakangi Hanna.
"Baiklah."
Setelah beberapa detik Kama keluar dari kamar, Hanna menurunkan kakinya dari tempat tidur. Ia mendekat pada cermin dan memandang bayangnya. Terlihat beberapa tanda merah di lehernya. Ia menyentuh tanda itu dan tersenyum.
Biasanya kau akan melampiaskan nafsu buasmu itu pada wanita. Tapi tidak denganku, kau hanya melakukan ini untuk menghukumku.
Perlahan Hanna melangkahkan kakinya dengan baju yang sengaja tidak ia kancing. Sehingga tetap memperlihatkan sedikit bagian dalamnya dibalik baju dalam seksi yang ia kenakan.
Ia mengambil telur, serta sayur-sayuran.
"Aku buatkan saja dia omelette." Ucap Hanna sembari mulai memecahkan telur itu ke dalam mangkuk.
Berapa menit setelah itu. Omelette dan jus segar sudah ia siapkan, lalu membawanya ke kolam renang.
Mendengar suara itu, Kama menghentikan aktivitas renangnya dan menghampiri Hanna yang duduk di pinggir kolam sembari menyelupkan kedua kakinya.
"Terimakasih," Ucap Kama kemudian mulai mengunyah omelette, tanpa naik dari kolam.
"Bagaimana rasanya?"
"Lumayan. Jusnya juga sedikit segar. Ya, kali ini kau berhasil memasak." Jawab Kama.
"Kau yakin hanya kali ini? Beberapa masakanku kau habiskan dengan lahap, bukan?" Hanna menggerakkan alisnya.
"Sudah aku katakan, aku hanya menghargaimu. Bukan berarti masakan nya enak." Elak Kama.
"Kau selalu saja berusaha untuk mengelak Tuan." Ledek Hanna.
"Kau pikir aku ini berbohong?! Makananmu memang tidak enak!" Ucap Kama dengan suara keras.
Hanna tersenyum, "Kalau begitu lebih baik jangan suruh aku memasak sesuatu untukmu lagi."
"Hei, tidak bisa begitu. Selama kau tinggal bersamaku kau akan tetap menjadi tukang masak, paham?"
"Enak saja. Aku tidak mau!" Hanna menjulurkan lidah.
"Kau sudah berani padaku ya!" Kata Kama geram.
"Memangnya selama ini aku takut padamu?" Tantang Hanna hingga membuat Kama semakin merasa geram.
"Jangan katakan itu lagi, atau kau---"
"Atau apa? Menghukum lagi? Ah, aku tidak takut!" Potong Hanna.
Kama menarik Hanna hingga ikut terjatuh ke kolam berenang.
"Tuan, kau lakukan apa? Aku tidak bisa berenang." Suara Hanna sedikit tidak jelas karena air yang sedikit masuk ke mulutnya.
Kaki Hanna bergerak-gerak berusaha untuk berdiri di lantai kolam renang, kepalanya naik dan turun, serta tangan yang berusaha mendayung air.
"Kau tidak bisa berenang gadis cherry?!" Kama meraih Hanna lalu berusaha menggendongnya keluar dari kolam.
Uhuk... uhuk...
Suara batuk Hanna ketika sudah sampai di atas.
"Kau tidak apa-apa Han? Tanya Kama dengan nada yang terdengar sangat khawatir.
"Sepertinya aku meminum banyak air kolam."
"Keluarkan!" Kama mengusap-usap punggung leher Hanna, "Maaf Han, aku tidak tahu jika kau tidak bisa berenang."
Uhuk... uhuk...
Hanna terus batuk dan berusaha memuntahkan air yang sudah masuk ke tenggorokan nya.
"Kau! Jika tadi aku mati karena tenggelam, kau akan membayar semuanya dan hartamu itu tidak akan cukup untuk menebus kesalahanmu pada ibuku, karena sudah membunuh gadis emas miliknya!" Omel Hanna sambil memukul dada Kama.
Spontan Kama memeluk Hanna dalam hangat pelukan nya, "Maaf Han. Aku tidak ingin kau mati, jangan berkata seperti tadi."
Hanna terdiam dalam pelukan Kama. Apalagi, setelah mendengar perkataan yang keluar dari bibir pria beralis tebal itu.
"Aku akan terus memelukmu agar kau tidak keinginan." Ucap Kama lagi dengan lembut.
Hanna mendorong Kama, "Kau ingin membiarkan aku sakit dan demam, hah? Ambilkan aku handuk tebal agar aku bisa menghangatkan tubuhku!"
"Baiklah." Kama bergegas melakukan apa yang Hanna perintahkan.
Haha, baru kali ini bisa memerintah Tuan Kama. Rasanya menyenangkan juga.
"Pakai ini." Kama menutupi tubuh Hanna dengan handuk tebal. "Bagaimana? Sudah sedikit hangat?"
"Um, terimakasih." Ucap Kama dengan sorot mata lembut.
Kama mengangguk dan tersenyum. Lalu kemudian menggendong Hanna masuk ke dalam apartemen.