
Happy Reading ❤️
"Han, mengapa kau pulang?" Azel merebahkan tubuhnya di samping Hanna.
"Kau tidak suka dengan kehadiranku?" Hana menaikkan sebelah alisnya.
"Jangan berpikiran buruk begitu. Tentu saja aku senang jika kau di sini." Azel mencubit pipi Hanna.
Hanna memukul tangan teman nya itu, "Aku tahu karena kehadiranku, jadinya kau gagal berciuman dengan pria payah itu, kan?"
Azel bangkit dan duduk, "Kau ini selalu saja berpikiran yang bukan-bukan tentang Louis."
"Dari awal aku memang tidak menyukainya. Kau tahu bukan? Dia memang payah, dia itu punya banyak uang tapi apa salahnya membantumu untuk membayar hutangmu pada renternir." Hanna meraih guling dan membelakangi Azel.
"Setelah di pikir-pikir kau benar juga. Bahkan, membelikan aku bunga pun dia tidak pernah. Ah... menyedihkan sekali aku." Rengek Azel dan kembali merebahkan tubuhnya.
"Iya kau memang menyedihkan." Ucap Hanna tak peduli.
"Hanna, lalu aku harus bagaimana..." Rengeknya kali ini menggoyangkan tubuh Hanna.
"Sudah aku katakan di awal, kau fokus saja bekerja. Tapi, kau malah masuk perangkap pria payah itu. Aku kasihan padamu, berhutang pada renternir demi membantu usahanya.
"Lalu, apa yang dia lakukan? Hanya menjadikanmu sebagai kasir di toko buku dengan gaji tak seberapa bahkan, seenaknya melupakan hutang." Omel Hanna sambil memejamkan matanya.
"Kau semakin membuatku pusing..." Rengek Azel semakin jadi.
"Terserah kau saja. Sebisa mungkin aku akan tetap membantumu membayar hutang. Tapi, aku harap kau kembali memikirkan hubunganmu dengannya."
"Aku tidak ingin terus merepotkanmu Han. Tapi, untuk saat ini aku belum bisa memutuskan Louis, aku takut dia akan memecat kita." Azel duduk lagi dengan wajah sedih.
Hanna membuka matanya masih dengan posisi yang sama, "Ada benarnya,"
"Oh iya, bagaimana kau bisa pulang? Bukan nya Kama itu mengajakmu untuk tinggal bersamanya?" Tanya Azel begitu antusias.
"Adiknya, sedang bersamanya." Jawab Hanna.
"Adik? Kama itu punya adik?" Azel sedikit heran.
"Adik angkat," Hanna merubah posisi menjadi duduk. "Dia punya keluarga angkat yang tinggal di New York. Akhir pekan, aku dan dia akan kesana."
Azel tersentak, "Apa??? Kau ikut dengan nya ke New York? Kau beruntung sekali Hanna..."
"Ntahlah, aku bingung dengan sikap Kama." Hanna berdiri lalu bercemin. "Kau tahu, dia mencium dan menggigit bibirku sebagai hukuman. Lalu, jika aku melakukan salah, dia bisa melakukan lebih."
Bahkan ada banyak alat-alat mengerikan yang ia simpan. Ntah, apa yang akan ia lakukan padaku dengan alat itu. Gumam Hanna.
Azel ikut berdiri disamping Hanna dan memperhatikan bibir Hanna, "Bagaimana rasanya di gigit?" Tanya nya dengan wajah polos.
"Pertanyaan semacam apa itu?" Hanna mengerutkan keningnya.
"Hehe... maaf, maaf. Tapi, dia memang aneh, menghukum mu dengan cara seperti itu. Bahkan, akan melakukan lebih? Ah... apa dia akan..." Tanpa melanjutkan perkataan nya Azel tersenyum sambil menggigit ujung jari telunjuknya.
"Kau ini, selalu saja berkhayal tinggi."
"Han apa kau berpikir, kau mungkin wanita pertama yang membuatnya seperti ini. Aku yakin mungkin dia mulai jatuh cinta padamu." Lanjut Azel lagi.
"Apa mungkin iya, pria dengan banyak hal misterius itu jatuh cinta padaku?" Hanna memandangi bayangnya di cermin.
"Kenapa tidak? Kau lihat saja, dia menciummu, mengajakmu berdansa, lalu tinggal bersama dengan nya di apartemen." Azel semakin antusias, bahkan berbicara sambil memperagakan nya dengan tangan.
"Tapi, sejauh ini memang dia berlaku baik padaku. Ya, walau sedikit banyak aturan." Hanna menghela nafas.
"Han, ini kesempatanmu untuk bisa membuat ia benar-benar jatuh cinta. Dunia akan heboh dan gempar, jika suatu saat Tuan Kama yang terkenal sebagai penjahat wanita dan pria yang kejam, mencintai gadis bernama Hanna.. Ahh... luarbiasa sekali kedengaran nya." Pekik Azel heboh.
Ya, apa aku akan seberuntung itu. Batin Hanna sambil tersenyum sendiri.
"Bagaimana jika malam ini kita pergi ke cafe?" Lanjut Hanna.
"Boleh, itu menyenangkan. Aku juga sudah rindu dengan cafe tempat kita biasa meminum kopi." Azel tersenyum girang.
"Baiklah, kau akan aku traktir." Hanna meraih handuknya untuk segera mandi.
"Haha kau memang bisa di andalkan." Ucap Azel girang.
***
Morettino Cafe
"Akhirnya bisa minum kopi senikmat ini..." Seru Azel setelah menyeruput kopi yang ada di depan nya.
Hanna terlihat murung. Ia bertopang dagu sambil memandangi gelas berisi kopi yang ada di depan nya.
"Han, kau ada masalah?" Tanya Azel.
"Aku memikirkan ibu." Hanna semakin murung.
"Kau rindu padanya?" Azel meraih kentang goreng.
"Tentu saja, sudah lama sekali aku tidak pulang. Aku khawatir dengan kesehatan nya." Hanna mengusap-gusap pinggir gelas dengan ujung jari.
Azel menghela nafas, "Han, ibumu akan baik-baik saja. Percayalah..."
"Ya, aku selalu berharap itu yang akan terus terjadi. Tapi, kau tahu ibu sudah cukup tua. Andai saja, pria brengs*k itu tidak meninggalkan kami begitu saja." Hanna melipat kedua tangan nya dimeja.
"Han, jangan berkata seperti itu. Dia itu Ayahmu, mungkin saja dia punya alasan," Azel menyentuh tangan Hanna.
"Alasan apa? Bukankah seorang Ayah harusnya bertanggung jawab untuk keluarga?" Ucap Hanna dengan nada yang sedikit naik.
Azel hanya diam. Ya, karena ia cukup mengerti dengan perasaan Hanna yang begitu kecewa pada Ayahnya. Tidak mungkin mengatakan apapun lagi, jika Hanna sedang seperti ini.
"Han, kau tahu kau lebih beruntung dariku." Azel mencoba untuk mencairkan suasana yang sempat mendingin.
Hanna menatap Azel bingung.
"Kau memiliki ibu. Sementara aku, tidak punya siapa-siapa. Aku di besarkan di panti asuhan," Azel tersenyum sedih.
"Zel, maafkan aku..." Hanna meraih tangan Azel.
"Jangan meminta maaf, kau tidak salah. Aku hanya ingin kau tahu, jika hanya punya ayah ataupun ibu saja rasanya akan cukup." Azel mengusap punggung tangan Hanna. "Kau tahu, aku punya sahabat sepertimu saja itu merupakan keberuntungan hehe..." Azel kembali ceria dan kembali mengunyah kentang goreng.
Hanna tersenyum kagum pada Azel, "Kau memang sahabat terbaikku, walau sedikit mudah dikelabui pria haha..." Ledek Hanna.
"Sudahlah, jangan mulai lagi!" Ucap Azel dengan wajah malu.
Hanna tertawa dan meraih kopinya.
Aku kagum padamu Azel. Kau sudah banyak memberiku pelajaran berharga tentang hidup. Akan aku pastikan Louis tidak memanfaatkan kebaikanmu. Jika dia tidak bisa mencintaimu dengan tulus, akan aku habisi dia. Batin Hanna sambil menyeruput kopinya.
"Han, jangan lupakan oleh-oleh jika kau nanti pergi ke New York." Kata Azel.
"Ya, jika uangku cukup. Sedangkan, semua biaya penerbangan pasti akan di tanggung oleh Kama."
"Haha... ntah mengapa, aku merasa kau sangat cocok dengan nya." Azel mengedipkan sebelah mata.
"Jangan mulai lagi..." Ucap Hanna dengan wajah merah merona.