The Other Side Of Kama

The Other Side Of Kama
Pasta



Hanna masuk ke kamar sambil tertawa sendiri setelah berhasil membuat Kama tak bisa mengejar atau mencium bibirnya sesuka hati. Ia merebahkan tubuhnya di atas kasur.


“Ahh, ternyata Kama bisa juga aku taklukan.” Katanya sambil tersenyum puas.


Drrt… drrt


Dering ponsel Hanna berbunyi,


“Hallo ibu,”


“Hanna, apa kau jadi pulang bulan depan nak?” Terdengar suara ibu tak sabar.


“Ibu, aku tidak bisa pulang bulan depan. Maafkan aku,” Ucap Hanna dengan nada yang di buat seperti orang yang merasa bersalah, namun senyum seringai tertahan di bibir kecilnya karena sudah mengerjai sang ibu.


“Kenapa nak? Apa atasanmu tidak memberi izin? Atau kau tidak punya uang untuk membeli tiket?”


“Haha… ibu, tenang saja besok kita akan bertemu.” Ucapnya bersemangat.


“Besok? Apa ibu tidak salah dengar?”


“Hanna, aku sudah membuat pasta untuk kita. Ayo turun dan makan!” Suara Kama yang terdengar dari depan pintu kamar.


“Hei! Siapa pria itu, hah?! Kau dimana sekarang? Kau membawa laki-laki ke kostan ya?!” Nada ibu terlihat seperti akan marah.


“Eh –eh, ituu bu---‘’ Hanna menggigit bibirnya sambil memejamkan mata mencari alasan.


“Apa?! Kau sudah bebas sekarang hah?!”


“Bukan bu. Dia itu temanku, kekasih Azel. Ibu tahukan Louis?” Setelah berpikir keras akhirnya Hanna mendapat ide.


“Lalu dimana Azel? Mengapa ibu tidak mendengar suaranya?” Nada ibu sedikit meredah.


Hanna kembali berpikir keras, “Azel tentu ada di sini bu. Dia sedang tidur.”


“Kalau begitu, berikan ponselnya pada Azel ibu ingin bicara.”


Ibu mengapa sulit sekali di kelabui. Mengapa dia tiba-tiba ingin berbicara dengan Azel?


“Bu, Azel sedang tidur, tidak sopan jika harus membangunkannya.” Hanna berusaha mengelak agar ibunya tidak curiga.


“Hanna!!!” Teriak Kama.


“Mengapa laki-laki itu berteriak?! Katakan pada ibu kau ada dimana?!” Tanya ibu dengan nada meninggi.


Habislah aku. Harus berkata apa pada ibu.


“Bu, ha –lo, ha –lo. Sinyalnya jelek sekali bu.”


Hanna berpura-pura kehilangan sinyal dan dengan sigap menutup teleponnya.


Untung saja, aku ini cerdas. Jadi, ide cemerlang bisa muncul kapan saja. Maafkan aku ibu yang terpaksa berbohong.


“Apa kau ini tuli, Hanna?!” Kama membuka pintu dengan keras.


“Ma –af Tuan.” Hanna bergegas turun dari tempat tidur dan memakai sandal yang tergeletak di lantai.


“Berubah lagi! Sikap manisnya hanya kadang-kadang.” Gerutu Hanna pelan, tapi suaranya cukup terdengar sampai ke telinga Kama.


“Kau ingin aku terus berlaku manis, sweetheart?” Kama menahan senyumnya di bibir.


“Ya! Sebagai kekasih harusnya seperti itu.”


“Ya baiklah Tuan.” Kata Hanna dengan nada terpaksa.


“Mari turun dan makan! Aku sudah tak sabar ingin membuat pahamu memerah dengan cambukku setelah ini.’’ Mata Kama memandang penuh gairah ke bagian paha dan betis Hanna.


“Apa?! Memangnya aku melakukan apa hingga harus di hukum?” Tanya Hanna tak terima.


“Kau menolak untuk aku cium!”


“Itu sudah menjadi perjanjian kita sewaktu di bathub. Jadi, kau tidak boleh menyentuhku untuk apapun, baik itu ciuman, cambukan dan lain sebagainya!” Tegas Hanna berani.


“Kau!---‘’ Kama mengancungkan jari telunjuk hendak melanjutkan kata-katanya.


“Jika tidak, maka besok kau tidak boleh ikut mengujungiku ke Bali!” Hanna berpaku tangan seolah benar mengancam.


“Tapi aku yang membeli tiketnya.”


“Jika aku besok tidak mau pergi, kau akan berbuat apa?!”


Mulut Kama mengatup tak berdaya. Nafasnya ia keluarkan dengan tajam dan bibirnya menahan geram.


“Bali, setelah itu pergi mengunjungi ibu Carlee. Wah, pasti menyenangkan terus berjalan-jalan gratis seperti ini!” Seru Hanna sambil melangkahkan kaki keluar kamar.


“Baiklah kau menang! Semua akan aku lakukan, tapi jangan terus siksa aku dengan tidak menyentuhmu!” Teriak Kama.


“Kau dapatkan kekasihku!” Suara Hanna lantang dari anak tangga paling bawah.


Kama mendengus kesal, memukul angin dan menutup pintu kamar dengan keras. Ia setengah berlari menuruni tangga, menyusul Hanna yang sudah duduk manis di kursi meja makan.


“Apa masakanmu enak?” Raut wajah Hanna terlihat ragu, tangan kanannya ada garpu dan sendok ia pegang dengan tangan kiri.


“Semua orang akan berbondong-bondong mencicipi pasta ini jika mereka tahu Tuan Kama yang sudah membuatnya.” Ucap Kama percaya diri, ia mengaduk-ngaduk pasta di piringnya.


“Wah, kau ternyata percaya diri sekali Tuan.”


“Sudah! Jangan banyak bicara, cepat habiskan makananmu!” Kama menatap kesal.


“Baiklah. Perlahan aku harus mencobanya sedikit terlebih dahulu, apakah pasta ini benar-benar membuat segerombolan orang ingin mencicipinya.” Kata Hanna dengan nada seolah meledek.


“Kau meremehkanku, hah?!” Kama memasukkan sesendok pasta dalam mulutnya dengan geram.


“Siapa yang meremehkan? Kau sensitif sekali!” Ucap Hanna sembari mulai mencicipi makanan yang ada di piringnya. “Enak sekali! Kau pandai memasak tuan.” Pujinya.


“Sudah aku katakan, orang-orang akan rela mengantri untuk masakanku.” Kata Kama percaya diri.


“Tidak bisa aku bayangkan seorang Tuan Kama yang terkenal kejam dan jahat berjualan pasta, HAHA!” Hanna tertawa puas sembari membayangkan Kama memakai topi koki, clemek dan memegang spatula.


“Dan pastinya kau akan aku jadikan saus pasta dan sosis!”


“Haha… Tuan-tuan, kau punya selera humor juga.” Hanna masih terus tertawa geli hingga ia menahan perutnya.


“Kau pikir aku sedang mengatakan lelucon? Sungguh! Kau akan aku potong-potong dan aku bakar seperti sosis!” Kata Kama dengan intonasi naik.


“Bagian mana yang pertama kali akan kau potong? Pipiku, paha atau lenganku ini? Haha…”


“Wanita aneh!” Desis Kama sembari memasukkan suapan ke empat dalam mulutnya.


“HAHA!!!” Hanna terus tertawa menahan geli di dalam pikirannya yang masih membayangkan Tuan Kama berubah profesi.