The Other Side Of Kama

The Other Side Of Kama
Ibu VS Bibi Ara



‘’Hanna, apa calon suamimu itu masih tidur di jam segini?” Tanya ibu yang sibuk menata sarapan pagi di meja makan.


“Aku juga tidak tahu Bu. Mungkin saja dia masih mengantuk,”


Tentu saja dia akan bangun kesiangan. Semalam kami hampir tidak tidur.


“Kau mengapa bengong?!” Suara ibu sedikit mengejutkan Hanna.


“Ah, tidak bu. Biar aku bangunkan saja ya dia.’’ Ketika Hanna berbalik ternyata Kama sudah berada tepat di belakangnya.


Kama menghembuskan angin pada wajah Hanna, “Kau mencariku?”


“Tentu saja. Sudah saatnya kita sarapan.” Hanna mengambil posisi duduk.


“Calon menantuku, kau harus sarapan ya banyak ya.” Ibu terlihat begitu manis dan ramah. Ia menyodorkan sepiring nasi goreng special khusus Kama.


“Terimakasih Bibi.” Kama meraih piring itu.


“Nanti setelah ini kita akan pergi berjalan-jalan ya hehe…” Ibu duduk di hadapan Kama dan menatap genit.


“Ibu memangnya kita mau kemana?” Sambung Hanna tanpa menoleh, ia sibuk menuangkan nasi goreng ke piringnya.


“Apa kau lupa? Semalam ibu sudah katakan bahwa hari ini kita harus menemui Bibi Ara.” Ibu sedikit jengkel.


“Ibu, buat apa kita mengunjungi mereka yang kerjanya pamer dan angkuh!” Omel Hanna.


“Kau ini kan akan segera menikah dengan Tuan Kama mu ini, sudah sepatutnya dia tahu kalau calon menantuku ini adalah Kama Alfredo pengusaha properti yang terkenal itu.” Ibu mengedipkan sebelah matanya pada Kama.


Kama menahan senyum, “Baiklah Bibi. Apa kita perlu menyewa taksi untuk ke sana?’’


“Jangan taksi! Apa kau tidak bisa menyewa mobil mewah lengkap dengan sopirnya.” Celoteh ibu.


“Ibu, mengapa harus seperti itu?”


Ibu mengacuhkan Hanna, “Bagaimana calon menantuku?”


“Ah, baiklah Bibi. Kau tenang saja, kau tinggal pilih ingin memakai mobil apa atau jika perlu kita membelinya sekalian.” Kama tersenyum angkuh.


“Jangan berlebihan seperti itu hehe… Nanti saja setelah kalian menikah, kau boleh membelikan aku mobil,” Ucap ibu sambil tersenyum centil.


Hanna menahan malu di wajahnya, “Ibu…” Rengeknya.


Lagi-lagi Hanna di abaikan, “Kalau begitu, ibu akan siap-siap. Kalian nikmati saja sarapannya ya.” Ibu melangkah cepat menuju kamarnya.


“Siapa Bibi Ara?” Bisik Kama.


“Dia adalah sepupu ibu. Orangnya sombong dan suka merendahkan orang lain.” Suara Hanna terdengar kesal.


“Pantas saja!”


“Apanya yang pantas?” Hanna menoleh.


“Ibumu terlihat begitu semangat sekali. Apa dia ingin pamer?” Kama mengecilkan suaranya.


“Maafkan ibuku.”


“Mengapa meminta maaf? Tidak masalah.”


Tok!... tok!...


Terdengar suara pintu di ketuk dan sepertinya tamu itu tidak sabar untuk masuk.


Kama dan Hanna saling bertukar pandang, “Siapa?” Bertanya serentak.


“Biar aku saja yang buka,” Hanna bergegas menuju ruang depan.


Berapa menit setelahnya Hanna kembali ke belakang dengan wajah murung.


“Ibu…” Teriaknya.


Sang ibu yang masih memegang lipstick di tangannya dan juga roll rambut andalannya, dengan cepat keluar dari kamarnya.


“Hanna, mengapa kau berteriak seperti itu?”


“Kau tidak perlu berdandan bu. Bibi Ara dan Chyntia datang berkunjung.” Kata Hanna tak bersemangat.


“Apa?!” Ibu tersentak hingga lipstick nya tergores keluar dari jalur bibir.


“Hmm, lihat saja di depan.” Hanna kembali duduk di dekat Kama.


Ibu terlihat begitu geram, “Uhhh!... Mengapa dia harus datang kemari, harusnya kita yang ke sana pakai mobil mewah! Ah rencanaku gagal!” Omelnya seraya berjalan menuju ruang depan.


Hanna dan Kama terpingkal melihat tingkah sang Ibu. Berapa lama kemudian, suara ibu begitu keras memanggil mereka.


“Hanna, hei kalian! Cepat kemari, ada Bibimu!...”


“Iya bu…” Jawab Hanna dan setelahnya ia menghembuskan napas kesal.


Hanna berjalan menuju ruang tamu dan di susul oleh Tuan Kama. Sudah jelas terdengar sang ibu yang besar kepala, tengah membicarakan tentang Kama yang akan segera menjadi menantunya.


“Salam Bibi.” Hanna menundukkan kepala sejenak.


“Kau lihat bukan? Pria tampan yang ada di samping putriku itu? Kau pasti tahu siapa dia?” Ibu menatap angkuh pada Bibi Ara dan putrinya.


Mereka menatap tak percaya. Bahkan, Chintya putrinya terlihat terpesona saat pertama kali melihat Tuan Kama yang berdiri tegap di samping Hanna. Ia langsung memperbaiki rambutnya dan bertingkah seperti ingin menggoda.


Chintya adalah putri semata wayang Bibi Ara atau sepupu dari Hanna. Dia adalah gadis yang berusia lebih muda 2 tahun dari Hanna. Ukuran tubuh yang tinggi, langsing dan memang cukup cantik dengan rambut panjang lurus yang tergerai.


“Iya ini adalah calon menantuku.” Jawab ibu dengan nada yang terdengar bangga.


Kama Alfredo, pria yang di kenal kaya dan tampan. Ya ampun… beruntung sekali kakak jika sampai ia menikah dengan Kama. Masa bisa sih? Bukannya Kama itu juga cukup terkenal sebagai pria penikmat wanita? Bagaimana bisa dia ingin menikahi kak Hanna, yang terlihat biasa saja. Batin Chintya.


“Hei apa kalian masih ingin terus berdiri disana?!” Ibu memandangi Kama dan Hanna.


Spontan Kama dan Hanna mengambil posisi duduk berhadapan dengan Bi Ara dan putrinya.


“Kakak, perkenalkan aku Chintya.” Gadis itu mengulurkan tangannya pada Kama. Namun, Kama dengan angkuhnya menatap kosong pada tangannya, Hingga akhirnya Chintya menurunkan tangan.


Dia mengabaikan aku! Sombong sekali pria ini.


“Tahu tidak? Calon menantuku ini, adalah seorang pengusaha di bidang properti yang terbesar dan cukup terkenal. Dia kesini untuk melamar Hanna.” Ibu melebih-lebihkan.


Hanna menyikut pelan ibunya, “Ibu mengapa berbohong seperti itu?” Bisik Hanna.


“Sst!... Kau diam saja.” Ibu melanjutkan lagi, “Kama ini sangat mencintai Hanna. Hingga dia akan memberikan mahar paling besar nantinya. Kau tahu Ara? Aku akan membangun sebuah restoran dan uangnya itu diberikan oleh calon menantuku ini.” Ibu cengengesan dan memasang raut wajah angkuh.


“Hmm ya bagus kalau seperti itu.” Ketus Bi Ara.


Beruntung sekali janda malang ini! Harusnya Chintya yang menikah dengan pria seperti ini. Huu… aku menyesal berkunjung kemari.


“Kalian ingin minum apa? Atau ingin makanan mahal? Nanti aku akan pesankan jika kalian mau.” Ibu tersenyum angkuh.


“Ah, tidak usah. Kau tidak perlu repot-repot.” Tolak Bi Ara, senyumnya terlihat di paksakan.


“Kak Han, bagaimana bisa kau bertemu dengan Kama?” Chintya menatap ragu.


“Hanna adalah sekretaris magang di kantorku.” Jawab Kama.


“Ohh hanya sekretaris magang.” Chintya mempertegas kalimatnya.


“Seorang sekretaris yang sebentar lagi akan menjadi Nona Alfredo.” Kama tersenyum miring.


Terdengar tidak pantas.


“Kau ini pria yang sangat tampan. Pasti banyak bukan wanita yang ingin mendekatimu? Apa kau suka dengan wanita yang langsing seperti aku juga?” Chintya mengibas centil rambutnya.


“Aku tidak suka wanita kurus! Biasanya di nikmatipun tidak akan puas!” Kama memandang sinis, kemudian merangkul Hanna, “Tapi, sekarang aku sudah menemukan wanita yang tepat untukku. Jadi lebih baik jauhkan tatapan genitmu itu adik sepupu! Terlihat sangat menjijikkan.” Celetuk Kama.


Hanna dan ibunya menunduk menahan tawa.


“Hei kau jangan bicara seperti itu pada putriku! Dia ini jelas lebih cantik dan seksi dari Hanna.” Sambung Bi Ara.


“Bibi, tidak ada yang bisa mengalahkan kecantikan Hannaku.” Sanggah Kama.


“Hmm putriku ini lulusan kedokteran. Sebentar lagi, dia akan bekerja di salah satu rumah sakit swasta cukup terkenal.”


“Wah, sangat hebat kau Chintya.” Puji Hanna.


“Tentu saja kakak! Aku ini pintar dan cantik. Aku tidak ingin pamer ya kak, tapi apa kau tahu? Pria seperti Kama bisa saja aku dapatkan dalam sekejap.”


“Untuk apa kau kuliah tinggi dan dapat gelar dokter tapi cita-citamu menggoda pria lain.” Ibu Hanna mencebik.


“Kau ini menghina putriku, hah?!” Bibi Ara bangkit berdiri dan terdengar sedikit murka.


“Hei! Aku tidak menghina, tapi untuk apa gelar jika prilakunya seperti itu!” Ibu tak mau kalah, ia pun juga bangkit berdiri.


Dia berani menghinaku sekarang setelah Kama akan menjadi menantunya. Awas saja kau! Putriku ini harus bisa mendapat pria yang lebih dari Kama. Gumam Bibi Ara.


“Chintya ini cantik dan seksi. Mungkin Hanna memakai guna-guna makanya bisa mendapatkan pria seperti Kama.”


“Tutup mulutmu! Kau tidak lihat, Hanna itu jauh lebih cantik dan beretika di banding putrimu!” Ibu tak mau kalah ia mengeraskan suaranya seraya bertolak pinggang.


“Ibu cukup! Pertemuan kalian selalu saja di akhiri dengan pertengkaran!” Bentak Hanna.


“Aku tidak sudi mengunjugi orang sepertimu!” Kata Bi Ara.


“Lalu mau apa kau kemari? Oh, kau ingin pamer bahwa putrimu baru saja lulus sarjana kedokteran? Apa setiap hari kerjamu itu hanya pamer, hah?” Bibir itu menyerocos geram.


Bagaimana dia tahu kalau aku memang ingin pamer hal itu.Tapi, malah aku yang kalah sekarang. Batin Bi Ara.


“Ibu, sudahlah… Buat apa berdebat dengan orang yang tak berkelas seperti ini. Bukan level kita ibu.” Sambung Chintya sembari terus mengibas centil rambutnya.


Kama tertawa geli menyaksikan perdebatan ibu Hanna dan Bi Ara. Dia malah terlihat seperti sedang menikmati pertunjukkan dengan duduk merentangkan kedua tangan pada sofa dan kaki yang menyilang.


Sementara Hanna, ia menahan malu dan berusaha memadamkan percecokan itu.


“Kau dengar! Aku tidak akan datang kepernikahan anakmu kelak!” Bi Ara begitu murka, ia mengancungkan jari telunjuknya sebagai tanda keseriusan.


“Bagus! Apa kau pikir aku akan mengundangmu? Tidak Ara!” Ibu tak mau kalah, ia mengancungkan kelima jarinya.


Harusnya di undang saja. Huu… dia harus lihat betapa mewahnya pesta Hanna nanti.


“Chintya mari kita pulang!” Ajak Bi Ara sembari menarik tangan putrinya.


Chintya mengedipkan mata dan tersenyum nakal pada Kama diam-diam. Namun, Tuan Kama malah terlihat risih dengan hal itu.


“Awas saja kau!!!...” Teriak Ibu.


Hanna menepuk keningnya.


Haduh… sungguh hal ini sangat membuatku malu.