
Brukk!!!...
Sebuah bunyi berasal dari kamar sebelah membangunkan bocah kecil yang tertidur pulas. Rasa ingin tahunya membuat ia mengikuti sumber suara itu.
Dengan matanya ia melihat ibu nya tanpa mengenakan apapun, sedang berada dipelukan sosok pria yang tidak pernah ia temui.
Pria itu dengan gila menciumi bibir ibunya yang hanya diam saja seolah pasrah dan menikmati setiap permainan.
Bocah kecil itu berusaha untuk melihat lebih lagi dari sebuah cela pintu yang terbuka sedikit. Ia sama sekali tak mengerti apa yang sedang ibunya lakukan.
"Ambil uang ini!!!... Haha... kau memang hebat Carlee, kau pantas mendapat bayaran sesuai dengan permainanmu haha..." Pria asing itu melemparkan sejumlah uang kertas pada Ibu Kama.
Carlee mengambil uang itu seperti orang yang lapar. Bola matanya membesar dan senyum di bibirnya ikut melebar.
Pak!!!...
Pria asing itu kemudian menampar keras pipi Carlee yang hanya diam tanpa memberi perlawanan.
"Haha... itu bonus untukmu wanita malang! Haha..." Pria itu tertawa penuh kepuasan.
Kemudian, pria itu kembali memakai baju dan celananya. Matanya melambangkan kejahatan, bengis dan kejam.
Ia meninggalkan Carlee dengan bekas tampar di wajah dan uang yang bertebaran di atas kasur. Melihat pria itu yang berjalan menuju pintu, Kama bergegas bersembunyi di balik lemari kecil yang ada disamping pintu kamar.
Tubuh bocah kecil itu bergetar ketakutan melihat apa yang baru saja terjadi pada Ibunya. Ia tidak mengerti dan mengetahui apapun, tapi ntah mengapa butiran air bening menghujani pipinya.
Setelah pria asing dan bayangan nya hilang, Kama kembali mengintip Ibunya yang kini sedang menghitung jumlah uang yang ia dapat tanpa mempedulikan pipinya yang memerah.
"Ibu, siapa pria tadi?" Tanya Kama yang berdiri di pintu.
Carlee menarik putranya itu masuk dan langsung mengunci pintu.
"Sst!!!... Jangan beritahu Ayah atau kakakmu soal ini, atau kau akan Ibu kunci di kamar mandi dan tidak akan diberi makan !" Carlee membelalakkan matanya menatap Kama yang lugu.
Kama hanya menurut tanpa bertanya apapun lagi pada Ibunya.
"Sekarang masuk ke kamarmu dan pergi belajar!" Perintah Carlee pada putranya itu.
Lagi-lagi Kama hanya mengangguk-angguk dan bergegas melakukan apa yang Ibunya katakan.
Sampai di kamar, ia kembali membayangkan semua dari awal seperti sebuah video yang kembali di putar. Pikirnya, apa yang sebenarnya terjadi, mengapa pria itu memberi Ibunya uang dan juga tamparan dan mengapa Ayah dan kakak tidak boleh tahu tentang hal Itu.
"Hei bocah bodoh!" Kakak perempuan Kama masuk tiba-tiba ke dalam kamarnya.
Ia merobek buku Kama dan melempar setiap barang yang ada di atas meja belajar Kama. kini tubuh bocah kecil itu kembali bergetar ketakutan, dan matanya menahan air bening yang hampir saja terjatuh.
"J -jangan ganggu aku..." Lirih Kama bergetar mencoba untuk melawan tapi takut menguasainya.
Perempuan itu menjambak rambut Kama yang lama tidak di potong, "Kau ini perempuan atau laki-laki hah?! Haha..."
"J -jangan..." Kama mulai menangis, ia berusaha melepaskan tangan kakaknya yang kini kian kuat menarik rambutnya hingga membuat kepalanya tertarik kebelakang.
"Haha... Jika tidak ingin di ganggu, beri aku uang tabunganmu!!!" Perempuan itu semakin kuat mejambak Kama.
Kama mengangguk cepat. Ia sudah tak bisa menahan rasa sakit dikepalanya lagi.
"Haha... anak pintar!..." Lagi-lagi perempuan itu meyiksa Kama yang lugu dengan mendorong kepalanya hingga terantuk pada meja dengan kuatnya.
"Berikan semua padaku!!!..." Pinta perempuan itu dengan mata yang di buat melotot.
Kama menggeleng, "A -aku ingin membeli komik terbaru..." Tolaknya mengharap belas kasih.
Tidak mendapat kasihan, kakaknya malah mendorong adik kecilnya itu hingga terjatuh dan merampas semua uang yang ada di tangannya.
"Ingat, jangan beritahu Ayah atau Ibu tentang ini !". Ancam wanita itu lagi.
"Sayang, apa sudah selesai?" Tanya seorang pria bertubuh besar, rambut yang berantakan dengan botol minuman keras yang ia pegang.
"Sudah sayang," Kakak Kama menghampiri pacarnya itu dan mencium bibirnya lalu pergi meninggalkan Kama yang malang.
Ia duduk dan menunduk menutup mukanya, tanganya mencekam celana dengan murka namun juga tetap bergetar.
Berapa lama kemudian, ia berdiri dengan mata yang membengkak akibat tangisan ketakutan yang baru saja ia alami.
Perlahan ia membereskan kamarnya yang berantakan. Lalu tanpa sengaja menjatuhkan sebuah foto anak kecil perempuan yang menjadi pujaan hatinya di sekolah. Ia meniup dan membersihkan foto itu dari debu lalu tersenyum memandanginya.
"Kama!!!" Teriak sang Ayah dari luar.
Dengan sigap ia menyimpan kembali foto itu dan menghampiri Ayahnya yang baru saja pulang dari luar kota.
"Kau di keluarkan lagi dari sekolah ?!!" Sang Ayah terlihat begitu marah padanya.
Kama hanya diam dan menunduk.
Pak!!!... Tamparan keras meluncur di pipinya.
"Dasar kau anak tidak berguna!!! Bisa nya hanya membuat ulah dan menghabiskan uang saja!!!" Sang Ayah memarahinya dengan tatapan kecewa yang terpancar dari matanya.
"Mengapa kau mencuri di sekolah hah?! Katakan mengapa?!!" Bentak sang Ayah.
Kama menoleh ke arah ibunya yang hanya duduk melihat tanpa memberikan pembelaan sedikitpun.
"Jangan pandang ibumu!" Bentak Ayahnya lagi, kali ini sambil memegang keras kedua pipi Kama dengan ujung kukunya.
"A -aku ingin membeli ko -mik baru..." Jawab Kama ketakutan.
Pak!... pak!... Dua kali tamparan keras kini untuk pipi Kama.
"Apa uang jajanmu kurang hah?!! Kau hanya bisa menyusahkan keluarga!... Pergi ke gudang dan tidur di sana!!!" Teriak murka sang Ayah.
"Suamiku jangan begitu marah, kau baru saja pulang kerja. Biar aku urus anak ini," Carlee menarik kuat tangan putranya itu dan membawanya ke gudang belakang.
"Ibu jangan kunci aku di sini lagi..." Kama memohon pada Ibunya itu sambil bersujud dan menangis di kakinya.
"Jika tidak ingin di hukum, maka jangan berbuat ulah!!!" Carlee malah menyeret anaknya itu dan memasukkan nya ke dalam gudang lalu menguncinya.
Kama bangkit dan menggedor pintu, mengharapkan belas kasih, "Ayah... Ibu, aku tidak suka ada di gudang ini, keluar kan aku, aku mohon!... Kakak selalu mengambil uang jajanku, aku tidak sepenuhnya salah... Tolong aku!..."
Kama tidak henti-hentinya meminta pertolongan tapi tidak ada satupun yang peduli atau sekedar mendengar suara dan isak tangis anak itu.
Ia berselimut dalam gelap dan ditemani oleh ketakutan. Sudah berulang kali dia berada di sana tapi tetap saja gelap membuat dia takut untuk bergerak sedikitpun, yang ia lakukan hanya terus duduk dan menutup mukanya sampai hukuman itu berakhir.