
“Dingin sekali walau sudah mandi air hangat.” Keluh Hanna sembari mengeringkan rambutnya dengan Handuk.
Kama juga telah selesai dengan ritual mandinya, ia melangkah ke kamar dengan kain yang menutupi sebagian perut bawah dan pahanya, “Hari ini aku dan Ardi akan mengurus tiket keberangkatan kita dan mungkin akan memakan waktu lama.”
Hanna menoleh ke arahnya, “Apa di saat salju turun seperti ini pesawat akan tetap terbang?”
“Tentu saja, kenapa tidak? Kecuali ketika ada badai.” Jawab Kama sembari memakai kaosnya.
“Boleh aku ikut?” Hanna mendekati Kama dan menempelkan telapak tangannya di dada Kama.
“Bukankah kau bilang, kau ingin habiskan waktumu bersama ibu?” Kama menurunkan tangan Hanna dari dadanya.
“Iya aku lupa. Tapi, apa boleh kau membelikan aku oleh-oleh untuk di bawa pulang? Azel pasti menantinya.” Hanna memasang raut wajah seperti anak kecil yang sedang manja.
“Tentu saja. Aku dan Ardi akan membelinya nanti, setelah semua urusan selesai.” Kama meraih jaket tebal dan membungkus dirinya. “Aku pergi dulu. Jangan lakukan apapun yang melanggar ketentuan atau kau akan di hukum lagi!” Tekan Kama.
“Iya Tuan, kau tenang saja.” Hanna mengedipkan sebelah matanya.
Kama melangkah lebar keluar dari kamar hingga banyangya tak lagi terlihat oleh Hanna.
Selang beberapa menit kepergian Kama, Hanna mencari keberadaan ibu Jean.
“Ibu, kau suka sekali memasak ya?” Tanya Hanna yang baru saja melangkah ke dapur mendapati Jean sedang memanggang kue.
Jean tersenyum dan menutup oven pemanggang, “Dulu ibu memiliki usaha toko kue, sebelum akhirnya mengalami kebangkrutan.”
“Aku turut sedih bu.” Wajah Hanna ibah.
Jean tersenyum sambil membersihkan tangannya dengan kain dan duduk di hadapan Hanna, “Sayang duduk lah di sini.’’ Pinta Jean sambil menunjuk ke arah kursi meja makan yang kosong di sebelahnya.
Hanna mengangguk dan menuruti apa yang Jean katakan.
“Kau berniat akan mempertemukan Carlee dan Kama?” Tanya Jean.
“Apa Kama yang memberitahu padamu?” Hanna balik bertanya.
Jean tersenyum tipis dan mengangguk, wajahnya kian ramah memancarkan ketulusan pada Hanna.
“Iya bu. Aku hanya ingin mendamaikan mereka. Apa mungkin bisa dan apa mungkin salah?” Hanna terlihat bingung dan menatap datar pada gelas kosong yang tersusun rapi di meja.
“Tidak nak, mungkin kau bisa. Buatlah Kama bisa memaafkan ibunya.” Jean mengusap punggung tangan Hanna.
“Aku butuh dukunganmu bu.”
“Tentu saja. Kau tidak perlu meminta.” Jean tersenyum.
“Setelah ini, jika kau berhasil mendamaikan Carlee dan Kama. Apa yang akan kau lakukan?”
Hanna menghela nafas dalam, “Well, Kama memiliki banyak sisi yang belum aku ketahui bu, tapi bocorannya adalah sisi itu pasti sisi yang baik yang berbanding terbalik dengan dirinya sekarang.
"Aku rasa selanjutnya adalah, menggali keseluruhannya. Aku ingin Kama berubah bu.” Hanna menjelaskan niatnya panjang lebar dan wajahnya menjadi lebih serius.
“Merubah seseorang itu tidak mudah. Tapi Kama akan membantumu untuk itu.” Jean menuangkan air putih di gelas dan menggesernya di dekat Hanna.
“Maksud ibu?” Tanya Hanna tak mengerti.
“Kama memberimu kesempatan untuk masuk dalam hidupnya, bukankah itu sudah membantu? Kau tahu bukan bagaimana sulitnya seseorang untuk bisa berada di posisimu, wanita terdekat Kama.”
“Tapi kau juga begitu bu, kau bisa membuat Kama menjadi putramu yang baik. Berbeda saat dia memperlakukan Carlee,” Ucap Hanna sambil melipat kedua tangannya di atas meja.
Jean tersenyum dan menggeleng, “Bahkan sampai saat ini ibu tidak pernah berhasil memaksa Kama untuk mau bertemu dengan ibunya.”
Indera penciuman Hanna tiba-tiba mencium aroma yang lezat, tidak lain dari dalam pemanggangan, “Bu, sepertinya kuenya sudah matang.”
Jean tersentak, ikut mencium aroma baunya, “Kau benar. Biar ibu lihat.” Katanya sembari melangkah menuju pemanggang yang hanya berjarak lima langkah dari meja makan.
“Matangnya sempurna.” Kata Jean bersemangat, ia memakai sarung tangan dan mengeluarkan kue itu dari dalam oven.
Hanna melangkah mendekati Jean, “Kelihatannya enak sekali bu.” Hanna mengendus pelan.
“Kau harus mencobanya segera.” Jean memotong kue itu dan meletakkanya di piring, lalu memberikanya pada Hanna.
“Terimakasih bu.”Hanna meraih dan langsung mencicipinya. “Ini enak sekali…” Puji Hanna dengan raut wajah yang terlihat puas.
Drrt… drrtt
“Hallo Tuan.”
“Tiket penerbangan untuk ke singapura penuh dan baru akan ada besok dini hari.” Jelas Kama dari ujung telepon.
“Lalu?” Tanya Hanna dengan mulut yang masih sibuk mengunyah.
“Mengapa suaramu itu telihat seperti orang yang sedang berkumur?! Kau sedang apa, hah?!” Ucap Kama kesal hingga suaranya jelas terdengar begitu lantang.
“Maaf Tuan, aku sedang makan kue buatan ibu dan rasanya enak sekali. Kau harus segera pulang dan nikmati kuenya,” Ucap Hanna yang masih tidak mengerti bahwa ia sudah membuat Kama merasa kesal.
“Apa kau makan kue hingga mulutmu itu penuh?! Kau membuatku kesal saja! Kita akan pulang besok dini hari!”
Tut…tut…
Suara telepon yang terdengar sudah di putus.
Hanna menatap bingung pada layar ponselnya dan kembali menggigit kue yang belum habis di tangan kanannya, “Mengapa dia begitu marah hanya karena aku makan kue?”
“Haha… Kalian terlihat begitu menggemaskan.” Ledek Jean yang sedang sibuk membuat adonan kedua.
“Ibu…” Rengek Hanna merasa malu.
Seharian penuh Hanna membantu Jean membuat kue. Ia juga belajar tentang bagaimana takaran bahan untuk membuat berbagai jenis kue kering dan bolu basah.
Mereka terlihat seperti ibu dan anak yang begitu akrab dan sangat dekat.
Kesibukan membuat Hanna dan Jean tidak sadar akan hari yang hampir gelap, namun Ardi dan Kama tak juga menampakkan diri.
“Bu, mengapa mereka lama sekali?” Tanya Hanna yang duduk bertopang dagu di sofa.
“Mungkin ada banyak hal yang mereka urus.” Kata Jean yang sedang terlihat santai membaca majalah.
“Kau menanti kami?” Suara Ardi bergema, ia langsung merebahkan tubuhnya di sofa yang masih kosong.
“Kalian dari mana saja? Lama sekali.” Ucap Hanna dengan nada kesal.
“Kau tahu? Di akhir tahun seperti ini banyak orang yang akan berlibur. Dan kakak, dia berhasil merebut tiket kelas bisnis dengan harga melunjak dari seorang wanita.” Ardi terlihat antusias menceritakan apa yang terjadi beberapa jam silam.
“Siapa wanita itu?” Hanna menatap curiga seperti wanita yang sedang cemburu.
“Dia itu wanita yang sudah tua Hanna, kau tidak perlu khawatir kakak akan jatuh cinta padanya.” Ardi meraih minuman soda yang ada di meja.
“Aku tidak merebutnya.” Kama duduk di samping Ardi dan meletakkan barang belanjaan di atas meja.
Mata Hanna terbelalak, “Kalian pergi shoping?”
“Itu semua pesananmu! Kau merepotkan, bukan?” Jawab Kama sambil menyandarkan kepalanya.
“Hanna, kau menitip apa?” Tanya Jean penasaran.
Hanna menggeleng bingung,”Aku tidak tahu apa semua ini.”
“Hei! Kau bilang kau tadi ingin oleh-oleh?! Lihat saja itu semua oleh-olehnya.” Celoteh Kama dengan intonasi tinggi.
“Terimakasih Tuan. Kau berhati baik sekali.” Puji Hanna dan langsung membuka satu-persatu barang belanjaan yang di bawa Kama.
“Aku bilang jangan hina aku dengan pujian!” Kama mengancungkan jari telunjuk.
“Ternyata untuk itu kau tetap tak berubah, dasar payah!”
Teringat beberapa kali aku memujinya tetap saja dia anggap itu hinaan. Padahal, aku mengatakan itu karena memang dia sudah baik. Batin Hanna.
Kama bangkit berdiri, ia terlihat begitu lunglai, “Aku akan tidur lebih dulu, karena besok dini hari pesawat akan terbang.”
“Beristirahatlah sayang.” Jean mempersilakan putranya itu untuk tidur lebih dulu.
Kama berjalan kian pelan menaiki anak tangga menuju kamar. Melihat itu, Hanna tergerak untuk menyusul Kama.
“Bu, apa boleh aku juga tidur lebih dulu?”
“Silakan saja. Jangan lupa kemasi barang-barangmu dengan baik dan jangan lupakan berkas-berkas keberangkatan.”
“Baik bu, terimakasih.” Hanna menundukkan kepala sejenak dan pamit menyusul Kama.