
“Bibi tidak perlu seperti itu.” Hanna dan Kama membangkitkan tubuh Carlee.
“Ibu kau tidak perlu bersujut dikakiku, itu akan membuat aku menjadi anak yang durhaka. Aku yang selama ini memperlakukanmu dengan buruk, aku menyesali semuanya.” Kama memeluk erat sang ibu.
Hanna pun diam-diam ikut menitikkan air mata menyaksikan apa yang baru saja ibu dan anak ini lakukan. Saling meminta maaf setelah sekian lama menyimpan kebencian. Wartawanpun ikut haru sembari terus sibuk menyorot.
Sementara, di stasiun televisi Singapura heboh menyiarkan kejadian itu. Seluruh orang gempar dan haru, ada yang sedang makan malam bersama keluarga. Ada yang sedang membersihkan meja restoran, mereka semua terhenti sejenak untuk menatap layar tv.
Azel dan Louis yang sedang bercumbu mesra pun terbalak kaget dan haru.
“Hanna sekarang terkenal, ah temanku itu memang hebat.” Histeris Azel seraya menghapus air mata dengan tisu.
“Aku bahkan, tidak pernah tahu jika Hanna dan pria jahat itu berpacaran,” ucap Louis.
“Dia sekarang bukan pria jahat lagi. Kau tidak lihat, dia menyatakan cintanya begitu tulus untuk Hanna di hadapan semua orang? Bahkan, ia memuji ibunya.” sanggah Azel.
“Ya, aku pikir selama ini Kama memiliki kedekatan dengan ibunya ternyata tidak, mereka terlihat seperti baru saja memiliki moment itu sekarang.” Louis melirik Azel, “Apa kau sudah menyelesaikan laporan akhir Hanna?”
“Tentu saja! Tinggal ada beberapa hal yang akan aku tambahkan disana.” jawab Azel.
“Kau baik sekali padanya.” Louis meraih kentang goreng yang ada di hadapan mereka.
“Itu saja tidak cukup membalas budiku padanya, Hanna sudah banyak menolongku membayar utang-utangmu.” celetuk Azel jengkel.
Louis tidak menggubris sama sekali perkataan Azel. Itu cukup menandakan dia memang bukan pria yang bertanggung jawab.
***
Satu persatu wartawan meninggalkan kediaman Kama dan ibunya setelah mereka mendapati jawaban yang memuaskan. Tentu saja berita ini pasti akan menjadi berita terheboh di Singapura.
Kama, Hanna dan ibunya duduk di sofa ruang tengah. Mereka saling menatap dan bisuh, sebelum akhirnya Carlee mulai mengatakan sesuatu.
“Hanna, maafkan Bibi. Kita mungkin baru saja bertemu tetapi aku sudah sangat tidak menyukaimu bahkan berniat untuk menghancurkan pesta pernikahan kalian kelak.”
“Maksud Bibi? Bukankah Bibi sudah merestui kami?” Hanna menatap bingung, begitu juga dengan calon suaminya.
“Ya memang terlihat seperti itu, tapi Bibi mempunyai niat jahat dipesta pernikahanmu dan putraku ini. Aku berniat untuk menghancurkannya, maafkan aku.’’ jelas Carlee dengan menunduk malu.
“Bibi sudahlah, kau tidak perlu merasa bersalah.” Hanna berpindah duduk di samping Carlee.
“Ibu tidak apa-apa. Yang aku inginkan sekarang adalah restumu untuk aku dan Hanna.” sambung Kama.
“Tentu saja ibu akan merestuimu, Hanna sudah banyak mengajarkan hal baik padamu yang ibu tidak bisa lakukan.’’
“Bibi jangan katakan seperti itu. Justru kau yang banyak mengajari Tuan Kama tentang hidup.” Hanna menggenggam tangan Carlee dan tersenyum manis.
“Apa boleh Bibi memelukmu?”
“Tentu saja Bibi.” Hanna langsung memeluk Carlee.
Tidak melupakan Lina yang terkurung sekian lama di dalam jeruji besi penjara. Ia tanpa sengaja pula menonton televisi dan menyaksikan perdamaian Carlee dan Kama serta kebahagian yang akan segera diraih oleh adiknya.
Lina mendengus kesal, kedua tangannya mencekam erat besi jeruji dan sorot matanya memerah marah.
“Kalian berbahagia sekarang haha… aku disini terus tersiksa. Siapa wanita yang sudah menciptakan kisah keluarga harmonis ini! Hanna, namanya adalah Hanna, calon adik iparku haha…” Lina terlihat sangat membenci Hanna walau belum pernah bertemu dengannya.
“Ibu kau bedebah! Aku melakukan penggelapan uang karena untuk memuaskan nafsumu itu dan kau sama sekali tidak pernah mengunjungiku kemari. Kau malah berdamai dengan putramu itu, oh bahkan kau akan mendapat menantu berbudi pekerti darinya.” Tangan gadis itu kian kuat mencekam jeruji seolah menggambarkan kebenciannya terhadap Carlee.
“Lihat saja, sebentar lagi hukumanku akan berakhir. Aku akan membuat kau, Kama dan menantu barumu itu merasakan apa yang selama ini aku rasakan!” ucapnya penuh penekanan.
“Arrghttt!!!...” Lina berteriak murka.
Malam itu menjadi sangat berbeda di kediaman Carlee. Mereka bahkan tidak tidur hingga hampir pagi, waktu dihabiskan untuk berbincang-bincang penuh kehangatan dan sesekali membahas tentang pesta pernikahan impian Hanna.
“Bibi ingin bertemu dengan ibumu, Hanna.’'
“Bagaimana jika nanti di acara wisudaku? Ibu pasti juga ada disana Bibi,” ucap Hanna.
“Baiklah aku akan datang juga. Kau pintar sekali hingga bisa mendapat beasiswa di Singapura.” puji Carlee pada calon menantunya itu.
“Tidak Bibi hanya keberuntungan saja.”
“Keberuntungan tidak akan datang tanpa kerja keras, bukan begitu bu?” sambung Kama yang sedang menikmati cemilan kacang.
“Tentu saja! Kau pasti sangat cerdas sayang.” Carlee membelai rambut Hanna, ya ia terlihat mulai menyukai gadis mungil Kama.
“Terimakasih Bi.”
“Bagaimana dengan Ayahmu?’’ tanya Carlee hingga membuat Kama menatap ibah pada kekasihnya.
Sepertinya aku memang jauh lebih beruntung darimu Hanna. Batin Kama.
“Ayahku sudah lama pergi meninggalkan kami.” Hanna tersenyum tipis walau dimatanya ada kesedihan.
“Apa dia sudah dipanggil Tuhan?”
“Tidak Bi. Ayahku masih hidup, hanya saja dia pergi meninggalkan kami. Bahkan, Ayah dikabarkan berselingkuh dengan wanita penghibur.” Jelas Hanna.
Carlee tersentak dan menelan ludahnya pelan, “Hanna maafkan Bibi. Semoga saja Ayahmu itu akan cepat sadar dan kembali pada kalian.”
“Terimakasih Bi, aku harap juga begitu.”
“Baiklah, kalau begitu ibu akan ikut ke Singapura bersama kalian.” Carlee terdengar begitu bersemangat.
“Ikut???” tanya Kama dan Hanna serentak.
Carlee tersenyum lebar sambil mengangguk, “Setelah wisuda kalian harus segera bertunangan dan menikah. Ibu ingin menyiapkan pesta yang tidak akan terlupakan.”
“Ibu, apa kondisi ibu memungkinkan? Aku takut jika kesehatanmu terganggu.” Kama terlihat begitu mengkhawatirkan Carlee, mengingat ia pernah pusing dan hampir pingsan.
“Soal itu, sebenarnya ibu hanya berakting saja,” ucap ibu setengah malu.
“Akting???” Kama dan Hanna membolak.
“Iya, ibu hanya ingin menarik perhatian Kama waktu itu jadi ibu pura-pura sakit kepala. Jujur ibu malu mengakuinya.’’ Ibu menunduk malu menahan wajahnya.
Kama duduk mendekat pada ibunya pula, hingga posisi carlee berada di tengah mereka.
“Ternyata ibuku ini jago akting.” Ledek Kama sambil tertawa dan merangkul ibunya.
“Jangan bicara seperti itu, ibu jadi tambah malu.”
Hanna terpingkal melihat wajah Carlee yang memerah karena Tuan Kama meledeknya. Sungguh terlihat hangat dan menyenangkan melihat Kama dan ibunya semakin akrab. Hanna merasa bahwa misinya telah berhasil, semua orang kini akan mengubah cara pandangnya terhadap Tuan Kama.
Bersambung…
Mohon maaf atas keterlambatan update. Karena saya sedikit mengalami masalah dengan mata jadi tidak bisa terlalu lama berpaku pada laptop wahai para pembaca setia Tuan Kama…
Akhir-akhir ini juga saya mengalami kemerosotan semangat untuk nulis lagi, sempat berpikir untuk berhenti tapi setelah membaca komentar para pembaca yang sepertinya sangat menanti Tuan Kama, saya jadi kembali bersemangat. Mohon maaf sekali lagi ya…
Terimakasih sudah sangat mendukung saya sejauh ini. Mohon like, vote dan komentarnya teman-teman… ❤️🙏🤗