
Happy Reading ❤️
“Hanna, seberapa jauh hubunganmu dengan putraku?” Tanya Jean dengan raut wajah serius.
Hanna meletakkan kedua tangan di bawah meja, “Aku hanya sekretaris magang Tuan Kama dan kami tidak memiliki hubungan apapun bu.”
Jean menatap tak percaya, “Kama tidak pernah membawa wanita kerumahnya atau bahkan mengenalkan nya padaku. Ibu yakin, dia menyimpan sesuatu padamu.”
“Maksud ibu?’’ Tanya Hanna tak mengerti.
Jean menghela nafas sebelum akhirnya menjelaskan, “Ibu tahu dari sorotan matanya. Kama sudah menaruh hatinya padamu, itu sebabnya dia mengajakmu kemari. Kau wanita yang cantik dan ibu bisa merasakan bahwa kau memiliki hati yang tulus.
“Jika dia sudah mencintai, maka ibu yakin Kama akan menjadi manusia yang lebih baik. Kau pasti tahu sedikit banyak tentangnya, bukan?”
Hanna meremas jari-jarinya dibawa meja, “Ya, Kama adalah sosok yang dikenal kejam, tidak punya hati bahkan suka membeli wanita untuk kepuasan nafsunya. Semua orang takut padanya, tapi semakin mengenal Tuan Kama, aku rasa ada hal misterius yang tidak aku ketahui soal Kama namun aku yakin dia tidak seburuk yang orang pikirkan bu.
“Setelah aku melihat perlakuannya padamu. Dia berbeda dari apa yang selama ini aku lihat.” Hanna menatap dalam pada Jean.
Jean tersenyum, “Kama tumbuh besar dalam keluarga yang hancur. Ia menyimpan dendam terhadap kakak dan ibunya.” Perlahan Jean mulai bercerita.
‘’Maksud ibu?” Tanya Hanna penasaran sambil meraih sesuatu dari tasnya. “Aku menemukan buku ini,” Hanna memberikan buku usang milik Kama pada Jean.
Jean menjadi lebih serius lalu meraih buku itu dan membuka lembar demi lembar. Butuh waktu berapa menit bagi Jean untuk menelusurinya.
“Ikut aku.’’ Jean bangkit berdiri dan mengajak Hanna keluar dari rumah.
Mereka pergi ke sebuah taman bunga dibelakang rumah dan berjalan beriringan. Suasana mencekam dingin sebelum akhirya Hanna membuka percakapan dengan hati-hati.
“Kau suka bunga bu?” Tanya Hanna.
Jean mengangguk, “Mari duduk dikursi itu.” Ajaknya sambil menujuk kursi taman yang ada di ujung sekali.
“Um…” Jawab Hanna menyetujui.
Berapa detik setelah duduk dan berpikir akan apa yang akan dibicarakan oleh ibu Jean, kini akhirnya wanita paruh baya itu membuka suara.
“Kama punya masa kecil yang buruk.” Jean meghela nafas sejenak kemudian melanjutkan perkataan nya. “Mereka hidup dengan ekonomi pas-pasan. Ayah Kama hanya karyawan biasa yang tidak miliki uang banyak, membuat Carlee rela menjual diri pada pria manapun agar bisa memuaskan nafsunya terhadap uang dan perhiasan.
“Tentu saja hal itu tidak diketahui Ayah Kama. Pertama kali terekam dalam otak Kama adalah ketika melihat ibunya, tanpa busana dalam permainan panas dengan seorang pria. Bahkan, Carlee terlihat begitu menikmati semuanya itu.” Jelas Jean.
“Lalu?” Tanya Hanna tak sabar.
“Tidak jarang Kama melihat ibunya mengalami kekerasan seksual dari pria asing. Melakukan hubungan najis dengan disiksa dengan cambuk, di ikat dengan borgol bahkan melukai Carlee secara fisik. Tapi, ibunya terus melakukan itu demi uang.
“Kama selalu di siksa dan di ancam agar tidak memberitahu pada Ayahnya soal itu. Tapi, pada akhirnya Ayah Kama mengetahui semua dengan sendirinya, hal itu tak juga menghentikan nafsu Carlee. Ketika itu Kama berpikir, bahwa ibunya tidak pernah mencintai sang Ayah.” Jean bercerita panjang lebar sambil membayangkan apa yang ia ceritakan.
“Mengapa Ayah Kama tidak memilih untuk bercerai dan membawa Kama pergi?” Tanya Hanna lagi.
Hanna mengangguk mengerti, “Lalu bagaimana dengan sang kakak?’’
“Lina, ia sama persis seperti sang ibu. Kama menyebutnya sebagai perempuan lollipop para pria. Ia suka melakukan kekerasan fisik terhadap Kama demi merampas uang tabungan milik Kama.’’ Jean meneteskan air mata.
“Jadi, wanita yang bernama Lina itu adalah kakak perempuan Kama?’’
“Iya kau benar. Lina adalah kakak perempuan yang kejam bagi Kama. Tidak hanya itu, Kama juga sering dijadikan pelampiasan kemarahan Ayahnya dengan alasan dia adalah bocah tengik yang nakal.” Jean mengusap air matanya.
‘’Bocah kecil yang malang. Bahkan, ia tak miliki teman untuk berbagi pahit nasibnya saat itu.” Lanjut Jean.
“Jadi itu sebabnya Kama memperlakukan semua orang dengan buruk terkhusus wanita?” Hanna menatap serius pada Jean berharap dugaan nya benar.
Jean mengangguk, “Iya, baginya wanita hanya inginkan uang. Tidak perlu cinta atau penghargaan. Harusnya, sosok ibu dan kakak perempuan menjadi lambang kelembutan dan kesucian baginya, tapi malah sebaliknya.”
“Maaf ibu, jika aku boleh bertanya lagi. Bagaimana Ayah Kama bisa meninggal dunia dan Kama menjadi penerus Luxuria Group?”
“Ayah Kama mengalami kecelakaan pesawat di hari wisuda Kama dan Lina yang harusnya menjadi penerus kini hidup dibalik jeruji akibat penggelapan uang.” Jelas Jean dengan singkat.
“Um… Aku mengerti sekarang. Tapi, takdir itu juga yang mempertemukan kau dengan Kama, bukan? Aku sudah mendengar cerita pertemuan kalian darinya.” Hanna tersenyum manis.
“Kau bisa merubah Kama.” Jean memandang penuh harap pada Hanna. “Buat dia memaafkan masa lalu kelamnya dan menjadi sosok pria yang baik.”
“Itu adalah tujuanku yang sesungguhnya setelah aku mengenal Kama bu. Ntah mengapa aku seperti bisa memahami dan memaklumi Kama lebih dari diriku.” Jawab Hanna dengan sorot mata yang begitu tulus.
Jean membelai rambut Hanna, “Aku titip putraku padamu, Han. Bicarakan ini jika kalian sudah semakin dekat.”
“Iya ibu akan aku lakukan. Aku tahu Kama adalah pria yang baik, hanya saja ia tidak tahu bagaimana cara menunjukkan sisinya yang baik dan penuh cinta. Tapi, aku yakin ketika Kama mengenal sebuah cinta itu akan melunturkan sisi gelapnya.” Hanna memandang kedepan, seperti membayangkan sesuatu.
“Hanna, dia sudah mulai mengenal hal itu darimu saat ini. Meski baru perlahan.” Jean menatap penuh yakin.
Hanna menggenggam tangan Jean, “Terimakasih bu.”
‘’Well, apa kau tidak ingin beristirahat seperti Kama? Naiklah ke kamar bersamanya. Kau tidur dengan nya atau---“
“Ya ibu, aku tinggal dan tidur dengannya. Tapi, ia belum melakukan apa-apa padaku. Walau hanya sering menjahili.” Hanna tersenyum malu.
Jean memaklumi perkataan Hanna, karena baginya mereka sudah dewasa. Lagipula, menurut budaya asal negara Jean hal itu adalah hal biasa. Jadi, tidak perlu menjadi masalah, orang dewasa berhak memilih jalan hidupnya.
"Kalau begitu, pergi dan beristirahatlah sayang." Ucap Jean dengan lembut.
"Nanti saja ibu. Aku masih ingin menikmati taman ini bersamamu." Tolak Hanna sambil tersenyum.
"Kau jatuh cinta pada putraku?" Tanya Jean.
Wajah Hanna memerah, "Ibu, hal seperti itu tidak perlu aku jawab, bukan? Aku yakin kau sudah mengetahuinya."