The Other Side Of Kama

The Other Side Of Kama
Keluarga angkat



Happy Reading ❤️


Berjanjilah pada Ibu, kau akan baik-baik saja disana. Ibu menyayangimu.


Sebuah pesan terakhir yang di kirim oleh ibu Hanna. Ya, Hanna hanya memiliki seorang ibu karena Ayahnya telah pergi meninggalkan mereka ntah kemana. Ibunya tinggal di Bali, Indonesia dan bekerja sebagai pelayan restoran.


Hanna adalah putri semata wayang yang cantik jelita seperti Ibunya. Dia juga gadis yang cerdas hingga mendapat beasiswa dari SMA hingga kuliah di Singapura. Tetapi, untuk mencukupi kebutuhan nya ia harus bekerja di tokoh buku milik Louis, kekasih Azel.


"Apa yang terjadi padamu gadis cherry ?" Kama memandang gadis disampingnya itu yang sibuk dengan ponsel.


"Tidak ada. Aku hanya sedang bahagia Tuan." Hanna tersenyum manis.


Kama mengerutkan kening curiga, "Apa yang ada di ponselmu itu ?"


"Kau ini ingin tahu sekali Tuan," Jawab Hanna.


Apa Hanna mendapat pesan dari seorang pria atau mungkin kekasihnya. Selama ini kan aku tidak tahu, dia punya kekasih atau tidak. Batin Kama curiga.


"Kau punya kekasih ?" Pertanyaan spontan keluar dari mulut Kama.


Hanna tertawa geli, "Haha... Ternyata kau memiliki sisi kepo ya Tuan."


"Kepo ?" Kama tidak mengerti dengan kata itu.


"Knowing every particular object atau selalu ingin mengetahui segala sesuatu. Haha... Kau ternyata tidak gaul Tuan." Hanna terpingkal.


"Ya apa saja itu terserah kau saja. Sekarang jelaskan padaku apa kau punya kekasih, hah ?!" Kama terlihat jengkel.


"Tentu saja tidak. Bagaimana mungkin aku punya kekasih, tapi aku izinkan kau mencium bibirku ?"


Kama menghela nafas lega, "Lalu mengapa kau tersenyum menatap ponselmu ?


Mengapa aku merasa lega mendengar jawaban dari nya.


"Bukan apa-apa Tuan Kama." Jawab Hanna bernada.


Pasti dari pria lain.


"Katakan mengapa ?!" Bentak Kama penasaran.


Mengapa dia ingin tahu sekali. Harusnya, itu hakku mau tersenyum atau menangis ketika menatap layar ponsel.


"Tuan, bagaimana jika kita melakukan penawaran ?" Ya, Hanna bermaksud mengorek tentang keluarga Kama.


"Maksudmu ?! Jangan coba bernegosiasi padaku !" Ucap Kama dengan nada tinggi.


"Ya, jika kau tidak mau ya sudah, tidak akan aku beritahu apa yang ada di ponselku." Hanna memalingkan wajahnya acuh.


"Hei ! Kau sudah berani padaku ya ! Katakan kau mendapat pesan dari siapa, hah ?!" Suara Kama semakin keras, menandakan bahwa ia begitu ingin tahu.


"Tidak akan !" Hanna bersikeras tak mau kalah.


BRAKK !!!


Kama menggeprak meja, hendak menakuti Hanna. Namun, hal itu tidak juga berhasil.


Wanita ini menyebalkan sekali. Akan aku hukum dia malam ini.


"Kau tahu, kau adalah milikku. Jadi, kau tidak boleh berhubungan dengan pria lain !" Bentak Kama.


"Terserah kau saja Tuan, tetap saja tidak akan aku beritahu." Hanna menjulurkan lidahnya.


"Berikan ponselmu !" Kama hendak merampas ponsel Hanna namun tak mendapatkan nya.


"Tidak perlu semarah itu Tuan. Kau bisa mendapat jawaban nya dengan penawaran yang aku berikan, bagaimana ?" Bujuk Hanna pula.


Tuan Kama yang katanya kejam dan di takuti, ternyata sekonyol ini haha... Ledek Hanna dalam hati.


Kama menghembus nafas kesal.


Yang benar saja aku menurutinya hanya untuk rasa penasaranku. Dia benar benar membuatku geram.


"Baik, apa maumu ?" Wajah Kama menahan amarah.


"Kau juga harus menjawab pertanyaanku." Hanna menggerakkan sebelah alisnya.


"Jelaskan, bagaimana bisa kau punya keluarga angkat. Lalu apa foto yang aku temukan tadi adalah keluarga kandungmu ?" Raut wajah meneliti.


"Kau hanya menanyakan pertanyaan bodoh ini ?! Apa tidak ada hal lain yang bisa kau tanyakan, selain ingin mengetahui segala indentitasku ?!" Omel Kama.


Hanna menggeleng sambil tersenyum manis.


Kama menarik nafas panjang, menahan emosinya, "Waktu itu setelah dua bulan Ayahku meninggal, aku pergi ke New York untuk menenangkan diri, sebelum akhirnya resmi menjadi penerus Ayah di perusahaan ini.


"Jean, Ibu Ardi menyelamatkan aku yang hampir saja putus asa dan bunuh diri." Kama mengambil segelas air putih yang sudah disediakan dan minum.


"Lalu, Jean memberikan aku banyak nasehat dan merawatku hingga pulih, akibat minum racun. Ia menemukan aku di dalam kamar hotel sudah tak sadarkan diri. Ya, Jean bekerja sebagai pelayanan kamar di hotel waktu itu." Jelas Kama.


"Kau sangat kehilangan Ayahmu Tuan ?" Tanya Hanna dengan mata berbinar.


Kama tersenyum tipis. Seolah senyum itu menandakan kesakitan yang ia alami. Mungkin, bukan hanya tentang kepergian sang Ayah. Tapi, semua hal yang ia alami di kehidupan keluarganya.


"Aku tidak mengerti apa itu kehilangan. Aku hanya merasa hampa." Lanjut Kama sambil mencekam gelas geram seakan ingin memecahkan nya.


Hanna yang melihat itu tak tega untuk bertanya lebih, "Tuan maafkan aku."


Kama tersenyum miring memandangi gelas yang masih ia pegang, "Apa lagi yang ingin kau tahu, Hanna ? Katakan !"


"Tidak ada Tuan semuanya sudah cukup." Hanna mendekat dan mengusap pundak Kama.


Usapan Tangan Hanna mampu membuat Kama reda dari rasa sakit yang ia rasakan ketika harus mengingat kejadian di masa lalunya.


"Katakan sekarang, siapa pria yang sudah mengirim pesan padamu ?" Kama memandang gadis cherry nya.


Hanna tersenyum, "Itu dari ibuku."


Aku rela membuka sedikit indentitasku hanya untuk mendengar jawaban itu. Batin Kama geram.


"Dari ibu ? Kau tidak berbohongkan ?"


Hanna menggeleng dan membuka isi pesan, lalu menunjukkan nya pada Kama.


Kama menunduk malu dan sedikit kesal.


"Aku harap kau ingat, jika kau berani berhubungan dengan pria lain. Maka, kau akan menerima akibatnya !"


"Tenang saja Tuan Kama. Aku bisa pastikan aku tidak akan melanggar." Hanna kembali mengusap pundak Kama. "Tapi kau ke New York hanya untuk bunuh diri ? Haha..." Ledek Hanna.


"Apa kau bisa diam ?!"


"Iya iya... maaf." Hanna menahan tawa di belakang Kama.


"Pemisi Tuan," Arkhan tiba-tiba datang.


"Ada apa Arkhan ?" Tanya Kama.


"Apa Tuan Ardi akan menginap di apartemen Tuan malam ini ?" Tanya Arkhan.


Mata Kama membesar, "Siapa yang mengatakan itu ?!"


"Tuan Ardi, Tuan."


Bagaimana mungkin dia menginap di apartemenku. Padahal, Hanna juga bersamaku dan malam ini aku berniat untuk memberi hukuman padanya. Tapi, tidak mungkin juga aku tega menolak permintaan Ardi.


"Baiklah, antarkan saja dia ke apartemen. Sediakan kamar terbaik juga hidangan terenak untuknya." Ucap Kama dengan terpaksa.


"Baik Tuan." Arkhan pergi meninggalkan ruangan.


"Hanna, hari ini aku akan mengantarmu kembali ke kosan." Kama berdiri dan mengusap pipi Hanna, "Gadis cherryku kau bebas dariku malam ini. Tapi, label kepunyaanku akan terus menjadi identitas seorang Hanna, kau paham ?" Mata Kama menatap tajam.


"Baiklah Tuan Kama." Jawab Hanna.


Akhirnya, rasa rinduku pada Azel akan tersalurkan. Sebaiknya aku mengaiaknya keluar malam ini.


"Jangan pergi kemanapun. Tetaplah diam di kostanmu, paham ?!" Ucap Kama dengan nada mengancam.


Mengapa dia tahu pikiranku. Dia sekarang mulai mengekang. Sebaiknya, katakan saja iya, agar semua aman.


"Ya Tuan."