The Other Side Of Kama

The Other Side Of Kama
Singapore Night Club



Keramaian di tengah suasana club malam. Lampu kelap-kelip, irama musik serta aroma minuman keras sepertinya sudah menjadi darah daging bagi para pengunjung yang datang ke tempat itu.


Banyak sekali wanita yang mempertontonkan lekuk tubuh nya dengan pakaian serba kurang bahan, memegang botol minuman keras dan menari dengan pria mana pun.


Hanna seperti bukan pertama kali masuk ke dalam sebuah club malam. Selama kuliah, ia pernah beberapa kali ke sana. Namun, tidak bertahan dalam hitungan jam Hanna biasanya akan memilih untuk pulang.


Bagi sebagian orang, club adalah tempat yang paling menyenangkan, termasuk Kama.


Kama menelusuri keramaian dan memilih untuk duduk di paling pojok. Ia melambaikan tangan pada seorang pelayan. Kemudian, pelayan itu memberinya dua botol minuman keras serta dua buah gelas.


"Kau ingin minum juga, bukan?" Kama menuangkan minuman itu dan memberikannya pada Hanna yang duduk berhadapan dengannya.


Hanna mendorong pelan gelas itu, "Tidak Tuan. Saya tidak ingin minum malam ini."


Aku tidak pernah minum sedikit pun meski sudah berulang kali kesini. Apa jadinya jika aku menerima nya.


"Bukankah, kau harus menuruti apa saja yang aku kehendaki?" Kama sinis menatap Hanna.


"Iya Tuan anda benar. Tapi tidak soal apa yang harus saya minum dan makan, kan?" Balas Hanna pula.


Wanita ini adalah wanita pertama yang berani menolak. Biasanya semua wanita yang aku sodorkan minum, ia akan minum sampai mabuk.


Kama meneguk minuman itu, "Baik. Aku tidak akan memesankan mu minuman lain. Jadi, jika kau haus itu bukan urusanku."


Hanna mengangguk ringan, "Baik Tuan... Saya bisa pesan sendiri jika haus."


"Aku katakan kau tidak boleh minum apapun jika bukan aku yang memperbolehkan nya!" Bentak Kama dan kemudian meneguk minuman nya lagi.


"Tuan, bukankah saya katakan bahwa Tuan tidak berhak mengatur makanan dan minuman yang masuk ke tenggorokan saya?" Hanna tak mau kalah.


Kama tidak mengatakan apapun. Ia hanya tersenyum tipis dan menatap Hanna dengan bola mata indah miliknya.


Hanna... Namamu adalah Hanna...


Hanna yang bingung dengan senyum tipis dan arti tatapan Tuan Kama, tak sungkan membalas senyuman itu.


Tuan Kama tersenyum. Sepertinya, aku semakin penasaran dengan nya. Siapa Kama di sisi yang lain.


"Tuan, boleh hamba mewawancarai anda? Sebagai bahan untuk tugas akhir kuliah saya," Ucap Hanna beralasan.


"Haha... Kau tidak harus mewawancarai ku. Tanyakan saja pada semua orang siapa Tuan Kama." Tersenyum miring sambil memainkan gelas minuman.


"Saya ingin tahu sisi diri anda yang orang lain tidak ketahui. Tuan adalah pemilik perusahaan ternama di usia yang masih muda. Banyak orang mengatakan anda itu jahat, kejam dan satu lagi, suka memainkan wanita. Tapi apakah semua itu benar? Saya yakin Tuan memiliki sisi lain yang orang lain tidak tahu," Celoteh Hanna dengan raut wajah yang begitu ingin tahu.


Glekk...


Terdengar lagi Kama meneguk minuman nya, "Kau sangat ingin tahu?"


Hanna mengerutkan keningnya dan mengangguk cepat.


"Pertama, aku tidak memiliki sisi lain yang kau harapkan. Aku jahat, kejam dan suka pada wanita yang di kendalikan dengan kebodohan." Kama meminum lagi, kali ini langsung dari botolnya.


"Semua wanita cinta akan uang, hingga rela bertekuk lutut di kaki pria yang suka menghamburkan uang hanya untuk harga diri mereka yang tidak ada harganya! " Lanjutnya lagi.


"Apa kau tidak pernah mencintai seorang wanita, sebelumnya?" Tanya Hanna semakin penasaran.


Mungkin saja Carlee dan Lina adalah wanita yang Tuan Kama cintai sewaktu kecil atau mungkin remaja.


Praang!!!


Kama membanting botol minuman kosong ke lantai. Hingga serpihan nya berserakan. Semua orang hanya melihat sekilas, tapi tidak berani melakukan apa-apa, karena mereka tahu itu adalah Tuan Kama.


"Pertanyaan sampahmu itu sudah membuat aku muak!!! Harusnya kau sudah aku hancurkan seperti botol itu!" Mata Kama merah mengancam.


Hanna hanya menunduk, tapi tidak merasakan takut sedikit pun. Ia malah larut dalam pikiran penasarannya.


Mengapa dia marah sekali. Hal ini malah membuatku ingin mengetahui lebih.


"Tapi aku akan menjawab pertanyaan sampahmu itu, agar ia tidak membusuk! Haha... anggap saja, jawabannya adalah sisi buruk kedua Tuan Kama haha..." Kama tertawa lepas seperti sedang mabuk namun sebenarnya tidak.


"Kedua, aku tidak suka mencintai wanita. Tapi, aku lebih suka memakai mereka untuk kepuasan pribadiku haha..." Sambungnya.


Wajah Hanna menjadi lebih serius. Terlihat dari kedua bola matanya menyimpan banyak pertanyaan, "Lalu yang ketiga apa Tuan? Katanya tak sabar.


Aku tidak yakin Tuan Kama tak mempunyai hati seperti ini. Apa yang membuat sifatnya seperti ini, padahal dia pria yang sangat mempesona.


"Kau ingin tahu lagi rupanya? Aku akan menjawabnya jika kau berani menghabiskan satu botol minuman," Kama menaikkan sebelah alisnya.


Mungkin jika hanya sebotol kecil tidak akan memabukkan. Coba saja demi rasa penasaranku.


"Baik Tuan, Hamba akan minum satu botol sesuai dengan permintaan Tuan." Jawab Hanna.


Kama tersenyum sinis. Kemudian ia kembali memesan dua botol minuman dan memberikan nya satu untuk Hanna.


Dengan ragu, Hanna meminumnya. Teguk demi teguk meskipun, rasanya sangat asing di tenggorokan Hanna.


Aku tahu kau tidak pernah minum sebelumnya Hanna, haha... Tapi kau rela menghabiskan satu botol demi pertanyaan bodohmu ! Batin Kama sambil terus memperhatikan Hanna yang kewalahan meneguk minuman itu.


Tidak butuh waktu lama, Hanna sudah menghabiskan semua tanpa tersisa setetes pun.


"Ternyata kau hebat juga Hanna," Puji Kama sembari bertepuk tangan.


"Terimakasih Tuan. Sekarang saatnya Tuan mengatakan sisi buruk mu yang ketiga." Hanna mulai terlihat sayup dan sedikit pusing.


"Haha... mengapa kau begitu penasaran denganku?" Tanya Kama lembut, "Kau tahu? Jangan lakukan hal yang merugikan dirimu demi suatu hal bodoh. Seperti terpaksa menghabiskan satu botol minuman keras yang kau bahkan tidak pernah mencobanya,"


"Menurut saya mengetahui siapa sebenarnya Tuan Kama, bukanlah hal yang bodoh," Ujar Hanna yang kini memegangi kepalanya karena merasakan pusing yang teramat berat.


Jawaban Hanna membuat Kama menatap padanya dalam. Dan kali ini, bukan tatapan mencekik andalan yang biasanya terpasang di wajah Kama ketika marah atau ingin menghancurkan seseorang.


Hanna yang tidak sanggup menahan pusing, jatuh tergeletak tak sadarkan diri. Melihat itu, Kama buru-buru menggendong Hanna dan membawanya pergi dari tempat itu.


Ia memasukan Hanna ke dalam mobil,


"Tuan apa yang terjadi?" Tanya Arkhan bingung melihat Hanna yang pingsan.


"Jangan tanyakan apapun! Kita harus membawanya ke apartemen, cepat!" Perintah Kama.


"Baik Tuan." Arkhan bergegas menyalakan mobil.


Pria yang di kenal kejam itu, memberi pangkuan untuk Hanna selama di perjalanan menuju apartemen.


Mengapa gadis ini berbeda dari wanita yang ku kenal sebelumnya.


***


Tiba di apartemen milik Kama. Ia menggendong wanita mungil itu ke kamar dan membaringkan nya. Ia menyelimuti Hanna pula.


"Perempuan bodoh! Jika tidak bisa minum mengapa nekat mencobanya!" Celoteh Kama geram.