
Happy Reading ❤️
"Minumlah ini dan hangatkan dirimu." Kama memberikan teh hangat bagi Hanna.
Usai kejadian yang membuatnya hampir tenggelam, Hanna menahan dingin di sekujur tubuhnya. Setelah mengganti baju, memakai piama tebal dengan handuk yang menutupi kepala. Ia duduk di sofa kamar Kama.
"Terimakasih," Hanna meraih teh hangat itu lalu meminumnya.
"Lalu apa yang kau bisa?" Kama duduk didekat gadisnya.
"Maksudnya?" Hanna memandang bingung.
"Ya, selain lamban, pelupa kau juga tidak bisa berenang." Ledek Kama dengan senyum remeh di bibir.
"Ya, aku memang tak bisa apa-apa. Yang aku bisa hanya membuat Tuan Kama marah. Tapi apa kau tahu, aku bingung padamu." Hanna meletakkan gelas teh di meja.
"Bingung?" Kama menatap curiga.
"Kau selalu marah padaku dengan hal yang menurutku lucu. Seperti, pergi tanpa izin atau bahkan aku bertegur sapa dengan pria lain. Sebenarnya apa yang kau pikirkan hah?" Hanna bertopang dagu, memandang Kama.
"Sudah aku katakan, kau adalah milikku! Apa kau akan merelakan sebuah barang milikmu disentuh orang lain?" Kama balik bertanya.
"Tergantung,"
"Ahh, memang susah bicara padamu!" Kama berdiri mengambil gelas teh yang kosong.
"Kau mau kemana Tuan?" Tanya Hanna.
"Apa kau pikir aku akan membawa gelas kotor ini ke penjagalan? Tentu saja meletakkan nya didapur." Kama mendengus kesal lalu keluar Kamar.
"Sensitif sekali! Tapi, rasanya pahaku ini sedikit perih ketika kena air. Cambuk itu cukup membuat bekas juga." Keluh Hanna sambil memperhatikan pahanya.
"Hei, sebaiknya aku bawa kau ke dokter," Ucap Kama yang sudah kembali ke kamar.
"Tidak usah." Tolak Hanna.
"Aku takut jika kau demam maka besok kita tidak akan jadi pergi ke New York."
"Tenang saja. Aku tidak selemah itu." Hanna berdiri lalu merebahkan tubuhnya di kasur.
"Baiklah, kau beristirahat saja disini dan jangan kemana-mana. Aku akan mengurus semua rencana keberangkatan kita." Kama memakai kaos hitam ketat lalu meraih kunci mobil.
"Um... terimakasih sudah mengizinkan aku untuk tidur dikasurmu."
"Sejak kau kubawa kesini dan tinggal bersamaku, ini adalah kamar kita." Kama mendekati Hanna dan menyelimutinya.
Memangnya kita sudah suami istri. Apa yang akan ibu lakukan padaku, jika ia tahu bahwa aku tidur sekamar dengan seorang pria.
Hanna menatap Kama yang tepat di hadapan nya.
"Jangan menatapku seperti itu! Ingat, aku tidak akan mengampunimu jika kau berani keluar dari apartemen ini!" Kama mengecup kening Hanna. "Selamat beristirahat gadis cherry ku,"
Kama menutup pintu kamar perlahan. Hanna menarik selimutnya hingga menutupi seluruh wajahnya.
"Dia manis sekali..." Histerisnya kegirangan. "Sepertinya memang Tuan Kama jatuh cinta padaku. Ya Tuhan... apa suatu saat nama belakangku akan ada Alfredonya..." Hanna mengkhayal sambil membuka tutup selimut.
Kriing!....
Suara telepon yang terletak di samping tempat tidur membubarkan khayalan Hanna yang sedang di mabuk kasmara.
"Halo..." Hanna mengangkat telepon itu.
"Siapa kau?" Terdengar suara perempuan yang sudah lanjut usia.
"Maaf saya Hanna. Saya sekretarisnya Tuan Kama. Jika boleh tahu anda siapa?" Jawab Hanna ramah.
"Dimana anakku?" Spontan perkataan itu mengejutkan Hanna.
"Maksud Bibi?" Wajah Hanna terlihat serius.
"Aku Carlee bukan bibimu!" Wanita itu meninggikan nada bicaranya.
Hanna terbungkam mendengar perkataan itu. Ia seperti akrab dengan nama yang baru saja ia dengar.
"Sampaikan pada Kama, kirimkan aku uang sebanyak tiga ratus juta." Ucapnya dengan penekanan. "Jika ia tidak mengirim juga, aku akan menagihnya di depan Luxuria Group dan membuatnya malu karena sudah menelantarkan ibunya sendiri."
"Kau ini bicara apa! Aku ini tinggal di Indonesia bukan Newyork. Jangan banyak bertanya sampaikan saja pesanku!"
"Bibi tapi---" Hanna tidak sempat melanjutkan perkataan nya.
Tuuut... tuutt... Suara telepon terputus.
Aneh sekali, aku seperti akrab dengan nama itu. Tapi, mungkin saja memang dia adalah Ibu kandung Tuan Kama. Lebih baik nanti aku tanyakan saja pada Kama.
Dua jam berlalu, Hanna menunggu Kama yang belum juga terlihat. Ia duduk di tempat tidur sambil menonton televisi, tapi dengan rasa penasaran yang menguasai kepalanya.
"Kau tidak beristirahat?" Kama datang membawa bingkisan.
"Mengapa lama sekali Tuan? Tanya Hanna sembari menghampiri Tuan tampan nya.
"Kau ini! Seharusnya pertanyaan seperti itu tidak boleh kau tanyakan padaku!" Kama membuka kaosnya.
"Memangnya kenapa?"
Kama mendengus kesal, "Aku ini boss mu!"
"Tapi kan jika bertanya saja tidak apa-apa." Hanna memainkan bibir.
"Ini untuk makan malam, kau tidak perlu memasak." Kama memberikan bingkisan itu pada Hanna.
"Tapi kan ini belum malam," Protes Hanna.
"Sudah, ini kan sudah hampir petang jadi anggap saja begitu. Kau ini cerewet sekali! siapkan saja, aku ingin mandi dan makan!"
"Iya baik Tuan," Hanna meraih bingkisan itu lalu membawanya kedapur.
Tuan Kama mandi dengan waktu yang tidak lama. Jadi, setelah berapa menit Hanna memanaskan serta menghidangkan makanan dimeja, Kama sudah turun mengenakan piama tidur berwarna coklat.
"Kau harus makan banyak. Aku sengaja membelinya dengan porsi double untukmu." Ujar Kama sambil meraih kursi dan duduk tetap berhadapan dengan Hanna.
"Terimakasih Tuan," Hanna mulai menuangkan makanan itu di piring Kama.
"Aku tidak ingin kau sakit dan kita tidak bisa berangkat besok pagi."
"Tuan," Panggil Hanna lembut.
Kama menatap Hanna seolah menanti apa yang akan Hanna katakan selanjutnya.
"Tadi seorang wanita tua menelpon dan mengatakan ia ibumu. Namanya Carlee," Hanna memulai perkataan nya dengan hati-hati.
"Lalu?" Jawab Kama acuh sambil mulai mengunyah.
"Dia ingin kau mengirimnya uang sebesar tiga ratus juta bulan ini." Lanjut Hanna.
"Haha, di otaknya memang selalu uang dan uang, wanita murahan!" Kama mengunyah dengan murka.
Mata Hanna membolak, "Dia itu ibumu, mengapa kau mengatakan hal seperti itu Tuan?"
"Carlee bukan ibuku!" Kama menggeprak meja menegaskan pernyataan nya.
"Tapi mengapa seperti itu? Dia itukan ibu kandungmu."
"Apa kau bisa tutup mulutmu?!" Bentak Kama.
"Baiklah maafkan aku,"
Mungkin memang ada sesuatu antara Kama dan ibunya, hingga ia begitu benci padanya.
Kama pergi meninggalkan Hanna yang masih duduk terdiam di meja makan. Wajahnya memerah memancarkan kebencian yang mendalam, tangan yang di genggam seakan ingin merobohkan sebuah tembok hingga hancur.
Setelah Kama dan bayangnya pergi. Hanna melihat sisa bayangan Kama dari kejauhan.
Apapun alasan nya, kau tidak boleh membenci ibumu sendiri Tuan. Mungkin memang kau sedikit memiliki masalah dengan nya. Tapi, dia itu ibumu.
Hanna meraih segelas air putih dan meneguknya hingga habis.
Kau sama seperti aku. Akupun sangat membenci Ayahku. Tapi, alasan nya hanya karena ia tidak pernah mengunjungi atau sekedar menelponku. Tidak masalah jika hanya sekedar meminta uang, asalkan aku bisa mendengar suaranya. Walau, hanya sekali.