
Kama hendak masuk ke kamar peristirahatan Hanna, tapi ternyata Hanna sengaja mengunci pintunya dari dalam.
Di depan pintu kamar itu ada dua orang pelayan wanita yang berdiri menundukkan kepala setelah melihat Tuan Kama berjalan ke arah mereka.
“Apa dia sudah tidur?” Tanya nya pada pelayan itu.
“Ka –mi tidak tahu Tuan.” Jawab salah seorang dengan gugup.
“Mengapa pintunya terkunci?” Tanya nya lagi dengan tatapan sinis.
“Nona yang menguncinya dari dalam Tuan, dia sampaikan bahwa Nona tidak ingin di ganggu oleh siapapun Tuan.” Pelayan itu tak berani sedikitpun menaikkan wajahnya.
“Berikan aku kunci cadangan!”
Dua wanita itu saling pandang dan terlihat begitu bingung.
“Berikan aku kunci cadangan! Apa kalian tidak punya telinga,hah?!” Kama menaikkan intonasi bicaranya menjadi lebih keras.
“Kamar ini tidak memiliki kunci ca –cadangan Tuan,” Jawab mereka bergetar.
BRAK!!!...
Kama memukul pintu kamar itu dengan kuat.
“Baiklah jika memang kamar ini tidak memiliki kunci cadangan, maka aku akan menghancurkannya di hadapan kalian!”
DRAKKK!!!...
Kama menerjang pintu itu hingga terbuka dan sedikit rusak. Hanna yang sedang duduk melamun di depan cermin rias tersentak kaget dengan suara pintu yang di buka paksa.
“Tuan, kau ini sedang mabuk?!” Katanya marah.
“Aku tidak punya pilihan lain, selain merusak pintu ini. Kau menguncinya dan itu membuat aku geram!” Kama menghampiri Hanna begitu dekat.
Hanna hendak mengambil jarak darinya namun dengan kuat tangan Kama menariknya, dan mengunci pinggulnya, “Kau begitu marah padaku?” Bisik Kama lembut.
“Tidak. Aku tidak marah padamu, jadi kau tenang saja.” Hanna menjawab sekedar.
“Katakan, apa yang harus aku lakukan agar kau tidak marah padaku?’’ Kama menyelipkan rambut Hanna di telinga.
“Kau tidak perlu lakukan apapun Tuan. Tidak ada hal yang membuat aku marah padamu.” Hanna memberontak,ia hendak melepaskan diri dari Kama.
Kama mendekatkan wajah gadis itu dan menyerang matanya, “Hanna, jangan siksa aku dengan ini! Tolong ucapkan apa saja yang harus aku lakukan agar kau tidak marah padaku? Apa pipimu itu terluka?”
Hanna hendak menjawab, tetapi perkataannya tertahan di bibir ketika melihat dua orang pelayan yang menyimak mereka sedari tadi di depan pintu kamar. Melihat itu, Kama memberikan kode dengan lirikan matanya agar mereka pergi dari sana.
“Hanya sedikit sakit tapi tidak terluka. Kau harusnya tidak secemas dan setakut ini Tuan, karena kau juga menghukumku dengan cambukan jika aku melakukan kesalahan. Jadi, sudahlah.” Hanna terus berusaha melepaskan diri dari Kama.
“Mengapa kau tidak nyaman dengan posisimu sekarang? Kau tidak suka aku dekap seperti ini?” Mata Kama memandang penuh amarah.
Tuan Kama, mengapa kau kembali menjadi pria kasar sama seperti pertama kali aku temui? Mengapa kau tidak manis lagi padaku sekarang? Dan mengapa menatapku seperti itu lagi? Aku sangat tidak menyukai ini.
“Tuan, aku ingin beristirahat. Tolong lepaskan pelukanmu,” Wajah Hanna memelas.
“Aku tidak akan melepaskanmu Hanna, katakan apa yang harus aku lakukan?” Kama semakin mempererat pelukan pada pinggang mungil Hanna.
“Buat apa kau bertanya tentang hal itu padaku?” Hanna memperhatikan manik coklat pria tampannya.
“Aku sudah berlaku kasar padamu dan kau hampir menangis karena itu. Aku bisa melihat dari sorot matamu tadi. Kau tahu, aku tidak bisa melihat kau menangis seperti tadi. Aku mohon Hanna…” Kama menempelkan dahinya di kening Hanna.
“Hanna aku---‘’
“Tuan, aku hanya tidak ingin berdebat lagi denganmu. Kau tidak perlu takut jika aku menangis karenamu. Tidak, aku tidak menangis karena hal tadi.” Akhirnya Hanna terlepas dari pelukan Kama dan berbalik membelakangi Kama.
“Jika kau memintaku untuk melakukan hal lain maka aku pasti akan lakukan Hanna. Tapi, Carlee---‘’
“Tuan, maaf kau harus keluar sekarang.” Pinta Hanna tanpa menoleh.
Kama memeluk Hanna dari belakang dan menyandarkan dagunya di bahu Hanna, “Aku mohon jangan marah padaku.”
“Tuan, sudah aku katakan aku tidak marah padamu.” Hanna menatap ke depan, ke kaca jendela berukuran besar yang memperlihatkan perkotaan.
“Aku bisa melihat dan merasakannya dari sorot matamu. Hannaku tidak seperti ini.”
“Tuan tolong jangan peluk aku seperti ini terus.” Hanna lagi-lagi berusaha melepaskan pelukan Kama.
“Hanna aku berjanji tidak akan kasar lagi padamu.”
“Tuan tolong keluarlah!” Bentak Hanna dan dengan keras melepas tangan kekar pria itu dari perutnya.
Kama terdiam, ia menatap dalam pada Hanna yang juga memandangnya penuh amarah. Sorot mata Hanna menggambarkan kekecewaan dan seperti tidak ingin melihat Tuan Kama di hadapannya sekarang.
Tanpa mengucapkan sepatah kata, Kama akhirnya melangkah pergi meninggalkan Hanna. Sebelumnya, ia menghentikan langkahnya dan menoleh kembali ke arah Hanna. Namun Hanna memalingkan wajahnya dengan cepat. Sampai akhirnya, Tuan Kama pergi dengan menutup pintu kamar yang sedikit rusak akibat ulahnya.
Hanna menghembuskan napas dalam, Ia duduk di ujung tempat tidur dan kembali menatap kosong pada jendela kaca. Terlihat jalanan yang di penuhi dengan mobil berlalu lalang ke sana kemari, serta kemacetan yang semakin merisaukan mata dan pikiran.
Hanna merebahkan kepalanya di atas tempat tidur dengan kaki yang masih tergantung ke lantai.
“Mengapa aku semarah ini padanya? Biasanya aku tidak pernah seperti ini. Ntah mengapa akhir-akhir ini semenjak dia selalu memperlakukanku dengan manis, aku jadi tidak menyukai dirinya yang seperti monster.” Gumamnya.
Hanna menutup wajahnya dengan kedua tangan, “Huu… rasanya aku ingin pulang saja ke Singapura. Ah ya Tuhan… apa usahaku untuk mendamaikan ibu dan anak itu akan berhasil.” Suara Hanna terdengar hampir berteriak.
Hanna menaikkan kakinya pula dan tidur dengan posisi yang benar, ia meraih bantal guling dan memeluknya, “Tapi, dia sampai segitunya padaku. Ahh… bahkan dia begitu takut jika aku menangis. Tuan Kama, kau itu sungguh menyebalkan!”
“Permisi Nona,” Seorang pelayan wanita dengan seragam hitam putih masuk ke dalam kamar dan mengejutkan Hanna.
Sontak Hanna mengambil posisi duduk, “Iya, ada apa?”
“Maaf Nona sudah menggangu peristirahatan Nona. Tapi, Nyonya besar ingin berbicara dengan anda.” Wanita itu terus menunduk.
Hanna memperhatikannya.
Ada berapa pelayan di rumah ini. Padahal, rumahnya seperti rumah tua dan desainnya cukup kuno. Walaupun sedikit megah, tapi luasnya tidak terlalu, dan orang yang bekerja di sini sepertinya tidak sembarangan. Bahkan, mereka selalu menundukkan kepala saat berbicara.
“Baiklah. Dimana Nyonya besar?” Tanya Hanna seraya merapikan rambutnya.
“Saya akan antarkan Nona ke taman belakang.”
“Apa Kama juga ada disana?”
“Hanya Nona dan Nyonya besar saja,” Katanya dengan wajah datar.
“Baiklah, mari kita ke taman belakang.” Hanna bangkit berdiri dan merapikan bajunya.
Pelayan itu kemudian mengantarkan Hanna menuju taman, di mana Carlee sudah menunggu untuk membicarakan suatu hal.