
"Tuan Kama apa kau menyukai permainan ku?" Tanya seorang wanita yang tidur menyandarkan kepalanya di dada Kama.
''Haha... Berapa yang kau minta?" Tanya Kama sambil mendorong kepala wanita itu dan bangkit berdiri.
Wanita itu bangkit pula meghampiri Kama dengan centilnya, "Lebih dari biasanya sebagai sekretaris mu juga sebagai boneka mu hehe..." Ia merangkul leher Kama dengan jari lentiknya.
"Jangan berusaha menggodaku lagi , dasar kau wanita murahan!" Kama mendorong wanita yang mengenakan mini dress itu hingga terjatuh ke tempat tidur. "Ambil ini !" Kama melemparkan sejumlah uang kertas tepat di wajah wanita itu.
Dengan sigap wanita itu mengumpulkan uang yang berserakan, "Terimakasih Tuan Kama yang tampan hehe... Jika kau inginkan aku lagi, maka jangan sungkan untuk menghubungiku." Wanita itu mengedipkan sebelah matanya dengan genit.
Kama menjambak keras rambut wanita itu, "Kau ingin tidur denganku lagi rupanya? Haha... Aku tidak suka menggunakan wanita dua kali. Barang bekas harusnya segera di buang, bukan?" Kama mencekik wanita itu dengan tatapan nya.
Wanita itu merasakan sakit dikepalanya, "Maaf Tuan Kama. Tolong lepaskan tanganmu..." Rintihnya.
Kama semakin menarik keras rambut wanita itu dan melepaskan nya dengan kasar. Kemudian ia meraih telepon genggamnya.
"Halo... carikan saya sekretaris yang baru," Ucapnya pada seorang di telepon.
''Tuan apa anda memecat saya?" Tanya wanita itu bergetar.
Kama tersenyum miring, "Wanita sepertimu tidak layak menjadi sekretarisku. Kau lebih cocok menjadi wanita jal*ng haha..." Kama memakai bajunya dan pergi meninggalkan wanita itu.
"Arghh!!!... Dasar lelaki brengsek. Akan aku balas kau !!!" Teriak wanita itu sambil mencekam seprei dengan geram.
Kama duduk di kursi singgasana nya. Yaitu, diruang kerja pribadinya dengan mimik wajah yang penuh keangkuhan, kejam dan bengis, Ya, itulah sebabnya semua orang takut padanya. Ia bisa menghancurkan seseorang dalam sekejap dengan harta dan kekuasaan yang ia miliki. Setiap orang yang melakukan kesalahan akan bertekuk lutut meminta pengampunan darinya, walau Kama tidak pernah memaafkan siapapun.
"Tuan, maafkan saya, sampai saat ini saya belum menemukan sekretaris baru untuk Tuan." Ujar seorang wanita yang merupakan bawahan nya.
Brakk!!!...
Kama memukul meja dengan keras, "Hanya melakukan itu saja kau tidak bisa, hah?!"
Wanita itu menunduk takut, "Ma...afkan saya Tuan. Hampir semua wanita yang saya tawarkan takut menjadi sekretaris Tuan." Ceplos wanita itu dan kemudian ia tersadar bahwa telah salah dalam ucapan nya dan langsung menutup mulutnya.
Kama bangkit berdiri, dengan mata yang memerah ia menghampiri wanita itu, "Haha... Apa kau juga takut padaku?"
Wanita itu tidak menjawab apapun, ia hanya terus menunduk.
Kama tertawa dan berjalan mengelilingi wanita itu, "Haha... Saya rasa kau tidak takut, bukan? Hingga bibirmu itu mengeluarkan kalimat sampah seperti tadi... Jawab aku!!!" Bentak Kama.
"Sa -ya takut pada Tu -an..." Lirih wanita itu sambil menahan tubuh yang mulai gemetar.
Kama menyentuh dagu wanita itu dan menaikan wajahnya, "Mengapa kau menunduk nona? Haha... Apa kau ingin ku hancurkan bersama keluargamu, hah?!
Wanita itu tetap tidak berani memandang wajah Kama, "Tolong maafkan saya Tuan... maafkan perkataan saya," Katanya memohon belas kasih.
''Arkhan!!!..." Teriak Kama memanggil seorang yang menjadi kepercayaan Kama.
Pria itu masuk ke dalam ruangan Kama dengan sigap setelah mendengarkan Tuan nya berteriak.
"Apa yang perlu saya bantu Tuan?" Tanya pria yang memakai jas rapi dan sepatu yang mengkilat.
"Singkirkan wanita ini dari hadapanku! Dan jangan biarkan dia ada di sini lagi!" Perintah Kama sambil menatap kejam pada wanita itu.
"Tuan, saya mohon jangan pecat saya... saya harus menafkahi keluarga saya Tuan." Wanita itu menangis dan memohon pada Kama, tetapi Kama tidak menghiraukan nya sama sekali.
Arkhan membawa wanita itu keluar. Meskipun, ia sedikit ibah pada wanita itu tapi dia sama sekali tidak berani membantah Tuan Kama.
"Permisi Tuan, ada seorang mahasiswi yang ingin magang di kantor ini dan ingin menemui Tuan langsung." Kata wanita itu.
Kama tersenyum miring, "Wah berani sekali dia hingga ingin bertemuku secara langsung. Suruh dia masuk." Pinta Kama sambil mengancing jas nya yang terlepas.
"Baik Tuan,"
Sosok perempuan, bertubuh mungil namun badan nya cukup bagus, berkulit putih dan berambut pirang sebahu. Ia masuk dengan percaya diri. Membawa sebuah buku dan ransel kecil yang ia dukung. Kama memperhatikan wanita itu dari atas hingga ke bawah.
Wanita ini adalah orang yang pernah aku temui di pesawat. Sedikit menggoda dengan rok ketat yang di pakainya.
"Siapa namamu ?" Tanya Kama sambil bersandar pada kursinya.
"Hanna Tuan," Jawabnya percaya diri.
''Nama yang buruk ! Haha... Apa kakimu tidak bisa melangkah lebih dekat? Apa itu jarakmu ketika berbicara dengan orang lain, hah ?! Kau tahu siapa aku ini ?!!" Mata Kama mulai mengeluarkan tatapan andalannya.
Benar kata semua orang, pria ini angkuh dan sombong. Rasanya, jika ini bukan perusahaan ternama aku tidak akan magang di sini. Batin Hanna jengkel.
Hanna mendekat pada singgasana Kama yang angkuh itu. "Maafkan saya Tuan.'' Katanya.
Kama mendekati Hanna, "Apa yang kau inginkan sehingga beraninya datang kepadaku?'' Katanya dengan nada yang selalu membuat orang takut.
Tetapi Hanna sama sekali tidak takut pada Kama. Ia malah memandangnya, "Izinkan hamba magang di perusahaan ternama milik Tuan Kama."
"Hahaha... Apa hebatnya kau hingga aku harus menerimamu disini, hah?!" Kama mendekati wajah wanita itu.
Hanna menatap mata Kama, "Saya hanya memohon belas kasih Tuan Kama jika bisa di terima disini."
Lebih baik merendah saja pada laki-laki angkuh ini. Batin Hanna lagi.
"Haha... Aku tidak butuh kau!" Ucap Kama dengan sombongnya dan kembali duduk di kursinya.
"Tuan, saya akan lakukan apapun yang Tuan mau. Asalkan izinkan saya untuk magang di perusahaan anda," Hanna memajukan langkahnya lebih dekat pada meja kerja Kama, ia memelas agar Kama mau menerimanya.
Wanita ini cukup menarik dan enak di pandang. Aku juga butuh sekretaris baru di sini. Gumam Kama sambil terus memandangi Hanna.
''Aku suka jika ada wanita yang memohon padaku. Kau akan ku jadikan sekretaris pribadiku untuk sementara sampai aku menemukan sekretaris yang baru." Ujar Kama
''Terimakasih Tuan Kama. Kau ternyata miliki hati yang baik," Puji Hanna tersenyum girang.
Brakk!!!
Lagi-lagi Kama memukul meja dengan keras hingga membuat Hanna tersentak kaget.
''Aku lebih suka di sebut pria yang kejam dari pada hinaan kotormu itu!!!" Bentaknya murka.
''Maafkan saya Tuan. Anda memang pria yang kejam," Ucapan polos keluar dari mulut Hanna.
''Diam!!!...Kunci mulutmu itu!" Bentak Kama lagi.
"Baik Tuan Kama."
Dasar orang aneh. Seandainya saja aku tidak dipaksa oleh pihak kampus untuk magang di neraka ini. Keluh Hanna dalam hati.