
Happy Reading ❤️
"Mine." Bisik Kama sebelum akhirnya mengecup mesra bibir Hanna.
Hanna menikmati bibir Kama yang menyapu lembut miliknya sambil memejamkan mata.
"Aw..." Pekik Hanna sedikit tertahan, merasakan gigitan kuat di ujung bibir bawahnya.
"Itu hukuman untukmu." Kama tersenyum nakal lalu melepaskan tangan Hanna dari borgol.
Hanna melihat ke arah cermin memastikan apa bibirnya terluka dan berdarah.
"Untung saja tidak berdarah, mungkin luka kecil." Katanya sambil memegangi bibirnya.
"Cherry lips." Sebut Kama sambil memperhatikan Hanna yang masih di depan cermin.
Hanna menoleh, "Apa kau ini sejenis vampir Tuan?"
"Haha... Kau bertanya atau memberi kode agar aku juga melukai lehermu?" Kama tersenyum nakal sambil memasukkan kedua tangan ke dalam kantong celana.
Mata Hanna membolak tanpa mengatakan apapun.
"Aku mengantuk." Ucap Kama.
"Baik kalau begitu aku akan keluar," Hanna beranjak namun Kama menarik tangannya.
"Kau mau kemana?" Tanya nya.
"Tuan katakan bahwa Tuan mengantuk dan ini kamarmu, jadi untuk apa aku disini?" Celoteh Hanna.
Kama menarik Hanna dan mendorongnya hingga terjatuh ke kasur, "Kau akan tidur disini, bersamaku."
"Apa???" Mata Hanna membolak tak percaya.
Mengapa rasanya aku takut dan gugup mendengar perkataan nya. Apa yang akan dia lakukan padaku. Apa mungkin...
Kama menaiki tempat tidur perlahan dan mendekatkan wajahnya pada Hanna. Kedua telapak tangan yang mencekam seprai berada di sisi kanan dan kiri telinga Hanna. Hingga posisi Kama tepat berada di atas tubuh gadis munggil itu.
Pria berwajah malaikat itu lagi-lagi melemahkan jantung Hanna dengan bola mata yang terus menghipnotis. Seolah mengintimidasi, Kau memang milik Kama.
Kama meniup lembut mata Hanna yang dari tadi menggambarkan kegugupan. Hangatnya nafas Kama kini menyapu pelan kulit wajah serta membuat mata Hanna sayu sejenak.
"Kau tahu, sepertinya aku akan menutup semua penawaran para perempuan jal*ng dan berhenti untuk menebus wanita lelang." Bisiknya dengan tangan Kanan membelai rambut Hanna.
Tidak! Apa ia akan menjadikan aku penganti mereka. Aku kan ingin membuatnya jatuh cinta. Bagaimana jika ia hanya ingin menjadikan aku pelampiasan nafsu buasnya saja.
Hanna mencoba melepaskan diri dari Lucifer itu. Namun, tenaganya tak cukup kuat untuk menyingkir.
"Hanna..." Panggil Kama sambil terus menatap.
"Ya Tuan." Jawab Hanna dengan nafas menderuh.
"Buat aku tertidur lelap malam ini." Kama merubah posisinya. Ia merebahkan diri di samping Hanna dan memeluk wanita mungil itu.
Nafas Hanna kini mulai meredah setelah tahu Kama hanya menggoda saja. Perlahan, ia menatap wajah Kama yang memeluknya erat.
Dia sudah memejamkan mata. Cepat sekali dia tertidur.
Hanna menyentuh wajah pria itu dari hidung hingga pipi sambil memperhatikan seksama.
Dia terlihat seperti malaikat baik ketika sedang tertidur.
Ketika Hanna hendak melepas sentuhannya. Tangan Kama menahan, "Biarkan saja seperti ini." Katanya sambil menempelkan telapak tangan Hanna ke pipinya.
Hanna tersenyum melihat tingkah Tuannya yang sudah terpejam.
Dalam hangat, mereka terlelap hingga matahari terbangun. Biasnya menembus tirai menyentuh kulit wajah keduanya.
Hanna menggeliat, namun tubuhnya terasa berat karena tangan kekar milik Kama masih terus menindih perutnya.
"Tuan... lepaskan." Katanya sambil menyingkirkan tangan itu.
"Aku buatkan dia sarapan saja."
Perlahan Hanna berjalan menuruni tangga menuju dapur. Langkahnya terhenti, ketika melihat sebuah foto yang ada di dinding area sekitar tangga.
Hanna meraih foto itu, "Siapa mereka," Ucapnya.
Foto itu terlihat seperti foto keluarga. Wanita paruh baya yang cantik, disampingnya pria paruh baya pula. Ya, itu adalah ayah dan ibu Kama. Di tengah mereka ada seorang gadis cantik jelita, hidungnya sama persis seperti kepunyaan Kama. Lalu, disamping gadis itu ada sosok remaja namun wajahnya sudah dicoret oleh tinta merah.
Apa ini adalah keluarga Kama. Ayah dan ibu, kakak, lalu siapa bocah yang wajahnya di coret seperti ini. Apa ini Kama? Tapi mengapa di coret seperti ini Batin Hanna penasaran.
"Pantas saja Tuan Kama selalu mengajakku naik lift dan bukan tangga. Apa dia tak ingin aku melihat ini." Hanna meletakkan kembali foto itu.
Terlintas sejenak di pikirannya bahwa sosok pria paru bayah yang ada di dalam foto itu sama persis dengan foto yang terjatuh dari dalam tas Kama.
"Sepertinya memang benar itu adalah Ayah Tuan Kama." Katanya lagi.
Hanna mulai menggeleda isi lemari es dan memikirkan sarapan apa yang harus ia buat pagi ini.
"Kau turun dengan tangga?" Tanya Kama tiba-tiba berada di belakang Hanna.
"Iya Tuan. Kau sudah bangun?"
"Apa kau menyentuh foto yang ada di sana?" Wajah Kama terlihat tak suka.
"Um..." Hanna mengangguk pelan.
Tangan Kama menggenggam geram seolah menahan amarahnya, "Mulai sekarang gunakan lift untuk turun dan naik, paham?!" Bentak nya lalu pergi.
Hanna tak mengerti dengan kemarahan Tuan Kama, lalu ia mengikuti langkah Kama.
"Mengapa kau begitu marah Tuan? Aku hanya memperhatikan foto itu dan aku tahu, itu foto Ayah, ibu dan kakak perempuanmu, kan? Lalu, apa yang salah ?" Celotehnya.
Kama tidak menjawab apapun dengan cepat ia melangkah dan meraih foto itu, dan melemparkan nya ke dalam tempat sampah.
"Tuan kau ini kenapa?!"
"Sebaiknya memang sampah itu sudah lama aku buang." Jawab Kama.
"Bukankah itu foto keluargamu?" Hanna semakin bingung.
"Buatkan aku sarapan!" Kama mengacuhkan pertanyaan Hanna lalu pergi meninggalkan nya begitu saja.
Hanna menghela nafasnya lalu kembali ke dapur, melanjutkan aktivitasnya dengan pikiran yang masih di landa banyak pertanyaan tentang kemarahan Kama pada foto itu.
Berapa lama setelahnya, sarapan sudah ia hidangankan di meja. Roti bakar dengan keju dan daging, serta susu. Ia duduk di meja makan menunggu Kama.
"Apa kau ingin membuatku berlemak, hah?!" Kama memandang kesal pada makanan yang ada di meja.
"Memangnya apa yang salah, Tuan?" Hanna balik bertanya.
"Apa kau lupa semalam kau sudah membuatkan aku daging steak, lalu sekarang roti dengan daging lagi?" Kama mendengus kesal.
"Ya sudah jika kau tidak mau makan, biar aku saja." Hanna meraih roti itu dan menggigitnya geram.
"Aw..." Hanna merasakan perih di bibirnya ketika saus diroti mengenainya.
"Haha... Apa bibir cherry milikku itu masih terluka, Hanna?" Kama memperhatikan bibir Hanna yang ia gigit semalam.
Hanna menyentuh bibirnya sambil menatap Kama tak suka.
Padahal tidak berdarah, mengapa perih sekali.
"Biar aku lihat." Kama mendekat dan menyentuh bibir Hanna dengan ujung jempolnya.
"Ternyata sedikit terluka. Pasti perih jika tersentuh makanan pedas haha..." Kama tertawa girang seolah senang atas ulahnya.
"Kau tertawa di atas penderitaanku." Omel Hanna sambil menepis tangan Kama.
"Aku akan memanggilmu gadis cherry." Kama tersenyum nakal.