
"Apa yang kau inginkan Tuan?" Tanya Hanna.
Kama membelai lembut rambut Hanna dan menyelipkannya sebagian ke telinga. Tangan kanan nya mengusap lembut pipi Hanna. Lalu dengan perlahan ia mendekatkan bibirnya tepat pada telinga gadis itu.
"Apa bibirmu itu akan mengeluarkan darah ketika aku gigit?" Bisiknya menggetarkan jantung Hanna.
"Apa yang kau mau Tuan?" Hanna bertanya tanpa mengalihkan pandangnya yang terus ke depan.
"Itu bukan jawaban dari pertanyaanku!" Menatap penuh gairah.
Mata Hanna terbelalak, "Kau mau apa?"
"Apa kau lupa Hanna? Kau adalah kepunyaanku." Kama tersenyum tipis.
Tangan kekarnya kini melingkar di pinggang Hanna begitu kuat dan wajahnya kembali di dekatkan, membuat Hanna merasakan deruh nafas hangat yang menyapu kulit wajah.
"Kau inginkan aku?" Tanya Hanna sambil menatap sayu
"Pertanyaan yang tidak memerlukan jawaban. Kau memang milikku." Tatapan Kama kini mengintimidasi wanita yang ada di depannya itu. Hingga, membuat Hanna terpaku diam tak berkutik.
"Bisa ku rasakan detak jantungmu yang begitu kencang. Mengapa Hanna? Kau ingin menyesali semua ini? Haha... salahmu sendiri karena sudah menyuruhku untuk berbelas kasih pada pria bodoh itu. Kau tahu..."Kama menyentuh bibir kecil Hanna dengan ujung jempolnya, "Belas kasih Tuan Kama tidak cuma-cuma. Kau adalah jaminannya." Melanjutkan perkataannya.
"Aku tahu dan aku tidak menyesalinya Tuan." Hanna menyentuh tangan Kama yang masih menempel di bibirnya.
Kama tersenyum nakal, "Your lips is my biggest weakness. Jangan berikan itu pada orang lain, atau kau akan menerima hukuman nya."
Hanna merekahkan bibirnya, matanya menatap pada pria rupawan di depan nya. Ia terlihat seperti sedang menggoda, merayu Kama yang sedang fokus pada bibir cherry miliknya.
Jika kau ingin bibir ini. Silakan saja, ini adalah milikmu dan tentunya ciuman pertamaku.
"Kau bisa memasak?" Tanya Kama mencoba untuk menghilangkan gairahnya. Ia melepaskan sentuhnya dan melangkah memberi jarak.
"Um..." Hanna mengangguk bingung.
Mengapa dia tidak jadi melakukan nya. Dan sekarang malah menanyakan hal lain.
"Aku lapar. Buatkan aku sesuatu," Kama menarik tangan Hanna dan membawanya ke dapur.
"Kau ingin makan apa Tuan?" Hanna membuka lemari es mencari bahan makanan yang ada disana.
"Apa yang membuat lidahku tidak memuntahkan nya." Kama duduk di meja makan dan memperhatikan wanita yang sibuk menggeleda lemari es.
Hanna menemukan bermacam sayur dan daging segar. Ia berpikir untuk membuat steak bagi Tuan Kama.
Kama yang duduk diam terpaku memperhatikan tubuh belakang Hanna yang berdiri memotong sayur. Ia melihat betis dan paha Hanna yang tidak tertutup, karena gadis itu hanya mengenakan celana pendek. Serta memperhatikan bentuk dan lekuk tubuh gadis itu.
Glekk...
Kama meneguk segelas air putih yang ada di depan nya sambil tak ingin mengalihkan perhatiannya.
Semua itu adalah milikku. Batin nya sambil menikmati air putih yang rasanya menjadi sangat manis di lidah.
"Hanna..." Suara lembut Tuan Kama yang ketika keluar bisa melemahkan jantung setiap wanita. Sayangnya, dia jarang sekali memanggil seorang dengan lembut.
"Ya Tuan," Hanna berbalik, ia mendapati Tuan Kama yang memandangi sekujur tubuhnya penuh perhatian.
Mengapa dia melihatku seperti itu.
"Are you virgin?" Pertanyaan yang kembali membangkitkan aliran listrik di jantung Hanna.
"Tentu saja. Memangnya kenapa Tuan?" Jawab Hanna mencoba santai dan kembali memotong sayur.
Kama mendekati gadis manis itu. Ia berdiri tepat di belakangnya. Tubuhnya yang setengah telanjang itu menempel di punggung Hanna dan tangan nya kembali memeluk pinggang Hanna. Ya, ia lebih tinggi dari Hanna, jadi sangat muda baginya untuk mengunci Hanna hanya dengan pelukan.
Hanna lagi-lagi hanya mematung diam. Ia mencoba untuk melanjutkan aktivitasnya, namun tangannya sulit di gerakan akibat pelukan yang ia dapat.
"Kau kesulitan?" Kama menyentuh tangan Hanna yang memotong sayur, "Begini Cara memotongnya." Ia menggerakkan tangan Hanna dengan lembut seolah mengajarinya.
"Selain lamban, kau ternyata tidak bisa memotong sayur." Katanya lagi penuh penekanan.
"Bagaimana aku bisa melakukan pekerjaanku dengan baik, jika Tuan terus menempel seperti ini." Hanna mencoba melepaskan diri.
"Kau keberatan jika aku memelukmu seperti itu?"
"Tentu saja iya." Jawab Hanna dengan nada kesal.
Kama spontan melepaskan pelukan nya. Ia membungkukkan badan. Menyentuh lembut betis kaki dan terus naik hingga ke paha Hanna.
"Apa yang kau lakukan?!" Hanna tersentak merasa geli.
Kama bangkit berdiri dan tersenyum nakal, "Haha... Kau akan mendapat hukuman nanti."
"Apa?! Memangnya aku melakukan apa padamu Tuan?" Menatap Kama tak suka.
"Ya, karena kau mengatakan bahwa kau keberatan jika aku bertindak memelukmu seperti tadi." Kama kembali duduk di meja makan.
"Tuan, maksudku di saat masak kau tidak boleh memelukku seperti tadi. Itu hanya akan membuatku sulit.
"Sst!..." Menempelkan jari telunjuk di bibirnya, "Aku sudah sangat lapar atau hukumanmu akan lebih berat dari ini!" Kama tersenyum miring.
"Baik Tuan." Hanna melanjutkan pekerjaan nya.
Percuma saja protes, dia akan tetap menghukumku. Apa dia akan memborgol tanganku lagi. Gerutu Hanna dalam hati.
Berapa menit setelehnya Hanna membawa sepiring steak untuk Tuan Kama yang sudah menunggu dari tadi.
Kama memotong kecil daging steak itu dan mengunyahnya perlahan, "Kau beruntung karena lidahku menyukai masakanmu."
Hanna tersenyum dan tidak mengatakan apapun. Ia masih terus memikirkan apa yang hendak Tuan Kama lakukan padanya setelah ini.
"Mengapa kau diam Hanna? Kau memikirkan sesuatu?" Kama menaikkan sebelah alisnya.
"Tidak Tuan,"
"Matamu mengatakan bahwa kau sedang memikirkan sesuatu. Jadi, katakanlah. Mulai sekarang kau tidak boleh menutupi apapun padaku." Kama terus menikmati makanan nya.
"Kau ingin menghukumku apa?" Tanya Hanna polos.
Kama tertawa kecil, "Haha... Kau sudah tidak sabar rupanya?" Menuangkan segelas air putih dan minum, "Ikut aku." Katanya lagi sambil kembali menarik tangan Hanna.
Ia membawa Hanna kedalam kamar, mengeluarkan sebuah borgol lalu meraih tangan Hanna dan menguncinya sambil terus menatap tajam dan tersenyum tipis.
Kemudian ia mendorong Hanna hingga terpojok ke dinding. Lalu Kama menaikkan kedua tangan Hanna yang terkunci ke atas dan menempelkan nya pada dinding.
Tatapan nya kembali mengartikan gairah yang sedang merasuki Kama saat itu. Ia kembali mendekatkan wajahnya dan memandangi bibir Hanna yang adalah milik kepunyaan sang Tuan Kama.
Lagi, Hanna mematung diam. Matanya seperti sedang mengawasi pria yang ada di depan nya itu. Jantungnya kembali berdetak dan nafas yang di buru bak sedang ikut perlombaan lari.
"Kau tidak mencicipi steak yang tadi kau buat, bukan?" Kama terus memandangi bibir cherry Hanna, "Kau tahu itu adalah steak terenak yang pernah aku makan. Apa kau ingin aku berbagi rasa melalui bibirku ini, Hanna?"
Hanna memejamkan matanya hingga keningnya ikut mengerut, seolah ingin menahan gejolak di hatinya.
❤️Selamat hari Raya idul fitri buat semua, mohon maaf lahir dan batin 🙏🙏