The Other Side Of Kama

The Other Side Of Kama
Dilema Tuan Kama



Malam itu, ntah mengapa Tuan Kama hanya ingin berdiam diri sendiri di depan teras rumah. Dia memikirkan apa yang baru saja Hanna katakan saat minum es kelapa muda.


Perasaan gelisah yang ia rasakan, karena besok akan jadi sejarah dalam hidupnya. Jelas, untuk pertama kali Tuan Kama mengunjungi ibunya di Jakarta setelah lama berpisah.


Jika di telusuri ke dalaman hatinya, maka ia pun pasti sangat tidak ingin melakukan hal itu. Tapi, dia sama sekali tidak bisa menolak permintaan Hanna.


Kama menatap sinis ke depan. Ponselnya yang terletak di atas meja ia putar-putar bagai gasing. Angin semilir menyentuh lembut tubuhnya, tapi ia tak merasa dingin sedikitpun.


“Kau sedang apa Kama?” Tanya ibu mengejutkan. Ia berdiri di depan pintu, berniat untuk menguncinya tapi ia malah menghampiri Kama.


“Kama!” Seru ibu Hanna setelah tidak mendapat sahutan.


“Bibi, maaf aku tidak mendengar.” Kama menoleh ke arah ibu Hanna yang berdiri di sampingnya.


“Kau sepertinya sedang bingung.” Ibu duduk di hadapan Kama. Mereka duduk tanpa kursi dan di tengah-tengahnya meja kecil.


“Tidak Bibi.” Kama tersenyum paksa.


“Dari matamu aku bisa melihatnya. Ada apa?”


“Tidak ada Bi, aku hanya memikirkan masalah pekerjaan.” Jawab Kama sembari menggaruk kepalanya.


“Jangan terlalu pikirkan pekerjaan, nanti kau cepat tua.” Ibu Hanna tersenyum.


“Tentu Bi, terimakasih.”


“Kau dan Hanna akan kembali besok, bukan? Apa kau sudah berkemas?”


“Sudah. Besok kami hanya tinggal berangkat.”


Ibu Hanna menghela napas, “Ntah mengapa ketika melihatmu, Bibi merasa kalau kau bisa menjaga putriku.”


“Haha, Bibi kau bisa saja.” Kama tertawa kecil.


“Aku dan Hanna selalu berdua sampai dia SMP dan dia mendapat beasiswa untuk bisa melanjutkan SMA hingga tingkat kuliah di Singapura.” Ibu melayangkan pandangannya seakan membayangkan masa lalunya.


“Hanna itu adalah putriku yang hebat. Dia sama sekali tidak bisa membenci orang lain, bahkan ketika orang itu sudah sangat menyakitinya.” Lanjut ibu.


“Putrimu memang hebat Bi,” Ucap Kama.


“Sewaktu dia masih kecil sekali, Ayahnya pergi meninggalkannya dengan alasan bekerja. Tapi, bertahun lamanya kami menunggu, dia tak kembali juga bahkan aku mendengar dia berselingkuh dengan wanita jal*ng.” Mata ibu berbinar, sekarang dia benar-benar membayangkan masa lalunya.


“Bibi, Mengapa kau tidak ceraikan saja dia?”


“Hanna benci akan perceraian. Untuk itu, aku sangat berharap padamu agar kau tidak mengucapkannya jika nanti kalian bertengkar hebat. Aku mohon jagalah dia.” Ibu Hanna menatap penuh harap.


Kama menyentuh punggung tangan yang sudah mulai keriput itu dan mengusapnya, “Aku akan berusaha Bi.”


“Terimakasih Kama. Aku sangat membenci wanita murahan, atau prostitusi. Mereka sudah banyak merusak rumah tangga orang lain.” Kata ibu dengan nada penekanan dan di wajahnya tergambar kebencian teramat dalam.


Kama menelan ludahnya, ia bergeming dan tak bisa mengeluarkan sepatah katapun. Tentu saja, saat ini ia teringat bahwa ibunya adalah mantan prostitusi.


Carlee memang wanita murahan. Bahkan, lebih rendah dari apapun! Makinya dalam hati.


“Oh iya, bagaimana dengan ibumu? Berapa usianya? Walaupun dulu Ayahmu itu sangat terkenal tapi, aku tidak pernah melihat ibumu di media masa atau sebagainya. Yang aku ingat, Ayahmu itu selalu memuji istrinya ketika di wawancarai.” Ibu terlihat antusias.


Kama tersenyum paksa. Tangannya diam-diam mencekam jari-jari.


Ayah selalu berusaha menjaga nama baik istri bi*dapnya.


“Hei Kama! Kau ini, mengapa malah bengong?” Ibu mengeraskan suaranya.


“Aku tidak tahu berapa usianya,” Kama mengatakannya dengan nada sinis.


“Kau tidak tahu usia ibumu sendiri? Kau ini bagaimana?!” Ibu menggelengkan kepalanya heran.


“Aku---‘’ Kama tak sempat melanjutkan. Hanna tiba-tiba datang mengejutkan.


“Kau ini! Suaramu itu mengejutkan ibu!”


“Maaf ibu. Kalian membicarakan aku ya?” Kata Hanna percaya diri.


Ibu mencebikkan bibir, “Percaya diri sekali kau!”


“Apa aku boleh lebih dulu tidur?” Tanya Kama.


Hanna menoleh cepat dan menatap heran, “Cepat sekali Tuan. Aku baru saja ingin ngobrol bersama kalian.” Hanna memanjangkan bibirnya.


“Aku ingin beristirahat Hanna.” Kama melirik sejenak dan suaranya terdengar tak bersemangat.


Kau pasti berbohong Tuan. Kau terlihat sedang memikirkan sesuatu, apa ibu mengatakan yang tidak-tidak padamu tadi ya? Pikir Hanna dalam hati.


Kama bangkit berdiri dan melangkah masuk.


“Isitirahatlah Kama!” Teriak ibu, agar Kama mendengarnya dari dalam.


Hanna terus melihat ke arah Kama meskipun ia sudah benar-benar masuk ke dalam rumah dan sang ibu memperhatikan putrinya itu, “Hanna! Biarkan saja dia beristirahat.”


Hanna menatap penuh analisa, “Ibu tadi mengatakan apa padanya?”


“Mengatakan apa maksudmu?”


“Jujur saja bu! Mengapa wajah Tuan Kama terlihat murung begitu. Ibu pasti mengatakan yang bukan-bukankan padanya?” Hanna menatap menghakimi, bahkan ia menggerakkan jari telunjuknya di hadapan ibu.


“Kau ini tidak sopan! Turunkan tanganmu!” Ibu menepis tangan Hanna.


“Ibu ayolah, jujur saja.” Desak Hanna.


“Memangnya kau pikir ibu ini mengatakan apa padanya, hah?! Kau menuduh ibu yang bukan-bukan?! Mungkin wajahnya begitu karena dia kelelahan.” Celoteh ibu geram.


Jika ibu tidak mengatakan apa-apa, jadi apa yang terjadi padanya?


“Ibu tadi hanya menanyakan tentang usia ibunya. Apa kau tahu? Calon suamimu itu bahkan sama sekali tidak tahu berapa usia ibunya. Yang benar saja!” Kata ibu tak percaya.


Ya ampun itu masalahnya. Tentu saja Tuan Kama seperti itu, raut wajahnya akan berubah ketika mendengar nama Carlee.


“Harusnya sebagai anak dia tahu berapa usia ibunya! Apa dia itu terlalu sibuk bekerja hingga seperti itu.” Ibu masih terus mengomel, sementara Hanna sibuk memikirkan Tuan Kama.


“Jika kau nanti menjadi istrinya, kau harus perhatian pada mertuamu.” Lanjut ibu seraya memandang ke arah Hanna.


“Hanna!” Seru ibu.


“Ah iya iya bu.” Sontak Hanna.


“Kau kenapa melamun seperti itu? Kau sama saja seperti Kama!” Ibu terdengar sebal dan ia bangkit berdiri.


“Ibu kau mau kemana?” Tanya Hanna.


“Tentu saja ingin tidur. Kau juga sebaiknya pergilah tidur, ini sudah larut malam.” Suruh ibu sembari memperbaiki rambutnya yang tergerai.


“Iya bu, sebentar lagi aku akan tidur.”


“Baiklah, kalau begitu ibu masuk lebih dulu. Selamat malam.” Ibu pamit dan meninggalkan Hanna seorang diri di teras.


“Iya ibu tidur yang nyenyak. Selamat malam,” Hanna memberikan senyum manis.


Hanna duduk menempelkan dagunya pada meja dengan wajahnya yang sedikit murung.


Bagaimana jika besok akan menjadi lebih buruk bagi Kama setelah dia bertemu dengan ibunya? Aku jadi sedikit mencemaskannya. Apa ini akan berhasil atau malah sebaliknya?


“Tidak! Aku harus bisa mendamaikan Tuan Kama dengan ibunya. Aku akan berusaha sebisa mungkin.” Perkataan Hanna terdengar begitu bersemangat. Kemudian, ia memilih masuk untuk beristirahat.