
"Kau menyebalkan sekali!" Kata-kata terakhir Hanna, sebelum akhirnya menyerah untuk protes.
"Haha... Ini adalah kantorku. Aku berhak memecat siapa saja yang tidak aku sukai." Kata Kama dengan nada penekanan.
"Terserah kau saja!" Hanna memilih duduk di mejanya dan mulai bekerja.
"Mengapa wajahmu murung, Hanna?" Kama bangkit berdiri dan mendekati meja kerja Hanna yang ada di sampingnya.
Hanna tidak menjawab dan terus berpaku pada laptop.
"Baiklah. Aku akan batalkan, dia tidak akan aku pecat!" Kata Kama dengan nada terpaksa.
Hanna tersenyum manis.
Pria menyakitkan dengan sejuta pesona dan segala hal misterius yang ada di dalamnya. Kini mulai terpecahkan.
Kama melangkah keluar ruangannya. Tanpa mengatakan apapun pada Hanna. Ya, siapa sangka ia akan menarik katak-katanya untuk pertama kali ketika sudah memecat seseorang untuk kembali memintanya.
"Kau !! Kembali bekerja!" Teriaknya dengan suara lantang di depan seluruh karyawan.
Semua mata menatap heran padanya. Tuan Kama yang di kenal tidak pernah plin plan dengan segala keputusan nya, kini bertingkah beda. Sebagian mungkin akan berpikir Tuan nya itu di rasuki jin baik.
"Sa -saya Tuan?" Ucap pria yang sedang berkemas dengan nada yang gugup.
"Apa hari ini aku memecat orang lain?!"
"Terimakasih Tuan Kama." Pria itu tersungkur di kakinya dengan rasa syukur karena nasibnya, berpihak pada hal baik.
Dengan angkuh Kama meninggalkan pria itu. Seluruh wanita yang ada di sana semakin terpikat dengan Tuan Kama atas tindakannya hari ini.
"Aku sudah memintanya untuk bekerja kembali. Apa kau senang?!" Dengan jengkel Kama mengatakan hal itu pada Hanna.
Hanna menghampirinya, meraih kedua tangan nya, "Terimakasih Tuan. Hari ini tidak ada hal yang membahagiakan lainnya," Ucapnya girang.
"Haha... Kau harus membayarnya!" Bisik keras Kama di telinga Hanna.
"Membayarnya?" Kedua bola mata Hanna membesar.
Kama menyentuh dagu Hanna untuk kesekian kalinya. Ia menaikkan wajah gadis manis itu dan menatapnya penuh obsesi.
"Apa kau pikir, aku melakukannya hanya untuk melihatmu tersenyum?"
Hanna menjawab dengan liriknya matanya yang tak mengerti apa maksud dari pertanyaan itu.
"Aku sudah membelimu dengan hal ini. You are mine, Hanna." Katanya dengan nada penekanan.
"Maksud Tuan?" Hanna masih tak mengerti.
Kama menyentuh lembut bibir merekah Hanna, "Kau tidak akan kembali kepada Azel, temanmu itu. Melainkan, kau akan tinggal bersamaku!"
Mata Hanna terbelalak, bibirnya bergetar, "Apa yang kau mau Tuan?"
"Mulai sekarang kau hanya akan melakukan segala perintahku. Selain menjadi sekretaris magang, kau juga harus melayaniku sepenuh hati! Haha..." Mata Kama menusuk tajam menghipnotis Hanna.
Hanna menelan ludahnya, "Me -la -yani?" Katanya bergetar.
"Haha... Kau tidak bisa menolak karena aku sudah melakukan apa yang kau inginkan." Kalimat tersebut mengunci bibir Hanna untuk menolak.
"Mulai sekarang, kau adalah milikku! Dan hukuman akan berlaku lebih berat jika kau melakukan sesuatu yang sangat tidak aku sukai, paham gadis manis?"
Hanna mematung tak berkutik, jantungnya berdegup kencang. Matanya kali ini tak bisa membohongi, bahwa ia terpikat tak berdaya pada pria dengan segala keindahan maha karya Sang pencipta yang melukisnya.
Kama melepaskan dagu Hanna yang sedari tadi di sentuhnya, "Mengapa jantungmu berdetak kian kencang, Hanna?" Kama tersenyum tipis merasakan tubuh Hanna yang bergetar, "Kau takut atau menyesal?" Menatap lagi.
Hanna hanya menggeleng. Ia mencoba untuk menenangkan pikiran nya agar sedikit tenang.
"Baik, aku akan lakukan apapun yang Tuan mau." Kata Hanna berani.
"Bagus. Mulai sekarang, kau tidak boleh menyentuh pria lain!" Kama kembali duduk di kursi singgasananya.
***
Hanna melangkahkan kakinya lebar menuju kamar kosnya dan Azel.
"Han... Kau pulang. Kemana saja dan mengapa tidak memberi kabar, hah?!" Omel Azel begitu khawatir.
"Maaf Azel. Untuk sementara aku akan tinggal bersama Kama, di apartemennya." Hanna memasukkan sebagian bajunya ke dalam koper.
Azel tersentak, "Apa?! Kau tinggal dengan pria tampan itu? Ya ampun... apa semalam kalian sudah."
"Hentikan omong kosongmu Azel! Aku harus membayar semua hutangku padanya karena pria malang itu." Masih terus membereskan pakaian nya.
"Apa yang kau maksud hutang dan pria malang???" Azel mencoba memperhatikan wajah Hanna untuk mencari tahu jawaban nya.
"Aku tidak punya waktu untuk menceritakan nya. Sekarang, Kama ada di depan menungguku. Ia tidak mengizinkan aku untuk pergi sendiri mulai sekarang." Hanna mengunci kopernya dan sudah siap untuk pergi.
"Sepertinya memang aku akan membayar kos bulan depan... Ahh... Menyebalkan!" Gerutu Azel mengingat janjinya.
"Aku tidak mengajakmu bertaruh, kan?" Hanna tersenyum atas kesialan Azel.
"Tapi, kau hebat juga Han, Haha..." Azel menyikut pelan pinggang Hanna.
Hanna tertawa malu, "Kau tahu? Bahkan raja sekalipun akan menjadi lemah ketika jatuh cinta. Aku ingin tahu, bagaimana dengan Kama." Hanna melayangkan pandangannya.
"Kau memang penggoda yang berkelas." Ucap Azel.
"Aku bukan penggoda." Bantah Hanna sembari memakai sepatunya.
"Lalu apa?"
"Mungkin aku terlalu menarik di matanya haha..." Ucap Hanna percaya diri.
Tiiinn.......
Suara klakson mobil terdengar begitu kencang. Ya, Kama memang orang yang sangat benci menunggu. Ia pasti sudah sangat bosan dan marah karena Hanna begitu lama.
Hanna bergegas lari keluar menarik kopernya yang beroda, "Zel aku pergi ya... Jangan memanfaatkan kamar yang sepi bersama Louis!..." Teriak Hanna.
"Lamban! Mengapa lama sekali, Hah?!" Bentak Kama yang sudah menunggu bersandar pada pintu mobil.
"Maaf Tuan, aku memerlukan beberapa barang penting. Jadi, sedikit lama." Ucap Hanna beralasan.
Kama memasukkan koper Hanna ke dalam bagasi mobil, "Masuk ke dalam." Perintahnya.
Hanna bergegas masuk dan memakai sabuk. Mengingat, Kama adalah pembalap liar ketika sudah di jalanan.
Kecepatan tinggi yang di bawa oleh Kama membuat mereka begitu cepat sampai di apartemen.
Matahari sudah tidur dan tepat pukul 07.00 malam. Hanna masuk ke kamar yang sudah menjadi kamarnya sementara. Ia menyusun baju-bajunya ke dalam lemari.
Tiba-tiba Kama datang setengah telanjang. Ia hanya menggunakan celana jeans ketat berwarna hitam di bawa pusat dan tidak mengenakan sehelai apapun untuk menutupi dada dan tubuh yang terpahat sempurna itu.
Ia menghampiri Hanna yang masih sibuk dengan aktivitasnya. Gadis itu tak sadar bahwa Kama tepat di belakangnya. Ia berbalik dan tersentak mendapati Lucifer tampan di hadapannya.
Kama mengunci gadis itu dengan kedua tangan yang menempel di tubuh lemari. Lagi, Ia membuat Hanna mematung diam. Tatapan nya mengintimidasi, membuat gadis yang ada di depan nya tak berkutik.
"Hallo... Mine." Bisiknya dengan hembusan nafas hangat, membuat buluh tipis di leher Hanna bangkit berdiri penuh hasrat.