
“Kau sudah siap dengan semua itu?” Kama bertanya begitu semangat sembari memandangi kertas kosong dengan tiang penyanggah, serta cat yang ada di meja di sampingya.
Hanna menarik nafas dalam, “Ya, aku rasa aku sudah siap. Kau ingin di lukis seperti apa?”
Kama duduk bersandar pada meja, ia melipat tangan dan tersenyum memandang kekasihnya.
“Kau ingin di lukis seperti apa Tuan?” Tanya Hanna lagi setelah tadi tidak mendapat jawaban.
“Aku yang akan melukismu.” Ucap Kama.
“What the hell?!”
“Aku yang akan melukismu dengan lingerie.” Tekan Kama.
Hanna menggelengkan kepala lalu menutupi dadanya dengan dua tangan,”Kau selalu seenaknya sendiri merubah hukumannya!”
“Oh sweetheart, tidak apa-apa. Ini hukumanmu. Lagipula, aku akan melukis gadisku dengan sempurna.” Kama mendekati Hanna lalu meniup keningnya.
Hanna berkedip merasakan angin lembut dari mulut Kama, “Tidak mau!” Suaranya terdengar merajuk.
Kama tertawa, “Baiklah. Pergi kenakan lingerie mu.”
“Oh please!” Hanna mendengus kesal, ia melangkahkan kakinya terpaksa menuju kamar mandi.
Selang beberapa menit Hanna sudah mengenakan lingerie berwarna hitam. Tentu, lekuk tubuhnya semakin terlihat indah dan transparan di mata Kama nantinya.
Hanna bercermin di kaca kamar mandi yang ukurannya hampir menyamai tubuhnya.
“Apa yang aku lakukan? Dia kekasihmu sekarang, tapi dia sudah seperti majikan cintamu!” Hanna menahan nafas, matanya berputar pada langit-langit kamar mandi.
“Honey, kau sudah siap dengan lingerie mu? Keluarlah, perlihatkan padaku.” Teriak Kama tak sabar.
Hanna pasrah, ia melangkahkan kakinya berat. Kedua tangan meremas-remas jari, menghitung detik-detik Kama akan memandanginya penuh gairah.
Perlahan, ia membuka pintu, memperlihatkan sedikit demi sedikit tubuhnya, hingga ia menampilkan keseluruhannya.
“Gadis pintar!” Mata Kama mengerjap jantung Hanna, lalu merosot ke bagian tubuh dada dan pangkal paha.
“Berhenti melihatku seperti itu!”
Kama mendekati Hanna, ia melangkah penuh irama, seperti ingin mengajak gadisnya untuk menari dalam gairah.
Tangan kekar ia gunakan untuk mengunci pinggul Hanna, “Kau begitu menggoda.”
“Tuan Kama!” Hanna mencoba memberontak.
“Aku hanya ingin menghukummu dengan lukisan,” Ucap Kama dengan mata yang terus menelusuri lekuk tubuh Hanna.
“Baiklah, lakukan yang kau mau!” Hanna semakin pasrah.
Mengapa dia membuat aku menjadi beku. Mengapa aku selalu tidak bisa menolak apapun yang ia mau.
Kama menarik kursi di hadapan kertas kosong dengan tiang penyanggah. Bola matanya memberi tanda agar Hanna tetap di tempatnya berdiri.
“Berbaringlah menghadapku di kasur.” Pinta Kama.
“Tuan, setelah ini kau juga harus menuruti apa yang aku mau.” Hanna mencoba memanfaatkan kesempatan.
“Apa yang kau inginkan?” Kama menyiapkan satu kuas di tangannya.
“Pertama, aku adalah kekasihmu dan kau adalah kekasihku. Aku ingin setelah ini, kau bertemu dengan Carlee dan berlaku baik padanya!”
Kama mengbungkam sejenak mendengar perkataan Hanna, “Mengapa kau inginkan itu?”
“Karena aku adalah kekasihmu. Aku ingin kau juga melakukan apa yang seorang kekasih inginkan.” Hanna memposisikan tubuhnya berbaring, dengan posisi yang menyulut gairah seksual pada Kama.
“Kau ingin merendahkanku?” Kama memulai coretan dasar pada kertas kosong.
“Tidak Tuan. Aku hanya ingin kau melakukannya, sebagai keinginanku.”
“Aku tak ingin melakukannya!” Tegas Kama.
“Kau harus melakukannya!” Hanna tak kalah tegas.
Kama mendengus, ia mengatup mulutnya menahan rasa sabar akibat permintaan Hanna yang berada di luar kemampuannya. Ia tak mengatakan apapun, hanya sorot mata dan tangan yang sibuk bekerja menciptakan lukisan Hanna, si gadis cherry miliknya.
“Kau sudah selesai Tuan?” Hanna merasa pegal dengan posisinya.
“Berbaring dan diamlah!” Tangan Kama semakin lincah dan cepat menggerak-gerakkan kuas.
Ini sudah satu jam lamanya. Apa yang ia coret di sana? Apa aku akan terlihat gendut? Batin Hanna yang menahan rasa tak sabar.
“Aku sudah siap!” Kama bangkit dari tempatnya berada. Ia mengambil kertas yang sudah ada hasilnya , lalu memperlihatkannya pada Hanna. “Kau terlihat cantik.” Pujinya.
Hanna bangkit dan meraih kertas itu, “Ini sempurna! Kau pandai melukis Tuan.” Raut wajahnya terasa puas.
Kama menggulung kemejanya sampai sikut,”Aku akan menyimpan lukisan ini.”
“Terimakasih karena sudah melukisnya dengan baik.” Hanna tersenyum pada Kama.
Kama mendaratkan bibirnya di kening Hanna,”Aku yang berterimakasih.” Jari-jari Kama menyentuh rambut Hanna.
“Aku akan mengganti bajuku.” Hanna mencoba mengalihkan rasa gugupnya setelah kecupan lembut di kening yang ia dapat. Segera ia ke kamar mandi untuk mengganti baju.
Kama menyimpan lukisan itu dengan baik dan kemudian membereskan sisa peralatannya sambil tersenyum sendiri membayangkan Hanna yang berbaring penuh gairah di atas ranjang.
“Tuan aku mengantuk, apa boleh aku tidur lebih dahulu?” Hanna keluar sambil membuka ikatan yang sedari tadi mengunci rambutnya.
”Beristirahatlah. Aku ingin bicara dengan ibu.”
“Kau ingin membicarakan apa pada ibu Jean?” Tanya Hanna sembari naik ke ranjang.
“Apa yang biasa seorang putra bicarakan pada ibunya.’’ Jawab Kama seolah ingin Hanna berpikir sendiri.
“Baiklah, aku akan tidur lebih dulu.” Hanna menarik selimutnya.
“Tidurlah dengan nyenyak. Besok pagi akan ada aku di sampingmu.” Kama mendekat, menundukkan kepalanya dekat di wajah Hanna.
“Tuan,” Panggil Hanna dengan sorot mata manja.
“Katakan!” Kama menatap tak sabar akan apa yang akan di katakan oleh gadisnya.
“Kapan kita akan pulang?”
“Besok sore. Kita akan langsung mengunjungi ibumu, kau rindu padanya?” Kama membelai rambut Hanna.
“Ya, tapi setelah itu kau juga harus mengajakku bertemu Carlee.” Hanna membujuk lagi.
“Tidak!” Ketus Kama kemudian mengangkat wajahnya.
Hanna menahan tangan Kama yang hendak pergi, “Jika seperti itu kau juga tidak boleh menemui ibuku.”
Kama menoleh lagi dengan sigap, ia mengarahkan matanya tepat pada wajah Hanna, “Kau mengancamku, Hanna?”
“Tidak! Aku sebut ini sebagai keseimbangan. Terserah kau akan lakukan apapun padaku, tetapi kemauanku tidak akan berubah!” Hanna menatap dalam dan pasrah apakah keinginannya akan di kabulkan.
Tangan Kama mencengkam ujung bantal Hanna, giginya ia tekan dan matanya ingin marah.
“Aku belum pernah meminta apa-apa darimu. Kau sebut aku kekasih?” Wajah Hanna memelas.
“Tapi tidak untuk bertemu Carlee.” Tolak Kama.
“Kau juga tidak boleh mengikuti aku ke Bali.” Hanna merubah posisi menjadi duduk dan tetap menatap Kama.
“Berbicara denganmu memang menguras emosiku. Kau wanita yang keras kepala! Mengapa kau terlihat ingin mengorek hidupku lebih dalam?” Kama menahan emosi di wajahnya.
“Aku sudah katakan dulu, rasa penasaranku padamu lebih besar dari apapun. Aku hanya ingin kau menjadi dirimu sendiri.”
“Aku sudah menjadi diriku! Apa yang kau maksud Hanna?” Kama menaikkan intonasi suaranya.
Hanna mengusap lembut pipi Kama, ia mencoba untuk menetralkan rasa amarah pria yang sekarang adalah kekasihnya, “Kau bukan dirimu yang sekarang. Hanya berikan persetujuan, aku tidak meminta banyak.”
“Apa yang ingin kau katakan pada Carlee?” Tanya Kama sembari menyingkirkan tangan Hanna dari wajahnya.
“Aku tidak inginkan apapun. Aku hanya ingin dirimu, Tuan.”
Kama memiringkan wajahnya heran, “Kau sudah mendapatkan aku.”
“Tidak, aku belum mendapatkanmu sepenuhnya.” Hanna mengusap pundak Kama.
“Maksudmu? Aku tidak mengerti apa yang ada di otakmu!”
“Kau akan mengerti, jika kau menyetujui permintaanku lebih dulu.” Hanna kembali berbaring dan menarik selimut.
Kama terlihat sedang menimbang-nimbang pikirannya, “Baiklah. Tapi, kau tidak akan ke bali tanpa aku!”
Hanna seketika duduk lagi, wajahnya penuh semangat, “Terimakasih Tuan.” Ia mendaratkan satu ciuman di pipi Kama.