The Other Side Of Kama

The Other Side Of Kama
Meninggalnya sang Ayah



Yey!!!....


Sorak para mahasiswa sambil melemparkan topi toga mereka terbang ke atas. Hari ini adalah hari wisuda Kama. Namun, ia tidak mengajak siapapun untuk mendampinginya di hari bahagia ini.


Cekrek... cekrek...


Cahaya kamera menyorot wajahnya yang ikut berdiri memegang ijazah di tengah-tengah teman sekelasnya. Ia memang berada di sana tapi pikiran nya sudah jauh berkelana.


Tepat sekali, hari ini Ayah Kama akan datang menjemput, untuk membawa Kama pulang ke Singapura.


Singapore Changi airport


Your attention please, passengers of Singapore Airline on flight number SA328 to Jakarta please boarding from door A12, Thank you.


Pria paruh baya itu menyandarkan kepalanya, memilih posisi duduk paling nyaman selama penerbangan berlangsung. Hari ini ia merasa bangga terhadap apa yang sudah Kama capai. Meskipun, rasa bangga itu tidak diharapkan oleh putranya.


Drrt... drrt....


Kama mengangkat telepon genggam nya. Ntah dari siapa dan apa yang di bicarakan. Wajah Kama tak dapat di tebak. Ia hanya diam membisuh menempelkan ponselnya di telinga. Bahkan, ketika ponsel itu di tutup Kama pun tak mengekspresikan apa-apa. Ia berjalan menelusuri keramaian para mahasiswa yang masih bersenang ria merayakan hari kesuksesan mereka.


Brukk!!!


Seorang gadis yang juga teman sekelasnya tak sengaja menabrak Kama yang berjalan menuju pintu luar gedung perayaan wisuda. Gadis itu mengetahui siapa yang ia tabrak, tak berani sedikitpun memandang wajah Kama.


"Kau!!! Jika kau tak bisa berjalan dengan baik, patahkan saja kakimu!!!" Kama berbisik keras di telinga gadis itu dan pergi meninggalkan nya.


Gadis itu terus menunduk menahan rasa takut dan gemetar setiap kali Kama memakinya. Karena, tak hanya sekali dan tidak hanya dirinya. Melainkan, hal itu sudah biasa terjadi, tapi tidak ada yang berani melawan Kama kecuali, satu pria bernama Kenan.


Kenan adalah sahabat Kama yang berubah menjadi musuh berat dan pesaing dalam hal apapun. Dulu Kama ingin berteman dengan nya, hanya karena dia merupakan anak salah satu donatur terbesar di kampus dan juga anak seorang pengusaha kaya yang juga tinggal di Singapura.


Berniat untuk bergabung di perusahaan Ayah Kenan dan memanfaatkan Kenan untuk mencapai ambisi jahatnya. Namun, ia tak berhasil jua. Kenan bukan sembarang orang yang gampang saja di kelabui. Akhir cerita pertemanan mereka adalah permusuhan yang kian membara.


Kama meneruskan langkahnya menuju sebuah mobil mewah yang terparkir. Ia melempar bunga yang diberikan oleh seorang dosen sebagai penghargaan, ke dalam tempat sampah dan menginjaknya dengan sepatu mengkilat miliknya.


Lalu ia menyetir dengan kecepatan tinggi, hingga membuat pejalan kaki yang ada di jalan ketakutan dan bertepi.


Malam itu juga ia berkemas dan hendak terbang ke Singapura. Ia duduk di tepi jendela pesawat. Menatapi bangku sebelahnya yang masih kosong.


Apa orang di sebelah ini sudah mati. Batin nya geram menanti siapa yang akan duduk di sebelahnya.


Seorang wanita bertubuh mungil. Berambut pirang sebahu, wajah yang oriental dan berkulit putih duduk di sampingnya. Kama memandanginya dengan tatapan sinis. Sayangnya, wanita itu tidak terlalu memperdulikan pria yang duduk di samping nya itu.


Ia memasang earphone di telinga dan bibirnya terlihat begitu sibuk mengunyah permen karet yang sudah tak ada rasa manis lagi.


Kama tiba di Singapura. Ia mendapati Ibunya yang sedang santai membaca majalah. Duduk di sofa dengan mengangkat kaki di atas meja.


Kama menepis pelukan Carlee, "Apa kau sudah merayakan kebahagiaan mu Ibu? Apa tidak ada pesta uang yang akan kau adakan malam ini bersama para wanita gila mu itu?"


"Apa yang kau bicarakan ini Kama? Apa kau tidak ada rasa sedih dan duka sedikit pun atas kecelakaan pesawat yang di alami Ayahmu pagi ini?" Sang ibu memelas.


Kama melemparkan ransel yang dari tadi ia gendong tepat di depan ibunya, "Pesawat nya masih belum di temukan. Tapi itu tidak bisa memastikan apakah dia masih hidup, haha... dan kau punya cara untuk menanti kekasihmu itu, bukan ? Kau menanti dengan bersantai dan membaca majalah kesukaanmu itu."


Kama bertepuk tangan, "Carlee, Ibuku... Kau memang sepantasnya menjadi janda. Setelah ini, kau bebas tidur dengan pria mana pun, haha..."


Pak!!!


Carlee menampar putranya itu, "Hentikan perkataan mu!!!..."


Kama menyentuh bekas tamparan yang melesat kian kuat di pipinya, "Mengapa Ibu? Oh... aku tahu, kulitmu itu sudah menjadi keriput untuk menarik dan menggoda pria, bukan?"


"Kama !!!... Apa yang kau katakan pada ibu?!!" Sambung sang kakak yang baru saja pulang melapor pada pihak crisis center bandar udara.


Ia mendekati Kama, "Apa kau tidak bisa berlaku sopan pada ibu, Hah?!"


"Haha... Lina... Lina, Apa perempuan ini yang kau sebut ibu?" Kama memandang wajah ibunya.


"Hentikan Kama!!!" Murka Lina.


"Sudahlah Lin, biarkan saja dia mengatakan apapun yang ia mau." Carlee menarik putrinya itu yang berdiri menantang Kama.


Kama tertawa dan memilih untuk pergi meninggalkan mereka. Ia menaiki tangga menuju kamarnya.


Foto sang Ayah yang ia simpan di dalam ransel, diraihnya. Dengan tatapan mendalam ia larut dalam ingatan akan foto itu. Anak kecil laki-laki memakai topi sedang digendong mesra oleh sang Ayah. Foto itu memang memudar, tapi senyum yang tergambar di sana tidak pernah pudar.


---------------------------


Satu bulan lamanya, tidak ada kabar apapun tentang sang Ayah dan dapat di simpulkan, bahwa ia sudah meninggal dunia. Tapi tidak satupun dari mereka yang merasa begitu kehilangan. Kama merasa bahwa ia pun tak mengerti apa arti keluarga sesungguhnya.


Carlee setiap hari pergi dan pulang subuh dalam keadaan mabuk. Hal itu, tidak menjadi masalah bagi Kama. Kadang kala, ketika ibunya pulang dan terjatuh di hadapannya karena mabuk yang begitu berat, Kama sama sekali tidak memperdulikan nya. Ia biasa meninggalkan wanita paru bayah itu tidur di lantai ketika pingsan karena alkohol.


Melihat hal itu, Kama semakin yakin untuk menghabiskan setiap malam bersama wanita penghibur di hotel atau sebuah club malam. Sedangkan, Lina ia terlibat dalam kasus penggelapan uang atas gaji karyawan hotel termewah dan ternama, Luxuria milik sang Ayah dan akhirnya hidup di balik jeruji besi.


Kama tertawa puas, "Haha... aku tidak perlu mengotori tangan ku untuk meraih semua yang selama ini aku inginkan,"


Ia membuka sebuah berkas yang termaterai hukum. Bertuliskan, ahli waris atau penerus Luxuria group atas nama Kama Alfredo.


Saat itu juga, ia menyingkirkan ibunya untuk tidak tinggal bersamanya lagi di apartemen mewah yang kini menjadi miliknya. Ia memaksa sang Ibu untuk kembali ke Jakarta dan tinggal di rumah tua milik mereka dulu. Carlee tidak bisa menolak, karena ia sudah terlalu tua untuk berdebat. Baginya, lebih baik hidup sendiri di banding tinggal bersama Kama yang hanya bisa memaki dan menyakiti nya setiap hari tanpa henti.