The Other Side Of Kama

The Other Side Of Kama
Percobaan pertama gagal



Happy Reading ❤️


Newyork pagi hari. Kota yang dikenal dengan musim salju dan dingin ketika memasuki bulan desember. Tepat sekali, hari ini cuacanya begitu dingin dan sejuk. Sebuah cerobong perapian yang menyala-nyala yang terletak di kamar Kama cukup menghangatkan ruangan.


Mata Hanna yang masih sulit dibuka akibat rasa kantuk, akhirnya dengan terpaksa membuka lebar. Ia merasakan ada sesuatu yang menciumi kelopak matanya berulang kali.


"Tuan, kau membangunkanku." Hanna mengeliat membelakangi Kama.


"Kau tidak ingin membantu ibu?" Tanya Kama.


"Memangnya ibu sedang apa dipagi hari yang dingin seperti ini?" Mata Hanna kembali terbuka.


"Aku rasa ibu sedang menyiapkan susu hangat atau sesuatu yang menghangatkan, mungkin." Kama menggerakkan alisnya.


"Indah sekali di Newyork. Apakah salju sudah mulai turun?" Hanna memandang Kama.


"Belum, mungkin beberapa hari ke depan. Apa kau ingin menghabiskan akhir tahun disini?" Kama membalas tatapan Hanna.


Hanna mengubah posisi duduk bersandar pada kepala tempat tidur, "Tidak, aku harus mengunjungi ibu."


Kama ikut duduk dan merangkul Hanna, "Bagaimana jika kita percepat waktunya?"


"Maksudmu Tuan?"


Kama tersenyum manis sambil mengusap kepala Hanna, "Aku ikut denganmu ke Bali dan kita percepat tanggal pulangnya."


"Bagaimana dengan urusan kantor?" Hanna meraih tangan Kama.


"Arkhan bisa di andalkan." Jawab Kama.


"Bukankah dia hanya sopir pribadimu?" Tanya Hanna.


"Lebih dari itu, hanya saja terlihat sebagai sopir biasa. Ayah Arkhan dulu bekerja dengan Ayahku." Jelas Kama sambil melayangkan pandangannya.


"Dia orang yang paling kau percaya, Tuan?"


Kama mengangguk, "Bukan hanya aku. Ayah sangat mempercayai mereka lebih dari aku."


Hanna menatap kedua bola mata Kama, "Apa kau rindu pada Ayahmu?" Maksudku, seburuk apapun dia, pasti rasanya sangat ingin bertemu dengannya walau hanya sebentar.


Kama menggeleng dan tersenyum miring.


"Ayah memang bukan yang melahirkan kita. Tapi, tanpa dia kita mungkin tidak ada di dunia ini." Hanna bangkit berdiri dan memakai bajunya.


"Hanna, kau rindu pada Ayahmu?" Tanya Kama yang ikut pula bangkit.


"Tentu saja." Jawab Hanna.


"Aku tidak mengerti, mengapa Ayahku dulu tidak pernah memperlakukan aku dengan baik. Dia sama saja seperti Carlee." Kata Kama dengan sorot mata sinis.


Hanna mendekati Kama dan meraih kedua tangannya, "Tuan, Ayahmu hanya tidak punya kesempatan untuk itu. Aku yakin, setiap orang tua adalah baik adanya. Bagaimana dengan foto kecilmu dengannya?" Hanna meraih segelas air putih di atas meja kamar.


"Mengapa kau bisa tahu akan foto itu?" Kama menatap curiga.


"Minumlah terlebih dahulu." Hanna memberi segelas air putih pada Kama. "Kau selalu membawa foto itu kemana-mana, bukan? Bahkan saat ini dia juga ada di dalam kopermu."


"Kau melihatnya?" Kama mengembalikan gelas kosong pada Hanna.


Hanna mengangguk, "Waktu itu, fotonya terjatuh dari tasmu lalu, aku melihatnya."


"Yang benar saja!" Kama mendengus kesal.


"Haha... Tuan Kama, kau tidak perlu merasa malu. Aku tahu, di sisi dirimu yang terlihat kejam itu, kau juga miliki sisi yang hangat. Kau tidak perlu menutupi apapun lagi padaku." Hanna mengusap punggung tangan Kama.


"Apalagi yang kau tahu tentang aku?" Kama menatap penuh tanya.


"Kau begitu membenci ibumu hanya karena dia tidak sesuai dengan ekpetasimu? Maksudku, seorang yang rela menjadikan tubuhnya untuk dinikmati siapa saja yang mampu memuaskan kehausannya terhadap uang?" Spontan Hanna.


"Dari mana kau mengetahui semua ini?!" Kama menatap tak suka.


"Tuan, apa kau tidak ingin memberikan kesempatan pada ibumu?"


"Aku sama sekali tidak mencampuri. Masa lalu adalah hal yang sudah terjadi, baik atau buruk kau harus tetap menerimanya.


"Namun, kau bisa menentukan masa depanmu dengan memberikan kesempatan pada orang lain termasuk ibumu, pasti semua akan terasa lebih baik." Hanna berkata dengan sedikit hati-hati.


"Kau tidak tahu rasanya berharap pada sosok yang kau kira malaikat hidup, tetapi adalah jurang maut. Jurang yang mematikan jiwamu selamanya." Kama menatap tajam.


"Tidak selamanya jatuh ke dalam jurang, jiwamu akan mati. Akan ada penolong disana agar kau tetap hidup. Yaitu, kau sendiri Tuan.


"Anggap saja, ibumu yang terjatuh di sana. Lalu, apa kau hanya diam? Kau harus menolongnya. Mungkin saja ibumu telah menyesali apa yang menjadi kesalahannya dimasa lampau," Ucap Hanna kemudian menghembuskan nafas.


"Apa kau tahu rasanya memiliki seorang ibu?" Kama mendekati Hanna.


"Ya aku tahu."


"Aku tidak pernah tahu bagaimana rasanya." Kama meraih dagu Hanna.


"Bagaimana dengan Jean? Kau menyebutnya ibu, bukan?" Sanggah Hanna.


"Tentu saja dia berbeda dari Carlee!" Kama mengeraskan suaranya.


"Mereka adalah satu yang kau panggil ibu. Jean menyelamatkanmu waktu kau hendak menyusul ajalmu dan Carlee dia yang mengizinkanmu untuk bisa menapakkan kakimu di dunia ini. Mana yang lebih mulia?' Tanya Hanna dengan tatapan mendalam.


Kama melepaskan dagu Hanna dan diam membisuh.


Hanna kembali meraih tangan Kama, "Keduanya mulia Tuan. Ibu Jean, ataupun Carlee mereka adalah sama, mereka yang sudah berperan menyelamatkan nyawamu."


"Diam!" Bentak Kama.


Hanna tidak memperdulikan raut wajah Kama yang berubah drastis, "Beri ibumu kesempatan untuk memperbaiki kesalahannya." Bujuk Hanna.


"Sudah aku katakan kau untuk, DIAM!!!" Kama meninggalkan Hanna.


Hanna menghela nafasnya, "Setidaknya percobaan pertama gagal bukan berarti seterusnya akan seperti itu."


Hanna turun kebawa dan mendapati Jean yang sedang mengobrol asik dengan Ardi di sofa, ruang bersantai. Ardi terlihat sedang menjahili ibunya dan di depan mereka ada banyak kulit kacang serta minuman soda.


"Han, kemari!" Seru Ardi yang menyadari kehadiran Hanna.


"Iya aku akan kesana." Jawab Hanna sambil berjalan menghampiri Jean dan Ardi.


Ardi merangkul akrab Hanna, "Aku tidak menyangka bahwa kakak akan mengajakmu ke Newyork."


"Ya, akupun berpikir sama." Jawab Hanna.


"Ayo duduk bersama dan minum." Ajak Ardi sambil melempar pandangan."Dimana kakak? Apa dia belum juga bangun?" Tanya nya.


Mata Hanna juga ikut melirik kesana kemari, "Tadi dia turun lebih dulu. Apa kalian tidak melihatnya?"


"Ibu pikir kalian akan turun bersama," Ucap sang ibu.


"Ah, lupakan saja. Paling tidak, kakak sedang berjalan-jalan sebentar." Kata Ardi sambil memberikan minuman soda pada Hanna.


"Um, semoga saja." Hanna membuka kaleng minuman itu dengan raut wajah gusar.


Ya, aku harap Kama akan segera kembali. Dia sepertinya sangat marah padaku.


"Hanna apa kalian sedang bertengkar?" Tanya Jean yang sejak tadi memperhatikan wajah Hanna.


Hanna menggeleng, "Tidak bu. Mungkin memang Kama hanya ingin jalan-jalan sendirian."


"Memangnya kenapa Hanna dan kakak harus bertengkar bu? Ibu ada-ada saja." Sambung Ardi yang terlihat bingung.


Hanna dan Jean hanya saling bicara dalam tukar pandang. Karena mereka tak ingin Ardi mengetahui tentang Kama.


"Han, aku ingin mengajakmu ke suatu tempat." Ardi menarik tangan Hanna dan membawanya pergi.


"Kau ingin mengajakku kemana?" Tanya Hanna.


"Sudah ikuti saja, tidak jauh dari sini."