
“Hentikan tawamu itu Hanna! Apa kau pikir aku ini badut?” Suara Kama terdengar kesal.
“Haha, kau lebih lucu dari itu Tuan.” Tawa Hanna sedikit meredah.
“Aku dengar ada yang menelponmu. Siapa?” Kama menatap curiga.
“Ibuku. Harusnya kau tidak berteriak memanggilku tadi, itu membuat ibu curiga.”
“Mengapa tidak kau katakan saja aku ini kekasihmu?” Kama tersenyum percaya diri.
Hanna mengaduk-ngaduk makanannya di piring, “Hmm, aku tidak ingin mengatakannya sekarang.”
“Mengapa? Aku ini kan memang kekasihmu. Oh aku tahu, apa kau inginkan aku sendiri yang mengatakannya pada ibumu?” Kama terdengar semakin percaya diri.
“Tidak! Ibuku akan marah jika dia tahu aku punya kekasih sebelum kuliahku selesai.”
“Tenang saja. Besok, ketika ibumu bertemu denganku maka dia akan segera merestui kita.” Kata Kama dengan yakin.
Dia pikir, semudah itu untuk menaklukan ibu. Kama kau tidak tahu bagaimana galaknya ibu.
“Aku merasa sedikit lelah Tuan.” Hanna menggerakkan lehernya ke kanan dan kiri.
“Kau beristirahat saja. Biar aku yang bereskan sisa makanannya.”
“Kau yakin? Kau ini bersikap manis sekali padaku sekarang.” Suara Hanna terdengar seperti anak kecil yang sedang di manja.
“Bukankah kau yang mengatakan sendiri. Jika sudah menjadi kekasih, harusnya aku sedikit berlaku manis padamu?”
“Iya, tapi terkadang aku merindukan sisimu yang galak,” Ucap Hanna sembari bertopang dagu.
“Aku rasa, sekarang aku hanya ingin memperlakukan gadis cherryku dengan lembut.” Kama mengedipkan satu mata.
“Baiklah, kalau begitu aku akan tidur lebih dulu.” Hanna bangkit dari duduknya dan menguap.
“Tiket pesawat sudah di pesan. Dan kita akan berangkat pagi hari pukul 07.15.” Kama memperingatkan.
“Iya Tuan. Terimakasih karena sudah membelikan aku tiket untuk pulang.”
“Kau tidak perlu berterimakasih. Aku membeli tiket tidak hanya untukmu, tapi juga aku. Rasanya, aku tidak bisa melepasmu pergi seorang diri tanpa aku.” Kama bersandar pada kursi dan menatap dalam.
“Aku rasa kau mengikatku lebih erat sekarang.” Hanna membungkukan diri, sikunya ia tumpuhkan di meja, sembari betopang dagu ia menatap Kama. Hingga tubuhnya yang membungkuk itu memperlihatkan belahan dadanya tepat di mata Kama.
Kama memandang bagian itu sedikit tenang, ia mencoba agar tidak bergairah karena ia harus menahan diri agar tidak menyentuh Hanna.
“Tuan,” Panggil Hanna terdengar menggoda.
“Hanna,” Kama memanggil balik pandangannya ia arahkan pada wajah Hanna yang terlihat centil.
“Apa kau mencintaiku?” Spontan Hanna bertanya.
Kama memalingkan wajah dan tersenyum tipis, “Apa wanita selalu mengharapkan hal bodoh itu dari pria?”
“Tidak juga. Hanya saja, kau tidak mungkin menjadikan aku kekasih jika tidak mencintaiku bukan?” Hanna menggoda lagi sambil sedikit mengedipkan mata.
“Aku bukan pria seperti itu. Aku hanya ingin menjadikanmu kekasih karena aku tidak mau Ardi terus menggodamu.” Kama memandang Hanna dengan tatapan mencekik, ia seolah-olah sangat tidak suka atas pertanyaan Hanna.
Raut wajah Hanna terlihat kecewa, ia mengubah posisinya menjadi berdiri, “Kau lakukan semua itu hanya karena kau tidak ingin adikmu itu mendekatiku?”
Kama mengatup mulutnya sambil memainkan gelas gosong di hadapannya.
“Kau mengecapku sebagai kekasihmu, milikmu, kau menyentuhku, bercinta di atas ranjang bersamaku tapi artinya bukan karena kau mencintaiku?” Nada Hanna terdengar kecewa.
“Aku sudah katakan padamu. Apapun yang Tuan Kama kehendaki, itu yang akan terjadi. Bahkan, kau selalu menuruti apa yang aku mau, bukan? Kau datang dan masuk dalam kehidupanku bahkan mencampurinya.” Jelas Kama tanpa rasa bersalah.
“Kau menjadikan aku budak cintamu?” Hanna menaikkan intonasi suaranya.
“Hanna, aku---“ Kama terlihat bingung akan melanjutkan apa.
“Baiklah. Aku sudah tahu apa yang ada di dalam otakmu Tuan. Tidak masalah, anggap saja ini adalah balas budiku karena kau sudah menerima aku magang di perusahaan ternamamu itu.” Hanna mempertegas suaranya ketika menyebutkan perusahaan ternama. “Dan kau tahu, tidak masalah bagiku kau menjadikan aku apa, setidaknya tujuan utamaku bukan hal itu.”
“Tujuan?” Kama sedikit bingung.
“Lupakan Tuan. Aku pamit tidur, selamat malam.” Hanna melangkahkan kakinya sambil menahan air mata di ujung kelopak yang hampir saja terjatuh.
Aku yang memulai semua ini. Tidak masalah Hanna, jangan berharap banyak padanya. Selama ini, kau yang berpikir berlebihan tentangnya. Tetaplah bersikap seperti biasa. Jangan rendahkan harga dirimu hanya demi agar Kama mencintaimu.
Kama menggaruk kepalanya kasar. Ia terlihat bingung akan hal yang baru saja Hanna katakan. Ya! Kama adalah pria yang tidak pernah mengerti apa itu mencintai. Baginya, memiliki bukan berarti harus mencintai. Tapi ntah mengapa, melihat raut wajah Hanna yang kecewa atas jawabannya, itu seperti menyiksa dirinya sendiri.
“Apa itu cinta? Aku tidak tahu mencintai itu bagaimana?!” Teriaknya sembari menjambak rambut.
Kama melangkahkan kakinya menuju ruang olahraga. Ia membuka kaosnya kasar dan memakai sarung tangan tinju. Seperti akan melakukan pertandingan, Kama melakukan olahraga boxing.
Hampir satu jam lamanya ia terus memukul-mukul kasar samsak tinju. Tubuhnya di hujani dengan keringat bak orang yang sedang mandi. Ntah mengapa wajahnya terlihat begitu kesal.
“Tuan, aku ingin pergi ke swalayan.” Hanna tiba-tiba mengejutkannya. Gadis itu bersiap dengan baju hangat dan sepatu.
“Kau ingin membeli apa? Kau boleh meminta tolong pada Arkhan,” Ucap Kama tanpa menoleh sedikitpun ke arahnya ia terus melakukan olahraganya.
“Tidak perlu. Aku hanya ingin membeli keperluan wanita.” Suara Hanna terdengar lesuh.
Kama berhenti seketika, ia menghampiri Hanna dan menyentuh dagunya, “Ini sudah malam. Kau sebaiknya beristirahat. Aku akan menyuruh Arkhan untuk membeli keperluanmu.”
“Aku tidak perlu bantuan Arkhan.” Hanna menurunkan tangan Kama dari dagunya dan melangkah menuju lift untuk turun ke lantai paling bawa.”
“Hanna, kau tidak boleh pergi sendiri.”
Hanna hanya memasang senyum hingga lift tertutup rapat. Tentu saja, Hanna hanya beralasan. Ia ingin menghabiskan waktunya seorang diri, agar bisa menerima kenyataan bahwa Kama memang tidak pernah menganggapnya sebagai kekasih sungguhan.
Jam sudah menunjukkan pukul 12.00 tengah malam. Hanna baru saja kembali ke apartemen. Ia merasa sedikit lega setelah itu.
“Apa kakimu itu sangat liar Hanna?” Tanya Kama yang duduk di ujung tempat tidur.
Hanna membuka baju hangatnya dan sepatunya, “Maaf.” Jawabnya singkat.
“Kau ingin membuatku marah? Karena janjiku padamu, untuk tidak menyentuhmu maka kau bisa pergi sesukamu seorang diri?” Kama berbicara tanpa menolah, terlihat jakunnya menelan ludah paksa.
“Kau tidak perlu semarah itu. Aku hanya pergi ke swalayan dan tidak melakukan apapun.”
Tatapan Kama begitu tajam. Ia melangkah penuh amarah menuju Hanna. Kama menggendong Hanna dan merebahkannya dengan kasar ke tempat tidur. Ia mengunci kedua tangan Hanna dengan tangannya dan tubuhnya sedikit menindih Hanna. Napasnya terdengar tak teratur.
Hanna mencoba untuk tetap tenang, ia melawan tatapan Kama dengan lembut, “Mengapa kau begitu marah hanya karena aku pergi sebentar seorang diri?” Tanya Hanna.
Kama tak menjawab, wajahnya hanya terus menunjukkan raut tak suka dengan nafas yang cepat, matanya tak mau ia alihkan dari mata Hanna yang memandangi wajahnya penuh analisa.
“Kama, mengapa kau terlihat membingungkan sekali? Apa kau berpikir aku akan lari darimu?” Hanna menebak.
“Kau tidak akan pernah bisa lepas dariku Hanna!”
“Sampai kapan aku akan terus terikat denganmu?” Hanna terus menatap.
“Aku tidak akan memaafkanmu jika kau berani pergi dariku!” Kama menatap penuh ancaman.
“Tenangkan dirimu Tuan. Bernapaslah dengan teratur. Aku di sini dan aku tidak pergi darimu.” Hanna mencoba menetralkan amarah Kama.
Tuan, kau begitu takut kehilanganku. Tapi, mengapa kau sama sekali tidak tahu apa arti dari semua itu. Aku mencintaimu dengan segala kebodohanku, tapi di sisi lain kau lebih terlihat bodoh dariku.
Kama merebahkan tubuhnya di samping Hanna. Matanya menatap kalut pada langit-langit dan menggeser tubuhnya, menyandarkan kepalanya di dada Kama,lalu tangannya mengusap-usap pipi Kama dan seketika meredahkan amarah Kama serta ketakutannya yang tanpa sebab terjadi.
Seperti api yang bertemu air, Kama menjadi tenang dan memejamkan matanya. Ia tiba-tiba bermanja, mengangkat kepalanya dan tidur di perut Hanna.
Kama, sampai sekarang aku masih belum mengerti akan sikapmu. Tapi, kau seperti mencintaiku walau tak mengatakannya.