The Other Side Of Kama

The Other Side Of Kama
Makanan buatan Hanna



Happy Reading ❤️


Hanna dan Azel menyiapkan makanan sederhana dengan porsi yang sedikit banyak. Meja kecil siap menampung hidangan dan mereka duduk dilantai, di atas bantal empuk khusus untuk duduk agar suasana terasa lebih nyaman.


"Bagaimana kakak rasanya enak bukan?" Tanya Ardi yang masih sibuk mengunyah makanan nya.


"Makanan seperti ini tidak layak disajikan! Kama menggeser piring bekas makanan yang sudah habis dari hadapan nya.


Ardi menatap piring itu, "Tidak enak, tapi kau menghabiskan nya begitu cepat." Menaikkan sebelah alis.


"Aku menghargai wanita ini! Jika dibuang maka akan mubazir." Kama mengelak sambil menahan gengsinya.


Hanna menahan senyum di bibir, "Ternyata kau tahu juga cara menghargai, Tuan?


Kama menelan ludahnya. Perkataan itu membuat ia menjadi salah tingkah. Wajar saja, seorang Tuan Kama akhirnya tahu menghargai jeri payah orang lain.


"Aku sudah makan masakanmu sebelum ini! Jadi semua masakanmu sama saja, tidak enak." Ucap Kama ketus.


"Kalau begitu, aku akan habiskan sisanya." Ardi meraih sisa makanan yang sengaja disediakan bagi orang yang ingin menambah.


"Hei apa-apaan kau ini! Makanan seperti ini jangan dihabiskan, nanti kau bisa sakit perut." Kama menarik makanan itu dari adiknya.


"Kau ini kenapa kak? Katamu makanan ini mubazir, jadi biar aku habiskan saja sisanya." Kembali menarik makanan nya dari Kama.


"Aku bilang jangan! Ini sudah malam, makan terlalu banyak akan membuat kau kegendutan!" Omel Kama sambil menarik lagi makanan itu.


"Sesekali tidak masalah kakak." Ardi bersikeras.


"DIAAAM!!!" Teriak Hanna, hingga membuat suasana menjadi hening.


"Tuan, kau ini kenapa? Biarkan saja Ardi menghabiskan makanan itu. Lagian, ini tidak akan membuatnya menjadi gemuk seketika!" Kata Hanna lagi.


"Kau berani berteriak padaku?!" Kama bangkit berdiri dan menatap Hanna.


Hanna menantang, "Memangnya kenapa?! Kau akan memberiku hukuman dua kali lipat, tiga kali lipat bahkan seratus kali lipat, iya?!


"Arrghtt... Kecilkan suaramu! Mengapa mulutmu itu tidak bisa dikendalikan, hah?!"


"Kau saja tidak bisa mengendalikan mulutmu sendiri, lantas kau memerintah mulut orang lain, begitu Tuan?" Ujar Hanna dengan penekanan.


"Sudah cukup. Kak, kau ini kenapa?!" Sambung Ardi.


"Akan aku buang makanan ini!" Kama membawa makanan itu keluar.


Tidak akan aku biarkan Ardi menghabisinya. Dia Hannaku, semua adalah milikku termasuk makanan yang ia masak.


"Hei kembalikan makanan itu!!!" Hanna mengejar Kama yg melangkah begitu cepat.


Sampai di luar, Kama menyuruh Arkhan untuk menyimpan makanan itu didalam mobil.


"Sembunyikan ini, jangan sampai ada yang terjatuh dan jangan sesekali mencicipinya!" Perintah Kama.


Apa lagi ulah Tuan Kama. Mengapa membawa piring berisi makanan dan menyuruhku untuk menyembunyikan nya. Apa aku harus memegang seperti ini terus didalam mobil agar tidak tumpah, Tuan Kama semakin aneh setiap hari.


"Tuan, mengapa tidak di makan saja?" Tanya Arkhan heran.


"Aku akan memakan nya nanti dalam perjalanan pulang. Kau pegang saja dulu dan jangan protes!" Kama melihat kesana kemari mengawasi apakah Hanna menghampirinya.


Gadis cantik cherry, memergoki Akrhan memegang makanan nya dan sedang berdiskusi dengan Kama.


"Mau kau apakan makananku Tuan Kama?" Hanna menatap curiga.


"A -aku, eh... A -aku mau memberikan nya pada Arkhan, iya." Jawab Kama gugup.


Hanna mengerutkan keningnya dan terus menatap curiga.


"Jangan pandang aku seperti itu! Kau jangan berpikir yang bukan-bukan. Aku berubah pikiran untuk tidak membuang makanan yang tidak enak ini, jadi dari pada adikku itu memakan nya lalu menjadi gendut, ya sebaiknya aku berikan pada Arkhan." Kata Kama beralasan.


"Nona sebenarnya---" Akrhan belum sempat melanjutkan perkataan nya.


"Sebenarnya Arkhan lapar sekali, jadi dia ingin sekali makan makanan itu. Cepat bawa masuk kedalam mobil dan makan disana." Potong Kama sambil mengedipkan-ngedipkan matanya memberi kode.


"Jangan makan didalam mobil. Sini," Hanna menarik Arkhan untuk duduk di kursi depan kostan.


"Nah duduk disini dan nikmatilah makanan nya." Katanya lagi.


"Nona saya---" Arkhan terlihat bingung, ia memandang Tuan nya yang menatap menghakimi, dengan kedua tangan yang di masukkan ke dalam kantong celana.


Awas saja jika dia makan punyaku. Guman Kama.


"Arkhan, kau jangan sungkan. Makan saja, sini biar aku suapi." Hanna meraih makanan itu hendak menyuapi Akrhan.


"Hei!" Kama merampas piring itu. "Kau ini genit sekali, biarkan saja dia makan sendiri!"


"Dia terlihat malu, jadi biar saja aku suapi. Apa salahnya?"


"Dia punya tangan! Tangan harus bekerja sesuai pekerjaan nya!"


"Nona saya tidak mau makan---" Akrhan mencoba mencari alasan, namun perkataan nya terpotong lagi.


"Tuan, dia tidak mau makan jika tidak di suapi." Hanna merampas kembali makanan itu dari Kama.


"Ayo Arkhan buka mulutmu." Hanna mengulurkan sesendok.


"Nona saya---"


"Buka mulutmu. Jangan malu, tidak apa-apa." Hanna mengulurkan sendok itu lebih dekat.


Habislah aku. Apa riwayat pekerjaanku dan pengabdianku pada Tuan Kama akan berakhir sampai disini. Batin Arkhan sembari membuka mulutnya perlahan.


Beraninya dia memakan makanan itu dan di suapi dengan Hanna didepan mataku. Batin Kama memandang Akrhan dengan murka.


"Berikan padanya! Biar dia makan sendiri!" Kama mengambil piring makanan dari Hanna dan meletakkan dipangkuan Arkhan, lalu menarik gadis cherry nya pergi dari tempat itu.


Setelah berjalan sedikit jauh dari kostan. Mereka tiba disebuah taman yang dihiasi banyak lampu, menerangi suasana sekitar yang sunyi sepi.


"Mengapa mengajakku kesini?" Tanya Hanna.


Kama menarik tangan Hanna hingga dekat kepelukkan nya, "Apa lupa dengan labelmu gadis cherry?"


"Maksudmu Tuan?"


"Kau benar-benar lupa. Kau adalah milikku." Kama menyelipkan rambut Hanna ke telinga.


"Iya aku tahu, itu kalimat yang sering kau ucapkan." Hanna mencoba melepaskan diri dari Kama.


"Lalu, mengapa kau melakukan hal yang sangat membuatku muak?" Menahan tubuh Hanna yang ingin lepas.


"Tuan, aku melakukan apa? Jika aku bersalah karena sudah melanggar perintahmu aku sudah siap menerima hukuman nya besok."


Kama mendekatkan wajahnya, "Lebih dari itu. Kau berusaha menyuapi Akrhan di hadapanku? Berapa kali aku katakan kau tidak boleh bersentuhan dengan pria manapun."


"Tuan aku---"


"Semua yang ada padamu adalah milikku Hanna" Kama mengeluarkan tatapan tajam penuh hipnotis dan intimidasi.


"Arkhan itu sopirmu dan aku tidak berniat untuk---" Hanna tidak sempat melanjutkan perkataan nya.


"Jangan terlalu banyak bicara jika kau tidak ingin salah Hanna. Kali ini aku mengampunimu, tapi jika kau lakukan lagi maka aku akan mengikatmu dengan rantai dan kau tidak akan bisa bebas." Ucap Kama dengan nada mengancam.


Bola mata Hanna menatap penuh pada Kama. Ntah mengapa setiap pria itu mengancamnya seperti ini, malah membuat ia terikat dan semakin ingin menantang.


Apa yang akan kau lakukan padaku Kama jika aku melanggar lagi. Sejauh ini kau hanya banyak mengancam tapi bahkan untuk menyakiti atau sekedar menyentuh tubuhku kau terlihat tak berani.