The Other Side Of Kama

The Other Side Of Kama
Kekesalan Tuan Kama



Happy Reading ❤️


"Han, mengapa kaku sekali?" Tanya Ardi.


"Um... tidak. Aku hanya sedikit tidak enak badan," Jawab Hanna sambil tersenyum tipis.


"Kau tidak enak badan, Han? Kalau begitu, kita pulang saja bagaimana?" Azel mengedipkan matanya seolah memberi kode pada Hanna.


Sama saja, pulang sekarangpun akan tetap kena hukuman. Karena sudah berani melanggar. Lihat dia, sudah membuatku kaku tak berdaya. Harusnya, aku tidak setakut dan sekaku ini kan. Batin Hanna sembari melirik ke arah Kama.


"Jika tidak enak badan, harusnya jangan berani menantang malam!" Celoteh Kama.


"Ah kakak, memangnya kenapa? Kalau mungkin Hanna merasa bosan jadi butuh hiburan di luar, ya kan Han ?" Ardi tersenyum manis pada Hanna.


"Um... Kau benar. Lagian, untuk apa mengurung diri di kostan." Ucap Hanna berani.


Jadi dia menantangku. Gumam Kama.


"Ya setidaknya tidak menjadi bodoh sesekali. Sudah tahu tidak enak badan, harus beristirahat bukan bekeliaran!" Ucap Kama dengan intonasi tinggi.


"Memangnya aku tahu kalau akan tidak enak badan, hah?!" Hanna mengeraskan suaranya dan memandang Kama geram.


"Jangan pandang aku seperti itu! Kau tahu, besok banyak pekerjaan yang harus kau lakukan dikantor. Harusnya kau menjaga kesehatan dan jangan pergi kemanapun, bukankah sudah aku perintahkan seperti itu, hah?!" Suara Kama semakin keras sehingga membuat semua orang memandangnya.


Azel, Ardi juga Hanna mematung diam melihat Kama mengomel tanpa jeda.


"Apa?! Jangan melihat aku seperti itu!" Kama meneguk segelas air anggur.


"Kakak, sebenarnya kau ini kenapa?" Tanya Ardi.


"Tuan, kau tidak perlu mengomel seperti ini. Aku tahu besok aku akan bekerja. Kau tenang saja, aku akan selesaikan semua dengan baik." Hanna mengusap pundak Kama.


Kama mengelak, "Jangan sentuh seperti itu!"


Sebenarnya apa terjadi dengan kakak. Dari cara dia memandang Hanna dan dia begitu mengkhawatirkan Hanna, itu terlihat aneh. Batin Ardi.


"Sebaiknya aku dan Azel pulang saja ya. Karena besok ada banyak pekerjaan yang harus di selesaikan." Hanna bangkit dari duduk dan mengambil tas kecilnya.


Azel ikut berdiri, "Kalau begitu aku dan Hanna pamit pulang ya. Permisi..." Menundukkan kepala sejenak.


"Mengapa cepat sekali. Kita bersenang-senang saja dulu." Ujar Ardi.


"Biarkan saja mereka pulang. Lagian, aku sudah tak berselera ditempat ini!" Sambung Kama, kemudian meraih minuman dan menghabiskan nya.


Tuan Kama terlihat marah sekali padaku. Wajahnya sangat tidak ramah.


"Baiklah kami permisi..." Hanna melangkahkan kakinya.


"Han, kau dan Azel naik apa?" Teriak Ardi.


Azel dan Hanna berbalik ke arah Ardi, "Naik taksi." Jawab Hanna.


"Kakak, apa kau tidak kasihan pada dua wanita ini?" Ardi mencoba membujuk kakaknya.


Kama memalingkan wajah acuh, "Memangnya apa peduliku! Biarkan saja!"


"Baiklah, berikan aku kunci mobil. Kakak tunggu di sini, nanti aku akan kembali." Ardi meraih kunci mobil yang ada di atas meja.


"Hei kembalikan! Kau ni apa-apaan?!" Bentak Kama, ia mencoba merampas kunci itu dari adiknya namun tak dapat.


"Kalau begitu, ayo kita antar mereka kakak," Rengek Ardi membujuk.


"Jangan merayu! Kau seperti anak perempuan saja! Tidak akan!" Memandang Hanna sinis.


"Tidak usah repot-repot hehe... Aku dan Hanna bisa pulang naik taksi kok. Bukan begitu, Han?' Azel menyikut Hanna.


"Ya sudah cepat pergi!" Ucap Kama sambil melambaikan tangan mengusir.


"Aku akan antar mereka. Kau tunggu disini biar nanti Arkhan yang menjemput." Ardi meninggalkan kakaknya.


"ARDI!!!" Teriak Kama.


Ardi, Azel dan Hanna sama sekali tidak memperdulikan Kama yang mereka tinggalkan begitu saja. Mereka melangkah menuju parkiran yang di khususkan untuk Tuan Kama.


"Benar-benar menyebalkan! Berani sekali dia melanggar perintahku! Dan Ardi, malah meninggalkan aku disini!" Gerutu Kama.


"Tuan apa kau ingin anggur lagi ?" Tanya pelayan perempuan genit.


"Apa wajahku ini sedang haus anggur, hah?!" Jawab Kama dengan intonasi tinggi.


"M -maaf Tuan," Wanita itu menunduk dan segera pergi.


Kira-kira lebih dari satu jam Kama menunggu Arkhan. Ntah apa yang membuat sopir kesayangan nya itu terlambat hingga menambah buruk suasana hati Kama.


"T -tuan maafkan saya, tadi sedikit ada kendala." Ucap Arkhan gugup.


BRAKK!!!


Kama menggeprak meja kuat sehingga membuat semua orang yang ada di cafe diam dan takut.


"Kau sudah membuat aku kesal! Apa kau sama saja seperti gadis bodoh itu?! Kau sengaja menantang amarahku, kan?!"


Aku sudah memancing singa jantan ini bangun dari tidur. Sekarang percuma menjawab dia pasti tetap marah.


"Maaf T -tuan," Jawab Akrhan gugup, bahkan ia tak berani memandang Tuan nya.


"Cepat antarkan aku kembali ke apartemen!" Kama melangkah mendahului Arkhan.


Tanpa di bukakan pintu oleh Arkhan, Tuan Kama sudah masuk lebih dulu ke dalam mobil. Ya, masih dengan suasana hati kesal yang dapat digambarkan dari wajahnya.


"M -maaf Tuan, kalau boleh tahu Tuan Ardi kemana?" Tanya Arkhan yang sudah siap menyetir.


Ardi mengantar Hanna pulang. Harusnya tidak seperti itu! Hanna itu milikku, dia Hanna ku! Batin Kama sembari mencekam tangan nya.


Apa yang terjadi dengan Tuan. Di tanya malah terlihat sangat kesal. Pria ini selain pemarah, tapi juga membingungkan. Gumam Kama.


"Arkhan! Antarkan aku ke kostan Hanna!" Perintah Kama.


"Baik Tuan,"


Memangnya aku ini tuli, sehingga berbicara dengan keras suara.


20 menit perjalanan mengantarkan Kama tepat di depan kostan Hanna. Disana ia melihat, mobil mewahnya yang terparkir rapi.


Apa yang sudah mereka lakukan didalam!


Dengan langkah kaki cepat, Kama turun dari mobil.


"Kostan ini sempit sekali!" Keluhnya sembari menyosor masuk.


Ya, kostan Hanna memang kecil dan sempit. Dikarenakan banyak barang-barang pemilik kostan yang bertumpuk di ruang tamu.


"T -tuan, kau kemari?" Tanya Hanna yang berpasan dengan Kama.


"Siapa Han?" Ardi menghampiri Hanna. "Ternyata kakak, ingin main juga kak?


Main katamu! Ingin sekali aku memukulmu! Batin Kama, tangan nya di gengam kuat.


"Kembalikan kunci mobilku!" Pinta Kama.


"Kakak, mau kemana? Duduk saja dulu disini, Hanna sedang memasak makanan dan enak sekali." Bujuk Ardi.


"T -tuan, lebih baik duduk dulu dan makan bersama. Tadi di cafe kita tidak sempat makan, kan ? Bujuk Hanna pula.


"Kau kira aku sudi memakan masakanmu itu, wanita yang sudah berani melanggar perintahku?!" Ucap Kama penuh penekanan.


Memangnya makananku itu tidak berkualitas. Apa hubungan nya dengan melanggar. Dasar pria aneh! Awas saja kau!


"Iya Tuan terserah kau saja. Tapi, setidaknya makanlah sedikit karena kau sudah disini." Hanna membujuk lagi.


"Aku tahu, kau ingin menyogokku, kan? Kau pikir dengan makan makananmu itu, aku tidak jadi menghukummu?!" Kama mendekatkan wajahnya pada Hanna.


"Kakak... sebenarnya Hanna melakukan apa, hingga kau begitu marah padanya?!" Tanya Ardi heran.


Dengan tetap menatap dalam pada Hanna, Kama menjawab pertanyaan adiknya, "Karena dia sudah berani keluar malam tanpa seizinku!"


"Mengapa harus seizinmu? Hanna kan bebas mau pergi kemana saja. Kakak, ayolah kau ini bukan siapa-siapa Hanna." Kata Ardi dengan polos.


"Apa katamu?!" Memandang adiknya kesal. "Gadis ini bekerja dan berhutang padaku, jadi dia harus menuruti segala kehendakku. Hanna itu milikku!" Ucap Kama penuh penegasan.


"M -maaf kak, memangnya Hanna berhutang apa padamu?"


Sepertinya kakak menyukai Hanna. Padahal, sejak dulu aku sudah jatuh hati pada Hanna.


"Em... Sudah jangan di bahas. Sekarang terserah Tuan Kama saja, jika ingin pulang dan tak ingin makan sedikitpun, silakan saja!" Ucap Hannna dengan ekspresi acuh dan hendak pergi namun Kama menahan tangan nya.


"Apa? Kau mau makan?" Tanya Hanna, sambil melihat tangannya yang tertahan oleh Kama.


"Ya, karena kau sudah memasak aku akan makan!" Ucapnya sedikit gengsi. "Tapi aku mau kau memasak makanan yang berbeda khusus untukku!"


"Ya, baiklah Tuan."