
Happy Reading ❤️
Hari menjelang sore. Tepat pukul 17.00, seluruh karyawan Luxuria Group akan berkemas untuk pulang kerumah, bertemu dengan orang-orang tercinta.
Seperti biasa, setiap orang di wajibkan untuk mengabsen ketika pulang dan setiap ruangan akan disediakan tombol absen sidik jari masing-masing karyawan. Ya, untuk memastikan bahwa tidak ada yang pulang diam-diam sebelum waktunya. Disiplin bukan? Ya, seperti itulah aturan yang di buat oleh Tuan Kama Alfredo.
Hari ini perasaan rindu Hanna dengan Azel akan terobati. Walaupun, hanya semalam berpisah tapi rasanya seperti berabad-abad. Kata orang-orang begitulah persahabatan.
"Pakai seatbelt !" Perintah Kama yang sudah menyalakan mobilnya.
"Baik Tuan." Hanna segera melakukan apa yang Kama suruh.
Akhir-akhir ini Kama suka menyetir sendiri. Semua harus berjalan sesuai dengan roda keinginan nya. Jika ingin duduk diam dan sampai tujuan, maka Arkhan akan menyetir baginya dan jika mood Tuan Kama berubah, Arkhan akan mengeluarkan mobil mewah simpanan Tuan Kama dari dalam garasi khusus di kantor.
Selama menyetir Kama sesekali melirik ke arah Hanna yang ada di sampingnya jika ada kesempatan. Baru pertama kali Tuan Kama begitu perhatian dengan sekretarisnya, bahkan hanya seorang sekretaris magang. Orang-orang dikantor pun pasti akan berbisik kesana kemari, membicarakan kedekatan Tuan Kama dan Hanna.
Tentu hal itu akan jadi perbincangan panas. Selama ini tidak ada wanita yang berani, bahkan bisa meluluhkan hati Tuan Kama untuk kembali mempekerjakan seseorang yang sudah ia pecat. Bahkan mungkin, sebagian orang akan iri dengan Hanna, tetapi ada pula yang senang dengan kehadiran nya.
"Kita sudah sampai, turunlah." Kama menghentikan mobilnya tepat di depan kostan Hanna.
Hanna membuka seatbelt, "Terimakasih Tuan."
"Ingat. Mulai sekarang kau tidak boleh kemanapun tanpa seizinku." Kata Kama lagi.
"Mengapa kau jadi banyak mengatur?" Gerutu Hanna, memanjangkan bibirnya karena kesal.
"Kau berhutang padaku. Sudah aku katakan harga belas kasih Tuan Kama itu tidak cuma-cuma. Sejak aku menuruti kemauan mu untuk mempekerjakan lelaki tak berguna itu lagi di perusahaanku.
"Maka, sejak saat itu pula sekretaris Hanna akan menjadi milik Tuan Kama." Jelasnya sambil memainkan ujung rambut Hanna.
"Iya, tapi kau tidak perlu mengatur kehidupanku Tuan. Menyebalkan!" Protes Hanna.
"Tuan Kama berhak mengatur apa saja yang menjadi miliknya dan berhak melakukan apapun yang ia kehendaki terhadap apa yang sudah menjadi miliknya." Ucap Kama lagi dengan nada penekanan disertai dengan senyum kepuasan di bibirnya.
Menyebalkan. Tapi tidak apa-apa Hanna, katakan saja iya, untuk setiap permintaan nya. Kalau tidak monster ini bisa mengamuk.
"Iya Tuan Kama. Kau berhak untuk semua yang kau inginkan." Hanna tersenyum paksa.
Kama mengusap kepala Hanna, "Baik. Ingat jika kau sampai pergi tanpa seizinku, maka aku akan memberikan hukuman padamu dua kali lipat!"
"Jadi, kalau kau mengizinkan aku pergi maka kau tidak akan marah, bukan? Kalau begitu Tuan Kama, aku mohon izin untuk pergi bersama Azel malam ini." Hanna menempelkan kedua telapak tangan nya memohon.
"Tidak! Kau tidak boleh pergi kemana pun!" Jawab Kama dengan suara keras.
Mengapa jadi marah sekali. Padahal, aku berniat baik memohon izin padanya.
"Kau ini bagaimana Tuan, aku di sini meminta izin padamu. Jika tidak boleh itu tandanya sama saja, kau tidak mengizinkan aku kemanapun." Celoteh Hanna, raut wajahnya terlihat begitu kesal. Kening nya mengerut dan ia menggerak-gerakkan bibirnya geram.
"Jangan banyak protes ! Jika aku katakan tidak, ya tidak !" Kama semakin mengeraskan volume suaranya.
Hanna menutup mulut Kama dengan tangan nya, "Hei ! Kecilkan suaramu Tuan! Aku tidak kurang pendengaran."
Kama menurunkan tangan Hanna lalu menggengamnya, "Berani sekali kau padaku! Jika kau melakukan nya lagi, maka akan aku gigit tanganmu!" Ancamnya.
"Silakan saja. Paling tidak, lidahmu itu akan memuntahkan nya karena dagingku tidak enak." Hanna tak mau kalah, ia menjulurkan lidahnya menjahili Kama.
Gadis cherry ku ini menggemaskan sekali.
"Kau tersenyum? Haha... Tuan ketampanan mu itu bertambah sepuluh kali lipat jika tersenyum. Ah... kau menggemaskan." Hanna mencubit geram pipi Kama.
"Apa yang kau lakukan ini! Sungguh tidak sopan, lihat saja kau akan aku hukum!" Kama merubah senyumnya, lalu menurunkan tangan Hanna yang mencubit geram pipi miliknya.
"Memangnya kau mau menghukum apalagi, hah?" Tantang Hanna, "Kau akan mengigit bibirku lagi? Sepertinya aku harus banyak minum larutan peredah panas dalam. Bibirku ini akan terluka dan perih jika makan karena ulahmu."
Kama mendekatkan wajahnya pada Hanna. Ia menyentuh lembut dagu gadis itu, lalu memandangi bibir Hanna seperti ingin melahapnya untuk ketiga kali.
"Lebih dari sekedar menggigit." Bisik Kama dengan hembusan nafas hangat hingga Hanna merasakan nafas itu menyentuh bibirnya.
Mata Hanna membolak dan diam mematung memandangi Kama yang sedang fokus pada bibir cherry miliknya.
Hanna mencoba membuka suaranya agar tidak terlihat gugup, "K -kau ingin tidur denganku?" Ceplosnya menantang.
Kama tersenyum nakal, memperhatikan wajah Hanna dari mata, hidung dan lanjut ke bibir, "Kau sepertinya sangat menginginkan hal itu, Hanna? Aku tidak hanya ingin tidur denganmu, tapi lebih dari itu."
Hanna menelan ludahnya dan matanya semakin membesar. Lagi, jantungnya seperti sedang melompat kesana kemari. Mungkin, sekarang posisinya hampir copot.
"Haha... Hanna, detak jantungmu selalu bisa aku rasakan." Bisik Kama kemudian kembali ke posisi semula, "Turunlah dan ingat, jangan kemanapun." Kama memalingkan wajahnya.
Dengan wajah bingung bercampur perasaan gugup, Hanna bergegas untuk turun, "Terimakasih Tuan."
Berapa detik setelah Hanna turun, tanpa mengucapkan sepatah katapun Kama langsung melaju kencang meninggalkan Hanna.
Hanna mulai bernafas lega dan berjalan masuk menuju kostan nya yang kecil dan sempit. Disana, ia melihat Azel dan Louis sedang bemesraan.
"Sayang berikan aku air anggur dari bibirmu itu." Ucap Louis pada Azel.
"Kau sudah tak sabar sayang?" Azel melingkarkan tangannya di leher Louis.
"Menjijikkan!" Suara Hanna tiba-tiba mengejutkan keduanya.
"Han kau ada di sini?" Serentak Azel dan Louis yang langsung merubah posisi mereka.
"Kau menjual banyak buku. Harusnya, pelajari tentang bagaimana caranya mencium wanita." Hanna menepuk pundak Louis dan langsung masuk ke kamarnya.
"Sayang biarkan saja Hanna. Kau ingin menciumku, bukan?" Azel menggoda kekasihnya lagi, tangan nya lagi-lagi melingkar di leher pemilik tokoh buku itu.
"Zel kau tidak lihat, jika Hanna mengintip kita bagaimana?" Louis melepaskan rangkulan Azel.
"Biarkan saja! Lagian dia wanita dewasa bukan anak kecil."
"Setidaknya aku tetap ingin menjaga harga dirimu sedikit di depan nya." Louis memakai jaket yang ia gantung di dinding.
"Kau mau kemana?" Tanya Azel dengan raut wajah murung.
"Aku ingin pulang sayang, jangan rindu padaku." Louis mengecup mesra kening kekasihnya itu.
"Baiklah, jangan lupa kabari aku ya." Azel membalasnya dengan kecupan di pipi.