
“Sebenarnya kau akan membawaku kemana Tuan?” Tanya Hanna yang masih berada di gendongan Kama.
‘’kau yang mengatakan kalau dagingmu lebih enak dari domba. Jadi, kau pikir saja akan kemana aku akan membawamu.’’ Jawab Kama yang semakin mempercepat langkahnya menuju sebuah museum yang tidak terlalu jauh dari tempat mereka menikmati kopi tadi.
Perlahan Kama menurunkan Hanna tepat di depan gedung, The Museum of Modern Art atau di kenal dengan MoMA, yang terletak di Midtown Manhattan, New York city. Museum ini termasuk museum seni modern terbesar dan di anggap paling terkemuka di dunia.
Tempat inilah, tempat paling tepat jika seseorang ingin melihat berbagai karya seni lukis, arsitektur, pahatan, desain fotografi dan media elektronik terhebat dan terbaik di dunia. Tentu saja, semua ada di dalamnya. Jadi,tidak heran lagi jika setiap hari akan ada banyak pengunjung yang berdatangan ke tempat ini.
Hanna menatap kagum sambil mendongakkan kepalanya memandang gedung museum itu, “Luarbiasa Tuan. Kau mengajakku kemari? Ini adalah tempat yang paling ingin aku kunjungi.” Katanya dengan wajah besemangat.
“Ya, aku memang sudah merencanakan ini sejak awal kita akan pergi ke New york,” Ucap Kama.
“Kau merencanakannya untukku?” Tatap Hanna penuh harap.
“Tidak.” Jawab Kama ketus dengan ekpresi datar. “Aku memang suka sekali dengan seni, terkhusus seni lukis dan aku ingin mengujungi tempat ini. Karena, ini adalah tempat terbaik untuk memanjakan mataku yang haus akan seni.” Kata Kama sambil mulai melangkah lebih dulu memasuki musem itu.
“Ya, terserah kau saja Tuan. Tapi, terimakasih karena aku juga bisa menikmati kesempatan baik ini.” Hanna menyusul Kama yang melangkah masuk.
Banyak sekali orang yang mengabadikan momen terbaik mereka dengan mengambil foto dari apa yang terpajang di sana.
Hanna pun tak mau kalah, ia begitu antusias. Ia sesekali mengambil foto dirinya sendiri bersamaan dengan karya-karya yang tak kalah tandingannya.
Berbeda dengan Tuan Kama. Kalau pun sedang bersenang-senang atau menikmati sesuatu, raut wajahnya akan datar dan biasa-biasa saja. Ia lebih suka mengamati suatu hal dengan serius.
Hanna yang mengetahui itu, sesekali menjahili Kama dengan mengambil fotonya secara diam-diam. Bahkan, memaksa Tuan Kama ikut berfoto bersamanya.
“Kau ini! Jauhkan kamera ponselmu dariku!” Kata Kama jengkel.
“Memangnya kenapa Tuan, momen terbaik itu harus di abadikan dengan foto.” Hanna masih terus berusaha mengambil foto terbaiknya dengan Tuan Kama.
Kama mendengus kesal, “Sudah aku katakan hentikan tingkahmu itu! Kau sebaiknya menyimpan memori baik dalam otakmu bukan ponsel!”
‘’Tapi, memori di otak tidak bisa di tuangkan secara visual Tuan Kama. Lagian ini kesempatan. Ayolah berfoto bersama.” Bujuk Hanna dengan rengek manja.
‘’Simpan ponselmu itu! Lihat orang di sekitarmu tidak ada yang seheboh dirimu, paham?!” Kama berusaha merampas ponsel Hanna.
“Biarkan saja! Mereka tidak tahu bahwa ini adalah hal yang wajib di abadikan!” Bantah Hanna, kali ini sambil mengambil foto Kama yang ekspresinya terlihat begitu jengkel.
“Kau ini keras kepala sekali! Simpan ponselmu atau aku---“
‘’Atau apa? Aku tetap tidak akan menuruti apa yang kau katakan sebelum kau mau berfoto bersamaku, walau hanya sekali saja!” Tegas Hanna mencoba memberi penawaran.
“Aku tidak mau!” Tolak Kama ketus.
“Ayolah Tuan Kama yang tampan, kau ini tegang sekali. Ayolah, sesekali menuruti gadis yang selalu di hukum olehmu ini…” Rengek manja Hanna yang sengaja mengeraskan suaranya.
“Ssst! Kau membuat semua orang menatap kita!” Bisik Kama keras sambil menempelkan jari telunjuknya di mulut Hanna.
“Aku akan terus merengek seperti ini! Sampai kau mau berfoto bersamaku!” Ancam Hanna.
“Baik! Tapi hanya sekali, setelah itu simpan ponselmu!” Kata Kama dengan nada terpaksa.
Raut wajah Hanna berubah lebih bahagia setelah akhirnya Tuan Kama mau menuruti kemauanya, “Ah, terimakasih Tuan Kama.” Ucapnya sambil melirik ke arah seorang pria tua yang lewat memegang sebuah camera.
Hanna menghampiri pria itu, “Excuse me. Do you mind taking our picture here?”
“Of course,” Ucap pria itu sambil tersenyum ramah.
“Thank you. Please take the picture with my phone.” Hanna memberikan ponselnya pada pria itu dan kemudian berdiri di samping Kama sembari menggandengnya.
Pria asing itu mengambil jarak dan memberi aba-aba, “Is everything set? Okay, one, two, three, say cheese.”
Kemudian, pria itu memperlihatkan hasilnya pada Hanna. “Okay, here it is. Do you like it?” Tanyanya.
“Tuan apa kau ingin lihat hasilnya? Bagus, bukan? Di sini kau terlihat tampan sekali.” Hanna memperlihatkan foto itu begitu antusias pada Kama.
Kama melirik sebentar, “Mengapa di sana aku seperti belum siap?! Ah, sama sekali tidak bagus!” Responnya acuh.
Tampan sekali aku di sana, Hanna juga terlihat cantik. Batin Kama.
Hanna memanjangkan bibirnya kesal setelah melihat respon Kama terhadap foto mereka.
Menyebalkan sekali! Padahal tidak ada yang salah dari foto ini. Dia begitu tampan di sini, tapi mengapa respon nya biasa saja? Dasar payah! Gerutu Hanna dalam hati.
‘’Hei! Kemana dia?” Hanna mencari keberadaan Kama dengan lirikan mata yang di bergerak ke sana kemari.
“Makanya jangan lamban!” Suara Kama yang keras, tiba-tiba menyerang gendang telinga Hanna dari belakang.
Hanna tersentak, “Tuan kau ini! Jangan mengejutkanku seperti itu!” Gerutunya kesal.
“Kau lambat sekali! Di sini banyak yang mau kita lihat satu-persatu sebelum petang hari dan kau malah menghabiskan waktu sia-sia!” Omel Kama sambil menarik tangan Hanna agar mengikutinya.
“Pelankan sedikit langkahmu Tuan. Bagaimana bisa menikmati sesuatu jika langkahnya terlalu cepat!” Celoteh Hanna.
“Aku ingin mengajakmu untuk melihat lukisan terhebat di sini.’’ Kama terus melangkah menarik tangan kecil Hanna.
Langkah mereka terhenti di sebuah lukisan besar yang tertulis, Shedding light on the Starry Night. Hanna menatap penuh kagum akan lukisan itu.
“Terlukis sempurna dan indah sekali!” Kata Hanna dengan nada pujian.
“Kau suka?” Tanya Kama sembari melirik Hanna dengan senyum.
“Um, tentu saja Tuan.”
“Kau tidak ingin mengabadikannya dengan ponselmu itu?” Tanya Kama lagi.
Hanna menatap ke dalaman mata Kama, “Apa kau boleh?” Tanyanya penuh harap.
“Ini bukan milikku, tentu saja boleh!”
Dengan segera Hanna mengambil ponsel yang tadi sudah ia simpan di dalam tas dan merekam lukisan itu dalam ponselnya, “Tuan mari kita lihat ke arah sana lagi.” Ajak Hanna sambil menunjuk sebuah karya dari kejauhan.
“Kau suka dengan lukisan?” Tanya Kama sambil melangkah pelan.
“Ya, aku sangat suka. Waktu kecil, aku suka melukis. Ya, walaupun sampai sekarang bakat itu tidak di lanjutkan.” Hanna tersenyum tipis.
“Apa yang bisa kau lukis?” Tanya Kama seperti tertarik dalam bakat Hanna.
“Apa saja yang menurutku indah untuk di jadikan karya lukis.”
Kama menghentikan langkahnya, lalu menghadap ke arah Hanna, “Kalau begitu sebagai hukumanmu hari ini, kau harus melukisku! Dan lukisan itu harus segera selesai sebelum jam 10.00 malam!”
“Apa?! Melukismu?” Hanna menatap tak percaya.
Kama mengangguk cepat, “Kau lupa bahwa kau sudah pergi bersama Ardi hari ini? Kau pikir, aku akan melupakan hukumanmu begitu saja?!” Kama tertawa kecil.
“Aku melukis ketika aku masih kecil dan sekarang aku tidak tahu bagaimana teknik melukis yang baik.”
“Aku tidak peduli! Ini adalah hukuman! Dan satu lagi,’’ Kama mendekati Hanna sambil menyentuh pipinya, “Kakimu akan ku rantai selama kau menjalankan hukumanmu dan kau harus memakai lingeri.” Mata Kama menatap nakal.
“Apa?! Memakai lingeri? Aku sama sekali tidak pernah memakai itu Tuan, kau yang benar saja!” Protes Hanna dengan wajah tak terima.
Kama mengunci mulut Hanna dengan jari telunjuknya sambil mengedipkan sebelah mata, “Kau harus melakukannya, Hanna!” Katanya dengan nada memaksa.