The Other Side Of Kama

The Other Side Of Kama
Cemburu Kama



Setelah beberapa jam Kama menghabiskan waktunya bersama Hanna di tempat permainan Billiard.


Kama yang merasa bosan mengajak Hanna untuk menyudahinya dan pergi dari sana.


“Kau ingin es krim?” Tanya Hanna yang menoleh ke arah tokoh kecil khusus es krim.


“Tidak! Kau saja.” Jawab Kama.


“Baiklah, kau tunggu di sini Tuan.” Hanna bergegas menghampiri tokoh itu dan kembali dengan membawa dua cup es krim.


“Kau yakin tidak tergoda sama sekali?” Hanna mengedip-ngedipkan mata.


“Udara sudah dingin dan kau malah membeli es krim. Apa yang ada di pikiranmu itu?!” Kama melangkah meninggalkan Hanna.


“Menurutku es krim tidak hanya dingin, tapi juga manis seperti kau,’’ Ucapnya sambil melangkah menyusul Hanna.


Kama tersenyum miring, “Haha, kau mulai menggodaku rupanya.” Katanya pelan hingga Hanna tak mendengar sedikitpun suaranya.


“Kakak, Hanna!!!” Teriak Ardi dari kejauhan.


Kama menghentikan langkahnya dan memasukkan kedua tangan ke dalam kantong celana, “Bocah itu niat sekali dia menyusul!”


Hanna melambaikan tangannya pada Ardi, “Hei!!!” Teriaknya.


Ardi segera berlari menghampiri mereka.


“Kalian dari mana saja, hah?! Hingga hari hampir petang begini tak juga kembali kerumah?” Celotehnya.


“Maaf. Kau tahu? Tuan Kama mengajakku ke museum of art. Sungguh menakjubkan!” Seru Hanna.


Kama memandang acuh pada Hanna dan Ardi sambil menarik nafas dalam.


“Kakak kau tega sekali! Kau pergi hanya berdua dengan Hanna. Kalian bersenang-senang seperti sepasang kekasih!” Celoteh Ardi lagi.


“Bagaimana, apakah domba malam ini cukup berlemak?” Kama mencoba mengalihkan topic.


“Tentu saja. Aku membelinya dari tokoh daging segar, dan untuk itu pula aku rela mencari kalian. Ibu sudah menyiapkan bumbu dan pemanggangan.” Kata Ardi bersemangat.


Mata Hanna membesar dan senyumnya melebar, “Ah, aku sudah tidak sabar untuk makan daging domba.”


“Kalau begitu mari kita pulang sekarang. Eh es krim itu ada dua, boleh buatku satu?” Ardi merampas es krim itu dari tangan Hanna.


“Hei, apa-apaan kau ini! Es krim ini milikku!” Dengan cepat Kama menarik es krim itu dari adiknya.


“Bukankah kau katakan bahwa kau tidak ingin es krim tuan?” Tanya Hanna polos.


“Itu tadi, sekarang aku berubah pikiran dan ingin makan es krim.” Kama melahap es krim itu dengan menahan dingin yang menyengat lidahnya.


“Ya sudah, lebih baik percepat langkah kalian. Ibu sudah menunggu.” Ajak Ardi.


Kama melangkah mendahului Ardi dan Hanna yang berjalan sambil menikmati keramaian petang hari.


“Han, kau ingin aku belikan penghangat leher?”


“Tidak perlu.” Tolak Hanna.


“Cuaca di sini sangat dingin, tidak cukup hanya memakai baju tebal. Kau perlu kain yang juga menghangatkan lehermu. Tunggu di sini.” Ardi membeli kain penghangat leher dan hendak memakaikannya pada Hanna.


“Hanna!” Teriak Kama sambil terus membelakangi mereka.


Hanna dan Ardi sama sekali tidak merespon Kama.


“Terimakasih Ardi,” Ucap Hanna setelah Ardi mengalungkan kain penghangat itu pada lehernya.


“Bukan apa-apa. Kau terlihat lucu memakainya.” Puji Ardi.


“Hanna!” Teriakan kedua Kama.


“Terimakasih Ardi, aku sangat suka dengan warnanya.” Hanna mengabaikan Kama.


“Kalau begitu kita jalan lagi.” Ajak Ardi.


“Aw!!!...” Pekik Hanna merasakan nyeri di kakinya.


Ardi merespon cemas, “Han, kau kenapa?”


“Kakiku terasa nyeri dan keram.”


Mendengar itu, wajah Kama seketika berubah menjadi amarah. Ia langsung berbalik dan memundurkan langkahnya.


“Apa kau tidak bisa bilang kalau kakimu sakit sejak tadi?!” Kata Kama yang langsung menggendong Hanna sebelum Ardi melakukannya.


“Kakiku baru saja terasa sakit, Tuan.” Jawab Hanna sambil melingkarkan tangannya di leher Kama.


“Aku akan membawamu pulang, makan dan berisitirahatlah!” Kama melangkahkan kakinya cepat sambil menggendong erat Hanna.


Sementara Ardi hanya tersenyum paksa menyaksikan apa yang ada di depannya. Seorang wanita yang ia cintai sejak lama, di gendong oleh sang kakak.


Tiba dirumah benar saja perkataan Ardi, ibu Jean sudah menunggu di taman belakang rumah dengan pemanggang dan daging segar domba yang sudah di beri bumbu.


“Kalian dari mana saja?” Tanyanya.


“Maaf bu, Aku dan Hanna hanya berjalan-jalan sebentar.” Jawab Kama yang masih terus menggendong Hanna.


“Hanna, are you okay?” ibu Jean memperhatikan Hanna.


“Kakiku sedikit keram bu.” Jawab Hanna.


“Kama, bawa Hanna kemari.” Perintah ibu Jean sambil menepuk sebuah kursi di sebelahnya.


Kama dengan pelan menurunkan Hanna di kursi sebelah ibu Jean.


“Aku akan memberimu sedikit pijatan.’’ Jean memijat lembut kaki Hanna.


“Aw!” Pekik Hanna tertahan di mulut.


Kama dan Ardi memandangi Hanna dengan raut wajah cemas sembari berpaku tangan.


“Kau sudah merasa lebih baik?” Tanya ibu Jean.


“Sudah bu, terimakasih.”


“Kalau begitu, kau duduk saja di sana bersama ibu. Biar aku yang memanggang dagingnya.” Ardi langsung mendekati pemanggang.


“Biar kakak saja!” Kama tak mau kalah, ia pun menyusul Ardi yang sudah meletakkan beberapa potong daging di pemanggang.


“Kakak, aku yakin kau tidak mengerti soal manggang-memanggang. Jadi, biar aku saja.”


“Kau meremehkan kakakmu ini, hah?!” Kama menaikkan intonasi bicaranya.


“Bukan begitu kakak, aku hanya tidak ingin kau kelelahan. Jadi, biar aku saja.” Ardi merampas pencapit daging dari tangan sang kakak.


“Hei! Kau jangan remehkan kakak! Sini, biar aku yang memanggang semua!” Kama menggeser posisi adiknya dengan menyenggolnya kuat.


“Sudah cukup! Kalian terlihat seperti anak kecil saja. Biar adil, lakukan saja bersama!” Sambung ibu Jean.


Melihat itu, Hanna menundukkan kepala dan menahan rasa tawa yang menggelitik perut.


Beberapa lama kemudian, semua daging panggang sudah siap untuk di santap. Ardi membawa sepiring daging serta saus barbeque pada Hanna.


“Han, coba makanlah. Rasanya enak sekali.” Ardi memberikan daging itu pada Hanna.


“Terimakasih, aku sudah sangat lapar hehe,” Ucap Hanna tanpa rasa malu dan langsung mencicipi daging panggang itu.


Kama menatap tak suka pada Ardi dan Hanna, “Ini untukmu ibu.” Katanya sambil memberikan daging pada Jean.


“Terimakasih sayang.”


Kama menyosor duduk di tengah-tengah Ardi dan Hanna, “Di sini indah sekali,” Ucapnya santai.


“Kakak, kau harusnya jangan duduk di sini! Kau tidak lihat aku dan Hanna sedang sibuk menikmati daging panggang.”


Kama menoleh geram ke arah Ardi, “Lalu aku tidak boleh ikut menikmatinya? Kau duduk di sana bersama ibu!” Pinta Kama.


“Harusnya kau yang duduk bersama ibu. Aku hampir setiap hari bertemu ibu, sedangkan kau?”


“Kau ini! Lakukan saja apa yang kakak suruh!” Kama mengeraskan suaranya.


“Aku tidak mau! Aku ingin di sini bersama gadis manis, Hanna.” Kata Ardi tak mau kalah.


Berani sekali dia mengatakan Hannaku gadis manis! Batin Kama geram.