
Hanna membuka matanya tepat pukul 06.00 pagi. Seperti di buru waktu, Hanna mengikat rambutnya sembarangan lalu membangunkan Kama.
“Tuan, kita kesiangan. Cepat bangun!” Hanna menggoyangkan tubuh Kama pelan.
Kama yang masih memeluk Hanna bertanya manja, “Ini jam berapa?”
“06.00, kau ingat bukan hari ini akan ke Bali?” Hanna memperingatkan.
“Kalau begitu kita harus berkemas cepat.” Kama tersentak bangkit, dan menuju kamar mandi.
Dia begitu bersemangat sekali. Batin Hanna, ia segera ke dapur menyiapkan sarapan dalam waktu singkat. Ya, hanya dua potong roti dan selai, serta susu. Setelah itu dia naik ke atas dan mendapati Kama yang sedang bersiap di depan cermin.
“Kau sudah rapi?” Hanna meraih handuk dan melangkah masuk kamar mandi.
“Tentu. Aku akan temui Arkhan di bawah.”
“Jangan lupa habiskan sarapanmu Tuan,” Teriak Hanna dari kamar mandi.
Penerbangan yang memakan waktu kurang lebih 3 jam dari Singapore menuju Bali. Akhirnya keduanya tiba di tempat kelahiran Hannatasya.
Bali terkenal dengan keindahan alam dan unsur budaya yang kental. Ada banyak pantai yang bisa di kunjungi dan berbagai tempat wisata lainnya yang dapat di kunjungi di pulau dewata ini. Wajar saja, hampir banyak turis dari seluruh penjuru yang berbondong-bondong datang ke Bali.
Hanna terlihat begitu bersemangat, ketika sebuah taksi mengantarkan mereka di rumah kediamannya, Desa penglipuran.
Desa yang di kenal dengan kebersihan dan juga budaya yang kental. Rumah Hanna bahkan di desain dengan adat dan budaya di sana, sehingga membuat Kama merasa kagum dan begitu menikmati suasananya.
“Ibu!” Seru Hanna setelah mendapati ibunya yang sedang duduk bersantai di teras rumah.
“Hanna!” Ibu berlari menghampiri putrinya itu dan memeluknya erat, menguraikan rasa rindunya yang selama ini sudah ia tahan.
“Kau tidak memberi kabar pada ibu?” Protes sang ibu.
“Aku sudah mengatakannya pada ibu di telepon, kan? Hari ini kita akan bertemu.” Kata Hanna antusias sambil terus memeluk ibunya.
Kama tersenyum menyaksikan kehangatan antara Hanna dan ibunya. Ia berdiri tepat di belakang mereka sembari terus memegang tiang koper mereka. Pandangan, ibu Hanna menjadi serius melihat ke arah Kama.
“Siapa dia?” Tanya nya pada Hanna.
Hanna menoleh pada Kama dan menariknya dekat pada ibu, “Ibu, kenalkan ini Tuan Kama.”
Ibu Hanna menoleh tajam dari atas hingga ke bawah, “Ini bossmu itu? Apa yang terkenal kejam dan jahat di negara luar sana?” Nada ibu terdengar tajam dan sinis.
Tampan sekali pria ini, dia juga terlihat begitu berkelas. Sudah pasti uangnya banyak, apalagi dia adalah pengusaha muda. Putriku hebat sekali…
Kama menundukkan kepala sejenak, “Salam bibi.”
“Mengapa dia ikut?” Tanya ibu tanpa menghiraukan Kama.
“Ibu, jangan berbicara seperti itu. Tidak sopan.” Hanna mengecilkan suaranya.
“Memangnya kenapa? Ibu kan hanya bertanya saja!” Suara ibu sengaja di besarkan.
“Ibu, dia yang sudah membayar tiketku.” Hanna berbisik sambil mengedipkan matanya karena ia tahu ibu akan luluh kalau ada orang yang berbaik hati padanya.
Ibu menutupi rasa senangnya, “Ya, walau begitu harusnya ibu tahu apa tujuannya ikut denganmu? Apa pria ini asistenmu?”
“Maaf bibi, aku hanya ingin berjalan-jalan ke Bali.” Sambung Kama tersenyum ramah.
Ibu Hanna menarik tangan putrinya dan mengambil jarak sedikit jauh dari Kama, “Hanna, bagaimana mungkin kau bisa sedekat itu dengan bosmu? Dia itu terlihat seperti pria yang berkelas sekali.” Bisik ibu sembari melirik ke arah Kama.
“Ibu nanti dia dengar.” Hanna tersenyum sesekali pada Kama.
“Bukankah dia itu pria yang terkenal dengan kejahatan dan moralnya yang berantakkan itu?”
“Ssst!... Ibu, kau lihat dia saja mengucapkan salam penuh keramahan pada ibu. Dia tidak sepenuhnya tidak bermoral ibu.”
Ibu tersenyum acuh, “Ibu ingin tahu mengapa dia sangat di takuti orang-orang.” Sang ibu berjalan cepat menghampiri Kama dan itu membuat Kama memasang senyum ramahnya walau ibu Hanna terlihat tidak peduli atas senyumnya.
“Hei kau! Kau akan tinggal dimana? Apa kau berpikir aku akan mengizinkanmu untuk tinggal bersamaku dan putriku, hah?!”
“Bibi maaf aku---“ Kama tidak sempat melanjutkan kata-katanya karena ibu Hanna dengan cepat memotongnya.
“Budaya kami, tidak baik laki-laki dan perempuan tinggal dalam satu atap kalau belum menikah.” Potong ibu.
“Bibi aku akan---“
“Kau ini kan seorang boss putriku, harusnya kau lebih bermodal lagi. Maksudku, jika kau ingin tinggal di sini kau harus membayar uang sewanya. Kau paham?!” Ibu menaikkan sebelah alisnya, wajahnya begitu tak ramah bahkan tidak ada senyum sedikitpun di sana.
Hanna yang mendengar perkataan ibu, menghampiri keduanya dengan langkah kaki cepat, “Ibu jangan berkata seperti itu pada Tuan Kama.”
“Tuan? Mengapa kau memanggil pria ini Tuan? Apa dia ini seorang raja dan kau budaknya?” Ibu terus menaikkan intonasi bicaranya.
Hanna menggigit bibirnya dan wajahnya menahan malu, “Bukan ibu, hanya saja memang itu panggilan seorang boss di sana.” Hanna menoleh ke arah Kama, “Tuan maafkan ibu. Kau tidak perlu membayar apapun untuk menginap di sini.”
“Tidak membayar katamu?! Enak saja! Ibu akan tetap meminta tagihannya, kau pikir tidur dan makan itu tidak ada biayanya?!” Ibu menjadi lebih galak.
Kama tersenyum tipis, “Tenang saja Hanna dan bibi. Bagiku semua memang harus ada imbalannya. Aku akan membayar tiga kali lipat bi.”
“Harusnya lebih baik begitu. Baiklah walau kau sedikit sombong, ternyata kau tidak pelit juga.” Ibu memiringkan bibirnya.
Wah, dia akan membayar tiga kali lipat. Ternyata memeras pria kejam mudah saja, ia terlihat takluk padaku. Gumam ibu.
“Tuan maafkan ibuku.” Hanna mengedipkan sebelah mata pada Kama, berharap Kama memaklumi sikap ibunya.
Kama tersenyum dan tidak mempermasalahkan apapun.
Ibu Hanna galak sekali. Wajar saja dia melahirkan putri seperti Hanna.
“Hei Hanna, kau ini tidak perlu meminta maaf padanya.” Protes ibu. “Sudah sekarang lebih baik kita masuk dan beristirahat. Ibu akan siapkan makanan untuk kalian.” Ajak sang ibu sembari melangkah masuk, tetapi sebelumnya ia berbisik pada Kama, “Hidangannya sedikit mahal.”
“Iya bibi. Terimakasih,” Ucap Kama.
Mereka semua masuk ke dalam rumah. Hanna mengantarkan Kama ke dalam kamar tamu untuk beristirahat, sementara ia akan membantu ibu menyiapkan makanan.
“Hanna, kau tidak tidur juga?” Tanya Kama.
Hanna yang baru saja ingin menutup pintu kamar, sejenak menoleh, “Aku ingin membantu ibu Tuan. Lagipula, aku akan tidur di kamar yang berbeda.
“Ssst!... Kecilkan suaramu Tuan. Ibu akan membunuhku jika aku tidur denganmu, jadi jaga rahasia kita ya.” Hanna terlihat takut dan memperhatikan keadaan sekitar.
“Apa?! Mengapa harus di rahasiakan? Ibumu harus tahu bahwa kita sepasang kekasih.” Bantah Kama.
“Sepasang kekasih, tapi bukan suami istri. Sudahlah, kau tidur saja Tuan!” Hanna menutup pintunya kesal.
Sulit sekali menjadi kekasihmu Tuan. Mengatakan cinta tidak pernah, lalu kau mau seenaknya saja.
Hanna berjalan menghampiri ibunya yang sedang sibuk di dapur. Tanpa mengatakan apapun ia mengambil ahli pekerjaan memotong-motong sayur segar.
“Hanna, ibu dengar kau dan Kama begitu dekat? Sebenarnya kalian itu sedekat apa?” Ibu menatap curiga sembari membersihkan ikan.
“Ibu tahu dari mana?”
“Kama itu kan orang yang terkenal dan tentu saja ibu melihatnya dari berita yang beredar. Sebenarnya ibu tidak masalah, tapi apa kuliahmu itu tidak terganggu?” Ibu menoleh ke arah Hanna.
“Sebulan lagi aku akan wisuda tidak mungkin terganggu bu. Lagipula, aku hanya sebatas sekretaris magang disana.” Jawab Hanna terdengar tak bersemangat.
Apa setelah ini aku dan Kama akan terus bersama akupun tidak tahu. Jika tidak di beri kepastian seperti ini.
“Tapi, dari tatapannya dia seperti menyukaimu. Apa memang di antara kalian tidak ada hubungan apa-apa?” Pertanyaan ibu seperti mendesak ingin tahu.
“Tidak bu.”
Kekasih tanpa perantara cinta. Jika ibu tahu, dia pasti akan marah dan mengusir Tuan Kama. Aku tidak ingin membuat ibu kecewa karena sudah berpikir lebih. Aku dan Kama juga tidak tahu akan sampai kapan seperti ini. Berniat untuk menggali sisi baiknya, tapi malah aku terjebak sendiri dalam rasa yang aneh ini. Dasar budak cinta!
“Mengapa wajahmu murung seperti itu?”
“Ah tidak bu. Aku hanya memikirkan nanti setelah wisuda sepertinya aku akan tinggal bersamamu bu.”
Ya! Aku harus memulai kisah baru, jika nanti Kama juga tak memberi kepastian.
“Kau akan tinggal bersama ibu?” Ibu menatap tak percaya sekaligus gembira.
Hanna tersenyum manis, “Iya ibu. Aku tidak akan jauh lagi darimu.”
“Syukurlah Hanna. Ibu bahagia mendengar keputusanmu.” Ibu mengusap-usap pundak Hanna.
“Um…” Hanna mengangguk.
Makanan telah siap. Ibu Hanna memasak dengan berbagai jenis makanan, mulai dari ikan bakar, ayam goreng khas bali, sate lilit sambal serta sayur-sayuran segar.
Hanna membantu ibunya menata makanan di meja yang tidak terlalu besar, terbuat dari pahatan kayu khas bali dan orang makan dengan duduk lesehan karena memang meja itu pendek dan tidak perlu kursi.
“Ibu aku akan panggil Kama,” Ucap Hanna.
Ibu mengangguk sambil menuangkan minuman segar di dalam gelas.
Hanna melangkahkan kakinya menuju kamar peristirahatan Kama. Ia mengetuk pintu berkali-kali namun tidak ada jawaban, untuk itu ia langsung melangkah masuk dan mendapati Kama sedang terlelap di atas kasur tipis beralaskan lantai karpet bambu tanpa ranjang.
“Tuan, makanannya sudah siap. Ayo bangun!” Hanna menekuk lututnya di dekat Kama dan menggoyangkan pelan tubuh pria yang terlihat begitu lelap itu.
“Tuan. Kau harus makan dulu.” Hanna membangunkan lagi.
Tiba-tiba tangan Tuan Kama menarik Hanna jatuh ke atas pelukannya. Tubuh Hanna kini menindih Kama yang enggan membuka matanya, walaupun ia sudah bangun.
“Tuan. Jika ibu lihat maka habislah aku!” Hanna memberontak.
“Aku rindu akan wangi tubuhmu Hanna,” Ucap Kama yang masih terus menutup rapat matanya.
Ia terlihat begitu menikmati tubuh Hanna dan mengendus aromanya dalam hangat pelukan.
“Tuan, jangan seperti ini!” Hanna berusaha lepas dari pelukannya.
“Sebentar saja. Aku hanya ingin memeluk dan menghafal aromamu.” Kama membuka mata sejenak memandang Hanna dan menutupnya lagi.
Apa boleh buat jika dia ingin seperti ini. Kalau berontak suaranya akan lebih keras nanti ibu akan menyusul dan pasti dia akan murka.
“Kekasihku, jangan manja seperti ini ya. Kita makan dulu.” Bujuk Hanna sembari membelai lembut rambut Kama.
“Ucapkan lagi.” Pinta Kama.
“Apa?” Hanna terdengar tak mengerti.
“Kau mengatakan apa di awal kalimatmu?” Kama membuka matanya, dengan sayu ia menatap manik mata Hanna.Terlihat tulusnya cinta yang sebenarnya ia miliki untuk gadis itu.
“Kekasihku. Yang itu?” Tebak Hanna.
Kama mengangguk pelan dan tersenyum. Ia terus menatap mata Hanna dalam dan cukup membuat jantung Hanna bergetar. Tatapan itu melemahkan Hanna seketika, ia tak mampu membalasnya.
“Tuan, kau sudah selesai dengan pelukanmu?” Hanna mengalihkan matanya.
Mengapa tatapanmu begitu hangat dan tulus Kama. Kau membuatku yakin bahwa kau memang mencintaiku.
Kama memainkan rambut Hanna pelan, “Kau sama seperti ibumu.”
Dia mulai terlihat sok tahu tentang aku dan ibu.
“Wajar saja Tuan, aku ini putrinya.” Jawab Hanna.
“Ya, jika aku terlahir lebih dulu. Mungkin aku akan menyukainya.” Candanya sembari melepaskan pelukannya.
“Kau suka wanita galak seperti ibu?”
“Dia tidak galak, hanya saja sangat pemberani sama seperti kau.” Kama bangkit berdiri dan memakai bajunya yang sedari tadi dia buka ketika tidur.
“Itu tandanya kau menyukaiku? Maksudku, kau mengatakan jika kau terlahir lebih dulu mungkin kau akan menyukai ibu hanya karena dia sama seperti aku?”
“Aku memang menyukaimu, Hanna.”
Apa artinya itu juga cinta.
“Terimakasih Tuan.” Hanna berusaha untuk tidak bertanya lagi soal cinta pada Kama. “Tuan, mari kita makan. Ibu sudah menunggu.” Hanna melangkah lebih dulu.
Kama tersenyum tipis, ia memandangi Hanna sebelum akhirnya mengikuti langkahnya.