The Other Side Of Kama

The Other Side Of Kama
Gym



Happy Reading ❤️


"Maaf," Satu kata lembut keluar dari mulut Hanna.


Kama tak berhenti menatap gadisnya itu. Ia terlihat seperti ingin membuat Hanna lagi-lagi tak berdaya untuk melawan mata coklat indah miliknya.


"Besok aku akan mengantarkan Ardi ke Airport, temui aku di apartemen siang hari." Ucap Kama sambil melepaskan Hanna.


"Baik Tuan,"


Kama berjalan mendahului, "Besok kau harus menyelesaikan semua hukuman nya dan lusa kemasi barang-barangmu, kita ke New York."


"Iya Tuan," Hanna berjalan dibelakang.


"Kalian kemana saja sih?" Tanya Azel yang dari tadi sudah menunggu di depan kostan bersama yang lain.


"Ardi, kita pulang sekarang!" Kama masuk ke dalam mobil mewahnya dan Akrhan buru-buru mengikutinya.


"Han, kakak melakukan apa padamu?" Ardi menghampiri Hanna, terlihat ia begitu cemas.


"Tidak, kakakmu hanya memberitahu soal pekerjaan yang harus aku kerjakan besok." Jawab Hanna berbohong.


"Kau yakin kakak tidak melakukan hal yang jahat padamu?" Tanya Ardi lagi.


"Um, kau tenang saja. Tuan Kama adalah pria yang baik, ia tidak mungkin menyakitiku, kan?" Hana tersenyum manis.


"Iya dia memang pria yang baik, ya walau sedikit galak haha..."


"ARDI!!!" Teriak Kama dari kaca Mobil yang diturunkan sedikit.


"Benarkan kataku? Dia memang galak haha..." Ardi terpingkal-pingkal.


"Lebih baik kau pulang saja. Sebelum, kakakmu itu turun dan membuat suasana menjadi panas lagi." Celoteh Azel.


"Baiklah, kalau begitu aku pulang. Sampai ketemu Zel. Han, jaga dirimu ya." Ardi mengusap pundak Hanna.


"Um, pasti." Hanna mengangguk.


"Dah..." Teriak Azel sambil melambaikan tangan.


Ardi masuk kedalam mobil yang sudah ia pakai untuk mengantar Hanna dan teman nya itu. Mobil Kama berjalan mendahului dan adiknya mengiring dari belakang.


--------------------------------


Drrt... drrt...


Tepat pukul 08.12 pagi hari, dering handphone yang sejak tadi berbunyi akhirnya mampu membangunkan Hanna yang terlelap.


"Siapa yang sudah menggangguku padahal, hari ini aku bisa sedikit lebih santai." Suara serak basah akibat bangun tidur, Hanna meraih ponselnya.


Mata yang masih belum maksimal pada pengelihatannya menatap layar ponsel.


"Tiga puluh kali panggilan masuk dari Tuan Kama," Ucapnya santai.


Hanna kembali meletakkan ponsel itu dan tidur. Ya, apalagi Azel sudah pergi bekerja, kasur jadi lebih luas dan nyaman untuk tidur.


Drrt... drrt...


"Menyebalkan sekali!!!" Gerutu Hanna sambil mengangkat telepon nya.


"Tuan apa kau bisa lebih sabar. Ini masih pagi, aku akan datang kesana sesuai dengan waktu yang kau katakan!" Celotehnya geram sambil terus memejamkan mata.


"Hanna, ini ibu." Suara lembut wanita paru bayah di ujung telepon.


Hanna bangkit dan duduk, "Ibu... mengapa menelpon pagi-pagi sekali."


"Kau tidak suka? Apa kau tidak rindu mendengar suara ibu?" Suara ibu dikeraskan.


"Bukan begitu bu, maksudku tidak biasanya ibu menelpon pagi-pagi. Bagaimana kabar ibu?"


"Ibu baik. Apa bulan depan kau bisa pulang? ibu sudah sangat rindu padamu."


"Bu, saat ini aku sedang magang dan mengerjakan tugas akhir kuliahku." Hanna mencoba membuat ibunya mengerti.


"Kau bisa mengambil izin sebentar. Ibu janji akan membelikan tiket pesawat untukmu. Jadi, jangan gunakan tabunganmu." Bujuk ibu yang sepertinya sudah tak bisa menahan rindu lagi.


"Bu, bukan itu masalahnya..." Kata Hanna dengan lembut.


Hanna menghela nafasnya, "Baiklah ibu, aku akan pulang bulan depan. Ibu tenang saja, jangan belikan aku tiket ya."


"Ibu sudah katakan jangan gunakan tabunganmu."


"Bu... Simpan saja uangmu ya. Aku mempunyai uang lebih." Ucap Hanna.


"Baiklah, ibu sayang padamu." Kata ibu sebelum akhirnya mematikan telepon.


" Aduh... bagaimana caranya agar aku bisa mengambil izin dari Kama." Ucap Hanna sambil menutup mukanya dengan bantal.


Drrt... drrtt..


"Siapa lagi ini," Gerutu Hanna sambil meraih ponselnya.


15menit lagi aku akan sampai dikostanmu. Ingat kau harus sudah bersiap, aku tidak suka menunggu. Hanna membaca pesan singkat itu.


"Apa-apaan ini! Bukankah dia katakan bahwa siang hari aku baru akan menemuinya. Mengapa malah jadi pagi-pagi begini!" Keluh Hanna dan bergegas turun dari tempat tidur.


Hanna meraih handuk dan mandi. Karena didesak dengan waktu, dalam hitungan menit ia sudah mandi dan bersiap untuk memakai baju.


"Pasti nanti badanku akan cepat menjadi bau kalau mandi tidak bersih seperti ini!" Gerutunya.


Drrt... drrt..


Sebuah pesan masuk lagi.


Aku sudah di depan. Jika tidak segera keluar kau akan mendengar suara bom meledak di kostanmu.


"Memangnya dia sedang dimedan perang. Dasar aneh!!!" Hanna memakai sepatu juga meraih tasnya dan bergegas keluar.


Seperti biasa Tuan Kama menunggu dan bersandar di muka mobil. Pesonanya akan selalu membuat Hanna terpesona. Apalagi, ia mengenakan kaca mata gaya, membuat ketampanan sang Tuan Kama bertambah sepuluh kali lipat.


"Bagus. Kau datang tepat waktu." Ucap Kama sambil melirik ke arah jam tangan.


"Kau sangat tidak konsisten Tuan. Kau bilang, aku menemuimu siang hari, mengapa sekarang malah sudah menjemput?" Protes Hanna.


"Adikku itu terbang pagi-pagi sekali dan buat apa aku memberikanmu waktu bersantai sementara, ada banyak hal yang harus kau kerjakan?" Kama membuka pintu mobil bagi Hanna, "Jangan banyak protes, masuk ke mobil."


Dengan raut wajah yang terlihat begitu jengkel Hanna menuruti perkataan Kama. Sepanjang perjalanan Hanna hanya diam tanpa mengucapkan beberapa kalimat sekalipun. Hal itu membuat Kama merasa puas karena Hanna tak berkutik. Ia menyetir sambil tersenyum tipis.


Kama memarkiran mobilnya tepat disebuah gedung khusus gym.


"Tuan mengapa malah kemari?" Tanya Hanna yang melupakan bahwa gym merupakan salah satu dari daftar kegiatan Kama.


"Kau memang sekretaris lamban! Bukankah sudah kuberitahu apa saja yang menjadi jadwalku? Harusnya kau yang memberitahu dan mengatur semua!" Celoteh Kama.


Bagaimana aku bisa lupa dengan susunan jadwal bodoh itu.


"Maaf Tuan. Aku tidak akan mengulanginya lagi."


"Kalau begitu cepat turun dan bawakan baju gantiku." Kama mengarahkan matanya ke arah tas kecil disampingnya.


"Iya Tuan." Hanna meraih tas itu dan turun mengikuti Kama.


"Selamat datang Tuan Kama. Seperti biasa, ruangan pribadimu dengan alat-alat berkualitas andalanmu sudah disediakan Tuan." Sapa seorang lelaki bertubuh kekar mempersilakan mereka masuk ke dalam ruangan khusus Tuan Kama.


Tanpa mengatakan apapun, Kama menyosor masuk bersama Hanna dan kemudian Kama mengunci ruangan itu.


Ia membuka kaos hitam ketat yang ia pakai. Memperlihatkan kembali tubuh yang dipahat sangat sempurna oleh sang Maha karya.


Hanna menelan ludahnya setelah kesekian kali melihat Kama yang bertelanjang dada.


Mengapa Lucifer ini begitu menggoda. Batin Hanna yang terus memandangi Kama yang kini sibuk mengangkat barbel berukuran besar.


"Jangan pandang aku seperti itu! Aku tidak ingin masuk kedalam mimpimu untuk menjalankan skenario kotor yang ada di dalam otakmu." Ucap Kama tiba-tiba.


Bagaimana dia tahu aku memandanginya. Padahalkan dia tidak melihat ke arahku.


"Tuan kau pikir aku sedang memikirkan apa? Berkata seenaknya saja!"


"Haha... Aku tahu apa yang ada di pikiranku saat ini." Ucap Kama yang masih sibuk dengan barbelnya.


"Terserah kau saja Tuan. Kau memang selalu benar." Ujar Hanna ketus dan duduk di sofa.