The Other Side Of Kama

The Other Side Of Kama
Bertemu ibu Jean yang ramah



Happy Reading ❤️


“Kau sudah siap? Makanlah sandwich ini sedikit, aku yang membuatnya untukmu.” Kama memberikan sepotong sandwich pada Hanna.


“Maaf jika aku mandi terlalu lama, hingga kau harus menyiapkan sarapan untukku Tuan.” Hanna perlahan menggigit roti sandwich itu.


“Tidak masalah. Sebentar lagi Arkhan akan menjemput kita.” Kata Kama sambil memberikan senyum manis.


“Um…” Jawab Hanna mengangguk.


‘’Hanna…” panggil Kama lembut.


Hanna menoleh ke arahnya,”Ya Tuan,”


“Kau tahu, semenjak ada kau rasanya aku ingin terus berada di dekatmu.” Kata Kama sambil menempelkan kedua telapak tangan di atas meja.


“Maksudmu?”


“Please always be mine. Ntah jika kau sudah selesai dalam tugas magangmu, aku tak tahu apa kita akan bisa bertemu.” Kama menarik kursi dan duduk didekat Hanna yang masih sibuk mengunyah.


“Tuan, kau tidak perlu khawatir. Kita akan terus bertemu,” Hanna menyentuh tangan Kama. “Apa kau menyukaiku?” Tanya Hanna dengan mata penuh harap.


Kama tersenyum mengalihkan pandangan nya tanpa menjawab sedikitpun.


Aku tidak tahu apa itu suka atau jatuh cinta. Yang jelas kau adalah milikku yang tidak ingin aku bagi pada siapapun. Mungkin juga aku akan menghancurkanmu, jika kau memberikan diri pada pria lain, Hanna. Batin Kama.


“Tuan, apa tidak sebaiknya kita berangkat sekarang? Saya takut Tuan dan Nona akan ketinggalan pesawat,” Ucap Arkhan yang tiba-tiba datang.


“Baiklah, angkat semua barang milik Hanna.” Pinta Kama sambil menarik tangan Hanna dan melangkah menuju mobil.


“Baik Tuan.”


Singapore Changi airport


Hanna duduk ditepat di samping jendela pesawat dengan sabuk pengaman yang sudah terkunci. Ia memilih posisi yang paling nyaman dengan menyandarkan kepalanya. Ini akan jadi hal bersejarah bagi Hanna, karena dirinya akan menginjak NewYork untuk pertama kali. Apalagi, ia di temani oleh pria tampan idaman banyak wanita. Bahkan, sudah banyak media yang meliput kedekatan Tuan Kama dan sekretaris magangnya di media. Tapi, hal itu tidak menjadi masalah bagi keduanya.


“Kau ingin segelas kopi hangat atau cemilan?” Tanya Kama.


“Iya Tuan, aku ingin menahan rasa kantukku untuk lebih menikmati penerbangan.”


“Baiklah, akan aku pesankan,” Ucap Kama.


Kopi serta beberapa cemilan menemani penerbangan mereka. Hanna terlihat sangat bersemangat, hingga ia tak menyadari bahwa Kama terus memperhatikan nya sejak tadi diam-diam.


Tidak lama setelah itu, Hanna mengantuk dan tertidur dengan menyandarkan kepalanya di bahu Kama. Pria tampan, Tuan Kama tidak merasa risih sedikitpun, ia malah membenarkan posisi Hanna agar terasa lebih nyaman.


“Tidurlah dengan nyenyak, Hannaku,” Ucapnya sambil mengusap lembut kepala Hanna.


Penerbangan yang berlangsung cukup lama dan nonstop, tidak membosankan bagi penumpang yang duduk di kelas bisnis, termasuk Kama dan Hanna. Semua tetap merasa nyaman karena fasilitas dan pelayanan yang baik selama berada di dalam pesawat.


Newyork city


Kota yang hidup selama 24 jam, dengan segala kesibukan, keramaian serta keindahan yang ada didalam. Tentu saja, kota ini merupakan sebuah kota yang maju dalam perkembangan yang amat pesat di dunia, membuat semua orang pasti miliki mimpi untuk sekedar menginjakkan kaki disana.


Sebuah taksi mewah mengantar Kama dan Hanna di tempat kediaman Jean, sang ibu angkat. Sebuah rumah minimalis dan mewah milik sang ibu yang katanya hanya bekerja sebagai pelayanan kamar disebuah hotel yang pernah Kama tempati.


Wanita itu berdarah eropa, rambut yang pirang alami serta bola mata berwarna biru. Namun, kulit wajahnya telihat sedikit keriput karena usia yang sudah cukup tua.


Ia berdiri didepan pintu menyambut putra angkat kesayangan yang datang berkunjung.


“Hallo my son, how are you?” Katanya sambil memeluk Kama erat.


“Not bad mom, how about you?” Kama menyambut pelukan sang ibu dengan senyum penuh kasih.


“Who is she? Your girlfriend, right?” Tanya nya.


Hanna menundukkan kepala sejenak memberi salam, “Hallo, I am Hannastasya, but you can call me, Hanna.”


“Oh my goodness, you are so beautiful darling,’’ Pujinya sambil memberi ciuman di pipi Hanna.


“Thankyou,” Hanna tersenyum manis.


“Come in.” Jean dengan senang mengajak masuk putranya dan Hanna.


Ia sudah menyiapkan hidangan spesial bagi mereka. Ya, Jean memang sangat suka jika rumahnya dipenuhi oleh orang-orang. Karena, ia sudah lama menjanda. Suaminya sudah lama meninggal dunia, untuk itu ia harus berjuang membesarkan Ardi seorang diri. Namun, setelah ada Kama kehidupan mereka menjadi lebih baik.


Ardi bekerja di salah satu perusahaan ternama di Newyork dan memilih untuk mandiri dari Jean. Tapi, setiap minggu ia pasti datang berkunjung.


“Are you Indonesian?” Tanya nya pada Hanna.


“Yes,” Hanna mengangguk.


“Oh kalau begitu, kita memakai bahasa Indonesia saja.” Ujar Jean mengejutkan Hanna.


“Bibi bisa berbahasa Indonesia?” Kening Hanna mengerut.


“Tentu saja, apa kau tidak lihat wajah Ardi seperti orang Indonesia? Bahkan, ia pandai berbahasa Indonesia. Itu karena ibu menikah dengan pria asli Indonesia dan lama tinggal di bali.” Sambung Kama.


Jean tertawa, “Meskipun logat saya masih sedikit kebaratan tapi saya mengerti dan paham bahasa Indonesia. Oh satu lagi, saya suka sama masakan Indonesia, semur jengkol hehe…” Ucapnya membuat orang terpingkal.


“Senang sekali jika bibi menyukai makanan Indonesia.’’ Hanna tertawa kecil.


“Kalau begitu, mari nikmati hidangannya. Kalian pasti sudah lapar, bukan?” Jean menawarkan sambil membuka tutup makanan.


“Terimakasih bibi,” Kata Hanna dan mulai menikmati makanan yang telah disediakan.


“Jangan panggil aku bibi. Kau boleh memanggilku dengan sebutan ibu, sama seperti Kama,” Jean mengusap lengan Kama yang di sampingnya.


“Baik, ibu.” Ucap Hanna dengan senang hati.


“Bu, apa kau masih terus bekerja?” Tanya Kama sambil menuangkan saos di rotinya.


“Ya, kau tahu ibu tidak bisa hanya diam saja dirumah.” Jean mengambil buah apel dan mengupasnya.


“Tapi bu, kau ini sudah tua. Sudah waktunya untuk beristirahat. Segala keperluanmu akan aku penuhi.” Wajah Kama terlihat sedih.


“Kama, aku hanya ingin memiliki aktivitas. Kau jangan khawatirkan ibu, ingat Carlee juga butuh perhatianmu.” Lagi Jean mengusap lembut bahu Kama.


Hanna hanya menyimak percakapan mereka tanpa ingin mencampuri. Ia terus sibuk mengunyah roti isi daging.


“Apa kau bisa menghentikan perkataanmu ibu? Carlee hanya sebatas wanita murahan dan kau adalah ibuku!” Kama mendengus kesal.


“Kama, kau tidak boleh berkata seperti itu! Kau belum bisa memaafkan nya juga?” Jean menaikkan nada bicara lalu menurunkan nya lagi.


“Aku ingin beristirahat,” Ucap Kama ketus lalu pergi meninggalkan Hanna dan ibu angkatnya itu.


Raut wajah Jean terlihat begitu murung melihat reaksi Kama yang tak suka pada topik pembicaraan mereka. Ia berhenti megupas buah apel.


“Ibu, apa kau ingin makan buah itu? Sini biar aku kupaskan?” Hanna menarik buah itu serta pisau dari hadapan Jean. Namun, tangan Jean menghentikan nya.


Wanita paruh baya itu tersenyum dan berkata dengan lembut, “Tidak usah Hanna. Ibu tadi hanya ingin memberikannya pada Kama,”


Ibu Jean terlihat begitu tulus menyayangi Kama yang adalah hanya putra angkatnya. Batin Hanna.