The Other Side Of Kama

The Other Side Of Kama
Tanda



Happy Reading ❤️


“Ingin sekali aku menandaimu disana.’’ Kama menyentuh dada Hanna dengan telunjuk.


“Sebagai?” Tanya Hanna dengan lirikan nakal.


“Jika ada pria lain yang akan menyentuh di bagian sana, ia pasti akan mundur setelah mengetahui tanda yang diberikan oleh Tuan Kama yang terhormat.” Jawabnya angkuh.


“Kalau begitu berikan padaku.” Hanna melingkarkan tangan nya di leher Kama, kemudian membuka satu kancing kemejanya.


“My sexy cherry girl.” Kata Kama penuh gairah. “Malam ini hasratmu akan terpenuhi, kau tidak akan bisa pergi kemana-mana, my hottest girl.” Kama membuka kasar kancing baju Hanna yang sebagian masih tertutup.


“Um…” Suara lembut bergairah yang keluar dari mulut Hanna.


“Kau sebaiknya berpikir ulang terlebih dahulu sebelum aku melakukan nya.” Kama menatap nakal.


“Mengapa harus?”


“Aku pria yang tidak suka berbagi! Seterusnya jika malam ini hal itu akan terjadi padamu, maka aku akan mengikatkan rantai di leher dan kakimu, untuk selamanya kau hanya akan menjadi milikku seorang!” Kama mengarahkan mulutnya di samping leher sebelah kiri Hanna, sambil menelan ludah ia mengatakan hal itu.


Hanna merasakan hangat nafas yang kembali membangunkan bulu tipis yang tumbuh dileher, mengartikan sebuah gairah yang semakin mengebuh-gebuh.


“Rantaimu akan menjadi kalung dan gelang kaki terindah yang akan aku milikki.” Hanna merekahkan bibirnya.


Tanpa mengatakan apapun, Kama kembali memikul Hanna dan membawanya pulang kerumah ibu Jean. Dengan langkah cepat, seperti ingin segera memenuhi hasratnya yang selama ini ia tahan.


“Kama mengapa kau menggendong Hanna seperti itu?” Tanya Jean yang duduk menonton televisi.


Mendengar perkataan itu Hanna dan Kama menjadi sedikit salah tingkah dan gugup. Kemudian, secara spontan Kama menurunkan Hanna.


“Ibu tadi kaki Hanna hanya merasa sakit dan aku menggendongnya. Hanya itu saja,” Ucap Kama beralasan.


“Oh my God… what happened?” Jean menghampiri Hanna penuh khawatir lalu memperhatikan kaki mulus gadis itu.


“Ibu, aku tidak apa-apa, hanya sedikit merasa pegal.” Hanna menggerakkan kakinya memastikan bahwa ia baik-baik saja.


Kama mengapa malah mengarang cerita. Ibu Jean terlihat jadi cemas dan khawatir padaku.


“Kau yakin tidak apa-apa Hanna? Ibu akan memberi obat jika ada yang terluka.” Tanya Jean memastikan.


“Tidak bu, aku tidak apa-apa. Kau jangan khawatir ya.” Hanna meraih tangan Jean dan mengusapnya.


“Okay, bagaimana pemandangan di luar sana, Apa kau menyukainya?’’ Jean menarik tangan Hanna untuk duduk di sofa.


“Ya ibu, sungguh luarbiasa indah.” Hanna tersenyum manis dan duduk di samping ibu Jean.


“Kota Newyork memang menakjubkan jika malam hari tapi cukup dingin, bukan?”


“Ah tidak masalah bu, justru aku suka dengan udara disini.” Jawab Hanna.


Kama terlihat gelisah dan gusar, menahan gairah yang masih terus bergejolak. Ingin rasanya ia segera membawa Hanna ke kamar, namun tidak mungkin memotong pembicaraan ibu dan Hanna yang terlihat begitu asik.


“Kama apa kau tidak ingin duduk di sini?” Tanya Jean.


“Ibu, aku ingin beristirahat.” Kata Kama sambil menggaruk punggung leher.


“Baiklah, kau beristirahat saja, tidurlah yang nyenyak.”


Kama melirik ke arah Hanna seolah memberi kode agar Hanna juga mengatakan hal yang sama pada ibu Jean, namun Hanna dengan polosnya bertanya.


“Apa kau tidak merasa lelah seharian ini, Hanna?” Kama mengedipkan sebelah matanya.


“Tidak, aku tidak merasa lelah.”


“Hanna beristirahatlah, Kama sudah mengajakmu.” Suruh Jean yang seolah mengerti maksud Kama dari kedipan matanya.


“Baiklah ibu, selamat malam” Hanna bangkit dari duduknya dan mengucapkan salam.


Kama melangkah menaiki tangga terlebih dahulu, sampai ibu Jean terlihat begitu jauh dibawa sana. Dengan sigap, ia segera menggendong Hanna hingga membuat gadis itu sedikit terkejut. Ia membaringkan Hana di atas tempat tidur, lalu membuka kaos hitam yang ia kenakan.


Perlahan, Kama menaiki tempat tidur, membuka seluruh bagian kemeja Hanna, hingga terlepas semua. Kama meraih borgol di atas lemari kecil di samping tempat tidur.


Mata Hanna terbelalak.


Kama sudah merencanakan semua ini. Mengapa bisa ia menyediakan borgol untukku. Pikir Hanna.


Dengan nafas yang diburu, Kama merentangkan kedua tangan Hanna lalu menguncinya dengan borgol, masing-masing di ujung kepala tempat tidur yang ada kaitan nya.


“Kau siap melakukan permainan pertamamu?” Bisik Kama.


“Ya, tunjukkan permainan terbaikmu, Kama.” Tantang Hanna.


Kama tersenyum nakal, “Permainanku suka menjebak. Ia akan membawamu masuk dalam nikmatnya hingga kau menjadi canduh Hanna sayang.”


“Aku suka menjadi canduh Tuan Kama.”


Kama membuka seluruh bagian bawah yang Hanna kenakan, hingga hanya tersisa celana dalam yang hanya menutupi pangkal paha milik Hanna. Kama mengecup dua jarinya, lalu menelusuri setiap inci kulit mulus Hanna dengan kedua jari itu, dari bibir leher dan bagian dada.


“My sexy cherry girl,” Ucapnya dengan penuh penekanan.


“Beri aku lagi sentuhan itu.” Pinta Hanna penuh hasrat.


“Lebih dari itu akan aku berikan padamu.”


Malam ini akan menjadi peresmian bagimu, Hanna. Kau akan terus terikat dengan rantai dan borgol milikku seperti ini. Batin Kama sambil mengecup sebelah mata Hanna dengan lembut.


Hanna perlahan memejamkan matanya menikmati setiap kecupan yang diberikan Kama di bagian wajah dan lehernya.


Aku tidak tahu apakah ini kesalahan atau sebuah kenikmatan bagi seorang wanita yang belum menikah seperti aku. Tapi, Kama adalah pria yang sudah membuat aku jatuh ke dalam nikmat ini. Batin Hanna.


Kama melanjutkan penelurusannya di bagian leher dan turun ke dada dan memberikan bekas disana.


“Um…” Hanna mengerang pelan merasakan sesuatu yang menggigit kulitnya lembut.


Bibir itu kemudian turun hingga terhenti di pangkal paha. Lalu, tangan yang kekar mengusap-usap paha, yang sedikit mengeliat merasakan geli dan tangan itu pula kemudian merentangkan kasar kedua kaki Hanna.


“Kau haus?” Kama memisahkan kedua paha Hanna dengan meletakkan kakinya di tengah-tengah, lalu mendekati wajah gadis itu.


“Iya.” Jawab Hanna seolah memberi izin untuk Kama menikmati bibirnya yang sudah sedikit terasa kering.


“Aku suka wanita yang haus sepertimu.” Kama memberikan kecupan mesra dan menelusuri kedalaman bibir Hanna dengan lembutnya.


Malam itu, Hanna telah melepaskan kehormatan pada pria yang tidak pernah ia bayangkan sama sekali. Tanpa rasa bersalah atau takut, ia sudah memberikan harta yang paling berharga bagi wanita pada sosok yang dikenal monster berwajah malaikat dan berwatak seperti Lucifer.


Pria pertama yang berani mencium, menikmati setiap inci tubuhnya dan memberikan gairah yang dibalut kenikmatan, serta kehangatan yang belum pernah ia rasakan.


Ia tidur lelap hingga pagi. Menyandarkan kepala di dada bidang milik Kama. Tangan kekar Kama pun memeluk erat seolah, memberi arti bahwa ia tak ingin melepas Hanna walau hanya sejenak.