The Other Side Of Kama

The Other Side Of Kama
Trik cerdas ibu



Sementara, ibu yang di tinggalkan hingga larut malam, tak juga berniat untuk masuk ke dalam rumah. Ia berdiri di ambang pintu sembari memegang sapu panjang di tangan kirinya.


Awas saja kau Kama! Beraninya kau melawanku. Kalau sampai putriku itu tidak kau nikahi, maka kau akan aku patahkan dengan sapu ini! Omelnya dalam hati.


Melihat Kama dan Hanna yang berjalan bergandengan dari kejauhan, ibu segera memasang ancang-ancang untuk menghabisi Kama dengan sapu dapur berdebu miliknya.


“Ibu, mengapa dia memegang sapu begitu?” Hanna menghentikan langkahnya dan itu juga membuat langkah Kama ikut terhenti.


Kama menoleh, “Kau kenapa?”


Hanna menunjuk ke arah ibunya dari kejauhan, “Tuan sepertinya akan nada ronde kedua.”


“Maksudmu?” Kama ikut memperhatikan ibu Hanna.


“Kau tidak lihat? Ibu memegang sapu di tangannya. Habislah kau ataupun aku!” Hanna bermuka masam.


Kama tertawa kecil dan tiba-tiba memperagakan sang ibu, “Apa dia akan berteriak seperti ini, Hei kau! Jika kau tidak mau menikahi putriku, maka aku akan memukulmu!”


“Jangan mengolok-ngolok ibu, Tuan.” Hanna menahan tawanya di ujung bibir.


‘’Maaf. Hanya saja, ibumu itu sepertinya bukan wanita biasa saja.” Kama memandang ibu Hanna sembari tersenyum.


“Semua ibu, memang wanita yang luarbiasa.”


“Tidak juga!” Tukas Kama dan kemudian meneruskan langkahnya.


“Iya itu benar! Kau mau kemana Tuan, tunggu!” Hanna mempercepat langkahnya mengikuti Kama.


“Ahkirnya kalian pulang juga! Aku sudah tidak sabar ingin memukul bocah tengik ini dengan sapu!” Ibu Hanna melangkah cepat dengan wajah sebalnya dan hendak meluncurkan gagang sapu di tubuh Kama. Tapi, nasib tak berujung baik. Kakinya tersandung batu dan sedikit terkilir.


“Aw!!!... Kakiku…” Pekiknya.


Kama dan Hanna segera membantu ibu berdiri dan membopongnya untuk duduk di sebuah kursi di teras rumah.


“Bibi, kau tidak apa-apa?” Kama mencoba untuk memastikan kaki ibu terluka atau tidak.


“Ibu, lain kali harus lebih hati-hati. Makanya jangan suka cepat marah ibu.” Hanna mengelus kaki sang ibu.


“Kau malah menyukuri ibumu ini, hah?!” Ibu malah menaikkan nada suaranya.


Hanna mencibir diam-diam.


Ibu selalu saja begitu, darah tingginya naik setiap saat. Huu… susahnya.


“Hanna tolong ambilkan aku minyak urut.” Pinta Kama setelah mendapati tumit ibu yang sedikit lebam.


“Untuk apa Tuan?” Tanya Hanna.


“Ambilkan saja. Aku akan mencoba mengembalikan posisinya, sepertinya kaki ibu terkilir.”


Hanna tanpa sadar menyengir melihat kebaikan Tuan Kama.


Kau ternyata sangat hormat sekali pada orang tua dan kau berhati baik Tuan. Sejauh ini, aku hanya melihat kebaikanmu saja.


“Hanna, cepat ambilkan!” Kama mengeraskan suaranya, setelah melihat Hanna yang menyengir memandanginya.


“Ah iya! Maaf, aku akan segera mengambilnya.” Hanna berlari ke dalam rumah mengambil minyak urut.


Sementara, ibu masih terus merintih kesakitan.


“Aduhh kakiku, sakit sekali…”


“Bibi, tenanglah sebentar lagi aku akan membuatnya lebih baik,” Ucap Kama.


Ibu Hanna diam-diam memandangi Kama yang duduk bertekuk di hadapan kakinya sembari memijat pelan.


Sebenarnya tidak terlalu sakit. Tapi biar saja, aku ingin melihat bagaimana pria ini memperlakukan orang tua yang sedang sakit.


“Sepertinya kaki ku ini akan lepas, Ya Tuhan, aku baru saja ingin melihat putriku menikah…” Ibu mendramatisir keadaan.


Kama menunduk menahan senyum dan pura-pura tidak mendengar apa yang Ibu Hanna keluhkan.


Kama ini tampan sekali ya… Pantas saja putriku menyukainya. Kalau aku jadi Hanna mungkin akan sama, hehe… Batin ibu yang terus melirik diam-diam pada Kama yang duduk berlutut di hadapannya.


“Tuan, ini minyaknya.” Hanna memberikan sebotol minyak zaitun pada Kama.


Kama mengolesnya pada kaki yang terkilir dan mulai memijit dengan lembut, “Bagaimana Bibi, apa kakimu sudah lebih baik sekarang?” Kama memastikan.


Ibu sedikit batuk,wajahnya menahan gengsi dan senyumnya di buat seolah memaksa, “Ya sudah lumayan. Terimakasih.” Katanya sembari menarik kakinya dari Kama.


“Tuan kau pandai sekali, terimakasih sudah menolong ibu.” Hanna tersenyum manis seraya meletakkan minyak urut itu di atas meja.


Kama hanya tersenyum dan memilih duduk di kursi kosong di hadapan ibu Hanna.


Ibu Hanna menaikan satu alis memandangi Kama, “Kau mengajak putriku ini kemana?” Tanya nya tak ramah.


“Hanna mengajakku ke pantai Bi.” Jawab Kama.


Ibu memiringkan bibirnya dan membuang muka, “Kau ini! Kalau kau tidak tampan dan kaya, aku tidak mungkin mengizinkanmu menjadi kekasih putriku ini. Aku memutuskan untuk mengembalikan uang 100 jutamu itu.”


Kama mengerutkan kening, “Tapi, kenapa?”


“Enak saja! Apa kau pikir aku memberi gadisku ini karena uang 100 juta dan kau enggan menjadikan dia seorang istri? Kau enggan memberikan namamu di belakang namanya?” Nada bicara ibu terdengar cepat.


Setidaknya katakan saja kau ikhlas dengan uang itu. Sebenarnya sayang sekali di kembalikan, tapi ini demi putriku. Lagipula, kau ini sebenarnya terlihat begitu menyayangi putriku.


“Ibu sudahlah jangan membahas hal yang sama lagi bu. Kami ke sini untuk berkunjung bukan itu menikah.” Sambung Hanna.


“Tadinya memang iya, tapi setelah aku tahu bahwa kau dan dia sudah tidur dalam satu ranjang, jalan ceritanya jadi berbeda! Apa kau ini tidak punya malu? Ibu tidak akan meminta kalian untuk menikah dalam waktu dekat! Setidaknya setelah kau di wisuda.” Omel ibu semakin sulit di hentikan. Bahkan, bibirnya terlihat menjebik.


“Aku tidak tahu apa itu menikah,” Ucap Kama.


Hanna dan ibu terbelalak, “Apa?!” Mulut keduanya mengangak lebar.


“Apa yang salah? Aku memang tidak tahu menikah itu apa.” Kama berbicara santai.


“Kau dan Hanna menikah lalu menjadi suami istri lalu berbulan madu, maka turunlah Kama junior, oek oek oek!… Dan kalian bertanggung jawab membesarkan mereka dalam istana cinta kalian.” Jelas Ibu seraya berdiri memperagakannya dengan gerak-gerik.


Hanna tertawa geli menutup mulutnya, “Ibu sudahlah. Kau membuat aku ingin tertawa.” Apalagi, ibu Hanna memakai banyak roll rambut di kepalanya.


“Anak? Aku tidak tahu bagaimana menjadi orang tua.” Kama duduk menyilangkan kaki.


“Kau tahu cara membuatnya tapi tidak mendidiknya? Dasar payah! Sudahlah, menjadi orang tua itu tidak ada sekolahnya! Kau hanya perlu menikahi Hanna, dengan begitu kalian akan bisa sendiri nantinya.” Celoteh ibu geram.


Ibu mendekati Kama yang duduk bersilang kaki, ia membungkuk, mendekatkan wajahnya pada Kama. Ya! Karena di posisi duduk, Kama jadi lebih pendek dari ibu, “Apa kau ingin Hanna di nikahi pria lain?” Wajah ibu menganalisa bak seorang detektif.


Kama menggeleng cepat.


“Baik. Coba kau bayangkan, Hanna yang adalah cintamu ini, tangannya di gandeng pria lain. Pinggangnya yang ramping dan seksi itu di rangkul oleh tangan pria lain dan bibirnya yang kecil mungil merah mereka akan---" Ibu menggerak-gerakkan tangannya seperti menari di hadapan Kama.


“Ibu sudah cukup!”


Ibu membuatku malu saja, Ya Tuhan dia sekarang seperti seorang marketing yang berilmu hipnotis.


“Tidak Bi!” Kama bangkit berdiri dan tanpa sadar berteriak.


“Kau tidak mau, bukan? Putriku ini banyak yang mengantri.” Ibu melebih-lebihkan.


“Hanna itu hanya milikku Bi!” Tekan Kama.


“Lalu bagaimana?” Ibu menggerakkan kedua alisnya dan tersenyum genit.


Kama menghela napas tajam, “Bibi aku mohon jangan berikan Hanna pada pria lain.” Kama bertekuk lutut di depan ibu.


“Tuan jangan seperti itu. Ibu ini kenapa?!” Hanna terdengar sebal.


“Ssstt!...” Ibu mengedipkan sebelah mata, “Pria berkuasa sekalipun, akan bertekut lutut jika cinta.” Bisik sang ibu pada Hanna. “Hei Kama! Aku ini tidak akan memberikan putriku pada pria lain, hanya saja jika kau mau---‘’ Ibu tak sempat melanjutkan perkataannya.


“Baiklah, aku akan menikahi Hanna setelah dia wisuda.” Kalimat Kama terdengar begitu cepat.


Hanna bergetar dan jantungnya berdetak kencang.


Apa Tuan Kama sekarang sedang di rasuki Jin, hingga dia berkata seperti itu. Ini sungguhan atau aku bermimpi?


“Ya ampun! … Aku sangat yakin kau mencintai putriku ini dan tak mau kehilangannya.” Ibu membantu Kama berdiri dan duduk di sebelahnya.


“Kalau begitu, setelah Hanna wisuda kalian akan segera menikah.” Raut wajah ibu begitu bahagia, ia sampai-sampai memberikan kopinya pada Kama untuk di minum.


“Tuan, kau mengatakan apa?!” Hanna masih tidak begitu yakin.


“Setelah bertemu dengan Carlee, aku juga berniat untuk membicarakan tentang ini padanya.” Jawab Kama yakin.


“Siapa Carlee?” Ibu terlihat bingung.


“Ibunya Tuan Kama,” Jawab Hanna sekedar.


“Mengapa kau menyebut namanya, hah?! Menurut budaya kami, itu tidak sopan! Panggil saja dia ibu!” Omel ibu pada Kama.


Hanna dan Kama diam membisuh dan saling pandang. Tentu saja Kama tak mungkin menceritakan siapa ibunya. Wanita yang paling ia benci. Kalau saja Hanna tidak memaksanya untuk ke sana, mungkin Kama tidak akan mau. Namun, dirinya tidak ingin membuat Hanna kecewa.