
Kama mengajak Hanna untuk kembali ke kantor, tanpa memperdulikan perut kosong sekretaris barunya itu. Karena, ia tidak makan sedikit pun selama menemani Tuan Kama.
"Malam ini aku inginkan seorang wanita muda, seksi dan menggoda. Kau harus mendapatkannya sebelum matahari terbenam," Kama duduk di sofa ruangannya sambil menyilangkan kaki.
Hanna yang berdiri di hadapan hanya menunduk dan menahan agar suara perut kosongnya tidak sampai terdengar.
"Apa kau ini tuli!" Bentak Kama yang geram karena Hanna tidak merespon nya.
"Iya Tuan, saya akan carikan sesuai dengan permintaan Tuan." Jawab Hanna dengan nada yang cepat.
"Pelankan suaramu! Apa kau tidak ingin hidup lagi?!" Kama membesarkan bola matanya menatap Hanna.
Spontan Hanna memandang wajah pria bengis itu.
Rupawan, mempesona, dan penuh kuasa. Dia sempurna. Batin Hanna yang mulai terpesona akan daya tarik yang di miliki oleh Tuan Kama.
"Mengapa kau memandang ku seperti itu, hah?!" Kama mengeraskan suaranya.
"Bukan apa-apa Tuan. Saya hanya merasa Tuan Kama itu sangat tampan dan kaya raya, tapi mengapa tidak mencari pendamping hidup saja?" Ceplos Hanna.
Apa yang aku katakan barusan. Bisa-bisa Tuan Kama menyambarku seperti petir. Hanna mengigit bibirnya karena sudah sembarang bicara.
Kama merentangkan tangan nya bersandar pada sofa dan memandangi Hanna yang masih mengigit bibirnya. "Jangan mainkan bibirmu di hadapanku!"
"Baik Tuan. Maafkan saya, jika bertingkah tidak sopan." Hanna menundukkan kepala lagi.
Bola mata Kama kini tidak ingin melihat ke arah yang lain. Selain, pada wanita yang ada di hadapan nya sekarang.
"Jika kau tidak bisa menemukan wanita yang bisa memuaskan ku malam ini. Maka kau akan mendapat hukuman! Kama menghampiri Hanna dan menyentuh dagunya lembut.
"Baik Tuan."
Bagaimana aku bisa menemukan perempuan seperti itu. Ya ampun, aku tidak mungkin menjual sesama wanita. Ini bukan pekerjaan seorang mahasiswa yang baik. Bagaimana jika ibu tahu.
Kama tersenyum miring,
Sepertinya wanita ini punya nyali besar.
"Hanna," Panggil Kama.
"Iya Tuan,"
"Apa kau berpikir jika malam ini aku ingin tidur dengan seorang wanita?" Kama memasukan kedua tangan nya ke dalam kantung celana.
Hanna hanya membisuh bingung.
Bukan nya tadi dia mengatakan bahwa ia inginkan wanita seksi dan menggoda untuknya malam ini.
Kama membelakangi Hanna, "Haha, aku bisa saja setiap hari tidur dengan wanita yang aku mau. Tapi, ada beberapa wanita yang kurang beruntung, haha..."
"Maksud Tuan?" Tanya Hanna semakin bingung.
"Haha... Aku mengurungkan niatku. Malam ini, aku ingin kau menemaniku." Kama berbalik menghadap Hanna dengan tangan yang masih tetap di dalam kantung.
"Apa?! Maksud saya, Tuan inginkan saya untuk---" Mata Hanna terbelalak.
"Haha... Jangan merasa beruntung Hanna. Aku sama sekali tidak tergoda untuk tidur denganmu. Hanya temani saya bersenang-senang malam ini di sebuah club malam," Kama kembali duduk di sofa dan menyilangkan kaki.
Aku tertantang dengan ucapan pria ini. Dia katakan bahwa ia tidak tergoda untuk tidur denganku... dan selama menjadi sekretaris nya aku tidak boleh menaruh perasaan apapun padanya. Apakah seorang Tuan Kama tidak bisa jatuh hati.
Pria sempurna yang menyakitkan ini, cukup membuat hatiku menggelitik penasaran akan kelemahan nya.
"Baik, saya akan datang tepat waktu. Mohon Tuan beri tahu saya alamat club itu," Jawab Hanna berani.
Kama kembali tersenyum miring. Tatapan dingin yang cukup membuat darah semua orang beku tak berdaya ketika melihatnya. Tapi hal itu justru menjadi tantangan baru untuk Hanna. Ia kini miliki rasa penasaran yang teramat tinggi pada pria bermata coklat itu.
***
"Siapa Kama Alfredo, pria yang ditakuti semua orang," Ucap Hanna sembari berbaring di tempat tidur membuka buku usang milik Kama yang ia bawa pulang.
Lembar pertengahan kertas ada banyak gambar seperti tali, borgol, cambuk bahkan alat mengerikan lain nya.
"Apa yang Kama maksud dengan semua ini," Wajah Hanna menjadi lebih serius.
Ia meraih laptop yang terletak di meja, "K a m a A l f r e d o." Hanna mengetik nama itu di internet.
Semua gambar bermunculan. Mulai dari foto Kama sewaktu kecil dan dia yang sekarang. Tertulis jelas tentang biodata pria berhidung mancung tersebut.
"C a r l e e." Kemudian Hanna kembali mencari sumber informasi tentang nama itu. Namun, tidak menemukan apapun.
"Ah mungkin saja Lina." Hanna tak ingin menyerah.
Namun, hasilnya sama saja. Nama Lina pun tidak ada hubungan nya dengan Kama. Tapi tetap saja hal itu membuat Hanna masih menyimpan rasa penasaran terhadap dua orang wanita yang tertulis dibuku Kama.
"Hei Han, aku pulang!..." Azel tiba-tiba datang.
Hanna buru-buru membereskan laptop serta buku itu, "Iya Zel." Jawabnya datar.
Azel mengerutkan keningnya, "Ada apa denganmu?"
"Malam ini Tuan Kama mengajakku pergi." Hanna bangkit dari tidurnya dan duduk bersandar pada tempat tidur.
"Apa?! Kalian berkencan?" Azel tersentak.
"Bukan, sebagai sekretarisnya aku harus selalu menuruti apa maunya," Hanna mengambil segelas minum di atas meja kamar.
"Ini kan di luar jam kerja dan kau hanya sekretaris magang Han," Wajah Azel mulai terlihat cemas.
Hanna meneguk air putih itu, "Apapun perintah atasan harus tetap terlaksana. Ini demi tugas akhir kuliahku,"
"Sebenarnya, aku belum pernah bertemu langsung dengan pria yang bernama Kama. Tapi, yang aku dengar dia itu pria yang kejam." Ujar Azel.
Hanna tersenyum membayangkan sesuatu, "Rupawan, mempesona dan penuh kuasa. He is almost perfect,"
Azel memperhatikan wajah Hanna yang memerah, "Han?..."
Tok...tok...tok
Terdengar suara pintu di ketuk, membuat Azel dan Hanna saling bertukar pandang.
"Biar aku saja yang buka." Azel bergegas membuka pintu.
Krek...
Pria dengan kaos ketat berwarna biru gelap, berdiri membelakangi Azel.
"Maaf, siapa?" Azel berusaha mengenali pria di depan nya.
Kama berbalik badan. Lekuk tubuh yang sempurna terlihat jelas terbentuk dengan kaos yang ia kenakan. Hidung yang dapat membelah buah apel dan bola mata coklat yang bisa melancarkan peredaran dan detak jantung para wanita ketika di tatap olehnya.
Ini kan Tuan Kama yang tampan itu.Ya Tuhan... mengapa dia lebih tampan yang asli dari pada di foto majalah atau internet.
"Apa yang kau lihat?!" Tanya Kama membubarkan lamunan Azel.
"Tu -tu -tuan Kama?" Azel gugup dan bingung.
Hanna tiba-tiba berdiri di belakang Azel dan menyita seluruh pandangan Kama.
"Hanna..." Panggil Kama lembut
"Tuan Kama... bagaimana bisa Tuan kemari? Harusnya saya yang menemui Tuan." Hanna menghampiri Kama yang masih ada di luar pintu.
"Jangan banyak bicara! Ambil tasmu dan segera masuk ke mobil!" Kama seketika menjadi galak lagi dan masuk ke dalam mobil yang terparkir di halaman kosan.
Bergegas Hanna mengambil tasnya dan menyusul Kama tanpa memperdulikan Azel yang masih melamun dan tidak menyangka atas apa yang ia lihat barusan.
Rupawan, mempesona dan penuh kuasa. Batin Azel pula yang larut dalam pesona atas Kama.