
Suasana pagi yang sejuk dengan nafasnya yang segar membuat mata ingin terus memejam.
Hanna yang lupa akan barang-barang yang harusnya sudah siap di susun ke dalam koper, terbangun tersentak. Ntah karena otaknya menotifikasi bahwa, ia harus segera bersiap.
“Astaga aku sama sekali belum berkemas. Mengapa bisa ketiduran seperti ini,” Gerutunya.
Ia bangkit dari tidur dengan rambut berantakan dan mata yang masih terus sayu. Sambil terus menguap, Hanna menyusun segala keperluan nya kedalam koper.
“Hei! Kau berisik sekali, bisakah kau sedikit tenang?” Suara Kama yang kesal akibat aktivitas Hanna yang membubarkan mimpinya tak sopan.
“Maaf Tuan, aku hanya sedang berkemas. Bukankah hari ini kita akan terbang ke Newyork pagi-pagi sekali?” Ucap Hanna mengingatkan.
Mendengar itu Kama terburu-buru bangkit dari tidurnya, mengusap kasar wajah dan juga rambutnya. “Mengapa kau tidak berkemas sejak kemarin, hah?!”
‘’Aku ketiduran dan lupa. Tenang saja Tuan, ini sudah hampir siap.” Kata Hanna sambil mengunci kopernya.
“Dasar lamban!” Kama mengambil sebuah handuk bersiap untuk mandi.
“Memangnya Tuan sudah berkemas?” Tanya Hanna.
“Aku tidak perlu menyiapkan apapun. Segala keperluanku nantinya akan terpenuhi sendiri.” Jawabnya angkuh dan menyosor masuk ke kamar mandi.
Hanna menggeleng heran, “Enak sekali jadi dia. Bayangkan, bahkan untuk keperluannya semua sudah siap dengan sendirinya.
"Jika bertanya pada orang lain, siapa Tuan Kama? Maka semua akan menjawab dengan getar ketakutan, Tuan Kama adalah orang yang paling di hormati di abad ini.” Hanna memperagakan bagaimana orang-orang biasanya akan menjawab pertanyaan yang sama.
“Hei jangan meledekku dari belakang!!!” Teriak Kama dari dalam kamar mandi.
Hanna menutup mulutnya dengan tangan.
Bagaimana dia bisa tahu bahwa aku sedang meledeknya. Harusnya suara shower lebih berisik dari pada aku. Dia punya telinga lebar seperti gajah.
“Ya, telingaku memang lebar. Jadi hentikan celotehmu itu lamban!” Teriak Kama lagi.
“Iya, iya.” Hanna menjawab dengan suara keras.
‘’Berkemaslah! Mandi, kau begitu bau.” Ucap Kama dengan suara yang seperti sedang menyikat gigi.
“Bagaimana aku akan mandi, kau saja memakai kamar mandi Tuan,”
“Disini ada banyak kamar mandi yang bisa kau gunakan, bukan? Atau jika kau ingin mandi bersamaku, silakan saja. Tapi aku pastikan kau harus menggosok punggung juga kakiku haha…” Ucap Kama sebelum akhirnya suara air menenggelamkan suaranya.
Huu… Yang benar saja jika harus seperti itu. Batin Hanna.
“Aku sudah selesai. Jika kau ingin mandi, jangan lambat! Kau tahu jam 09.00 tepat pesawat akan segera berangkat.” Kata Kama yang hanya mengenakan handuk kecil menutupi bagian bawahnya.
Lagi-lagi Hanna menelan ludah melihat tubuh sempurna Tuan Kama, ditambah dengan rambut yang basah, serta beberapa tetes air yang belum di keringkan mengaliri dadanya yang seksi.
“Kau ini selalu tergoda jika melihatku seperti ini?” Kama mendekati Hanna.
“Tidak Tuan, kau terlalu berlebihan.” Hanna mencoba mengalihkan pandangan.
Dan Kama mengetahui tingkah Hanna yang terlihat gugup, membuatnya semakin ingin menggoda wanita itu. Ia semakin mendekat, lalu menempelkan telapak tangan Hanna di dadanya. Matanya menatap sayu penuh kenakalan seolah ingin membuat Hanna kaku tak berdaya.
“Kau suka dengan dadaku?” Godanya.
“Mengapa kau menunduk Hanna? Jika ingin menyentuhku, kau sudah mendapat kesempatan ini. Jadi nikmatilah,” Kama mencoba menatap mata Hanna yang tertunduk.
“Tuan aku ingin mandi, jadi lepaskan tanganku.” Hanna berusaha menarik tangannya.
Kama malah tidak memperdulikan perkataan Hanna. Ia malah mengarahkan tangan Hanna untuk menyentuh bagian perut yang berbentuk seperti roti sobek. Matanya tak ingin dia alihkan dari Hanna dan tangan kirinya merangkul lembut leher Hanna, mendongakkan kepala Hanna ke atas.
“Look at me, Hanna.” Bisiknya dengan nafas hangat yang sengaja ia hembus ke area bibir Hanna.
Dia sudah merasuki aku. Kiss me Kama please… untuk yang kesekian kali. Batin Hanna.
Bak sudah terhipnotis begitu jauh, mata Hanna menatap lembut sambil merekahkan bibirnya seolah memberi lampu hijau pada Kama untuk menikmati bibir cherry miliknya lagi.
‘’Aku haus. Give me your lips.” Kama menyentuh bibir bawah Hanna dengan ujung jari jempol.
“Kau bisa lakukan itu Kama,” Ucap Hanna untuk pertama kali hanya menyebut nama.
Kama tersenyum tipis lalu menyelipkan sebagian rambut Hanna ke telinga, “Kau ingin aku mandikan?” Tanya nya nakal.
Mata Hanna membesar mendengar perkataan spontan dari Kama yang secara frontal menanyakan hal itu.
“Aku belum melihat semua bagian terindah di tubuhmu. Akankah aku bisa melihatnya hari ini?” Kama memperhatikan kedua bola mata Hanna.
“Kita belum menikah,” Ceplos Hanna dengan polosnya.
Kama tertawa kecil, “Haha… untuk apa sebuah pernikahan? Kau adalah milikku tanpa itu. You are my b*tch, you know?”
Hanna tersentak dan melepaskan tubuhnya menjauh dari Kama, “Aku bukan wanita di luar sana yang hanya bisa kau gunakan sebagai jal*ngmu!”
“Haha… Kau menikmati setiap ciuman yang aku berikan di bibir dan lehermu? Kau tidak perlu menutupi hasrat keinginanmu itu, Hanna.” Ucap Kama remeh.
“Itu hanya… Tapi, tetap saja kau tidak boleh hanya menjadikan aku sebagai wanita pemuas nafsu buasmu seperti yang lain nya!”
Kama mendekatkan diri lagi, “Apa kau lupa? Aku pernah berkata bahwa aku tak inginkan perempuan jal*ng lagi setelah aku memilikimu?”
“Jadi, kau inginkan aku mengganti tugas mereka?” Kening Hanna mengerut.
“Haha… bukankah kau seharusnya senang karena sudah aku jadikan satu-satunya?” Kama membuka handuknya dihadapan Hanna.
Hanna tersentak menutup mata dan berbalik membelakangi Kama, “Hei mengapa kau membukanya dihadapanku Tuan, apa kau tidak punya malu, hah?!”
“Suatu saat kau akan melihat semua tanpa menutup mata.” Ujar Kama.
Hanna hanya mengabaikan nya begitu saja dan bergegas menuju kamar mandi sambiil terus berusaha untuk tidak melihat sedikitpun kearah Kama. Sementara Kama, ia tersenyum tipis setelah membuat Hanna menjadi salah tingkah.
Berapa menit setelahnya, Hanna mengendap-endap keluar dari kamar mandi. Ia berusaha untuk memastikan apa Kama ada dikamar, karena Hanna hendak memakai baju.
“Ah… syukurlah dia tidak ada. Jadi, aku bisa bebas memakai baju.” Hanna buru-buru meraih pintu dan menguncinya.
Seperti dalam sebuah perlombaan, ia bersiap diri hanya dalam berapa menit. Ia memakai celana jeans serta kemeja yang kancingnya sengaja dibuka, memperlihatkan baju dalam berwarna hitam ketat, hingga lekuk tubuh bagian dadanya terbentuk indah. Rambut sebahu berwarna pirang coklat kekuningan tergerai rapi, tidak lupa pemerah bibir yang ia poles tipis dibibir menambah cantik wajah manis Hanna.
Dengan segera ia turun, menarik kopernya yang beroda hendak menghampiri Kama.
“Dia pasti sudah bersiap dibawah,” Ucapnya sembari mulai melangkahkan kaki.