
Sebuah kamar yang sangat luas dengan cat berwarna putih dengan sedikit gambar dinding bercorak batik bunga. Tempat tidur ukuran big size lengkap dengan televisi, sofa, lemari pakaian yang cukup besar di sudut dinding kamar, jendela kaca yang luas serta tirainya yang terbentang dan pendingin ruangan membuat ruangan kamar itu terasa begitu nyaman.
Kama membaringkan ibunya di tempat tidur dan menarik selimut untuk menutupi tubuhnya. Itu membuat Carlee semakin tersentuh dengan sikap Kama padanya.
Putraku tidak pernah seperti ini. Dulu, ketika aku mabuk dan pingsan, ia sama sekali tidak peduli padaku. Tapi, apa yang membuatnya memiliki belas kasih sekarang. Apakah gadis itu?
“Kau beristirahatlah.” Kama hendak pergi, namun Carlee menahan tangannya.
“Tunggu Kama.” Katanya.
Kama menoleh, “Kau butuh sesuatu?”
“Tidak. Ibu ingin mengucapkan terimakasih. Apa kalian akan tetap menginap di hotel malam ini?” Wajah Carlee memelas.
Kama menelan ludahnya pelan. Ia memperhatikan Carlee yang terbaring karena sakit kepala, itu membuat Kama menjadi luluh dan tidak tega pada Carlee untuk pertama kalinya. Sebenarnya, Tuan Kama tidak menyadari perubahan sikapnya terhadap orang-orang. Pertama pada ibu Hanna dan kemudian itu membuat ia berbelas kasih pada Carlee.
“Tidak, aku dan Hanna akan tetap menginap disini.” Jawab Kama.
Carlee tersenyum lega, saat ini ia merasa ingin lebih lama bersama putranya. Walau, itu belum mengurungkan niatnya untuk menghancurkan pernikahan Hanna dan Kama. Karena menurutnya Hanna hanyalah gadis biasa.
“Itu lebih baik. Ini adalah rumahmu, jadi jangan menginap di hotel.”
Kama mengangguk acuh dan berniat untuk segera meninggalkan sang Ibu. Sorot mata Kama kian lembut menatap sang ibu.
“Kama, ibu tersentuh dengan sikapmu.” Spontan Carlee mengungkapkan isi hatinya.
Kama tetap bergeming. Ia melirik sejenak sebelum akhirnya melangkah pergi. Kama berniat untuk menemui Hanna yang saat ini sedang sibuk di dapur.
“Hanna, kau terlihat repot sekali.” Suara Kama dari belakang mengejutkan Hanna yang tengah sibuk dengan spatula.
“Tuan, kau mengejutkanku.” Katanya jengkel.
“Maaf. Kau ini masak apa, hah?” Kama memperhatikan sesuatu yang ada di dalam kuali.
“Aku ingin masak semur ayam Tuan, Bibi pasti akan suka.” Hanna terdengar begitu percaya diri.
“Kau bersemangat sekali.” Kama menatap heran.
“Tentu saja! Dia akan jadi calon mertuaku, bukan? Aku senang bahwa Bibi begitu cepat menyetujui hubungan kita, walau di awal dia sangat tidak menyukaiku.”
Kama tersenyum kagum pada calon istrinya, ia memandang dalam pesona seraya berpangku tangan.
“Di mana Bibi? Sebentar lagi semur ayamnya akan matang.”
“Di kamarnya, ia sedang tidak enak badan jadi aku membawanya ke kamar untuk beristirahat.” Ceplos Kama.
Hanna terkejut dengan apa yang baru saja Tuan Kama ucapkan, spontan ia memandang kagum pada pria tampan itu, “Kau membawanya ke kamar?” Menatap tak percaya.
“Tentu saja! Mana mungkin aku biarkan dia begitu saja. Tadi dia merasa begitu pusing, jadi aku tidak tega melihatnya seperti itu.” Kama semakin tidak sadar ketika menyatakan rasa khawatirnya pada Carlee.
Hanna semakin tersenyum lebar memandang Kama.
Tuan, kau melakukan itu pada ibumu. Aku sangat bahagia mendengar ini dan ini semakin membuatku bersemangat untuk mendamaikanmu dan dia.
Kama melambai-lambaikan tangannya di wajah Hanna yang bengong, “Hei Hannaku!” Katanya setengah berteriak.
“Ah, iya Tuan. Maaf aku hanya terkagum-kagum dengan sikapmu pada Bibi.”
Kama menahan gengsi diwajahnya dan ia baru saja menyadari apa yang baru saja ia ceritakan pada Hanna adalah benar isi hatinya, “Apa kau sudah selesai? Matikan apinya, kau bisa membakar rumah ini.”
“Astaga! Aku hampir saja lupa.” Hanna segera mematikan kompornya, lalu menuangkan makanannya di piring yang sudah ia siapkan.
“Pelayaaan!” Teriak Kama. Seketika seluruh pelayan menuju dapur.
Kama menelan ludahnya, “Mengapa kalian semua datang menyerbu?” Tanya nya heran karena seluruh pelayan sekejap tiba di dapur.
“Tapi Tuan memanggil kami.” Jawab salah seorang.
“Tapi, aku hanya butuh tiga orang saja. Memangnya kalian ingin berdemo?!”
“Maaf Tuan, kalau begitu siapa yang Tuan tunjuk?” Tanya mereka.
“Terserah! Aku hanya butuh tiga orang saja, kalian paham?! Dan jangan bertanya lagi!” Kama menaikkan intonasi bicaranya.
“Baiklah Tuan.” Beberapa orang dari mereka pergi dan hanya tersisa tiga orang sesuai dengan permintaan Tuan Kama.
“Kalian semua, bantu Hanna menata makan malam di meja!” Perintahnya.
“Baik Tuan.” Jawab mereka serentak dan langsung melaksanakan apa yang Kama suruh.
Beberapa menit kemudian, hidangan sudah tertata dengan rapi di meja makan. Kama dan Hanna juga sudah duduk diam menunggu sang ibu turun dari kamarnya.
Ini akan menjadi sejarah bagi Tuan Kama, untuk pertama kalinya ia makan malam bersama Carlee. Tidak perlu di bujuk, ntah apa yang membuat ia mau melakukannya.
Carlee menuruni anak tangga. Tanpa sadar tersenyum memandangi putranya yang sudah menunggu. Namun, senyum itu memudar ketika ia melihat Hanna juga ada disana.
“Kalian sudah lama menunggu?” Carlee mengambil posisi duduk di kursi utama meja makan yang terbilang panjang.
“Ah tidak Bibi.” Jawab Hanna begitu ramah.
Carlee memasang wajah acuhnya pada Hanna, karena yang ia harapkan adalah jawaban dari sang putra bukan gadis yang tak ia sukai itu.
“Bibi, memasak semur ayam untukmu. Aku harap kau menyukainya.” Kata Hanna lagi.
Carlee tersenyum paksa, “Tentu saja aku akan suka.” Katanya berlagak manis di hadapan Kama karena ia tidak ingin mengacaukan makan malam bersama putranya itu.
Sungguh medengar masakannya saja sudah begitu memuakkan! Dasar gadis kampung!
Hanna menuangkan nasi untuk Carlee, Kama dan juga dirinya.
“Jangan teralu banyak, Bibi tidak ingin gendut,” Ucap Carlee.
Perutku ini akan menolak masakannya!
Mereka mulai menikmati makan malamnya. Hanna terlihat begitu antusias saat itu, ia merasa bahagia melihat Tuan Kama dan ibunya akhirnya makan malam bersama. Sedangkan Kama hanya diam, seakan ingin fokus menikmati masakan Hanna.
Ternyata masakan gadis ini enak juga. Batin Carlee seraya terus mengunyah. Rasanya ia ingin sekali menambah setelah merasakan nikmatnya masakan Hanna, tapi tidak mungkin untuk jujur.
“Bagaimana Bibi apa kau suka dengan masakanku?” Tanya Hanna penasaran.
“Ya, aku sangat menyukainya.” Jawab Carlee terpaksa kemudian menoleh ke arah putranya. “Putraku, apa kau tidak ingin menambah?”
“Tidak Bu, aku sudah kenyang.” Jawab Kama spontan sambil membersihkan tangan dan mulutnya.
Dia menyebutku ibu lagi.
“Kau hanya makan sedikit, apa bisa kenyang?” Tanya Carlee lagi.
“Aku tidak suka makan banyak ketika malam.”
“Oh iya? Ibu baru tahu jika kau tidak suka makan banyak ketika malam. Ibu akan mencatat ini.” Carlee terlihat begitu bersemangat.
Hanna tersenyum memandangi ibu dan anak yang mulai membicarakan satu sama lain.
“Hanna, apa kau sudah selesai dengan makanmu?” Kama mengabaikan sang ibu.
“Kalian mau kemana? Jangan terburu-buru beranjak dari meja makan.” Sambung Carlee. Ia berharap agar punya waktu lebih banyak bersama Kama.
“Bibi benar Tuan. Kita mengobrol saja dulu.” Hanna mengedipkan satu mata pada Kama.
Kama menghela napas dalam. Ia terlihat pasrah dengan kemauan Carlee yang di dukung oleh Hanna.
“Kama, bagaimana pekerjaanmu? Apa semua baik-baik saja?” Carlee seakan-akan ingin terus memulai kedekatannya.
Kama memandang ibunya begitu dalam. Ia menelan ludahnya pelan mendengar pertanyaan sang ibu yang belum pernah ia dengar sebelumnya.
Untuk pertama kali, ia menanyakan tentang pekerjaanku.
“Semua baik-baik saja.” Jawab Kama ketus.
“Syukurlah jika seperti itu. Ibu harap, kau bisa menjaga kesehatanmu ya.” Pernyataan ibu meluluhkan lagi hati Kama yang selama ini keras.
Kama hanya mengangguk pelan.