
Tuan Kama tersenyum sendiri setelah berhasil menjahili calon istrinya malam itu. Ia duduk di ujung tempat tidur setengah membungkuk sembari membayangkan bagaimana Hanna menitikkan air mata haru ketika dilamar.
Ia tidak pernah merasakan jatuh cinta sebelumnya. Bahkan, sekeras hati yang Tuan Kama punya ia juga manusia normal yang pasti bisa merasakan gejolak cinta. Inilah waktunya, waktu dimana Tuan Kama menemukan wanita yang tepat di penghujung jalannya. Seorang gadis cantik mungil, yang baru menjadi sekretaris magangnya tapi sudah berhasil membolak-balik hatinya yang sekeras baja.
Tuan Kama setengah berteriak, “Hanna, aku mencintaimu!” Ia menutup wajahnya dengan kedua tangan lalu membukanya lagi. “Hanna, kau sudah membuat aku gila! Tidak sopan sekali, kau membuat Tuan Kama seperti ini!” Berteriak lagi.
Tidak peduli seorang akan mendengar suara Tuan Kama, ia seakan ingin membuat seluruh dunia tahu bahwa Hanna adalah wanita yang dia cintai.
Kama merebahkan tubuhnya kasar dan tersenyum memandang langit-langit. Dia seorang pria, tetapi ketika sudah jatuh cinta pepatah akan benar. Raja sekalipun akan terlihat bodoh dan gila.
“Tuan,” Panggil seorang pelayan yang masuk tanpa mengetuk.
Kama tersentak dan bangun, “Hanna,” ucapnya. Ya, dia berharap yang datang adalah Hanna.
“Bukan Tuan. Maaf mengejutkan anda.”
“Ada perlu apa?” Wajah Kama berubah menjadi tegas setelah tahu yang datang hanyalah seorang pelayan.
“Ada banyak wartawan yang datang berbondong-bondong di depan rumah,” kata pelayan itu.
“Apa?! Mengapa bisa?”
“Saya tidak tahu Tuan. Tapi, sepertinya mereka mengetahui bahwa Tuan Kama akan segera menikah.”
Bedebah! Mengapa bisa cepat sekali tersebar. Mereka datang dari Singapura hanya untuk meliput masalah pribadiku. Tapi, aku akan umumkan bahwa Hanna adalah miliku. Jadi, tidak akan ada seorangpun yang akan mendekat padanya. Kama tersenyum.
“Tuan, apakah anda baik-baik saja?” Pelayan itu melambai-lambaikan tangannya mencoba untuk menyadarkan Tuan Kama yang terlihat bengong.
Kama mengabaikan pelayan itu. Ia melangkah begitu bersemangat hendak menemui para wartawan yang berkumpul didepan rumahnya, tepatnya di depan pagar karena Carlee melarang mereka untuk menginjak halamannya.
“Hei kalian! Mengapa menyerang rumahku seperti ini! Ini sudah malam sebaiknya pergi dan biarkan aku tenang!” Carlee berteriak geram mengusir para wartawan yang sedari tadi tidak ingin beranjak dari sana.
“Aduhh!... Kepalaku hampir saja pecah.” Carlee memengangi dahinya, wajahnya begitu kusut menghadapi keramaian itu.
“Nyonya, apa anda baik-baik saja?” Seseorang bertanya.
“Ah kau, sebaiknya cepat usir mereka dari rumahku.” Carlee hendak meninggalkan teras namun, ia berpapasan dengan Kama.
“Ibu, biarkan saja mereka disini,” ucap Kama.
Dia sekarang mulai terbiasa menyebutku ibu. Sungguh ini membuatku ingin menangis.
“Kama, mengapa wartawan itu seperti ingin berdemo,” Gerutu Carlee.
“Akan aku hadapi.” Kama melangkah mendekati para wartawan itu.
“Tuan, apakah benar kau akan segera menikahi sekretaris magangmu itu?”
“Tuan, kapan akan direncanakan pernikahan kalian?”
“Apa benar gadis itu bernama Hanna?” Mereka bertanya tak sabar.
“Kalian benar. Aku mencintai gadis yang bernama Hanna dan akan segera menikah dengannya sebulan lagi setelah ia wisuda.” Kama terdengar percaya diri.
“Mengapa anda memilih wanita itu? Apakah tidak ada wanita lain dan Tuan adalah pria yang dikenal tidak pernah bisa jatuh cinta, jadi apa yang membuat gadis itu special dimatamu?”
Carlee terlihat masam mendengar perkataan putranya.
Apa yang dia bicarakan ini! Apa dia akan menaikkan gaji para pekerja?
“Mulai saat ini, para karyawanku akan aku beri tunjangan lebih. Aku juga akan memberikan bantuan bagi putra-putri mereka di jenjang pendidikan.”
APA?! Apa Kama pikir dia sedang kampanye?! Gumam Carlee.
Seluruh kamera merekam dan menyorot moment itu. Hingga cahayanya kadang-kadang cukup menyilaukan mata.
“Tuan, mengapa ini?” Hanna menghampiri keramaian itu, ia mendengarnya dari kamar.
“Tuan, apakah ini calon istri anda?”
Kama merangkul mesra pinggang Hanna, “Jika kalian melihat gadis ini, kalian harus menghafal wajahnya. Dia adalah milik Tuan Kama. Jadi, aku tidak akan mengizinkan siapapun menyentuhnya ataupun sekedar memandanginya!”
Mengapa sampai seperti itu. Apa aku ini kuman hingga orang tidak boleh menyentuh atau sekedar melirik. Batin Hanna.
Siaaal! Gadis itu diperlakukan seperti emas berharga bagi putraku! Sungguh tidak pantas! Maki Carlee dalam hati. Ia masih terlihat betah menyaksikan putranya disana.
“Kalian tahu, wanita ini mengajarkan banyak hal padaku. Semua manusia seperti ikan, akan ada duri dan daging. Artinya, manusia memiliki dua sisi buruk dan baik. Gadis ini berhasil membuat sang monster Tuan Kama yang selama ini kalian tahu mengenal siapa dirinya disisi yang lain.” Kama tersenyum seraya melirik ke arah Hanna.
“Tuan kau berlebihan,” bisik Hanna.
“Wahh, hebat sekali ya. Cinta bisa membuat orang berubah.” Terdengar suara salah seorang ditengah-tengah wartawan.
Acara ini memuakkan! Putraku mengapa kau menjadi lemah lembut seperti ini! Carlee mengertakkan gigi.
Kama menoleh kebelakang, ia menatap ibunya, “Carlee, wanita yang kalian kenal sebagai ibuku ini sebenarnya tidak sebaik yang kalian lihat.”
Carlee tersentak memandang putranya. Ia mulai takut jika Kama akan membongkar keburukkannya.
“Dia adalah wanita yang memiliki dua sisi sama seperti aku.” Kama mendekati sang ibu dan memandangnya sinis.
“Putraku, apa yang kau maksud ini.” Suara Carlee terdengar takut.
“Kalian mungkin mengenalnya sebagai istri dan ibu yang sangat baik, karena Ayahku selalu memujinya di depan layar kamera.” lanjut Kama.
“Kama, kau bisa mencoreng perusahaan kita,” bisik Carlee.
“Mengapa begitu gugup ibu?” Kama tersenyum miring. “Wanita paruh baya ini, adalah ibuku. Ibu yang mengajarkan banyak hal tentang hidup padaku. Hidup ini keras sama seperti hidupku. Aku tidak pernah menemukan kelembutan dari wanita ini.
“Dari dia aku belajar bahwa untuk uang kau harus bekerja keras, bahkan mungkin jika sebuah tamparan ataupun cambukan akan di bayar dengan uang, terima saja.
“Tuan, kau---’’ Hanna mencoba untuk menghentikan perkataan Kama, namun Kama tidak memperdulikannya.
“Dia mendidikku dengan kekerasan, dia membuat aku tahan akan rasa sakit dan pahit. Tapi, seseorang mengatakan untuk menjadi orang tua tidak ada sekolahnya. Ibuku ini, adalah lulusan sarjana orang tua terbaik.
“Maka aku menjadi orang yang kuat tak terkalahkan. Sekarang, aku menemukan sisi kelembutan dari ibuku setiap kali ia menatap mataku. Ketika makan malam, ia menanyakan pekerjaanku untuk pertama kali. Kami memang tidak dekat diawal, tapi belum terlambat untuk merajut tali kedekatan ibu dan putranya,” Kama melanjutkan perkataannya panjang lebar dan ia tersenyum tulus memandang Carlee untuk pertama kali.
Carlee seketika tersentuh atas apa yang baru saja Kama katakan. Ia meneteskan air mata di depan putranya. Kekejian dan kelicikan saat itu runtuh dihati Carlee. Ia bertekut lutut dihadapan Kama.
“Maafkan ibu Kama. Ibu adalah ibu terburuk didunia,” ucapnya seraya menangis.