The Other Side Of Kama

The Other Side Of Kama
Kama dan ibu Jean



‘’Jika aku kembali ke kamar, kau harus sudah ada dalam mimpi indahmu.” Kama membalas kecupan Hanna di pipinya, lalu pergi dengan pelan mengunci pintu kamar.


Malam itu seketika hujan turun tanpa memberi isyarat. Ia menjatuhkan air dari tubuh langit di sertai angin yang berhembus kencang.


Ibu Jean mempercepat langkahnya keluar dari kamar. Ia menutup jendela ruang tengah serta menggeraikan tirai yang menari kencang di tiup angin.


Kama tak memberi aba-aba, ia datang diam-diam dan duduk di sofa memperhatikan ibu berdarah eropa itu.


“Kau! Jangan mengejutkan ibu!” Sontak ibu Jean setelah berbalik badan mendapati Kama yang duduk di sofa.


“Kau tidak menghidupkan lampunya bu, itu yang membuatmu terkejut dengan kehadiranku.” Kama tersenyum sambil menyandarkan kepalanya di tubuh sofa.


Jean menyalakan lampu kecil yang tergantung di sudut dinding ruangan yang cukup luas itu. Cahaya lampu itu berwarna kuning hingga ia tak menerangi sepenuhnya.


“Kau tidak tidur nak?” Jean duduk di sebelah Kama.


“Anginnya mendadak kencang bu. Aku rindu padamu.” Kama mencium pipi Jean dengan cepat.


Ibu jean menepuk pundak Kama,”Kau menggoda ibu?”


“Tidak juga. Aku hanya ingin menghabiskan waktuku bersamamu, sebelum kembali ke Singapura.”


“Setelah menghabiskan sebagian malam dengan Hanna?” Jean melontarkan pertanyaan sekaligus menjahili.


Kama tertawa kecil, “Dia sama sepertimu.”


Jean berdiri lalu mengambil sebuah cemilan di dalam lemari es, “Semua wanita memiliki kesamaan walau tak selaras sepenuhnya.


“Tapi, Carlee berbeda dari kalian.”


“Jangan mulai lagi!” Jean kembali duduk di samping Kama dan memberikan sebungkus kacang pada putranya itu.


“Ibu,” Panggil Kama.


Jean tidak menjawab, ia hanya menoleh dengan wajah penantian.


“Andai aku di lahirkan dari rahimmu.” Katanya penuh penyesalan.


Jean menarik nafas dalam, “Kama, kau tahu kemana arah angin?”


Kama menggeleng tak mengerti.


Jean perlahan meneruskan perkataannya, “kita tidak tahu dari mana datang dan kemana ia pergi. Begitu pula hidup, kau tidak bisa memilih akan di lahirkan oleh rahim wanita seperti apa dan bagaimana. Tapi, kau bisa memilih akan menjadi apa kau kelak.”


“Aku lebih memilih untuk tidak dilahirkan.” Kama mengupas kulit kacang dan mengunyahnya geram.


“Apa kau bisa mengatakan itu ketika kau di perhadapkan dengan Hanna?” Tanya Jean.


Kama tersenyum tipis, “Ntahlah semua terasa berbeda ketika ada Hanna. Kau tahu bu, dia adalah wanita satu-satunya yang tidak takut padaku, tapi dia melakukan apapun yang aku mau.”


“Dia menerima mu.” Jean tersenyum memandang Kama.


“Mengapa? Semua orang tahu Kama bukanlah pria yang baik.”


“Wanita tidak seperti yang kau pikirkan selama ini. Kau mungkin berpikir bahwa semua wanita inginkan uang dan hartamu sampai ia rela menjual harga dirinya. Tapi, kau menilai hanya karena satu gambaran dan bukan keseluruhan.” Jean menuangkan air anggur di gelas yang ada di atas meja.


Kama menutup mulutnya, menanti apa yang akan Jean katakan selanjutnya.


“Iya, dia memang berbeda. Kalian sama.” Kama tersenyum .


“Kau sudah mendapat dua gambaran berbeda tentang wanita. Apakah sekarang pandanganmu akan berubah?”


Kama menunduk dan melipat kedua tangannya, “Tapi pandanganku pada Carlee tidak berbeda bu!” Tegas Kama.


“Cobalah untuk melebarkan sedikit hatimu nak. Kau tahu? Rahim ibu yang sudah memberikan kesempatanmu untuk hidup itu lebih dari apapun? Cobalah untuk memberinya kesempatan.” Jean mengusap pundak Kama dengan lembut.


“Itu takkan merubah apapun tentang masa lalu.”


“Tapi itu bisa merubah keadaan di depannya. Kau tidak mungkin terus hidup dengan membencinya,” Ucap Jean tak mau kalah.


“Ntahlah. Hanna mengajakku untuk mengunjunginya.” Kama memandang Jean dengan raut wajah tak habis pikir.


“Cobalah, tidak ada yang salah. Mungkin nanti itu bisa merubahmu.” Jean bangkit berdiri.


“Kau mau kemana bu?”


“Ibu ingin tidur dan beristirahat. Anginnya membuat ibu mengantuk.” Jean ingin membiarkan Kama seorang diri untuk berpikir.


“Bu, kita jarang mengobrol seperti ini, bukan? Mengapa cepat sekali tidurnya?” Kama menarik tangan Jean seolah ingin menahannya lebih lama.


“Ini sudah malam Kama. Beristirahatlah.” Jean melepaskan tangan Kama dan melangkah meninggalkannya.


Kama menghela nafas, lalu kembali bersandar dengan merentangakan kedua tangan. Ia kembali larut dalam pikiran dan perasaan yang seketika membawanya kembali memutar video masa kecil pahit tentang keluarganya di dalam memori ingatannya.


Tubuhnya terasa panas dan dingin, wajahnya menggambarkan gelisah. Rasanya, sangat berat jika harus bertemu dengan Carlee. Namun, ia sudah berjanji pula pada Hanna untuk menuruti kemauan gadis itu pertama kali.


Tanpa ia sadari, Hanna berdiri di belakangnya sedari tadi ikut menyimak apa yang Kama bicarakan dengan Jean. Hanna mendekat dan menyentuh pundak Kama, “Tuan, kau tidak ingin tidur?”


“Kau ini mengejutkan saja!” Sontak Kama yang langsung menoleh ke arah belakang.


“Maaf, aku tidak berani tidur sendirian di tengah angin besar seperti ini.” Rengek Hanna.


“Bukankah sudah aku katakan kau untuk beristirahat terlebih dahulu?” Kama menautkan alis.


“Iya, tapi apa kau tidak lihat anginnya begitu kencang dan seluruh ruangan di rumah ini jika malam, terlihat sedikit gelap.” Hanna memanjakan suaranya seperti anak kecil.


Kama berdiri mendekati Hanna, “Kau tidak takut pada borgol dan cambuk, tapi kau takut angin kencang? Apa angin itu melukaimu?”


“Sudah aku katakan aku tidak takut angin, hanya ruangannya gelap.” Hanna berbisik keras di teliga Kama.


“Lalu?” Kama menaikkan wajahnya.


“Ayo kita tidur kekasihku,” Suara Hanna di buat seperti membujuk rayu.


“Kau pikir jika ada aku, kau akan tidur nyenyak, Hah?!” Kama menatap nakal.


Cepat sekali pria ini bergairah. Baru saja aku merengek manja padanya seperti itu. Gumam Hanna.


“Ya, terserah kau saja Tuan. Lebih baik sekarang temani aku.” Hanna menarik-narik tangan Kama yang tidak beranjak dari tempatnya.


“Baik! Lihat saja apa yang akan aku lakukan padamu malam ini.” Kama spontan menggendong Hanna dan mempercepat langkahnya menaiki anak tangga.