
‘’Baiklah kita sudah sepakat dengan hukumanmu malam ini.” Kama melangkah mundur memberi jarak.
“Kita?! Apanya dengan kita? Kau yang sepakat dengan hukuman itu, aku tidak!” Sanggah Hanna.
“Sejak kapan kau mulai berani menentang hukuman yang aku berikan?!” Kama menatap sinis.
“Ya, jika kau menghukumku menjadi sekretaris tanpa gaji, tentunya aku akan memilih itu dari pada aku harus melukismu hanya mengenakan lingerie!” Kata Hanna penuh keyakinan.
“Haha, Hanna apa kau lupa dengan apa yang sudah terjadi padamu semalam? Mungkin saja aroma bau mu masih melekat kuat di seprai tempat tidur kita.” Kama tersenyum miring.
Hanna menahan malu di wajahnya.
Ah kau aneh sekali Hanna! Semalam dia sudah melihatmu tanpa sehelai apapun. Sekarang kau meninggi, hanya karena ia memintamu memakai lingerie. Dasar bodoh!
“Mengapa kau diam Hanna? Kau lebih suka yang lebih transparan?” Goda Kama.
“Kau memang sudah gila! Bodohnya aku semalam mau saja denganmu!” Hanna hendak melangkah mendahului Kama, namun Kama menariknya ke dalam pelukan.
“Hei Tuan Kama! Lepaskan! Ini museum bukan tempat untuk bermesraan seperti ini!” Hanna mencoba melepaskan diri.
“Siapa yang sedang bermesraan, Hanna? Aku hanya ingin kau mengulangi kata-kata penyesalanmu tadi.” Kama menusuk dalam bola mata Hanna dengan matanya.
“Ma –maafkan aku. Aku tidak bermaksud menyesali apa yang sudah kita lakukan semalam.”
Mengapa hati, pikiran dan mulutku tidak konsisten seperti ini? Aku sudah menyinggung perasaan nya Tuan Kama.
“Kau menyesalinya? Kau merasa bahwa semalam adalah sebuah kesalahan?” Kama mempererat pelukannya.
“Ti –tidak Tuan, aku tidak menyesali apapun, sungguh!” Suara Hanna sedikit bergetar.
“Aku benci dengan kata penyesalan yang keluar dari mulutmu!” Kama menegaskan suaranya dengan menekan gigi.
“Maafkan aku. Aku akan melakukan apa saja yang kau kehendaki, dan jika itu hukuman, maka aku akan melaksanakannya tanpa protes.” Hanna menempelkan telapak tangan kanannya di dada Kama.
Kama memperhatikan tangan itu, tetapi amarahnya belum meredah, “Kau mencoba untuk membujukku?”
“Tidak sama sekali Tuan. Hanna adalah milik Tuan Kama.” Hanna mengusap pundak Kama sambil menatapnya lembut.
“Kau mengatakan apa?” Kama pura-pura tidak mendengar.
“Hanna adalah milik Tuan Kama.” Hanna mengulang perkataannya.
“Bagus! Kau tidak akan menyesali apapun yang sudah terjadi padamu atas kehendakku?” Tanya Kama dengan nada sedikit di turunkan.
“Iya Tuan, apapun itu.” Jawab Hanna.
“Baiklah. Aku menyukai gadisku lebih, sekarang.” Kama melepaskan pelukannya.
Dia menyukaiku lebih ataukah dia sudah jatuh cinta padaku? Ya, aku yakin dia memang sudah lama tertarik padaku. Kalau tidak, semalam dia tidak akan melakukannya dengan lembut. Gumam Hanna.
“Hanna, sekarang aku rasa, aku ingin main billiard.’’ Kama menoleh ke arah Hanna.
“Baiklah, kau ingin pergi dari tempat ini sekarang?” Tanya Hanna.
“Ya, tapi setelah aku tahu apa kau keberatan kita pergi dari sini? Atau kau masih ingin menjelajahi tempat ini?” Kama bertanya balik.
Hanna menggeleng cepat, ‘Tidak Tuan, aku sudah sangat puas dengan tempat ini.”
“Baiklah, kalau begitu temani aku main billiard.’’ Ajak Kama.
Dengan merangkul mesra pinggang Hanna, Kama mengajak gadisnya keluar dari museum dan berjalan sedikit jauh menuju bar dan tempat permainan billiard.
“Kau tidak lupa bukan, aku pernah mengatakan bahwa aku tak suka kau mabuk?’’ Kama meraih gelas berisi alkohol itu dari seorang pelayan.
“Tidak Tuan. Terimakasih karena sudah memperhatikan aku.”
“Kau minum saja sedikit anggur yang tidak memabukkan. Itu akan menghangatkan badanmu selama menemani aku.” Kama memberi segelas air anggur pada Hanna.
“Terimakasih.” Hanna menikmati perlahan anggur itu.
“Mari ke sana!” Kama menunjuk ke arah sebuah meja billiard di sudut ruangan yang sedikit gelap itu.
Hanna mengangguk dan mengikuti langkah Tuan Kama.
“Kau bisa main billiard?” Tanya Kama sambil memegang stik pemukul bola.
Hanna menggeleng sambil berdiri menempelkan telapak tangan di meja billiard.
Kama tersenyum, “Kau ingin aku ajarkan?”
“Apakah sulit?” Tanya Hanna penasaran.
“Kemarilah berdiri membelakangiku.” Pinta Kama.
Hanna melakukan apa yang Kama perintahkan.
“Membungkuk sedikit dan pegang stiknya,” Ucap Kama.
Segera Hanna mempratekkan petunjuk yang diberi oleh Tuan Kama. Ia membungkukan badan, hingga bokongnya sedikit menyentuh bagian depan bawah perut milik Kama.
Kama sejenak memperhatikan bokong Hanna, “Posisikan kakimu seimbang.” Kama membenarkan posisi kaki Hanna dengan sedikit menggeser pinggangnya.
“Seperti ini?” Tanya Hanna.
“Ujung stik pemukul harus tepat di depan bola, seperti ini.” Kama mengarahkan tangan Hanna yang memegang stik sambil memeluknya dari belakang.
“Lalu?” Tanya Hanna menoleh sejenak hingga bibir mereka begitu dekat.
Kama memandang bibir itu menelan ludah,”Jangan mengoyahkan stik ke samping, melainkan lurus dan dorong pelan. Sesuaikan kekuatan mendorong dengan jarak bola.”
“Seperti ini?” Hanna menoleh lagi.
“Nikmati, dan jangan tegang! Lakukan dengan konsentrasi.” Jawab Kama sambil menatap dalam bola mata Hanna.
Sepertinya Kama yang malah terlihat tegang dan bukan aku. Mengapa tatapannya padaku seperti ingin memangsa? Batin Hanna sembari mendorong bola itu tepat pada sasaran.
“Ah, mudah sekali! Aku berhasil Tuan!” Histeris Hanna begitu antusias.
Kama mengatur jaraknya dari Hanna, “Untuk pemula, kau lumayan,” Ucapnya remeh.
“Ya, aku memang hebat, bukan?” Puji Hanna percaya diri.
Kama tersenyum miring, “Kau ingin bermain denganku?”
“Tidak mau! Kau pasti akan mengalahkanku.” Tolak Hanna.
Kama tertawa kecil, “Kau takut jika aku akan memberikan hukuman atas kekalahanmu kelak?” Tebak Kama.
“Bukan begitu. Hanya saja hutang hukumanku masih belum lunas. Jadi tidak mungkin di tambah! Lagipula, suatu saat aku yang akan menantangmu, Tuan.” Hanna tersenyum remeh sambil menggerakkan kedua alisnya.
“Aku akan menunggu waktu itu!” Tantang Kama.